Thursday, June 21, 2018

Degup Juang Sang Pemenang

Degup Juang Sang Pemenang


Oleh : Arinta Kumala Verdiana


Sebulan sudah Ramadhan menemani hari-hari kita. Sekuat tenaga kita berusaha menjadikan Ramadhan sebagai sarana semakin mendekatkan diri dengan Sang Penguasa semesta. Dalam rangka menyambut seruan Allah kepada hamba-Nya yang beriman,  kita seoptimal mungkin melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan. Dan tak lupa kita memperbanyak ibadah-ibadah sunnah untuk menumpuk pahala sebanyak-banyaknya. Dengan harapan predikat takwa bisa kita sematkan pada diri kita sebagai bukti penghambaan total pada Rabb kita.

Dan setelah sebulan kita berjibaku menahan hawa nafsu, tentunya selangit asa yang terbentang agar kita menjadi bagian dari para pemenang di hari yang fitri. Pemenang karena telah berhasil berperang melawan deru nafsu yang memburu. Mengikat segala macam keinginan dan hasrat yang meski di halalkan di waktu lain, tapi menjadi larangan saat puasa Ramadhan sedang kita jalani. Semoga puasa kita di Ramadhan tahun ini tidak hanya sekedar menahan lapar, dahaga,  amarah dan hasrat saja. Tetapi benar-benar sebagai pembuktian keimanan kita untuk meraih gelar takwa. Sehingga saat berpisah dengan Ramadhan kita benar-benar menjadi sang pemenang.

Lalu apakah jika kita sudah menjadi sang pemenang kita bisa berleha-leha setelah  Ramadhan ini beranjak pergi ?. Tentu tidak. Justru predikat takwa ini akan diuji pada sebelas bulan berikutnya. Apakah kita benar-benar akan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya ?. Apakah ketundukan kita benar-benar total pada Sang Penggenggam hidup kita?. Apakah perintah untuk berislam secara kaffah dalam QS. Al Baqarah ayat 208 benar-benar akan kita penuhi ?. Nah,  pada bulan-bulan setelah Ramadhan itulah waktunya 'panggung' pembuktian akan digelar.

Agar kemenangan terus senantiasa terpatri sebagai prasasti, maka kemenangan yang kita raih harus kita buktikan secara nyata. Bagaimana pembuktian tersebut ?. Yaitu dengan memompa degup juang kita. Perjuangan agar kita bisa takwa secara total. Jika kita telusuri,  takwa secara total ini tidak mungkin kita lakukan tanpa adanya sistem yang menerapkan seluruh syari'at Allah dalam semua aspek kehidupan. Sementara sejak runtuhnya sistem Islam (Khilafah)  yang menerapkan aturan Allah pada tahun 1924 yang lalu,  hingga detik ini kaum muslimin terlantar dalam sistem yang menjauhkan dari ketakwaan.

Maka sangat logis, usaha yang perlu kita lakukan adalah berjuang untuk mendirikan lagi sistem yang mampu mengakomodasi aturan-aturan Allah yang akan mengantarkan kita pada ketakwaan. Degup juang Sang pemenang ini harus senantiasa berdenyut kencang. Tidak boleh kita bersantai sementara tiap detik dosa semakin menggunung karena terabaikannya banyak hukum-hukum Allah. So, denyutkan degup perjuaanganmu wahai sang pemenang !.

Dakwah Pemberantas Islamphobia

Dakwah Pemberantas Islamphobia


Oleh : Rasmawati Asri


Islamphobia sudah menyebar dari kalangan awam sampai kalangan intelektual. Dan Kalangan bawah sampai kalangan atas. Seorang Muslim takut dengan agamanya sendiri. Ini sungguh aneh.


Ketika para intelektual menyuarakan kebenaran. Dicap sebagai sebagai  anti Pancasila, radikalisme, teroris, dan lain sebagainya. Yang membuat para kalangan pemuda takut terhadap ajaran Islam. Persekusi mahasiswa dan dosen pun dilakukan. Ini pun bukti kediktatoran kampus. Dari rohis di sekolah pun harus dijaga.


Semua perlakuan tersebut dinyatakan sebagai langkah antisipasi agar tidak timbul benih-benih teroris. Ini sungguh aneh. Seharusnya para pelajar, mahasiswa, para pemuda lainnya di fasilitasi untuk maju. Terkhusus dalam menerapkan Islam secara kaffah. Agar suatu negara maju dan menghasilkan agent perubahan yang akan lebih baik lagi.


Sebenarnya apa yang melatar belakangi lahirnya Islamphobia di tengah-tengah umat? Sekulerisme pun biang dari Islamphobia. Dimana sekulerisme merupakan  faham yang memisahkan agama dari kehidupan. Kehidupan yang tidak boleh bawa-bawa agama, baik dalam bidang politik, kemasyarakatan, dan lainnya. Serta agama hanya untuk ibadah ritual saja. Yaitu hubungan hamba dengan Tuhannya. Bukan dengan sesama manusia.


Padahal Islam mengatur segala aspek kehidupan. mulai dari ekonomi, bisnis, hukum, politik, dan lain sebagainya. Maka dari itu kita sebagai seorang muslim diharuskan berdakwah. Agar setiap individu Muslim tidak takut dengan ajarannya. Dan Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dengan dakwah pun kita bisa membedakan yang haq dan batil


Wallahu'alam.


Perbaiki Hubunganmu dengan Allah

Perbaiki Hubunganmu dengan Allah


Oleh : Lilik Yani – Praktisi Pendidikan


Ketika engkau memanggil anakmu untuk suatu keperluan, tetapi dia tak kunjung datang. Sampai engkau harus mengulangi panggilanmu berkali-kali hingga dia datang menemuimu. Ternyata dia tidak mendengar karena lagi menikmati musik  di kamarnya.


Ketika engkau mengajak anakmu bicara, tetapi dia sibuk dengan HP yang dipegangnya karena harus membalas chatting teman-temannya, atau main game lagi seru-serunya. Wajahnya hanya sesekali saja menolehmu dan mengangguk-angguk, seolah-olah menyetujui nasehatmu.


Ketika engkau mengajar anak-anak didikmu, ternyata kebanyakan hanya hadir secara fisik. Pandangannya tidak menuju padamu, tapi pada layar HP yang disembunyikan di bawah bukunya. Pendengarannya juga tidak konsentrasi pada pelajaranmu, tapi ada headset yang menghalanginya. Ada musik yang menjadi tandinganmu. Apalagi hatinya, bisa mengembara kemana-mana.


Ketika janjian bertemu teman lama, setelah bertemu tentu senang kangen-kangenan dan tanya-tanya kabar. Beberapa menit kemudian, masing-masing sudah pegang HP dan sibuk dengan teman-teman dunia mayanya. Mereka lupa dengan teman lama yang di hadapannya.


Bagaimana perasaanmu mengalami kisah-kisah seperti itu? Sedih, kecewa, jengkel, marah, merasa diremehkan, merasa tidak berharga. 


Coba engkau muhasabah diri, apakah pada saat Allah memanggilmu dengan alunan merdu Adzan dari masjid terdekat dan saling bersahut-sahutan dengan masjid-masjid sekitarnya, tetapi engkau tak segera bergegas untuk datang menyambut panggilanNya. Justru engkau berdalih, menyelesaikan pekerjaan dulu, sebentar lagi kelar.


Ketika Allah mengajakmu dialog, tetapi engkau membaca bacaan sholat dengan terburu-buru hingga engkau tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi Allah untuk menjawab. Padahal Allah seneng sekali berdialog denganmu, terutama pada saat engkau menjalankan ibadah Sholat.


Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.  Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”  (HR. Muslim no. 395).


Ketika Allah menginginkan surat cintaNya yang dititipkan kepada Rasulullah saw untuk disampaikan kepadamu. Adakah engkau sudah membacanya? Sudah tuntaskah engkau membaca ayat-ayat cinta itu, ayat-ayat Al Qur’an yang berisi Firman Allah untuk hamba-hamba yang dicintainya agar selamat dunia akherat. Masalahnya, apakah kalian sudah membaca dan memahami isinya? 


Saudaraku, jika kita marah dan merasa tidak dihargai karena anak-anak yang tidak memperhatikan panggilan dan nasehat kita. Jika kita kesal karena anak-anak didik yang tidak memperhatikan apa yang kita ajarkan. Jika kita merasa tidak berharga karena teman-teman lebih mesra dengan teman-teman dunia maya dibanding kita yang berada di depan matanya. 


Jika untuk hal-hal seperti itu saja kita marah, bagaimana dengan Allah yang menciptakan kita dan mengurus semua urusan kita, mencukupi semua kebutuhan kita, tetapi kita sering mengabaikan panggilanNya. Kita sering tidak memperhatikan kehadirannya saat kita sholat, Dia ingin dialog dengan kita tapi kita justru terburu-buru ingin segera menyelesaikan sholat, dengan alasan masih banyak pekerjaan.

Astaghfirullahal adziim. Ampunilah kami Yaa Allah.


Apalagi surat cinta itu, kami hanya menjadikan pajangan indah di rak buku, biar terkesan rumah itu Islami maka ada Al Qur’an berjajar dengan berbagai penerbit, tetapi kami merasa sok sibuk sehingga tidak meluangkan waktu untuk membaca ayat-ayat itu. Astaghfirullahal Adziim. Ampunilah kami yaa Allah, yang sering mengabaikanMu.


Bagaimana mungkin kita menuntut orang lain menghargai kita, jika kita sendiri tidak menghargai Allah dzat yang menciptakan dan mengatur semua urusan yang di langit dan di bumi ini. Bukankah seharusnya kita yang harus menundukkan diri ini, dengan ketundukan total kepada Allah. Sebagai rasa syukur kita sebagai hamba Allah.


Saudaraku, mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah. Karena Dia pemegang kendali setiap hati hamba-hambaNya. Semoga Allah berkenan membimbing anak-anak kita, anak-anak didik kita, dan kita semuanya untuk selalu melangkah di jalan yang diridloi Allah. Aamiin

Wednesday, June 20, 2018

Kontribusi Besar Ibu

Kontribusi Besar Ibu


Oleh : Enchy Tholiqul


Tentang ibundamu wahai para ulama. Orang-orang kebanyakan hanya mengenal namamu tapi tidak dengan orang yang dibelakangmu. Orang-orang hanya mengenal kecerdasanmu tapi tidak dengan usahamu. 


Kau memberi banyak ilmu yang tak semua orang dapat memberinya sebab keterbatasan dan ketidak tahuan mereka. Kau memberi perubahan, sikapmu yang amat lembut, baik, berbudi, bijaksan, tegas, dan hati-hati. 


Namu kali ini saya tidak akan membahas tentang dirimu wahai ulama. Saya akan berbagi dengan para tokoh-tokoh yang menopangmu dari belakang hingga kau jadi dikenal orang dan menjadi orang yang sukses. 


Ya itulah ibunda mu wahai para ulama. Mereka tidak banyak dikenal orang sebab mereka berada di belakangmu yang selalu mendukungmu. Memberimu semangat, peranan mereka dalam mendidik anak-anaknya, kasih sayang yang mereka salurkan dan doa yang tiada henti untukmu anaknya. 


Dibalik pria yang agung, ada seorang ibu teladan. Demikian kata orang bijak tempo dulu. Jika ada lelaki yang menjadi ulama cendikia, tokoh ternama, atau pahlawan kesatria, maka lihatlah ibu mereka. 


Karna ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian seseorang. Ibu juga mdrasa pertama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah mana pun. 


Ibunda Anas Bin Malik ra. 


Kenalkah kita dengan Anas bin Malik ra, pembantu setia Rasulullah SAW dan sahabat dekat beliau? 


Tentu sebagian dari kita mengetahui dan sebagiannya baru tahu kan? 😅

Anas adalah salah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW. Ialah sahabat terakhir yang wafat di Basrah setelah berumur lebih dari seratus tahun. 


Tapi tahukah kita siapa yang ada dibelakang beliau? 

Tentu itu adalah Ibundanya Ummu Sulaim ra, ibundanya. 


Anas tak lahir dari belahan batu. Kecerdasannya tidak muncul begitu saja. Ada peranan besar dari Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik ra yang mewarnai kehidupan sang tokoh. 


Mengenal Ummu Sulaim


Ummu Sulaim termasuk wanita yang cemerlang akalnya. Selain cerdas, ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat inilah yang menurun kepada Anas bin Malik dan mewarnai perangainya di kemudia hari. 


Ya kecerdasan biasanya melahirkan kecerdasan, kesabaran melahirkan kesabaran, keberanian melahirkan keberanian. 


Itulah wanita yang di belakang Anas. Yang sebenarnya kita juga harus mengetahui, karna terbentuknya Anas menjadi Istimewah adalah karna pembentukan dari ibundanya. 


Semoga para ibu pejuang Khilafah dan ibu seluruh kaum muslim dapat mangambil contoh dari ibunda para Ulama.

Dan banyak memupuk calon-calon kesatria penaklu Roma.

Menjadi bagian penting dalam tegaknya Khilafah Kedua dengan mencetak genarasi-generasi yang tangguh gagah berani.


amin 😊


#YukNgaji

#EnchyTholiqul

#WritingClassWithHas

Berwisata Syariah

Berwisata Syariah


Oleh: Trisnawati (Revowriter Aceh)

Suasana lebaran masih hangat terasa. Liburan panjang pun menambah nikmatnya menjalani suasana bercengkrama bersama keluarga.  Ada yang memilih untuk mudik karena moment yang baik buat berkumpul bersama keluarga yang jauh. Ada juga yang memilih iburan ketempat-tempat objek wisata yang membuat mata tabjuk dengan berbagai keindahan maha karya Sang Pencipta Alam Semesta.

Tidak ada salahnya merefreshkan diri dari pekerjaan rutin dan kesibukan rutinitas bekerja dan mengurus rumah tangga dengan melakukan perjalanan wisata. Karena memang hukum asalnya mubah atau diperbolehkan. Namun walau pun mubah tetap memperhatikan tempat tujuan, bukanlah tempat yang terdapat kemaksiatan dan dekadensi moral secara terang-terangan. Bahkan berliburan atau berwisata yang hukum asalnya mubah bisa berubah menjadi haram ketika niat berpergian dalam rangka bermaksiat kepada Allah atau seperti iistri yang pergi tanpa izin suaminya. Namun status liburan juga bisa menjadi sunah jika dalam rangka mengambil ibroh (pelajaran) dengan merenungkan segala keindahan ciptaan Allah (Qs. Al-Ankabut: 20), atau melakukan wisata syariah. 

Wisata syariah tentunya perjalanan wisata yang semua prosesnya sejalan dengan nilai-nilai syariah islam. Mulai dari niatnya yang semata untuk ibadah dengan mengagumi  ciptaan Allah, selama dalam perjalanannya dalam melaksanakan ibadah dengan lancar,  makan dan minum yang halalan thayyibah, hingga kepulangannya pun dapat menambah rasa syukur kepada Allah. Jika urutkan rangking dalam wisata syariah maka yang paling tinggi nilai syariahnya tentu wisata Ibadah haji dan umroh, kemudian dalam rangka menuntut ilmu, silahturrahmi dan yang terakhir wisata yang hanya sekedar bersenang-senang.

Berwisata syariah dalam rangka menuntut ilmu maka sejarah islam telah mencatat bahwa ulama-ulama islam tempo dulu yang sering melakukan perjalanan jauh dan melelahkan guna menimba ilmu dari satu tempat ketempat lain, dari satu negeri ke negeri yang lain. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah salah satu ulama yang melakukan perjalanan panjang untuk menuntut ilmu mulai dari Iraq, Makkah, Madinah, Baghdad, hingga sampai ke Mesir. Begitu juga pada Abad 14, islam memiliki pengembara unggul ynag terkenal yaitu ibnu bathutah, asal Negeri Maroko (Tangier) yang sukses berkeliling dunia, bahkan hingga daratan sumatera. Semua yang beliau lihat dan saksikan beliau tuangkan dalam sebuah dairy yang sangat fenomenal, Rihlah Ibnu Bathutah (perjalanan Ibnu Bathuthah). Tak ketinggalan pengembara muslim terkenal asal Negeri China, laksamana Cheng Ho.

Sebuah perjalanan akan memberikan manfaat jika kita pandai-pandai dalam memanfaatkan perjalanan itu sendiri, karena lautan ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapatkan. Seperti isi pesan imam syafi'i tentang berpergian (safar).

"Dan bepergianlah, dalam bepergian itu ada lima faedah (yang bisa didapat) Hilangnya kesusahan, mendapatkan penghidupan, serta (mendapatkan) ilmu, adab, serta teman-teman yang mulia.

Bahkan dalam proses perjalanan wisata pada dasarnya merupakan sarana bagi kita untuk mempelajari ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) yang terbentang luas dihadapan kita. Bukankah dengan tanda-tanda alam Sang Pengatur Alam mengajari hambaNya. Bagaimana waktu yang terus berputar, dari terbitnya matahari sampai terbenamnya. Ada siang dan juga malam. Bagaimana terbentuknya awan yang begitu indah dilangit tanpa jatuh kebumi, serta hujan yang bisa turun dari langit. sungguh semuanya hanya akan mengantarkan kepada semakin bertambahnya keimanan kita bagi orang-orang yang mau berfikir. Belum lagi maha karya yang ada pada faura dan dan fauna dengan berbagai jenis dan ragamnya. Bahkan dari diri kita sudah mampu menggugah akal kita bahwa tak ada yang mampu menciptakan ini semua kecuali Sang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.

Maka jadikanlah berpergian kita menjadi wisata syariah yang niat dan tujuannya karena Allah dengan tidak meninggalkan syariahnya selama dalam perjalanan. Dan ingatlah bahwa berwisata bersifat temporal (sementara) karena kita harus kembali pulang untuk melakukan kegiatan rutin kita kembali.

Oleh karena itu Nabi saw mengatakan, "Bahwa safar itu bagian dari adzab adalah bagian dari siksa (penderitaan)". (HR. Abu Huraira RA)

Rasulullah saw pernah bersabda, "Safar itu adalah bagian dari siksa. karena safar inilah yang membuat seseorang itu akan sulit makan, akan sulit minum dan akan sulit untuk tidur. Makannya berkurang, minumnya juga jadi susah dan tidurnya pun semakin berkurang. Maka dari itu nabi saw mengatakan, Jika seseorang telah memenuhi hajatnya, keperluannya saat safar maka segeralah dia pulang kembali kepada keluarganya, dia bertemu dengan istri dan anak-anaknya. (HR. Bukhari dan Muslim).


*Sumber: Buku Panduan Praktis Wisata Syariah Karya Tohir Bawazir







"KECEWA" Politik Pencitraan Jelang Pemilu ala Sistem Demokrasi

"KECEWA" Politik Pencitraan Jelang Pemilu ala Sistem Demokrasi


Oleh : Siti Ruaida. S.Pd

Hangatnya aroma pemilu    

Mulai terasa dengan hadirnya pencitraan yang dilakukan oleh bakal calon yang akan bertarung di ajang  pemilu yang akan datang, dengan stategi  jeli mencari peluang melalui moment yang sekiranya bisa dijadikan ajang  untuk mengenalkan diri kepada masyarakat dengan harapan bisa meraih simpati dan meraup suara dari masyarakat.


Memanfaatkan moment tahun baru, beredarlah kalender baru.Memasuki bulan Ramadahan ramai safari Ramadhan, saat moment lebaran beredarlah ucapan selamat yang dipenuhi wajah dan segudang aktivitas si bakal calon yang akan berlaga di pemilu yang akan datang, baik di spanduk yang berseleweran dijalan maupun yang bisa kita saksikan dilayar kaca setiap hari.

Khusus untuk daerah yang religius,pastinya dengan mengadakan kegiatan keagamaan apakah dengan nama konser penggalangan dana untuk Palestina. Gebyar maulid  ataupun mendatangkan penceramah terkenal, group band religius atau apalah namanya yang penting bisa mengenalkan diri  kepada masyarakat dan bisa mengumpulkan masyarakat supaya mendapatkan perhatian dari mereka. Lebih khusus untuk memperkenalkan diri sebagai calon pemimpin.


Tindakan yang lebih ekstrem lagi dalam rangka memperkenalkan diri dengan memasang baleho.yang ini tentu curi start alias kampanye sebelum waktunya. Inipun bisa ditampik dengan berkilah, itukan inisiatif relawan  bukan intruksi pengurus partai.


Ya begitulah mereka selalu ada cara dan strategi untuk kepentingan mereka dan partai untuk meraih simpati dan meraup suara di PILKADA yang akan datang. Ini adalah kondisi yang selalu terjadi di sistem Demokrasi.

Terbayang mereka menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk mencapai tujuan, tentu ini  bagi mereka hanya modal yang tidak seberapa dibandingkan keuntungan  yang sudah terbayang di depan mata ketika mereka berhasil dalam ajang pemilu nanti.

Pertanyaannya apakah  keuntungan yang didapatkan oleh rakyat kalau para kandidat tadi berhasil terpilih. Apakah nasib rakyat akan otomatis berubah seiring dengan perubahan status sosial dan ekonomi si kandidat terpilih; tentu akan mudah sekali menjawabnya bahkan tidak perlu dijawab.

Fakta kondisi rakyat yang berbicara tambah hari bukan tambah  sejahtera tapi semakin tercekik dengan kebijakan yang mereka lahirkan, inilah buah yang harus di telan oleh rakyat.

Harga-harga kebutuhan pokok yang kian meroket, yang membuat emak- emak menjerit galau tanpa pertolongan, dan akhirnya harus menerima keadaan dengan banyak istigfar dan segudang cadangan sabar, agar tetap terlihat eksestensinya sebagai emak super hebat.

Petani menangis, membayangkan kabut tebal nasib yang tidak jelas. Setiap hari    bermandikan peluh untuk mendapatkan padi yang unggul tapi harus berhadapan  dengan importir beras yang mendapatkan restu dari pemerintah, untuk mendatangkan berton-ton beras.

Kisruhnya sistem pendidikan, bongkar pasangnya kurikulum yang membingungkan pendidik dan peserta didik dan mahalnya biaya pendidikan menjauhkan dari cita-cita   untuk mencetak generasi berkualitas.

Masalah-masalah sosial yang meresahkan, mulai dari kenalan remaja, bullying, kriminalitas yang menjamur,  hilangnya norma sosial dan norma agama, kasus LGBT, pedofil sang predator anak beraksi  semua tanpa kendali. Dan sejuta persoalan lainnya yang menyesakkan dada. dan menjadikan keamanan dan kenyaman adalah hal langka yang sulit untuk diraih. Beginilah pemandangan yang dihadapi oleh rakyat, tanpa pertolongan , dan tidak tahu kemana harus mengadu.

Apakabar para  elite politik dimanakah kalian, apa yang sudah kalian lakukan untuk kami, mana janji manis mu, mana sesumbar mu, lagi lagi kami harus menelan ludah kekecewan super berat, lelah yang tiada batas.Akan kami adukan kalian kepada Tuhan kami. Tunggulah tunggulah akan ada waktunya.Beginilah potret kepemimpinan di negeri yang kita cintai, ketika aturan yang digunakan tidak berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan, tapi  pada nilai dan aturan yang dibuat berdasarkan hawa nafsu manusia untuk kesenangan sesaat dan kepentingan  golongan elit politik. Untuk kepentingan politik mereka berapa banyak uang negara yang sudah digelontorkan. Padahal sejatinya itu adalah uang rakyat yang seharusnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.Kembali rakyatlah yang menjadi korban.

Apalah daya nasi sudah menjadi bubur kita sudah mengambil sistem demokrasi yang merupakan warisan Belanda. Susah payah     pendahulu kita mengusir penjajah . setelah mereka berhasil diusir malah bisa-bisanya kita mewarisi sistem mereka dengan menerapkan aturan yang sama yang mereka terapkan ketika menjajah kita.

Kecewa , sedih,miris itu pasti dengan kondisi yang negeri ini hadapi, apakah kita berdiam diri,merelakan negeri ini diacak-acak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pertanyaannya selanjutnya apakah kita tidak menginginkan perubahan, "masih merasa nyaman dengan warisan penjajah "atau bahkan dengan senang hati dan penuh kerelaan memàkai sistem demokrasi  dan menjadilanya kendaraan 

untuk mencapai tujuan bernegara. Ini sama halnya kita melegalkan kembali untuk dijajah ala sistem demokrasi.

Pengalaman berdemokrasi selama 70 tahun kirànya sudah cukup untuk mengukur kelayakan dan kepantasan sistem ini untuk dipertahankan. Saatn seluruh elemen bangsa berpikir out of the box. Dalam arti secara jernih dan obyektif menilai baik buruknya sebuah sistem kehidupan.

Sebagaai manusia yang percaya kepada sang pencipta yang maha pengatur. akhirnya kita harus mengakui kelemahan kita sebagai yang diciptakan alias hamba Allah. Hanya kepada Allah lah kita mengembalikan. Allah menciptakan kita beserta seperangkat aturan. Maka sewajarnyalah kita menerapkan aturan Allah, sebagai bentuk keyakinan kita akan maha sempurnanya Allah dalam membuat semua aturan untuk menuntaskan segala problema kehidupan manusia.

Wallahua'lam

Penulis adalah Pengajar di MTs. P. Antasari Martapura

Member AMK Kalsel


Menulislah, Agar Kebenaran Tersampaikan! 

Menulislah, Agar Kebenaran Tersampaikan! 


Oleh : Sunarti


Pagi itu rumah Bu Mujiati tampak ditata rapi. Digelar karpet bermotif batik dari ujung kanan hingga kiri. Beberapa bagian digelar tikar warna hijau muda. Ada layar lebar terpampang di bagian kiri ruangan. Meja berisi LCD dan laptop sudah "nyenuk" di atasnya. Di tiap-tiap ujung karpet dan tikar, beraneka jajanan tertata rapi. Ada yang ditaata di atas piring ada juga yang ditaruh di toples kaca bundar. Sementara ruanga sudah dipenuhi dengan rombongan Emak-emak dan Embak-embak. Semua duduk bershaf menghadap pada layar yang masih belum bergambar.


Beberapa saat, datanglah Cik Gu Asri Supatmiati. Beliau bergamis pink lembut, berkerudung sedikit lebih tua dari warna gamisnya. Membawa tas coklat muda yang kemudian ditaruh di belakang tempat duduknya. Beliau duduk di depan kanan layar yang dibentangkan. Yah, hari itu adalah hari yang ditunggu, untuk up grade kepenulisan tim media daerah. Pemateri adalah Beliau, Bu Asri Supatmiati.


Dalam materinya Beliau menyampaikan tentang pentingnya menulis. Pada dasarnya yang tidak buta huruf, pasti bisa menulis. Tulisan seseorang akan mengalir ke berbagai arah. Akan bermuara ke mana saja tak terbatas. Masing-masing tulisan juga akan mendapatkan jodohnya.


Beliau juga menyampaikan, manfaatkan media untuk dakwah. Menulis tidak untuk menjadi terkenal atau menumpuk kekayaan. Namun sebagai pengemban dakwah, menulis adalah salah satu wasilah untuk menyampaikan kebenaran. Jika bukan kita yang menyampaikan, lantas siapa lagi?

Apakah kita akan rela, jika keburukan (racun) yang disampaikan musuh-musuh Islam lebih dominan melalui tulisan-tulisan mereka?

Padahal mereka banyak pengikut. Kenapa bukan kita yang mengambil alih posisi mereka?  Sedangkan di sisi lain, kita sudah punya ilmunya, yaitu Islam.


Di zaman kecanggihan teknologi saat sekarang, peran sosial media sangat luar biasa. Masyarakat mulai beralih mencari informasi melalui dunia maya. Kesempatan ini merupakan peluang yang luar biasa untuk menaburkan ide-ide di tengah umat. Pergeseran kepercayaan umat juga sudah tampak. Media maisntream, lambat laun mulai ditinggalkan umat.


Mulailah menulis! Menulislah sejelek-jeleknya!

Selama yang ditulis adalah kebenaran, itu adalah madu yang disebarkan. Jangan biarkan musuh Islam terus menebarkan racun di tengah-yengah umat melalui tulisan mereka. Kita gempur media dengan ide-ide Islam. Mari diazamkan untuk komitment menulis. Misalkan seminggu satu tulisan atau satu bulan satu tulisan. Begitu kata Beliau, di akhir acara.


Magetan, 19 Juni 2018

Sunarti