3 Tulisan Inspiratif Ustadz Salim A. Fillah

Redaksi kami telah mengumpulkan beberapa tulisan/nasehat ustadz Salim A. Fillah. Beberapa tulisan tersebut yaitu:

Pertama:

Siapa MENGUJI Siapa
@salimafillah

Termaktub sebuah riwayat dalam Kitab Al Adzkiyaa' karya Al Imam Abul Faraj Ibnul Jauzy (508-597), Mufti Agung Madzhab Hanbali di masa Daulah 'Abbasiyah, bahwa Iblis pernah datang menemui Nabiyyullah 'Isa ‘Alaihissalam.

Berkatalah sang terlaknat, “Hai 'Isa! Bukankah engkau yakin, bahwa segala yang tak ditakdirkan oleh Allah, tidak akan menimpamu?”

“Ya,” jawab Al Masih 'Alaihissalam.

“Kalau begitu, coba engkau terjun dari atas gunung ini. Kalau Allah menakdirkan selamat, ya pasti engkau akan selamat.”

Dengan tenang, putra Maryam 'Alaihissalam menjawab, “Hai makhluq terrajam! Sesungguhnya Allah berhak menguji para hambaNya. Tapi seorang hamba tidak punya hak sama sekali untuk menguji Allah!”

Yakni menguji; apakah Dia menakdirkan begitu atau begini.

Segala puji bagi Allah yang merahasiakan ketetapanNya dari kita; agar kita mencitakan yang terbaik, mengharapkan yang terbaik, meniatkan yang terbaik, merencanakan yang terbaik, mengamalkan dengan sebaik-baiknya, dan bertawakkal sebaik-baiknya.

Maka makna bahwa Dia di sisi prasangka hambaNya adalah, "Barangsiapa merasa dirinya berdosa dan yakin bahwa Allah Maha Pengampun, niscaya Allah mengampuninya. Barangsiapa merasa bahwa dirinya hina dan yakin bahwa Allah Maha Mulia, niscaya Allah meluhurkannya. Barangsiapa merasa bahwa dirinya bodoh dan yakin bahwa Allah Maha Tahu, niscaya Allah memberinya ilmu. Barangsiapa merasa bahwa dirinya lemah dan yakin bahwa Allah Maha Kuat, niscaya Allah menguatkannya. Barangsiapa merasa dirinya faqir dan yakin bahwa Allah Maha Kaya, niscaya Allah mencukupinya."

Kedua:

OMONGAN
@salimafillah
.
"Siapa yang mengira dapat selamat dari omongan manusia”, demikian dikatakan Imam Asy Syafi’i, “Maka sungguh telah kehilangan akalnya. Sungguh orang berkata tentang Allah Yang Maha Suci, ‘Yang ketiga daripada tiga’, dan tentang Rasulullah ﷺ yang terpuji, “Si penyihir dan gila”; maka bagaimanakah kita yang tak sebaik keduanya?”
.
Dengan kesadaran itu, sebagai pribadi kita ingat pula pesan beliau seperti dikutip Imam Ibn ‘Abdil Barr dalam Al Intiqa’:
.
من عرف نفسه لم يضره ما قيل فيه
.
“Siapa mengenal dirinya, takkan merugikannya apapun yang dikatakan orang tentangnya.”
.
Sebab seringkali, hinaan justru hakikatnya pujian. Karena aslinya diri kita, jauh lebih memprihatinkan dari apa yang dikatakan orang. Sebab seringkali kita hanya perlu menjawab tuduhan dengan, “Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu.”
.
Sebab seringkali, gunjingan justru cara Allah memberi kita kebaikan. “Selamat datang tambahan pahala serta pengurangan dosa, yang tanpa lelah beramal dan tanpa payah berusaha”, ujar Imam Hasan Al Bashri menanggapi ghibah tentangnya.
.
Dan mari menjauhkan diri dari ikut berperan dalam segala ucap buruk tentang sesama, seperti sabda Nabi ﷺ dalam riwayat Ahmad, “Janganlah seseorang menyampaikan padaku keburukan sesamanya; sungguh aku ingin jika bersua kalian; hatiku dalam keadaan bersih.”
.
“Lisanmu”, kata Imam Asy Syafi’i lagi, “Jangan pernah kaupakai untuk menyebut kekurangan orang. Karena seluruh dirimu adalah ‘aib dan ‘aurat, sedang tiap manusia punya lisan.”
.
Maka benarlah Imam Sufyan Ats Tsaury ketika menyampaikan, “Jika di dekatmu seseorang mengajakmu menggunjing orang, maka ketika kau tiada dia juga akan memburukkanmu di depan orang.”
.
Mari menghindari itu di manapun, bahkan di majelis terhormat yang kadang terselip hal menyerempet ke sana. “Ambillah ilmu para ‘ulama”, ujar Imamnya para Tabi’in Sa’id ibn Jubair, “Tapi diamlah dan jangan libatkan dirimu jika mereka sedang membicarakan orang ‘Alim lain. Sungguh, rasa cemburu di antara mereka, melebihi saling bersaingnya kambing-kambing jantan.”

Ketiga:

KITA, PRASANGKA, MEREKA
@salimafillah

kita hidup di tengah-tengah khalayak
yang selalu berbaik sangka..
.
alangkah berbahayanya
terlalu percaya pada baik sangka mereka
membuat kita tak lagi jujur pada diri
atau menginsyafi, bahwa kita tak seindah prasangka itu
.
tapi keinsyafan membuat kadang terfikir
bersediakah mereka tetap jadi saudara
saat tahu siapa kita sebenarnya
.
kadang terasa, bersediakah dia tetap menjadi sahabat
saat tahu hati kita tak tulus, penuh noda dan karat
.
dan…
bersediakah dia tetap mendampingi kita dalam dekapan ukhuwah
ketika tahu bahwa iman kita berlubang-lubang
.
Inilah bedanya kita dengan Sang Nabi ﷺ
dia dipercaya, karena dia dikenal
sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya
sementara kita dipercaya, justru karena
mereka semua belum mengenal kita..
yang ada hanya baik sangka…
.
maka mari kita hargai dan jaga semua baik sangka itu
dengan berbuat sebaik-baiknya
atau sekurangnya dengan doa yang diajarkan Abu Bakar
lelaki yang penuh baik sangka terhadap diri dan sesamanya
.
“ya Allah, jangan siksa aku karena ucapan mereka,
jadikan aku lebih baik daripada semua yang mereka sangka,
dan ampuni aku atas aib-aib yang tak mereka tahu..”
.
atau doa seorang tabi’in yang mulia:
.
“ya Allah jadikan aku dalam pandanganku sendiri
sebagai seburuk-buruk makhluk
dalam pandangan manusia sebagai yang tengah-tengah
dalam pandanganMu sebagai yang paling mulia.”

Semoga bermanfaat!

Penyusun: Hardi Jofandu

Post a Comment

0 Comments