Ummun wa Rabbatul Bait: Antara Lelah dan Lillah

Oleh: Hasni Tagili


Salah satu kewajiban istri yang menjadi hak suami (kewajiban lainnya lihat seri 22) adalah melaksanakan fungsi “ummun wa rabbatul bait” secara maksimal. Cakupannya ada dua; seorang ibu bagi anak-anak (ummu) dan seorang pengurus rumah tangga bagi suami (rabbatul bait).

Pertama, wanita sebagai ibu bagi anak-anaknya. Rasulullah SAW memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang. Beliau bersabda, “Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang dan subur, sesunguhnya aku akan bangga dengan banyaknya anak-anak kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat” (HR. Ahmad).

Salah satu tujuan pernikahan adalah melestarikan keturunan (menghasilkan anak). Rasulullah menganjurkan untuk menikahi wanita yang subur. Ini menunjukkan bahwa hukum asal seorang wanita adalah sebagai ibu.

Ketika wanita menjadi ibu, ia akan mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik anaknya. Semua aktivitas itu tentu saja tidak mudah. Belum lagi kalau harus ngidam berat selama hamil, bersalin lewat operasi, ASI tidak produktif, keguguran, sampai akhirnya harus menghadapi anak-anak yang aktif. MasyaAllah!

Kedua, wanita sebagai pengurus rumah tangga bagi suaminya. Menghabiskan waktunya lebih banyak di rumah dan jangan keluar rumah tanpa izin suami. Hal ihwal yang terjadi di dalam rumah merupakan tanggung jawab wanita. Sesungguhnya Nabi SAW menetapkan terhadap anak perempuannya, Fatimah, untuk mengerjakan pekerjaan di rumah, sedangkan kepada Ali bin Abi Thalib pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah (Musnad Ibnu Abi Syaibah).

Demikian pula  Rasulullah memerintahkan istri-istrinya untuk berkhidmat (melakukan pelayanan) kepadanya, dengan sabdanya, “Wahai Aisyah tolong ambilkan kami minum, wahai Aisyah tolong ambilkan kami makan, wahai Aisyah ambilkan kami pisau dan asahlah dengan batu!” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Hibban). Ini menunjukkan bahwa hukum asal seorang wanita adalah sebagai pengurus rumah tangga.

Coba bayangkan! Seorang ibu memiliki beberapa anak (pilih sendiri jumlah anaknya) yang masih kecil-kecil. Selain mengurus kebutuhan para krucil, ibu juga harus memasak, mencuci (piring dan pakaian), menyapu, mengepel, menjemur dan menyetrika pakaian.

Belum lagi, ibu kudu belanja ke pasar dan ngantar-jemput pasukan kecilnya. Last but not least, ibu juga punya amanah mengurus segala kebutuhan si bapak. Huah, pasti capeknya level akut. Mesti modar mandir kayak setrikaan ngurus anak, rumah, dan suami. Hehe. MasyaAllah, mengurus rumah itu sesuatu banget.

Dulu, orang nganggepnya sekolah tinggi-tinggi nggak penting bagi anak perempuan. Toh, ujung-ujungnya bakal berakhir di dapur, sumur, dan kasur. Jiah, dipikirnya ngurus itu semua nggak pake ilmu ya. Anak dan suami itu bukan bebek. Yang akan teratur hanya dengan modal gertak kantong kresek :-p

Akan beda hasil didikannya, antara anak yang dididik oleh ibu yang berpendidikan dan yang tidak. Tapi berpendidikan saja belum cukup loh. Ibu juga harus melengkapi dirinya dengan ilmu agama. Ngedoain anak jadi anak sholeh-sholehah, tapi kalau yang ngedidik nggak sholeh-sholehah gimana ceritanya. Hihi.

Kalau perempuan hanya mencukupkan diri dengan pendidikan tinggi, maka lahirlah ibu-ibu sekuler. Ibu-ibu liberal. Ibu-ibu kapitalis. Wanita yang mengejar karir dan menafikan peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sedikit-sedikit baby sitter. Sedikit-sedikit pembantu. Baby sitter dan pembantu kok sedikit-sedikit. Banyak itu mah. Wkwk.

Tapi saya nggak bilang perempuan nggak boleh bekerja sama sekali loh ya. Dalam Islam, wanita boleh bekerja (lihat QS. at-Taubah: 105, QS. an-Nisa: 29 dan 32). Kebolehan tadi berlaku selama ada izin dari wali/suami, menutup aurat ketika keluar bekerja, menghindari fitnah, pekerjaannya bukan menjadi pemimpin bagi kaum lelaki, dan tetap menjalankan kewajiban utamanya di rumah (Abd al-Rabb Nawwab al-Din).

Meski boleh bekerja, tapi tentu saja yang paling baik adalah ketika perempuan di rumah dan mengurus keluarganya. Kalau suami bisa menjamin kebutuhan rumah dari A sampai Z, ngapain capek-capek kerja :-)

Jadi ibu dan pengurus rumah saja (baca: IRT) memang masih dipandang sebelah mata. Khususnya bagi kaum feminis. Tapi, bagi ibu yang paham ilmu agama, maka rasa capek, lelah, dan pegal-pegal tidak akan ada apa-apanya. Itu semua nggak sebanding dengan ridho Allah. itu semua nggak sebanding dengan berkah yang akan membanjirinya karena ikhlas mengurus anak, rumah, dan suaminya. MasyaAllah!

Rasa lelah emang nggak bisa dihindari. Tapi lelah akan terbayar ketika melihat senyuman suami dan para krucil. Loh kok bisa lunas hanya dengan senyum saja? (coba tanya deh tuh para ibu, betul atau betul? hihi). Sebab, senyum suami lambang penghargaan atas usaha istri. Sedangkan senyum anak adalah obat hati mujarab :-*

Suami akan bahagia ketika diperhatikan oleh istrinya. Hatinya tenang dan ia lebih bersemangat mencari nafkah. Anak juga akan bahagia ketika diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Sinergitas dan saling mengasihi akan terwujud.

Jadi istri, kudu pinter menangkap moment. Kalau suami baru pulang, dalam keadaan capek, jangan dibombardir dengan berbagai pertanyaan. Pun, jadi suami kudu nyiapin waktu khusus untuk mendengar segudang cerita istri. Terkadang, lelaki butuh pendiam dan perempuan butuh pendengar :-D

Intinya, bersabar menjalani fitrah sebagai ibu dan pengurus rumah. Itu posisi mulia. Ganjarannya nggak main-main loh. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia mengatakan, “Seorang wanita menemui Rasulullah SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kaum wanita bisa mendapatkan amalan jihad di jalan Allah?’ Rasulullah menjawab: ‘Barangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.” (lihat Tafsir Alquran surat al-Ahzab ayat 33).

Tersenyumlah ketika suami memberi uang belanja. Syukurilah, banyak atau sedikit pemberiannya. Hargai dan dukunglah usahanya mencari nafkah. Tak selamanya suami-istri bersama. Ada saatnya ketika satu sama lain harus saling meninggalkan (baca: meninggal dunia, jangan memikirkan perceraian ketika suami masih dalam ketaatan kepada Allah). Hiks!

Tersenyumlah ketika melihat rumah (yang baru saja dibersihkan) berubah menjadi kapal pecah. Hehe. Tak selamanya para krucil itu menjadi anak-anak. Ada saatnya ketika mereka tumbuh besar dan meninggalkan rumah. Pasti sepi kalau nggak ada mereka. Huaa! Tisu mana tisu :-(

Semua manusia suka disenyumi. Dilembuti. Diajari dengan sabar. Dituruti dengan sayang. Semua pasti pada suka. Tapi masalahnya, tidak semua ibu bisa melakukannya. Kalau seabrek aktivitas rumah tangga tadi dijalani dengan nggak ikhlas, yakin deh, yang ada si ibu kerjanya mendongkol dan mengomel. Hihi.

Beda kalau si ibu paham agama, InsyaAllah rempong-rempongnya mengurus rumah tangga dinikmati. Sebab, itu semua semata-mata karena mengharapkan ridho Allah SWT.

Mau tahu seperti apa mendidik anak (hadhanah) dalam Islam? InsyaAllah kita bahas besok :-)

#NgajidiHTI
#IslamKafah
#darimulutkemulut
#belajarnulis
#revowriter
#ideowriter

Post a Comment

0 Comments