Thursday, June 21, 2018

Mudik Asyik dalam Islam

Mudik Asyik dalam Islam


Oleh : Fitriani S.Pd 


Mudik. Ya, siapa yang tak kenal dengan istilah ini. Ia adalah tradisi tahunan umat Islam Indonesia yang merupakan bahasa kekinian dari kalimat pulang kampung. Dan tentu,kemarin bahkan sampai hari ini adalah puncak-puncaknya, dikarenakan waktu hari raya tinggal beberapa jam lagi. Hal tersebut dapat terjadi karena canggihnya teknologi seperti video call tidak pernah bisa menyaingi tatap muka secara langsung.


Kebiasaan mudik lebaran di Indonesia juga merupakan konsekuensi logis, mengingat mayoritas penduduknya merupakan masyarakat urban yang terpisah dengan keluarga besarnya dikarenakan penduduk di berbagai pelosok yang sebagian besarnya tidak bisa lagi mengandalkan kemurahan alam, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang kian mencekik harganya. 


Hal tersebut terjadi karena alam milik umum telah rusak atau telah dikantongi oleh investor-investor asing, sehingga menyulitkan penduduk untuk bertahan hidup dan terpaksa meninggalkan kampung agar bisa bertahan hidup. Sehingga moment lebaran dijadikan sebagai sarana menjalin silaturahim dengan sanak family di kampung halaman. Apalagi Islam sangat menganjurkan untuk menjalin silahturahim, sebagaimana sabda Rasulullah :


“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” H.R Bukhari


Namun sayang, mudik lebaran senantiasa diwarnai dengan berbagai permasalahan yang tak jarang diselingi duka kesedihan. Seperti tinginya angka kecelakan dijalan raya.  Dilansir dari www.inews.id (14/06/2018), ada 899 kasus kecelakaan di arus mudik dan ada 193 pemudik yang tewas. Kemudian, permasalahan mudik yang tak kalah memprihatinkan adalah kemacetan yang luar biasa disepanjang perjalanan. 


Belum lagi jika menggunakan kapal laut yang dimana harus berdesak-desakan karena muatan kapal yang overload yang sering menjadi penyebab kapal mengalami kecelakaan. Sarana dan prasarana yang disediakan kurang nyaman dan mahal.


Tentu saja hal tersebut terjadi karena kesepakatan dalam sistem neolib kapitalis, yang masing-masing sesuai kesepakatan atas nama rakyat mencari bentuk ideal pengurusan berbagai permasalahan mobilitas penduduk. Indonesia sebagai negara mayoritas kaum muslim terbesar didunia memilih bentuk tata kelola yang menempatkan pemerintah sebagai regulator semata. Undang-Undang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terkait pembangunan partisipatif dipraktekkan dengan menjadikan pemerintah sebagai regulator perizinan, sementara solusi permasalahan banyak dimunculkan (partisipasi) oleh pengusaha. Pengusahalah yang justru berperan sejak perencanaan tata kota dan perencanaan jalur tol hingga pelaksanaan proyeknya. 


Entitas bisnis tentu berparadigma laba, tidak akan terwujud pelayanan untuk seluruh warga. Ditambah lagi solusi perusahaan tidak akan menghasilkan perencanaan yang komprehensif dan strategis.


Sehingga sampai saat ini, walau berbagai macam usaha dan upaya telah coba untuk dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan pelayanan bagi para pemudik lebaran untuk mengurangi kemacetan dan menurunkan angka kecelakaan, seperti program mudik gratis, himbauan untuk tidak menggunakan motor, kewajiban lulus kir bagi bus umum, memperpanjang ruas jalan tol,dan lain-lain sebagainya. 


Namun faktanya dari tahun ketahun kemacetan parah dan tingginya angka kecelakaan tak bisa dihindari. Contohnya kemacetan pantura ditangani dengan pembangunan tol (berbayar), kualitas buruk, bergelombang dan lurus dalam jaangka panjang riskan mencelakakan pengendara, mengakibatkan banjir wiayah sekitar, merusak wilayah resapan air, dan lain sebagainya. Tentu saja semakin rumit permasalahan yang terjadi, semakin menguntungkan entitas bisnis mencari solusi. Tambal sulam bisnis.


Sedangkan masalah mobilitas penduduk dalam sistem Islam dapat tertangani secara tuntas. Islam sendiri sangat kental dengan tradisi safar atau melakukan perjalanan.


Dalam rangka melancong, menuntut ilmu, silaturahim, ibadah haji, perdagangan bahkan berjihad. 


“Bersafarlah, maka kalian akan merasa kaya!”_ (HR. Baihaqi)


Nash-nash Islam juga menunjukkan bahwa musafir adalah tamu sekaligus pihak yang perlu mendapat pertolongan dan sejarah juga membuktikan bahwa Khilafah Islam mampu melayani dan mengayomi mereka tanpa membedakan kaya atau miskin, muslim atau bukan, warga negara atau orang asing.

Tata kelola pemerintahan Islam dalam mengurus infrastruktur dan sarana yang dibutuhkan rakyat, bukan dilakukan karena pendekatan HAM ataupun pendekatan ekonomi. Tetapi karena Islam telah menetapkan bahwa pemerintah adalah junnah (perisai/pelindung) dan ro’in (pengurus/pengayom) rakyat yang wajib mengurusi kebutuhan rakyat dan menyelesaikan permasalahan mereka. 


Dalam kitab Ajhizatu Daulah, Islam menetapkan pemerintah adalah pelindung dan penanggung jawab langsung urusan rakyat, mengeluarkan kebijakan sekaligus pelaksananya. 


Sebagaimana yang pernah dilakukan Sultan Abdul Hamid II membangun jalur kereta api Hijaz karena kebutuhan mendesak memudahkan mobilitas penduduk dari satu kota ke kota lain, mempertahankan kesatuan wiayah, termasuk juga untuk memudahkan jamaah haji Aceh melakukan perjalannya. Jalur kereta Hijaz tersebut membentang dari Damskus hingga Madinah. Hal tersebut merupakan bentuk tanggungjawab negara memperhatikan kebutuhan infrastruktur rakyat, meski keuangan negara pada saat itu tengah kritis. 


Disamping itu syariat islam memberikan porsi partisipasi rakyat dalam pembangunan sesuai batas-batas syar’i sehingga rakyat memiliki hak musyawarah, kontrol, dan kritik terkait kebijakan-kebijakan yang akan dijalankan ataupun yang sudah diterapkan penguasa.


 Dengan demikian dapat terealisasi pembangunan infrastruktur sesuai kebutuhan rakyat terkait silaturahmi, mencari ilmu, berdagang, tidak melulu pembangunan untuk nilai ekonomi (mencari untung); dengan paradigma pelayanan dan menghasilkan kualitas terbaik. Pembangunan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, bangunan publik terutama didanai baitul mal negara dari pos dana harta kepemilikan umum.


Fungsi pemerintah sebagai ro’in dan junnah juga tampak pada penggunaan moda transportasi. Islam membolehkan individu-individu bersafar menggunakan kendaraan-kendaraan pribadi mereka. Juga membolehkan bisnis transportasi tanpa mematok harga pasar. Namun apabila musafir kesulitan mendapatkan transportasi layak, maka Islam membantunya menyampaikan pada tempat tujuan. Bisa jadi dengan memperbaiki kendaraan yang rusak, menggantinya, ataupun pemberian manfaat kendaraan publik yang nyaman.  


Itulah sedikit gambaran bagaimana mudik asyik dalam Islam yang sesungguhnya hanya akan terwujud secara sempurna ketika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu A’lam Bissawab

Islamophobia Harus Dilawan !

Islamophobia Harus Dilawan !


Oleh : Ayu Oktaviani Kursia

(Mahasiswai FTI USN Kolaka)


 Baru – baru ini Ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyarankan Kementerian Agama (Kemenag) merilis Daftar Nama Penceramah (mubalig) yang dilarang, dan bukan merilis daftar nama penceramah yang direkomendasikan kepada masyarakat. “Sebenarnya yang dikeluarkan itu nama-nama yang dilarang, yang warning, jangan yang dibolehkan. Yang baik itu lebih dari 200, ada ribuan,” ujar Said usai menerima kunjungan Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat Malaysia Anwar Ibrahim  di Kantor PBNU, Jakarta, Minggu (20/5). Astagfirullah.....ada apa dengan Negeriku ini Negeri yang mayoritas Umat Muslim tapi phobi dengan Agamanya sendiri padahal yang kita ketahui selama ini Islamophobia ada pada negeri-negeri Barat, dimana kaum Muslim minoritas dan Islam diopinikan secara negatif karena kebencian dan ketakutan yang berlebihan tanpa didasarkan pada sumber yang benar tentang islam tapi sekarang yang terjadi Islamophobia kini menyebar di negeri – negeri yang mayoritas Islam. Bukan hanya ajaran Islam yang di sudutkan bahkan dikriminalisasi. Penganutnya pun diopinikan sebagai pelaku teroris dengan ciri – ciri : berjengkot, celana jingkrang, bercadar, memiliki pekerjaan sebagai pedagang herbal, terapis bekam, dll. Bahkan Alqur-an dan bendera tauhid pun dijadikan sebagai barang bukti perbuatan teroris dan sekarang yang tejadi baru-baru ini Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyarankan Kementerian Agama (Kemenag) merilis Daftar Nama Penceramah (mubalig) yang dilarang untuk berdakwah.

 Bahkan untuk berdakwah pun kita dibatasi padahal berdakwah itu hukumnya wajib untuk umat Islam. Sungguh mereka tidak takut akan Asab ALLAH SWT, padahal Allah telah berfirman ” Wa laqad zara’na lijahannama kasiran minal-jinni wal-ins(i), lahum qulubul la yafqahuna biha, wa lahum a’yunul la yubsiruna biha, wa lahum azanul la yasma’una biha, ula’ika kal-an ami bal hum adall(u), ula’ika humul-gafilun” yang artinya “Dan Sesungguhnya, Kami akan isi Neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendegarkan (ayat-ayat Allah) Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”. Q.S Al-A’raf ayat 179

 Naudzubillah min dzalik.....untuk itu tidak ada jalan lain kecuali berupaya menjadikan akal dan hati untuk memahami kebenaran, mata untuk mencari dan melihat kebenaran, dan telinga untuk senantiasa mendengarkan kebenaran. Dan kebenaran itu adalah apa-apa yang datang dari Allah Swt yang maha gagah, lagi maha bijaksana. Seperti firman Allah yang artinya “ Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” QS.Al-Baqarah ayat 147


Kebenaran adalah apa yang terdapat dalam islam! 


Allah berfirman yang artinya”Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai dien (agama,sistem hidup), niscaya ditolaklah apapun darinya dan ia di akhirat termasuk orang yang rugi.” QS.ali Imran ayat 85 

 Dengan kata lain, segenap potensi yang dimilikinya itu harus digunakan untuk memahami dan menghayati Islam untuk diterapkan hidup sehari-hari. Berkaitan dengan hal tersebut, Allah Swt berfirman “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaKu.” QS.Adz-Dzariyat ayat 56

 Jelas sekali, Allah al-Khaliq, Sang Pencipta manusia menetapkan bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah untuk beribadah ke padaNya. Padahal, ibadah itu maknanya Tha’atullah wa khudhu’un lahu waltizamu ma syara’ahu minad din. Yaitu, taat kepada Allah, tunduk dan patuh kepadaNya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkanNya. Jadi manusia itu ada di dunia ini semata-mata untuk tunduk, taat, dan patuh kepada aturan dan hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla dalam semua perkara : akidah, ibadah mahdhah, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya. Untuk manusia paska diutusnya Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir, berarti hidupnya itu untuk tunduk, patuh dan taat kepada syariat Islam yang di turunkan Allah kepada beliau Saw bukan menjadi Islamophobia.

 Beberapa poin penting ini harus difahami ketika kita membahas topik ini :

Islamophobia sangat merugikan umat Islam. Muslim menjadi korban. Ajaran Islam dikriminalisasi, organisasi  islam dibubarkan karena  dianggap  mengancam negara. Padahal justru umat Islam dan organisasinya lah yang terbukti cinta negeri dan ingin menyelamatkan masyarakat dari kerusakan, menjaga dan membela negeri dari penjajahan.

Islamophobia tanpa disadari memaksa muslim meninggalkan identitas islamnya dan mendorong mengambil nilai-nilai sekuler dan liberal. Bila di Barat, segregasi (Pemisahan) pria wanita muslim dianggap sikap ekstremis maka mendorong muslim hidup dengan pergaulan iktilat pria wanita. Sedang di negeri ini, muslim didorong menjadi kaum pluralis yang merayakan natal bersama, membela kelompok LGBT dengan alasan kemanusiaan dan bahkan meninggalkan tuntunan agama agar tidak dianggap fanatik atau radikal.

Islamophobia adalah serangan terhadap ideologi Islam. Menyerang Islam dan umat Islam adalah cara kaum sekuler penganut ideologi kapitalisme untuk memberangus lawan ideologi sejak dari akarnya. Mereka ingin menutupi realita bahwa sistem mereka bangkrut, rezim mereka korup dan masyarakat yang dihasilkannya bobrok. Tentu secara logis harusnya ada pengganti sistem dan Islam adalah tawaran yang sangat logis. Namun mereka tidak menghendaki Islam yang mengganti posisi ideologisnya. Maka ajaran Islam harus dimonsterisasi, dikesankan jahat dan para pengembang Islam dibungkam agar tida menyuaraka Islam yang sebenarnya. Ajaran Islam tentang sistem politik/khilafah adalah simpul besarnya. Bila khalifah bisa dianggap sebagai ancaman dan musuh bersama, maka benih-benih kebangkitan Islam, yang ada pada individu tidak akan  terangkai menjadi kekuatan bagi lahirnya sistem politik penantang kapitalisme global.

Islamophobia harus dilawan. Caranya? Memahami bentuknya dan mencermatin realita yang mengarah pada perwujudannya. Bila tujuan Islamophobia membuat muslim takut, maka ingatlah bahwa hanya boleh takut pada Allah. Tetaplah beraktifitas sesuai tuntutan Islam, bersikap kritis dan menolak segala bentuk kezaliman. Bila tujuannya  menghancurkan identitas muslim maka bentengi diri dan generasi kita dari perusakan identitas. Dan bila itu adalah cara menghalangi tegaknya khilafah justru harus makin gencar memahamkan bahwa khilafah ajaran Islam, wajib diperjuangkan dan tidak akan bisa dihentikan kehadirannya karena janji Allah pasti akan datang..

Semoga kesadaran kaum muslimin semakin tinggi, apabila Islam dipelajari dan dipahami dengan benar maka tidak ada yang perlu di takuti. Bahkan akan memunculkan kebutuhan untuk hidup dengan Islam dimanapun mereka berada untuk menyebar kebaikan bukan untuk meneror. Untuk apa phobi terhadap Islam, kecuali bagi orang-orang yang “terbelakang” dalam memehami Islam. Berbanggalah menjadi muslim yang mampu menggunakan akalnya untuk mencintai Islam dan hidup bersama Islam dimanapun ia berada. Islamophobia Produk Barat Ketakutan akan tegaknya Islam Rahmatan Lil Alamim yang akan menghancurkan sistem kufur yang zhalim...Halusinasi yang menyebabkan insomnia musuh-musuh Islam. Wallahu a’lam.

UU Terorisme antara Solusi dan Masalah

UU Terorisme antara Solusi dan Masalah


Oleh : Maryana

(Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)


Maraknya aksi terorisme di negeri ini, juga di belahan dunia lainnya, telah melahirkan asumsi bahwa terorisme lahir dari radikalisme. Lagi-lagi yang menjadi pihak tertuduhnya adalah Islam. Alasannya, pelakunya adalah seorang Muslim, atau ada identitas keislaman yang melekat pada diri pelaku, atau ada bukti-bukti yang mengaitkan pelaku dengan identitas yang identik dengan Islam. Bahkan setelah kasus bom Surabaya persekusi terhadap islam dan symbol- simbolnya semakin meningkat contohnya saja agama islam dianggap sebagai agama terror dan penampilan terutama laki-laki  yag memiliki penampilan berjenggot, celana cingkrang  dan  wanita bercadar di curigai, bahkan ceramah-ceramah di masjid diawasi, dan lebih ironis lagi  salah seorang terduga teroris dimedan, barang buktinya adalah Alquran. Apakah sampai takutnya dengan kebangkitan islam, kemudian setiap orang yang berpegang teguh pada islam dianggap radikal dan sebagai bibit lahirnya teroris sampai menyatakan bahwa cikal bakal teroris itu rajin sholat malam, puasa dan hafal quran. 


UU Terorisme Menuai Kontroversi

Setelah dibahas secara maraton selama tiga hari oleh pemerintah dan DPR, revisi Undang-Undang (RUU) Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme (UU Terorisme) akhirnya disahkan. Pengesahan UU Terorisme diketok dalam sidang paripurna yang digelar di Gedung Nusantara II, Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Jumat  25 Mei 2018. 

Pembahasan UU dikebut setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengancam akan menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) jika UU tak kunjung disahkan. Ancaman tersebut dikeluarkan Jokowi setelah Indonesia dikepung oleh serangkaian aksi teror pascakerusuhan berdarah di Mako Brimob pada 10 Mei 2018. 

Setidaknya ada 15 poin yang direvisi dalam UU Terorisme. Menurut Syafii, Ke-15 poin itu termaktub dalam 5 bab baru di UU Terorisme yakni bab terkait pencegahan, bab terkait korban aksi terorisme, bab kelembagaan, bab pengawasan dan peran TNI. Khusus terkait pencegahan, ada empat pasal baru yang ditambahkan, yakni pasal 43A, 43B, 43C, dan 43D. 

Pasal-pasal tersebut utamanya menyangkut kriminalisasi baru terhadap berbagai modus baru tindak pidana terorisme, seperti jenis bahan peledak, mengikuti pelatihan militer atau paramiliter atau latihan lain, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dengan maksud melakukan tindak pidana terorisme.

UU tersebut juga megatur pemberatan sanksi terhadap pelaku tindak pidana terorisme baik permufakatan jahat, persiapan, percobaan dan pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorism dan perluasan sanksi pidana terhadap korporasi yang dikenakan kepada pendiri, pemimpin, pengurus, atau orang-orang yang mengarahkan kegiatan korporasi. 

Secara khusus, UU tersebut juga menambahkan sanksi khusus bagi pelaku yang melibatkan anak. Disisipkan dalam pasal 16A, ‘setiap orang yang melakukan tindakan pidana terorisme dengan melibatkan anak, ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga)’. Ancaman sanksi baru itu, bisa dikata, dikeluarkan mengacu pada fenomena pelibatan anak-anak dalam serangkaian aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018. 

Adapun terkait ketentuan pelibatan TNI yang kerap diperdebatkan sebelum pengesahan UU, Syafii menegaskan, pelaksanaannya bakal diatur dalam Perpres yang sejatinya diterbitkan maksimal satu tahun setelah UU disahkan. Untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan oleh aparat penegak hukum, tim perumus juga menambahkan pasal yang memberikan sanksi terhadap aparat negara yang melakukan abuse of power.


Pandangan Islam 

 Tindakan teror baik secara verbal maupun fisik, keduanya diharamkan oleh Islam. Nabi menyatakan, “Siapa yang meneror seorang muslim demi meraih ridha penguasa, maka ia akan diseret pada Hari Kiamat bersamanya” (As-Suyuthi, Jami’ al-Masanid wa al-Marasil)

Aksi teror merupakan salah satu aktivitas yang mengancam keamanan, selain perompakan, pembajakan, perampokan harta dan pembunuhan.Pelakunya harus diberantas oleh aparat. Hal itu karena perang melawan mereka bukanlah perang untuk memberi pelajaran, tetapi untuk membasmi. Hukuman bagi pelakunya bisa dilakukan dengan cara dibunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, disalib atau dibuang ke luar kota. Tergantung tindakan yang mereka lakukan.

Dalam Islam, hukuman terhadap pelaku teror dilakukan berdasarkan bukti dan tidak boleh ada sanksi apapun kepada mereka hanya karena “diduga”. Sebab prinsip pengadilan dalam Islam adalah, al-ashl bara’tu ad-dzimmah (asas praduga tak bersalah). Ditambah dengan tegas Islam mengharamkan penyiksaan, teror dan  sejenisnya kepada orang yang dituduh sebagai pelaku.

Mencari bukti dengan spionase memang dibolehkan, namun hal tersebut dibatasi dengan dua syarat: Pertama, jika Departemen Perang dan Keamanan Dalam Negeri menyatakan bahwa hasil pengawasannya membuktikan mereka terlibat dengan negara kafir harbi fi’lan. Kedua, hasil pengawasan tersebut diserahkan kepada Qadhi Hisbah dan dinyatakan aktivitas mereka bisa membahayakan Islam dan kaum muslim.

Demikianlah cara Islam mengatasi terorisme dari akar-akarnya. Solusi yang dibangun berdasarkan fakta kejahatan yang benar-benar dilakukan, bukan sekedar dugaan, apalagi rekayasa demi kepentingan politik penguasa komprador beserta majikannya.

Terlebih lagi Gelar Teroris seringkali justru dibuat oleh orang-orang yang membenci islam untuk menyudutkan kaum muslim,supaya orang-orang menjauh dari Islam. Sebagaimana yang Allah sebutkan, “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah: 32).

Koalisi Bukan Solusi

Koalisi Bukan Solusi


Oleh: Ratna Munjiah (Pemerhati Masalah Sosial)


Saat ini lagi booming ya lagu Indonesia Ganti Presiden, kalau kita dengar, tonton, dan saksikan memang videonya mantap ya.., dan seakan-akan bisa menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa saat ini kondisi di Indonesia memang sudah darurat untuk bersegera mengganti Presiden dimana kesusahan dan kesulitan hidup semakin membelenggu rakyat Indonesia, tapi banyak yang tidak memahami bahwa apa yang terjadi terhadap kondisi Indonesia sebenarnya yang utama bukan karna Presidennya tetapi lebih kepada Sistemnya. 

Prabowo Subianto menilai “sekarang saat-saat yang kritis, ada kekuatan-kekuatan yang punya uang merasa bisa menentukan siapa yang akan jadi bupati, walikota, gubernur, bahkan Presiden Repubik Indonesia yang akan datang, kata Prabowo di Video yang diunggah di akun facebook@PrabowoSubianto, selasa (19/6/2018) sekitar pukul 19.30 baca juga : Prabowo sebut sistem di RI menyimpang hingga TNI lemah.

Dia mengatakan kedaulatan Indonesia terancam oleh kaum yang punya duit. Kekayaan bangsa Indonesia dikuasai oleh yang punya duit, korupsi merajalela. Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diabaikan, padahal disitu diatur soal penguasaan sumber daya alam oleh negara demi sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Kalau kita lihat pernyataan Prabowo tentu kita bisa nilai benar adanya, tetapi faktanya perkataan yang dinyatakan oleh sejumlah tokoh hanya bisa dijadikan sebagai penarik simpati saja, karna pada endingnya toh tidak bisa menyelesaikan atau menjadi solusi untuk menjawab semua permasalahan yang terjadi di Indonesia. Akhirnya para tokoh sibuk membangun koalisi untuk mengganti Presiden atau ganti Rezim demi kekuasaan.

Padahal sebagai seorang muslim seharusnya kita paham bahwa yang salah saat ini bukan saja karna rezim atau karna Presidennya tetapi akar permasalahannya ada pada sistem yang dipakai dalam menjalankan roda pemerintahan. Kondisi Indonesia sudah jauh dari kata baik  kita bisa menilainya dari semua lini kehidupan, posisi Indonesia sudah bisa dikatakan hancur atau Porak-poranda.

Arah perjuangan kita sebagai seorang muslim seharusnya fokus pada penegakan Sistem Islam karna sebagai seorang muslim seharusnya kita yakin bahwa hanya dengan Islamlah semua problematika kehidupan bisa diselesaikan dengan baik.

Kita ketahui bersama bahwa saat ini Indonesia dirundung banyak masalah akarnya adalah sekularisme yang melahirkan Kapitalisme. Kapitalisme melahirkan seperangkat aturan (sistem) yang dibuat manusia. Dibidang Ekonomi lahir sistem Ekonomi Kapitalis, dibidang Politik lahir sistem Demokrasi, dibidang sosial-budaya lahir sistem sosial-budaya liberal, dibidang Pendidikan lahir sistem pendidikan sekular (yang jauh dari agama) demikian seterusnya.

Dibidang ekonomi, sistem ekonomi kapitalis gagal mensejahterakan umat manusia kecuali segelintir orang saja, di Indonesia misalnya jelas jauh lebih banyak orang miskin daripada orang kaya, ini karna sumberdaya alam milik rakyat yang melimpah ruah banyak dikuasai oleh segelintir orang terutama pihak asing daripada dinikmati oleh rakyat sebagai pemiliknya.

Dibidang politik, sistem demokrasi hanya melahirkan banyak kekacauan politik. Faktanya, DPR sebagai lembaga wakil rakyat justru banyak memproduksi UU yang menindas rakyat dan lebih memihak para pemilik modal. Pemerintah pun melahirkan banyak kebijakan yang mendzalimi rakyat sekaligus memanjakan para pemilik modal tersebut. Alhasil kedaulatan rakyat dalam demokrasi juga bohong belaka.

Oleh karna itu berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia tidak dapat diselesaikan kecuali dengan menyingkirkan sistem Kapitalis dan sistem Demokrasi, solusinya tidak mungkin bisa didapatkan hanya dengan mengganti rezim, melainkan melalui perubahan sistem dan ide-ide umum tentang kehidupan. Karna itu penerapan Islam secara Kaffah yang menjadikan aturan Allah swt Zat Yang Maha Baik merupakan solusi yang harus kita ambil dan terapkan secara nyata untuk NKRI yang kita cintai ini. Mengapa..?

Karna bagi umat Islam penerapan syariah adalah kebutuhan yang lebih mendesak dari kebutuhan terhadap ilmu kedokteran, makan, dan minum. Pasalnya, ilmu kedokteran, makan, dan minum hanya dibutuhkan oleh fisik dan berakhir didunia, adapun kebutuhan terhadap syariah islam dibutuhkan oleh fisik maupun ruh dan akan menentukan nasib dikehidupan sebenarnya di akhirat kelak.

Semoga Indonesia kedepannya bukan saja mengganti Rezim tetapi mengganti Sistem


Piala Dunia Rusia Rasa Perang Suriah

Piala Dunia Rusia Rasa Perang Suriah


Oleh : Vivin Indriani (Penulis, Member Komunitas Revowriter)


Turnamen sepak bola terbesar Piala Dunia(World Cup) kini telah digelar. Kesibukan merayakan lebaran pasca sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan telah berganti dengan euforia perhelatan turnamen sepak bola sejagat ini. Setidaknya ajang ini telah menyita perhatian media-media baik cetak maupun elektronik, termasuk juga media online dan media sosial.


Piala Dunia FIFA pertama kali diselenggarakan pada tahun 1930, ketika presiden FIFA Jules Rimet memutuskan untuk menggelar turnamen sepak bola internasional. Format turnamen ini diikuti oleh 32 tim dari berbagai negara yang lolos bersaing memperebutkan gelar juara di gelanggang olahraga di negara tuan rumah dalam waktu sekitar satu bulan; babak ini sering disebut dengan Final Piala Dunia. Sebelumnya ada tahap kualifikasi, diselenggarakan dalam waktu tiga tahun menjelang Piala Dunia, digelar untuk menentukan tim mana yang akan lolos ke turnamen, bersama dengan negara tuan rumah.


Di tahun 2018 perhelatan empat tahunan ini di gelar di Rusia. Pro dan kontra sejak awal penyelenggaraan telah terjadi di berbagai media. Yang paling mencolok adalah keikutsertaan Rusia sebagai bagian dari negara-negara yang ikut andil menciptakan peperangan dan kesengsaraan rakyat Suriah. Rusia sebagai pendukung penuh rezim Bashar al ashad dituding sebagai negara yang harus ikut bertanggungjawab atas kesengsaraan yang dialami oleh rakyat Suriah sejak 7 tahun silam hingga hari ini. Mulai dari kelaparan akibat blokade, kehilangan tempat tinggal akibat pemboman wilayah padat penduduk dan fasilitas publik bahkan hingga ribuan kematian akibat gempuran pasukan Basyar Assad sejak 2011 sampai hari ini. 


Maka tidak heran jika ada beberapa pihak yang menyebut piala dunia rusia ini sebagai Piala Dunia Rasa Perang Suriah. Sebab keikutsertaan Rusia dalam peperangan rezim Bashar Assad melawan rakyatnya sendiri sampai hari ini belum bisa dimintai pertanggungjawaban. Bahkan di dalam mahkamah dewan keamanan PBB sekalipun. Jutaan korban dari sipil diantaranya perempuan dan anak-anak tak berdosa terus berjatuhan. Namun suara dunia seolah terbungkam dengan penderitaan mereka. Gelombang pengungsian terus bertambah dari waktu ke waktu, menambah panjang daftar imigran gelap di negara-negara sekitar Suriah bahkan hingga ke Eropa akibat perang berkepanjangan.


Namun perhelatan empat tahunan yang berlangsung selama sebulan di Rusia ini seolah melupakan semuanya. Apalagi di Indonesia dimana mayoritas masyarakatnya adalah pecinta bola. Berbagai acara digelar untuk nonton bareng setiap sesi pertandingan. Bahkan tak tanggung-tanggung ada yang sengaja datang langsung ke Rusia sebagai penonton. Berbagai even acara untuk memeriahkan bisa dilihat di hampir sebagian besar fasilitas publik. Dan yang kadang tidak ketinggalan adalah ajang taruhan dalam tiap sesi pertandingan.


Tentu sebagai negri muslim terbesar, ini sesuatu yang sangat miris dan jauh dari apa yang diharapkan. Disaat ribuan saudara-saudaranya sesama muslim di Suriah mendapatkan teror bom oleh agresi militer Rusia dan rezim Bashar namun di sisi lain ummat islam di Indonesia sibuk memikirkan bagaimana cara bangun dini hari untuk tidak melewatkan jadwal piala dunia yang tayang di jam dini hari waktu Indonesia. 


Ini tentu bukan sekedar soal kemanusiaan. Bukan juga soal keprihatinan dimana negara yang nyata-nyata melancarkan serangan rudal barel dan bom kimia adalah sekaligus penyelenggara piala dunia. Namun ini soal ukhuwah islamiyyah yang seharusnya memunculkan pembelaan atas kesengsaraan rakyat Suriah akibat perang berkepanjangan. Rusia sebagai sekutu Bashar Assad seharusnya layak mendapatkan sanksi atas keterlibatan penggunaan persenjataan dan militernya di Suriah. Negri-negri Muslim hendaknya melakukan boikot atas penyelenggaraan piala dunia di Rusia. Atau bahkan membetalkan keikutsertaan negaranya di perhelatan tersebut sebagai bentuk solidaritas atas Suriah.


Namun tentu saja solidaritas dan keprihatinan saja tidak cukup. Sebab persoalan konflik Suriah adalah persoalan kendali kekuasaan yang tidak dimiliki oleh ummat Islam. Rezim Suriah dan Rusia sejatinya adalah negara yang sedang melakukan agresi militer kepada rakyat sipil yang di figurkan sebagai kelompok pemberontak dan oposisi di Suriah. Tentu menjadi satu hal yang tidak seimbang jika rakyat harus melawan negara. Maka seharusnya ada negara yang ikut menghentikan agresi negara ini. Negara lawan negara. Tentu saja negara-negara muslim yang ada saat ini tidak bisa diharapkan akan menggunakan kekuasaan yang Allah anugerahkan padanya untuk mengambil langkah konkrit menyelesaikan persoalan Suriah. Sebab kriteria negara kuat dan tidak terbelenggu kepentingan tidak akan pernah dimiliki oleh negara dengan mabda(ideologi) sekuler kapitalis sebagaimana kepemimpinan negri-negri muslim hari ini. Dimana Islam tidak menjadi satu-satunya pengatur urusan negara. Bahkan di beberapa negri, syariat Islam hanya terpinggirkan di ranah-ranah domestik. Mengurusi urusan pribadi seperti pernikahan, talak dan rujuk saja.


Berbeda halnya jika kepentingan Islam menjadi yang utama. Maka sabda Rasulullah akan menjadi penyelesai persoalan konflik-konflik ini, tidak hanya di Suriah, namun juga Palestina dan negri-negri muslim lainnya yang sedang tercabik-cabik oleh peperangan. Dari an-Nu’man bin Basyir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.


“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.[Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6011), Muslim (no. 2586) dan Ahmad (IV/270), dari Sahabat an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu , lafazh ini milik Muslim].


Memang butuh perjuangan yang tidak sebentar. Sedang hari ini adalah masa-masa dimana kita yang hidup didalam kondisi tidak adanya satu negara pun yang mampu mengampu semua penyelesaian konflik di negri-negri muslim, tidak kemudian menjadikan kita terlepas dari kewajiban dan pertanggungan jawab di yaumil hisab nanti akan nasib saudara-saudara kita di luar sana. Sebagai pemilik ukhuwah islamiyyah, tentu ada andil kita baik sedikit maupun banyak yang harus kita kerjakan untuk membantu meringankan beban mereka. 


Rasulullah mengecam umat Islam yang tidak peduli nasib saudara seiman.


من لا يهتم بأمر المسلمين فليس منهم


“Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadits).


“Barangsiapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka” (HR. Al-Hakim dan Baihaqi). 


Momen piala dunia sebenarnya bagian dsri aktivitas mubah. Dengan catatan tidak ada aktivitas haram yang menyertainya. Seperti misalnya menggunakan taruhan untuk menebak siapa pemenang pertandingan dan sebagainya yang termasuk keharaman. Namun dengan keterlibatan Rusia sebagai bagian dari pelaku konflik yang menyebabkan saudara-saudara kita di Suriah mengalami kesengsaraan maka selayaknyalah kita ikut prihatin. Sedikit banyak tentu hal itu sangat menyakitkan bagi muslim Suriah ketika momen kita berhura-hura merayakan kemenangan salah satu tim di piala dunia, namun pada saat yang sama saudara-saudara kita di Suriah tengah dibombardir oleh tentara-tentara Rusia. Sungguh tidak pantas bagi kita melakukannya. Setidaknya ada yang bisa kita lakukan semisal tidak ikut larut dalam even-even yang digelar. Memperbanyak berdoa dan melakukan aktivitas dakwah menyampaikan pentingnya syariat Islam yang akan memberikan perlindungan kepada negri islam manapun selama diterapkan sebagai bagian dari nilai-nilai kenegaraan.


Wallahu 'alam Bish Showab.

Degup Juang Sang Pemenang

Degup Juang Sang Pemenang


Oleh : Arinta Kumala Verdiana


Sebulan sudah Ramadhan menemani hari-hari kita. Sekuat tenaga kita berusaha menjadikan Ramadhan sebagai sarana semakin mendekatkan diri dengan Sang Penguasa semesta. Dalam rangka menyambut seruan Allah kepada hamba-Nya yang beriman,  kita seoptimal mungkin melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan. Dan tak lupa kita memperbanyak ibadah-ibadah sunnah untuk menumpuk pahala sebanyak-banyaknya. Dengan harapan predikat takwa bisa kita sematkan pada diri kita sebagai bukti penghambaan total pada Rabb kita.

Dan setelah sebulan kita berjibaku menahan hawa nafsu, tentunya selangit asa yang terbentang agar kita menjadi bagian dari para pemenang di hari yang fitri. Pemenang karena telah berhasil berperang melawan deru nafsu yang memburu. Mengikat segala macam keinginan dan hasrat yang meski di halalkan di waktu lain, tapi menjadi larangan saat puasa Ramadhan sedang kita jalani. Semoga puasa kita di Ramadhan tahun ini tidak hanya sekedar menahan lapar, dahaga,  amarah dan hasrat saja. Tetapi benar-benar sebagai pembuktian keimanan kita untuk meraih gelar takwa. Sehingga saat berpisah dengan Ramadhan kita benar-benar menjadi sang pemenang.

Lalu apakah jika kita sudah menjadi sang pemenang kita bisa berleha-leha setelah  Ramadhan ini beranjak pergi ?. Tentu tidak. Justru predikat takwa ini akan diuji pada sebelas bulan berikutnya. Apakah kita benar-benar akan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya ?. Apakah ketundukan kita benar-benar total pada Sang Penggenggam hidup kita?. Apakah perintah untuk berislam secara kaffah dalam QS. Al Baqarah ayat 208 benar-benar akan kita penuhi ?. Nah,  pada bulan-bulan setelah Ramadhan itulah waktunya 'panggung' pembuktian akan digelar.

Agar kemenangan terus senantiasa terpatri sebagai prasasti, maka kemenangan yang kita raih harus kita buktikan secara nyata. Bagaimana pembuktian tersebut ?. Yaitu dengan memompa degup juang kita. Perjuangan agar kita bisa takwa secara total. Jika kita telusuri,  takwa secara total ini tidak mungkin kita lakukan tanpa adanya sistem yang menerapkan seluruh syari'at Allah dalam semua aspek kehidupan. Sementara sejak runtuhnya sistem Islam (Khilafah)  yang menerapkan aturan Allah pada tahun 1924 yang lalu,  hingga detik ini kaum muslimin terlantar dalam sistem yang menjauhkan dari ketakwaan.

Maka sangat logis, usaha yang perlu kita lakukan adalah berjuang untuk mendirikan lagi sistem yang mampu mengakomodasi aturan-aturan Allah yang akan mengantarkan kita pada ketakwaan. Degup juang Sang pemenang ini harus senantiasa berdenyut kencang. Tidak boleh kita bersantai sementara tiap detik dosa semakin menggunung karena terabaikannya banyak hukum-hukum Allah. So, denyutkan degup perjuaanganmu wahai sang pemenang !.

Dakwah Pemberantas Islamphobia

Dakwah Pemberantas Islamphobia


Oleh : Rasmawati Asri


Islamphobia sudah menyebar dari kalangan awam sampai kalangan intelektual. Dan Kalangan bawah sampai kalangan atas. Seorang Muslim takut dengan agamanya sendiri. Ini sungguh aneh.


Ketika para intelektual menyuarakan kebenaran. Dicap sebagai sebagai  anti Pancasila, radikalisme, teroris, dan lain sebagainya. Yang membuat para kalangan pemuda takut terhadap ajaran Islam. Persekusi mahasiswa dan dosen pun dilakukan. Ini pun bukti kediktatoran kampus. Dari rohis di sekolah pun harus dijaga.


Semua perlakuan tersebut dinyatakan sebagai langkah antisipasi agar tidak timbul benih-benih teroris. Ini sungguh aneh. Seharusnya para pelajar, mahasiswa, para pemuda lainnya di fasilitasi untuk maju. Terkhusus dalam menerapkan Islam secara kaffah. Agar suatu negara maju dan menghasilkan agent perubahan yang akan lebih baik lagi.


Sebenarnya apa yang melatar belakangi lahirnya Islamphobia di tengah-tengah umat? Sekulerisme pun biang dari Islamphobia. Dimana sekulerisme merupakan  faham yang memisahkan agama dari kehidupan. Kehidupan yang tidak boleh bawa-bawa agama, baik dalam bidang politik, kemasyarakatan, dan lainnya. Serta agama hanya untuk ibadah ritual saja. Yaitu hubungan hamba dengan Tuhannya. Bukan dengan sesama manusia.


Padahal Islam mengatur segala aspek kehidupan. mulai dari ekonomi, bisnis, hukum, politik, dan lain sebagainya. Maka dari itu kita sebagai seorang muslim diharuskan berdakwah. Agar setiap individu Muslim tidak takut dengan ajarannya. Dan Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan dakwah pun kita bisa membedakan yang haq dan batil


Wallahu'alam.