Thursday, July 19, 2018

Hikmah Kisah Nabi Sulaiman a.s

Hikmah Kisah Nabi Sulaiman a.s


Oleh : Tuti Rahmayani,dr

Muhammad ibn Ka'ab al Qiradhy menceritakan:

Seorang lelaki mengadu kepada nabi Sulaiman a.s, "Ya Nabi Allah, seorang tetanggaku telah mencuri angsaku." ujarnya.

Lalu Nabi Sulaiman a.s pun menyeru,"Wahai orang-orang, marilah kita shalat berjamaah!"

Seusai shalat, Nabi Sulaiman menyampaikan khutbah kepada mereka. Kemudian, di tengah-tengah khutbahnya, beliau berkata,"Salah seorang di antara kalian telah mencuri angsa tetangganya dan kemudian masuk ke masjid ini dengan bulu angsa itu di atas kepalanya!"

Sontak, seorang lelaki langsung mengusap kepalanya. Begitu melihatnya, Sulaiman a.s berkata,"Tangkap dia, dialah teman kalian yang mencuri itu."


Sekelumit kisah tentang kecerdikan nabi Sulaiman a.s setidaknya mengajarkan beberapa hal:

1. Nabi Sulaiman a.s sebagai nabi dan rosul bukanlah orang yang "untouchable" (=tidak tersentuh) oleh umatnya. Beliau selalu hadir menyelesaikan problem umatnya. Uzlah (mengasingkan diri) menjadi perkara yang mustahil dilakukan seorang nabi dan rosul. 

Kita pun hendaknya demikian. Umat nabi Muhammad disebut sebagai umat terbaik karena aktivitas amar ma'ruf nahi mungkar-nya. Dan dakwah ini mengharuskan dia untuk senantiasa mengikuti problematika umat dan hadir sebagai problem solver. 

2. Nabi Sulaiman a.s mengajarkan kita untuk tidak reaksioner dalam menyikapi problem yang ada. Namun, berpikir dulu dan merumuskan solusi yang adil dan tepat. Ketika marak jargon, bahaya pemimpin kafir, bisa kalah kalau tidak memilih alias golput dsb. Maka, seorang pengemban dakwah tidak serta merta reaktif. Tapi berpikir dulu sebwlum beramal. Karena setiap amal ada halal-haramnya. 

3. Nabi Sulaiman a.s memiliki kecerdikan dan kecerdasan. Dan keduanya digunakan untuk menegakkan keadilan dan menghilangkan kedzaliman. Inilah bentuk syukur atas nikmat, yakni menggunakannya untuk semakin taat. Saat ini banyak dijumpai orang pintar di negeri ini, namun justru kedzaliman merajalela. Inilah buah sekulerisme. Saat agama dijauhkan dari kehidupan sehingga orang lupa hakikat dirinya sebagai hamba yang harus taat. 


 “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).


Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam mengambil hikmah, sehingga dapat mengambil pelajaran dan istiqomah di dalam keimanan dan kebenaran. Aamiiin.

Wednesday, July 18, 2018

Tik Tok Bebas : Pemerintah Abai Menjaga Akhlak Remaja

Tik Tok Bebas : Pemerintah Abai Menjaga Akhlak Remaja


Oleh : Hilda Yulistiyani

(Komunitas Pena Islam)

Kenal bowo? Pertanyaan ini akan beraneka ragam jika disodorkan ke berbagai segmen usia. Jawaban pun akan sesuai pengetahuan lingkungan yang ada.

Ketika disodorkan ke orang lewat misalnya, bisa jadi jawabnya "tukang siomay keliling bukan?". Ketika disodorkan ke emak2 suka sinetron, mereka balik bertanya artis bukan? Pemain apa? Aktor lawas atau baru? Pertanyaan balik akan dilempar demi mencari tau ciri orang yang dimaksud. Namun akan beda lagi jika ditanyakan ke remaja. Ya, remaja. Mereka secara antusias pasti mengatakan bowo Tik Tok ya.

Bowo Tik Tok memang telah booming dan digandrungi kaum remaja. Ia terkenal melalui aplikasi bernama Tik Tok. Fans remajanya ini kebablasannya pun tak main-main. Remaja secara blak-blakan berkata rela diusir dari rumah kalau keperawanannya direnggut olehnya. Aduh mak tepok jidat ke tembok (jangan keras-keras ya). Dengar anak yang dibesarkan susah payah tapi gampang sekali keluar kata yang menyakitkan itu. Duh sabar sabar.

Makin tidak pakai akal lagi, para fansnya sampai menuhankan dia. Bahkan mengajak membuat agama baru dan dibuka pendaftaran untuk menjadi nabi/pengikutnya. Duh mak, jangan tambah kebakaran jenggot jika anakmu seperti itu. Jangan juga tanya "aduh itu anak siapa?"

Mengetahuinya miris bukan? Mungkin orang tua yang kelewat greget sampai mempertanyakan sihir apa yang dipakai? Nah orang tua yang menanggapinya pun ngaco juga. 

Kerugian pun tak hanya dari sisi remajanya yang mengalami krisis akhlak, tapi juga si korban (bowo dan keluarga) yang dibully karena yang dibayangkan tak sesuai realita. Imbas pun dirasakan oleh ibunya yang berujung resignnya sang ibu karena tak kuat cibiran dan ancaman. Dan yang lebih mengherankan lagi, orang-orang yang lebih tua dari usia bowo pun ikut membully dan mengancam. Beginikah potret remaja negri ini dan orang yang lebih tua yang seharusnya selayaknya menyikapi dengan kedewasaan dan penuturan yang santun. Apakah mereka tak berpikir panjang, mereka yang mencibir dan mengancam juga akan menjadi contoh ke remajanya?

Komisioner KPAI bidang Pornografi dan Cyber Crime menyatakan, fenomena tersebut harus diimbangi oleh pengetahuan orang tua mengenai pemahaman menggunaka aplikasi itu. Sebelum bowo pun ada remaja yang tenar karena aksinya Aksi yang dibilang tak ada pesan pendidikannya sama sekali bahkan justru membuat orang tua miris. Ingatkah kalian awkarin? Siapa sih remaja yang tak kenal awkarin, selegram yang dulunya menduduki nilai ujian tertinggi nasional. Fenomena mendadak artis juga dialami oleh Sinta dan jojo. Mau berapa deratan lg nama-nama yang hits gara-gara aplikasi yang tak mendidik?

Siapa yang patut disalahkan? Followernya kah? Atau artis dadakannya yang kemudian dibully habis-habisan? Atau orang tua artisnya yang tak mendidik anaknya dengan benar sehingga anak anda tertular?

Sadar atau tidak. Tik tok dan aplikasi lain yang tak mendidik ada karena kemajuan zaman. Kemajuan teknologi dibarengi dengan kemajuan pergaulan remaja, apalagi usia remaja adalah usia pencarian jati diri. Masih suka suka-suka, apa saja dilakukan yang penting hepi.

Pengikisan akhlak, adab, dan penurunan kualitas masyarakatnya pun akan sentiasa terjadi. Karena tak dibarengi bekal yang baik, pemahaman yang baik kepada masyarakat terutama remaja. Remaja sebagai generasi penerus bangsa kudu tahu bagaimana menyikapi kemajuan zaman dan teknologi tanpa harus menurunkan kualitas sumber daya manusianya. Apalagi semua itu dibarengi dengan kemajuan pergaulan yang condong ke pergaulan bebas yang berkiblat pada gaya barat. 

Sebenarnya semua itu telah diatur oleh agama islam. Islam itu rahmatalil 'alamin untuk semua umat hingga akhir zaman. Islam tak hanya bisa diterapkan orang islam tapi juga beda Agama.

Islam telah mengatur bagaimana manusia bersikap, berkehidupan seharian dari bangun tidur sampai tidur. Hal ini juga tak luput aturan selain aturan ibadah pribadi juga tentang aturan dalam berbusana, bergaul dalam masyarakat. Baik masyarakat umum, sesama gender maupun bergaul dengan lawan jenis. Bermuamalah, bergaul dengan beda agama dan bagaimana pemegang kekuasaan sebagai pengarah masyarakat semua diatur dalam Islam. Namun karena kemajuan zaman dan kiblat yang dipakai adalah negara yang memilih aturan memisahkan agama dari kehidupan maka terciptalah masyarakat yang juga memisahkan islam dari kehidupannya. Islam dipandang hanya mengatur sholat, puasa, zakat, haji. Selebihnya yang dipakai adalah aturan manusia. Bahkan lebih mengedepankan asas manfaat, dimana dalam suatu kepentingan jika tak ada manfaat buat dirinya pribadi, maka ia tak mau berpikir panjang.

Hal inilah yang membuat remaja tak terkontrol hingga tingkah laku pun diabaikan, yang penting senang. Adab dikesampingkan. Krisis moral ini juga didukung orang tua yang juga berkiblat kepada negara barat sehingga menanggap pergaulan bebas tak membahayakan asal dia baik dalam rumah, nurut orang tua dan jadi sukses secara materi. 

Berkiblatnya terhadap barat pada orang dewasa dalam kasus ini yang ditunjukan dari perundungan kepada bowo dan keluarganya adalah potret masyarakat yang jauh dari islam. Masyarakat indonesia belum cukup siap dan bijak menerima kondisi seseorang yang booming dalam sosmed. Masyarakat juga abay terhadap penyebab asasi masalah ini. Mereka tak mau tahu. Yang mereka mau adalah kebaikan hanya untuk diri sendiri dan orang yang disayang, tanpa memerdulikan bahwa kebaikan lingkungan juga perlu diupayakan dengan penyadaran-penyadaran bersama. Karena lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap diri sendiri dan keluarga.

Tadi juga telah disinggung bahwa penerapan aturan agar manusianya sesuai fungsi penciptaannya juga dari sisi pemerintahannya, sebagai pengatur masyarakat seharusnya juga pengambilan aturan dari islam. Kenapa? Karena tanpa aturan islam yang jadi pegangan maka masyarakatpun akan susah menerapkan aturan islam secara sempurna. Sistem yang dianut pemerintah sekarang (kapilatis) dimana semua keputusan diambil atas asas manfaat maka ini akan sangat merugikan masyarakat. Keputusan diambil berdasarkan pemilik modal. Dalam kasus ini pemerintah abay terhadap moral remaja dan kualitas masyarakatnya. Hal ini sangat terlihat saat pemblokiran tik tok dibuka lagi dengan syarat tertentu, yang jika dilihat syarat itu tak ada jaminan terhadap moral anak akan terjaga. Sungguh solusi ummat adalah penerapan islam secara kaffah.



Taat Bahagia Maksiat Sengsara

Taat Bahagia Maksiat Sengsara


Oleh : Silpianah (Member Akademi Menulis Kreatif)

Sejarah selalu mencatat dua hal yaitu kebenaran dan kebatilan. Dua hal tersebut tidak akan pernah bersatu sampai kapanpun.


Hidup adalah pilihan. Tentu saja kita harus memilih salah satunya, tidak bisa diantara keduanya. Yang haq atau yang batil. Taat dan maksiat, keduanya bagai air dan minyak, tak bisa bersatu dalam satu wadah. Hidup adalah pilihan. Allah sudah menunjukan dua jalan yaitu jalan menuju kebahagiaan  juga jalan menuju kesengsaraan. Surga dan neraka, kedua jalan tersebut sangat jelas digambarkan dalam Al-Qur`an. Jalan mana yang akan kita ambil? Taat atau maksiat?


Kita tak bisa memaksa keduanya bersama dalam satu waktu. Seperti misalnya seseorang yang rajin shalat dan berpuasa tetapi ia berpacaran. Ia memaksakan kondisi yang tak mungkin bersatu untuk bersama-sama. Ia melaksanakan perintah Allah tetapi mengabaikan larangan Allah. Padahal kedua nya (perintah & larangan) sama-sama bersumber dari Allah, sama-sama tertulis dalam kitab yang sama yaitu Al-qur'an.


Sayangnya antara taat dan maksiat saat ini kerap dibarengi bahkan menjadi hal yang umum dalam masyarakat. Misal saja pacaran,  pacaran menjadi hal yang umum dikalangan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam.


Contoh lain seperti riba. Dalam kehidupan perekonomian sehari-hari  riba banyak menyelimuti transaksi-transaksi yang terjadi dalam masyarakat muslim. Allah melarang adanya riba seperti tercantum dalam Al-Qur`an Q.S. Al Baqarah ayat 278-279.


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa (dari berbagai jenis) riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Q.S. Al Baqarah: 278-279)


Larangan riba juga terdapat pada beberapa hadits Nabi Muhammad SAW. 


Jabir berkata bahwa Rasulullah mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (H.R. Muslim)


Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud, bahwa Nabi bersabda: “Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang me-lakukan zina dengan ibunya.”


Pacaran dan riba adalah sedikit contoh dimana taat dan maksiat dijalankan bersama. Pertanyaan nya dimana letak keimanan kita? Ketika perintah-Nya kita laksanakan tetapi Kita juga melaksanakan larangan-Nya yang seharusnya kita tinggalkan. Bukankah perintah serta larangan Allah tertulis dalam kitab (Al-qur'an) yang sama? Kitab yang di dalamnya tak ada satupun keraguan?




Dimana letak keimanan kita ketika memilah-milah hukum Allah seperti prasmanan yang hanya kita suka saja yang kita ambil? Kita melaksanakan perintah sholat tetapi mengabaikan perintah menutup aurat. Kita melaksanakan perintah puasa tetapi mengabaikan larangan  pacaran. Kita melaksanakan perintah zakat tetapi melupakan perintah menjauhi riba.


Pahala sholat kita dapat tetapi dosa tak menutup aurat juga tercatat. Pahala puasa kita dapat tetapi dosa pacaranpun kita peroleh. Pahala zakat kita dapat tetapi dosa riba tak tertinggal. Lebih banyak manakah antara pahala dan dosa yang kita perbuat? Akankah pahala kita terkikis habis oleh dosa-dosa kita? Na'udzubillahimindzalik jangan samapai terjadi hal demikian.


Taat atau maksiat? Mana yang akan kita pilih? Pilihan kita hari ini menentukan hidup kita selanjutnya. Ketika maksiat terlihat begitu membahagiakan, ingatlah kelak ia akan menyengsarakan Kita. Ketika taat terasa begitu berat, ingatlah bahwa dunia ini tempat singgah sementara yang punya batas akhir dan akan ada kehidupan abadi yang kekal.


Ketika maksiat terlihat begitu menggoda, tetaplah berdiri dalam jalan ketaatan meski jalan itu terasa amat berat, sebab taat sudah pasti bahagia dan maksiat pasti sengsara.


Bersegera Beramal Sebelum Datang 7 Perkara

Bersegera Beramal Sebelum Datang 7 Perkara


Oleh: Minah, S.Pd.I



Terkadang kita terlena dengan kehidupan dunia yang sebentar ini, meraih kebahagiaan yang semu, tanpa melihat halal dan haram. Disibukkan dengan hal-hal yang mubah (boleh), sementara yang wajib dilalaikan bahkan ditinggalkan.


 Mereka rela melakukan apapun demi materi, tetapi banyak kewajiban yang ditinggalkan, beramal yang kurang atau bahkan tak mau beramal sholeh. Sholat ditinggalkan, belum menutup aurat dll. Padahal kita tak tahu kehidupan kita di dunia sampai kapan.


Banyak sekali godaan-godaan setan yang menghampiri seorang hamba ketika ingin beramal sholeh sehingga menunda-nunda untuk beramal sholeh. Saat adzan subuh berkumandang, karena mengantuk menghampiri sehingga malas bangun untuk sholat subuh. Saat Allah berikan Rezeki yang berlimpah, tapi masih ada yang enggan atau menunda-nunda untuk bersedekah. 


Saat Allah memberi wajah cantik kepada seorang perempuan, dia sombong, masih saja tidak mau menutup aurat bahkan mengatakan “nanti saja menutup auratnya jika sudah siap”. Kalau tidak siap, mau sampai kapan mengumbar aurat? Padahal, kematian itu hadir kapan saja, dan tidak menunggu kita siap.


Pernah Sahabat Rasulullah SAW  Umar bin Khattab ra terlambat sholat ashar berjamaah karena masih sibuk mengurusi kebunnya. Akhirnya beliau sangat menyesal karena terlambat sholat ashar berjamaah hingga akhirnya, kebunnya itu disedekahkan, karena telah membuatnya lalai. Padahal ibadah yang telah terlalaikan sangat sulit untuk dikejar karena waktu tidak akan pernah kembali lagi.


Rasulullah saw bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datang 7 perkara: apakah yang kalian nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segalanya, atau menunggu dajjal  padahal ia adalah sejelek-jelek yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan.” (HR. Tirmidzi).


Oleh karena itu, yuk bersegera beramal sholeh dan jangan menunda-nunda sebelum datang tujuh perkara  tersebut. Jangan sampai kita lalai dan bahkan meninggalkan perkara yang wajib. Kita tidak mau penyesalan itu datang. Maka sudah saatnya kita berlomba-lomba untuk beramal sholeh, tunduk dan taat kepada Allah.

Bening Mata Pengemban Mabda

Bening Mata Pengemban Mabda


By : Shafayasmin Salsabila 

.

Mari kita bicara tentang surga

Akan wangi dan sejuknya

Didamba hamba tanpa perlu banyak wacana

Amal nyata tak sebatas retorika


Surganya Sumayyah

Yang deminya nikmat rasa tikaman tombak

Surganya Yasir

Yang meneguk bahagia meski raga terbelah


Surganya para syuhada di Palestina

Dicacah ledakan bertahun lamanya

Jika bukan demi sebongkah iman 

Dari awal mula kaki gemetar diputar meninggalkan


Intifada menggetar semesta

Ciut nyali setan menatapi keteguhan

Jundi bertangan mungil yang menggenggami kerikil


Lantas bagaimana bisa sesat pikir memelintir

Disangka surga bisa ditawar dengan amal yang secuil

Seadanya


Pengabdian bersarat 

Taat dengan tapi

Berdalih tengah berproses tanpa progres

Berlindung dibalik kata "Islam yang biasa saja" 


Surga itu berbayar

Tak murah 

Bukan untuk diobral

Luasnya seluas langit dan bumi

Hanya dimasuki oleh hati yang setia


Setia untuk bertakwa

Dalam keremangan 

Atau dikala terang benderang 

Dalam hening sendirian

Juga ditengah berisiknya hiruk pikuk dunia


Jalan surga tak mudah dipenuhi cadas

Hanya pejuanglah yang mampu bertahan

Di tiap panas terik memasarkan mabda

Meski tak dilirik tetap melaju berbahasa


Bahasa para pengemban mabda

Adalah bahasa pengorbanan

Dipahami oleh telinga yang ikhlas mendengarkan

Digunjing para kawanan setan yang kepanasan


Pengemban mabda 

Bukan steril dari himpitan rasa

Ia juga bagian dari manusia

Jika ia lelah

Maka lelahnya ia gantungkan diantara ranting kesabaran

Jika dipenuhi luka

Maka lukanya ia sembuhkan dengan untaian doa


Harapan pengemban mabda

Berkorelasi dengan esksistensi surga

Meski lebih dari semua

Hanya cinta yang berbicara

Torehan karya

Harapkan ridhoNya


Mari berbicara tentang surga 

Dan akan kau dapati pantulannya di bening mata

Para pengemban mabda

ISLAM MODERAT JEBAKAN BARAT

ISLAM MODERAT JEBAKAN BARAT


Oleh: Nur Fitriyah Asri

(Akademi Menulis Kreatif)


Para pemikir Islam maupun para ulama fiqh selama berabad-abad tidak pernah memunculkan istilah Islam Moderat atau Islam Jalan Tengah.


Istilah Islam Moderat adalah salah satu cara yang digunakan barat untuk mencegah bangkitnya Islam, dengan memecah belah Dunia Islam dan melanggengkan penjajahan Barat atas Dunia Islam.


NIC (National Intelligence Council), adalah suatu lembaga intelegen yang dibiayai oleh Pemerintah Amerika Serikat. Khusus untuk melakukan penelitian dan riset yang bertujuan memprediksi masa depan perpolitikan dan ekonomi dunia, 

agar Amerika Serikat (AS) bisa membuat *strategi tepat* sejak dini untuk menghadapi masa depan.


Dari hasil risetnya National Intelligence Council (NIC) menyimpulkan bahwa pada tahun 2020 akan berdiri kembali Negara Khilafah Islamiyah. Sehingga segala daya upaya dikerahkan untuk membendung tegaknya kembali Khilafah.


Yang dilakukan Barat adalah memberikan stigma buruk kepada Islam, yang diawali dengan peristiwa runtuhnya gedung WTC tanggal 11 September 2001, Islam sebagai pihak tertuduh pelaku terorisme. Selaku komandan, Amerika Serikat menghimbau negara-negara untuk bersama-sama memerangi terorisme secara global (War On Terrorism). Nampaknya strategi propaganda busuk ini sudah tercium dan umat sadar bahwa sesungguhnya teror itu tidak ada, tapi merupakan skenario dan propaganda barat imperalis,  mereka sendirilah yang menciptakan teror dimana-mana.


Lebih dari itu Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush dan Tony Blair ( Perdana Menteri Inggris) telah memvonis Islam sebagai  " Ideologi Setan" yang diamini dan didukung oleh para pemimpin, politikus, akademisi, ulama dan masyarakat barat umumnya (Era muslim.com, 30/3/2006).


Menurut mereka ciri-ciri ideologi setan tersebut, adalah:

1. Menolak legitimasi Israel.

2. Memiliki pemikiran bahwa Syariah adalah dasar hukum islam.

3. Kaum Muslim harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khilafah.

4. Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal (kebebasan) dari barat.


Siapapun yang memiliki pemikiran tersebut digolongkan sebagai ekstrimis/radikal/teroris yang harus diperangi.


Untuk menyempurnakan skenario dan propaganda tersebut, maka Barat membentuk Islam Moderat.


Memang benar bahwa Barat pernah bangkit dengan asas Sekularisme (jalan tengah) yaitu kompromi antara kaum bangsawan dengan rohaniawan yang  menghasilkan  kesepakatan, agama hanya untuk urusan akhirat dan tidak boleh mengatur kehidupan dimasyarakat karena menimbulkan konflik (menurut mereka). Ide ini diamini dan disebarluaskan keseluruh penjuru dunia termasuk negeri-negeri muslim.


Moderasi Islam bagian dari perang pemikiran, ide ini adalah ide asing  yang justru bertentangan dengan Islam. Di dalam Islam sendiri tidak dikenal istilah moderat (jalan tengah). Yang haq dan yang batil selamanya tidak bisa dikompromikan.


Kafir penjajah sengaja mengelompokkan dan memberikan label pada Islam dengan membuat istilah Islam Moderat,  Islam Radikal, Islam Tradisional, Islam Liberal. Harapannya tentu saja untuk diadu domba,  Islam Moderat dibenturkan dengan Islam Radikal.


Dan itu bentuk penjajahan pemikiran, *umat terjebak* sehingga tidak menyadari bahwa Barat menginginkan kaum muslimin seperti mereka,  yang tunduk dan mau mengemban ideologi sekuler dan mengikuti gaya hidup mereka.


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, lahirnya gagasan *Islam Moderat* dibidani  oleh Barat dan digunakan untuk melemahkan Islam, membendung kebangkitan Islam yaitu tegaknya Khilafah (Ankara, 11/11/2011).


Untuk menjajakan ide Islam Moderat dengan memanfaatkan penguasa-penguasa, birokrat, ormas, politikus akademisi, ulama-ulama sebagai kaki tangan kafir penjajah.


Islam Moderat atau sering disebut Islam Wasathiyah gencar di sosialisasikan ke publik, baik melalui pendidikan formal maupun non formal  yang semakin massif, yaitu Islam yang digambarkan sebagai agama yang terbuka, damai, toleran dan tidak radikal, sebagai rahmatan lil alamin.


Dalam rakornas MUI di Bogor tanggal 28 November 2017, Menteri Agama RI Lukman Hakim Syarifuddin mengatakan,  "muslim wasathi atau muslim moderat adalah muslim yang mampu memberikan ruang bagi yang lain untuk berbeda pendapat, menghargai pilihan keyakinan dan pandangan hidup seseorang" (Antara News, 18/12/2017).


Begitu juga Ketua MUI KH Makruf Amin mengatakan "Islam Wasathi adalah Islam yang cara pandangnya moderat, tidak tekstual, tidak liberal, gerakan-gerakannya juga moderat, santun, tidak galak, toleran, tidak egois, tidak memaksa, semua dikerjakan sesuai dengan konstitusi dan sesuai dengan  mekanisme kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbangsa".

(Antara News, 18/12/2017).


Kedua pendapat tersebut mengandung ide yang sulit dibuktikan.

Aneh, Islam seperti apa,  yang tidak tekstual tapi tidak liberal?

Padahal telah jelas nyata bahwa ajaran Islam digali dari Al Qur'an, As Sunnah, ijma' sahabat dan qiyas.

Dari sini sudah terbantahkan bahwa Islam Moderat cacat dari sejak lahir karena berasaskan sekulerisme.


Karena Islam Moderat asasnya sekulerisme yaitu pemisahan agama dengan kehidupan, artinya agama tidak dipakai sebagai pedoman hidup dalam kehidupan individu, keluarga, bermasyarakat dan bernegara.


Akibat dari bahaya yang ditimbulkan oleh Islam Moderat adalah munculnya keraguan umat Islam terhadap Islam itu sendiri, merusak akidah umat Islam, menganggap semua agama sama, dan menjauhkan umat dari kewajiban penegakan Syariah dan Khilafah.


Banyak yang tidak menyadari bahwa sejatinya kaum muslim berada dalam *jebakan barat* untuk memperdaya kita dengan gagasan dan doktrin mereka. Barat akan terus melakukan segala cara untuk melemahkan akidah kita, memecahbelah persatuan dan menghadang  diterapkannya Syariah dan tegaknya Khilafah.


Bagaimana cara menghadapinya? Islam Moderat harus ditolak. Dan jangan termakan skenario barat devide et impera. Umat Islam harus bersatu.


Karena Islam itu hanya satu.Tuhannya satu Allah, Nabinya satu Muhammad saw, kitabnya satu Al Qur'an dan kiblatnya satu ka'bah.


Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna serta komfrehensif. Tidak lagi membutuhkan moderasi Islam yang justru malah menghancurkan nilai-nilai Islam itu sendiri.


Allah berfirman "Wahai orang-orang beriman masuklah kalian kedalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu" ( TQS Al Baqarah 208).


Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah (Akidah, Ibadah),  mengatur dirinya ( makanan, minuman, pakaian, akhlak) dan mengatur hubungan diri sendiri dengan orang lain  ( pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, pemerintahan, peradilan dan sanksi hukum serta politik luar negeri).

Dan semua Syariat Islam itu hanya bisa diterapkan dalam bingkai Khilafah ala minhajjin nubuwwah.


Jadi setiap muslim wajib masuk Islam secara menyeluruh, tidak boleh setengah-setengah, tidak 

boleh pilih-pilih hukum sesuai selera, apalagi tercampur dengan Ide-ide asing seperti Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme dan isme-isme lainnya. Haram hukumnya.


Syariah Islam hanya bisa diterapkan secara menyeluruh dalam institusi Khilafah. Yaitu sistim pemerintahan Islam yang mempersatukan umat Islam seluruh dunia yang dipimpin oleh seorang Khalifah untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah, mengemban dakwah dan jihad keseluruh dunia. Dengan begitu rahmatan lil alamin akan terwujud.

Makna Seorang Ibu

Makna Seorang Ibu


Oleh : Lilik Yani


Susunan 3 huruf yang membuatku bangga jika disematkan di depan namaku. Terdengar sangat indah di telingaku, saat anak-anak kandungku juga anak didikku memanggilku. Ibu.


Tergelitik rasa penasaran dalam benakku. Apa makna kata ibu? Kapan seorang disebut ibu? Apakah kata itu hanya dipersembahkan kepada seorang perempuan yang pernah melahirkan? Atau kata itu berupa status? Apakah kata itu sebagai kata benda atau kata kerja?


Adanya berbagai pertanyaan itu, mendorongku mencari makna ibu lebih jauh. Sasaran pertamaku adalah membuka laptop, kemudian jemari tanganku mengetikkan kata 'definisi ibu' pada kolom sebuah mesin pencari di internet.


Keluar definisi umum dari kamus-kamus. Ibu (kata benda) : perempuan yang telah melahirkan seseorang. Ini berarti sebutan yang disematkan kepada siapapun perempuan yang pernah melahirkan anak-anaknya. Berarti aku termasuk kategori di dalamnya. Karena aku sudah melahirkan 3 anak dari rahimku.


Definisi selanjutnya, ada pemaparan yang menarik dari berbagai individu yang membuat definisi masing-masing tentang makna seorang ibu. 


Ibu adalah seseorang yang mencintai tanpa syarat, sepenuh jiwa raga dan kasih sayangnya diberikan untuk anak-anak tercintanya.


Ibu adalah seseorang yang memberikan waktunya 24 jam sehari untuk anak dan keluarganya, tanpa meminta bayaran (imbalan).


Bahkan ada definisi yang menyebut ibu sebagai kata kerja. Ibu adalah seseorang yang selalu mencintai, mengayomi, melindungi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, menyemangati, memberi teladan.


Dengan definisi-definisi seperti itu, aku jadi evaluasi terhadap diriku sendiri. Apakah aku sudah pantas disebut seorang ibu? Sudahkah aku menjalankan tugas itu dengan baik?


Selanjutnya kucari makna ibu yang lebih luas melalui banyak kutipan menarik tentang ibu. 


Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Jadi ibu harus siap mengajari anak-anaknya tentang banyak hal, sebelum anak sekolah di tempat umum.


Ibu adalah seseorang yang bisa mengambil tempat siapapun, tetapi tempatnya tidak bisa tergantikan oleh siapapun 


Ibu bisa mengerti apa yang dipikirkan anak-anaknya, padahal mereka belum mengatakannya.


Ibu adalah seorang perempuan yang memiliki cinta tak terbatas, yang tidak bisa diungkapkan dengan keindahan kata-kata. Karena cinta ibu kepada permata hatinya adalah manifestasi sifat Rahman dan Rahim Allah swt yang ada pada dirinya.


Subhanallah. Semakin aku mencari, semakin aku membaca, maka semakin banyak pertanyaan untuk diriku sendiri.


Seberapa pantaskah aku menyandang predikat mulia itu?

Sudahkah gelar itu disematkan pada diriku?


Kini, terbayang dalam benakku. Ada sosok perempuan mulia dengan usia lebih dari 60 tahun. Beliau sudah bersusah payah merawatku, mendidikku dan membesarkanku dengan segenap jiwa raganya. Hingga aku menjadi seperti sekarang ini.


Beliau adalah ibuku, yang cintanya tak akan habis walau setiap saat diberikan kepada anak-anaknya.


Perempuan terkasih yang menjadi penyejuk jiwa dan tempat curahan hati yang paling nyaman.


Aku mencintainya sepenuh hati, mensyukuri keberadaannya setiap hari. Aku perhatikan semua nasehat dan pesan-pesannya.


Doa tulus selalu aku panjatkan, agar Allah berkenan memberikan panjang umur dalam keadaan sehat dan dimudahkan dalam beribadah.


Pertanyaan yang terselip di hatiku. Apakah anak-anak yang sudah aku lahirkan, juga merasakan hal yang sama? Memiliki perasaan yang kuat sebagaimana perasaanku terhadap ibuku?


Aku memang bukan ibu yang sempurna. Betapapun besarnya upaya yang kulakukan untuk mempersembahkan cinta terbaik buat permata hatiku. 


Berharap agar mereka bisa merasakan cinta dan kasih sayang dari perempuan yang setiap waktunya dipenuhi doa dan harapan terbaiknya agar buah hatinya selalu dalam lindungan Allah.


Perasaan sama yang menggelayuti benak banyak perempuan, sesama ibu di seluruh dunia.


Ibu pencetak generasi mulia, penolong agama Allah. 

Mari kita berjuang sekuat tenaga, menghantarkan anak-anak kita menjadi generasi rabbani yang memperkuat barisan pejuang. Untuk memenangkan dan mengembalikan kejayaan Islam.

In syaa Allah.



#MaknaSeorangIbu

#Surabaya150718