Sunday, June 24, 2018

Sepenggal Kisah Sang Pejuang "Ustadz Hari Moekti" Sebelum Meninggal Dunia

Sepenggal Kisah Sang Pejuang "Ustadz Hari Moekti" Sebelum Meninggal Dunia


Oleh : Ustadz ali 


Sekitar pertengahan bulan Maret 2018  lalu Alm. Ust. Hari Moekti atau saya biasanya menyebutnya Abi, terkena serangan jantung. 


Setelah kami ngobrol banyak terkait metode pengobatan untuk beliau, kesimpulannya ada dua pilihan :


1. Tetapi rutin + istirahat selama beberapa bulan.

2. Pasang ring di Jantung.


Tanpa pikir panjang beliau jawab " Pak Ali, Abi mau pasang ring saja, agar besok bisa langsung dakwah lagi, soalnya jadwal ceramah masih padat. Kalau istirahat mah Nanti saja di Surga"😭😭


Setelah pasang ring, esok harinya beliau langsung terbang ke Medan mengisi ceramah. Padahal biasanya setelah pasang ring seharusnya menjalani recovery selama 1 bulan. 

...


Dulu saya pernah bantu atur jadwal ceramah beliau. saya  bingung kalau ada jama'ah yang mengundang beliau memaksa ingin tahu berapa uang transport ceramah  beliau.


Saya memang gak pernah tahu berapa uang transport beliau kalau ceramah, karena memang beliau tidak pernah minta uang apapun. Apalagi sampai pasang tarif.


Beliau pernah berpesan "Jika ditanya berapa rupiah uang transport Hari Moekti, bilang saja, beliau gak pernah bahas masalah uang transportasi."


...


Masya Allah sungguh besar pengorbanan beliau dalam dakwah ini. Dunia artis yang bergelimpangan kemewahan beliau tinggalkan kemudian meniti jalan dakwah hingga hari ini beliau wafat.


Ya Allah.. Istiqomahkan kami seperti beliau sampai ajal menjemput kami.😭

Saturday, June 23, 2018

Diplomasi dan Dokumentasi, Basi!

Diplomasi dan Dokumentasi, Basi!


Oleh: Hasni Tagili


Dengan dalih diplomasi, undangan Israel dipenuhi. Sekedar menghadiri pun berarti kita ikut mengakui eksistensi. Apalagi sampai jadi salah satu pembicara. Aduh, parah! 😒


Label diplomasi itu hanya stempel. Kek gak tahu aja kalau Israel negara cruel. Buktinya, Palestina habis dibikin perkedel. Mereka itu tukang bredel. Aduh, sebel! 😤


Model diplomasi apa sebenarnya yang digulir? Jangankan yang bersangkutan, 33 resolusi Dewan Keamanaan PBB saja dianulir. Lantas, ke sana itu apa berani dakwahi kaum kafir? Aduh, gak habis pikir! 😐


Dan yang paling bikin hati berdarah, dikatakan bahwa pada dasarnya Alquran dan sunnah, keduanya adalah dokumen sejarah. Astaghfirullah! 😢 


Alquran dan sunnah bukan historical document. Bukan dongeng. Bukan sesuatu yang sudah tidak relevan lagi dengan zaman now. Hingga menuntut direvisi. Bukan itu, bro!


"Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan" (TQS. al-Mutaffifin: 13-17)


Alquran dan sunnah merupakan hudan lil nas. Petunjuk bagi manusia. Dibawa oleh Rasulullah. Bukti cinta Allah SWT kepada hamba-Nya 😍


“Dia menurunkan Alquran pada bulan Ramadhan, sebagai petunjuk hidup bagi manusia, penerangan dan pembeda (yang haq dan yang batil)." (TQS. al-Baqarah: 185).


Tersebab sebagai petunjuk, maka Alquran dan sunnah menjelaskan tentang konsep dan tata cara hidup yang lurus. Menjelaskan yang diikuti, dimurkai, dan dijauhi.


Sehingga, manusia dapat menempuh jalan hidup yang diridhai oleh Allah SWT. Yaitu shiratal mustaqim, jalan lurus.


"Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (TQS. al-Isra: 9)


Jadi, bahasa diplomasi ke Israel itu basi. Sedangkan bahasa dokumentasi (pada Alquran dan sunnah), benar-benar bikin kuping iritasi. Menyesakkan dada. Sakitnya tembus ke jiwa. 


Israel itu bukan negara yang patut dibersamai. Harusnya didueli. Alquran dan sunnah itu bukan sesuatu yang pantas dinalari. Harusnya ditaati. Sebab, membersamai Israel dan menalari kitab suci, itu cruel. Tidak kredibel 😎


#CemilanUntukBatin

#TemanSelamaRamadhan

#WritingClassWithHas

InsyaAllah, Kembali Fitri

InsyaAllah, Kembali Fitri


Oleh: Hasni Tagili


Tadinya tulisan ini mau saya kasih judul, "Pantaskah Kita Berhari Raya?" Tapi saya batalkan. Kesannya buruk sangkaan. Memetakan mana yang layak dan tidak untuk ikut lebaran 😜

 

Well, semua berhak menikmati berkahnya Idul Fitri. Berharap kembali suci. Meski harapan dan usaha jauh panggang dari api, tapi biarlah itu jadi urusan yang bersangkutan dengan Ilahi. Tak elok menjustifikasi.


Dalam hitungan jam, gegap gempita akan kedatangan hari raya bakal membahana di setiap penjuru wilayah. Suasana haru biru bergelayut dalam kalbu. Takbir menggema dimana-mana 😍


Ya, itulah manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa. Sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT atas kemenangan yang diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan lamanya. 


Rasulullah SAW bersabda, ”Hiasilah hari raya kalian dengan takbir." (HR. Thabrani)


Tak terlupa, teriring ucapan selamat bagi mereka yang berhasil memaksimalkan ibadah Ramadhan. Sholat, puasa, zakat, dan tadarus sukses ditaklukan. Tak menyiakan waktu siang-malam guna menikmati kelezatan iman. Serta mencuci hati dari penyakit garang 😊


Sesungguhnya jika kita benar-benar ikhlas lillahi ta'ala menjalankan semua perintah-Nya, maka insyaAllah kita kembali kepada fitri. Kembali pada kesucian. Menjadi orang-orang yang menang. Takwa. Ibarat manusia, kembali dilahirkan dalam sosok bayi. Putih, bak kertas tak bernoda.


“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alayh)


Pun, ketika berlebaran, tetap jaga iman. Jangan silaturahmi sampai sholatnya bablas. Jangan asyik cerita yang mengandung was-was. Awas! 😎


Kan lebaran tidak harus membarukan baju, celana, tas, sepatu, hingga sandal (tapi kalau mau beli yang baru-baru juga gak apa😅). Yang terpenting, hati yang baru. Tinggalkan debu dosa di masa lalu. Buka lembaran baru dengan ibadah yang kontinyu.


Terlebih, usainya Ramadhan, bukan berarti ibadah ikut khatam. Istiqomahlah dalam kebaikan selama 11 bulan ke depan! Hingga tiba saatnya bertemu lagi dengan Ramadhan.


Jadi, mumpung masih ada sedikit waktu tersisa, maksimalkan untuk menjemput pahala. Sebab, "Sesungguhnya amalan itu (tergantung) pada penutupnya." (HR. Bukhari). Bumikan ibadah. Langitkan doa. Semoga kita bisa kembali pada fitri, insyaAllah! 😇


Ibnu Rajab berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit, maka siapa saja yang sudah berbuat baik didalamnya hendaklah ia menyempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menyudahinya dengan yang terbaik."


Akhirnya, izinkan saya beserta keluarga berucap, "Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum (Semoga Allah menerima amalan saya dan amalan Anda, amalan puasa saya dan amalan puasa Anda)“. Aamiin.


Sambut Idul Fitri 1439 H

Mohon pengampunan!

Raih kemenangan! 

InsyaAllah, kembali fitri 😊


Note: Terima kasih untuk semua likers, sharers, copasers, dan commentators yang telah berpartisipasi dalam Cemilan Batin selama sebulan ini. Semoga menjadi jariyah. Jika ada usia, elok lagi berjumpa 😘

Pentingnya Halaqoh dalam Belajar Islam

Pentingnya Halaqoh dalam Belajar Islam


Oleh : Kholda Najiyah


Memahami Islam kafah sangat penting. Cara memahami Islam haruslah dengan berguru pada seorang terpercaya dan memiliki ilmu bersanad. Saat ini, tidak cukup belajar Islam di bangku sekolah, apalagi hanya membaca buku atau merujuk referensi di Google. Belajar sampai paham harus melalui proses berfikir. Salah satunya melalui forum halaqoh, yaitu duduk melingkar beberapa orang untuk membahas ilmu agama dengan dibimbing satu guru.

.

Saat ini, di tengah sistem pendidikan sekuler, media sekuler dan tayangan sekuler yang menjadi referensi, penting bagi remaja Muslim untuk mengikuti kajian Islam melalui halaqoh. Dengan cara inilah remaja bisa membentengi diri dari arus opini menyesatkan.  Bagaimana pentingnya halaqoh untuk membina kepribadian Islam seseorang, berikut bebarapa di antaranya:

.

1. Berjamaah Lebih Istiqomah

.

Sendiri dalam ketaatan itu susah. Banyak godaan setan. Dengan berjamaah, umat Islam akan lebih kuat dan istiqomah. Ingat Surat Ali Imran: 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

.

2. Menjalin Ukhuwah

.

Memiliki forum halaqoh adalah cara untuk menambah saudara seiman. Pertemuan rutin dengan saudara sepemahaman, akan memupuk ukhuwah yang kuat. Belajar saling memahami, berempati dan toleransi dengan tepat. Teman sejati adalah teman satu aqidah. Saling bantu, saling sayang menyayangi karena Allah. Itulah ukhuwah sejati.  

.

3. Menjamin Teman yang Saleh

.

Teman halaqoh tentunya memiliki pola pikir dan pila sikap yang sama, karena telah sama-sama dibina dengan pemahaman Islam yang satu. Oleh karena itu, relatif homogen dan pastinya akan membawa pada kebaikan. Teman halaqoh adalah teman saleh yang bisa membawa pada keberkahan dunia dan akhirat.

.

4. Menjadi Wadah Belajar Intensif

.

Halaqoh menjadi wadah belajar Islam terbaik. Dengan memiliki jam pertemuan rutin dalam membahas Islam, maka terjamin keselamatan aqidah kita dari tergelincir pada kekeliruan. Selalu membersihkan akal dengan mengkaji tema-tema agama terus menerus, tanpa henti, dan mengaitkannya dengan aplikasi dalam kehidupan.

.

5. Periwayatan Ilmu Bersanad

.

Halaqoh menjamin ilmu yang dipelajari bersanad, karena biasanya ditularkan turun temurun, dari mulut ke mulut, face to face dari guru ke murid, ke murid dan seterusnya. Kitab yang dikaji tertentu, hasil pemikiran mujtahid yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Sehingga, bisa dipertanggungjawabkan kebenaran atau kesahihannya. Berbeda dengan belajar sendiri tanpa guru, tidak jelas sanadnya. Apalagi jika belajarnya melalui buku atau media tanpa ada proses berfikir dua arah, yakni diskusi sampai puas dengan guru atau pembinanya.(kholda)

.

#mediaumat #mediaumatedisi198 #keluargaideologis #tipskeluarga


Ilustrasi.    Pinterest.com

Suara Kritis tak Lekang oleh Kebijakan Represif

Suara Kritis tak Lekang oleh Kebijakan Represif


Oleh: Arin RM, S.Si*

Belakangan ini, semakin terasa bahwa arus kesadaran dan sikap kritis dunia intelektual semakin menguat. Keterwakilan kaum intelektual yang secara lahiriah kerap duduk dan memenuhi dunia kampus semakin sering menyuarakan pendapatnya. Kendati pendapat yang kontra kebijakan tersebut tak ramai di media layar kaca, namun beritanya rata-rata viral di dunia maya. Kasus kartu kuning yang diberikan oleh mahasiswa UI lalu misalnya. Hanya sekelumit melintas di layar kaca televisi nasional, namun bertahan dengan durasi yang cukup lama di berbagai akun dunia maya. 

Yang terbaru adalah ramainya pemberitaan tentang professor UNDIP yang pada 23 Mei 2018 menjalani Sidang Dewan kehormatan Kode Etik (DKKE) Universitas Universitas Diponegoro (mediaindonesia.com, 23/05/2018). Kasus yang berujung pada pembebas-tugasan sang professor ini pun senyap di media mainstream. Padahal terdapat sekian kejanggalan dari apa yang disanksikan. Lantaran sang professor menggunakan kepakarannya untuk menjadi saksi ahli di sebuah sidang ormas melawan pemerintah. Sang dianggap berlawanan dengan ide yang puluhan tahun diajarkannya. Dan lagi-lagi dunia maya dengan sosial medianya yang justru meramaikan. 

Semuanya menjadi bukti bahwa suara kalangan intelektual sebenarnya mulai bangkit. Dan yang menjadi kabar baiknya, ada sinyal mengarah pada semakin menguatnya solusi kritik ke arah yang dikehendaki Islam. Namun teramat disayangkan langkah kritis ini justru dijawab dengan ketidakramahan terhadap kritik. Terkesan ada aksi bungkam siapa yang kontra. Seolah ada upaya pencegahan agar tak ada lagi yang bersuara beda. Parahnya sosial media pun juga kena batunya. Bahkan secara tegas pemerintah awasi nomor HP dan medsos mahasiswa (republika.co.id, 04/06/2018). 

Kebijakan yang direncakan akan dilaksanakan oleh Kemenristekdikti tersebut pun sebenarnya mendapat kritik dari salah satu anggota komisi X DPR RI. Kebijakan yang mewajibkan mahasiswa baru melaporkan nomer HP dan akun medsosnya dinilai tidak jelas targetnya. Terlebih ia menilai bahwa kebijakan itu “ngawur” karena menganggap seluruh mahasisa baru terpapar radikalisme, sehingga perlu diwajibkan mendaftarkan medsosnya (antaranews.com, 11/06/2018). 

Jika alasan radikalisme yang kemudian disikapi dengan masuknya pemerintah pada ranah privasi mahasiwa, terlebih mahasiswa baru, maka secara tidak langsung menunjukkan bahwa disamping takut dengan kritik yang umumnya menderas melalui medsos, ada indikasi islamophobia yang semakin akut. Ibarat kata senjata makan tuan. Apa yang dihembuskan menjadi momok sendiri. Arus negatif yang diawali dengan pengkaitan radikalisme dan Islam justru melahirkan kebijakan yang terkesan represif. Seolah mencegah munculnya kritik, terlebih yang bernuansa Islam. 

Padahal arus kesadaran intelektual sejatinya tak bisa dibendung meski dihadang dengan kebijakan represif. Pun andaikan media sosial diawasi, penggunaan internet masih terbuka lebar. Masih ada peluang memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut untuk menyebarluaskan informasi ke sesama rekan. Termasuk informasi yang dikategorikan tidak berpihak bagi rakyat atau pun yang merugikan negara. Sampainya kebenaran tak melulu harus menggunakan HP dan medsosnya. Apa yang terjadi di tahun 1998 dulu adalah contoh tersebarnya suara kritis meski tanpa melalui medsos. 

Sudah menjadi ciri khas bagi kalangan kampus dan interletualnya, bahwa mereka adalah pelopor perubahan. Merekalah penggulir informasi yang seharusnya berpihak pada kebenaran. Mereka harus kritis terhadap kebathilan, terlebih jika itu merugikan. Intelektual memang harus berperan memimpin perjuangan. Dan tentunya perjuangan akan sampai pada kebenaran hakiki jika dilandasi pada aturan Islam. Yang bersumber pasti dari sang Mahapengatur. Sehingga upaya represif terhadap kritik sudah sepatutnya tak menyurutkan kegigihan intelektual dalam menyuarakan kebenaran Islam. [Arin RM]


*freelance author, member TSC


Indahnya Taubat

Indahnya Taubat


Oleh : Lilik Yani – Praktisi Pendidikan


Dalam menjalani hidup di dunia ini, tidak selamanya jalan yang kita lalui itu mulus dan lancar. Banyak rintangan , godaan, rayuan, tipuan, dan sejenisnya yang menjadi ujian bagi kita.


Saat iman tertancap kuat di hati, dengan pertolongan Allah kita bisa menghalau godaan-godaan itu. Tapi saat iman turun, terkadang kita terperosok di jalan yang berlumpur atau berlubang, bahkan kadang kesasar di jalan yang salah.


Tidak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa, karena kita bukan malaikat yang suci dari dosa. Kita juga bukan Rasulullah yang selalu dipelihara Allah dari berbuat dosa.

Kita adalah manusia biasa yang kadang benar kadang salah.


Bahkan kita sering melakukan kesalahan dan lupa. 

“ Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat ( kembali kepada kebenaran ).”  ( HR Ahmad ).


Sebagai bukti kasih sayang Allah swt kepada hambaNya, maka Allah membuka pintu ampunan dan taubat bagi seluruh hamba yang dicintaiNya. 

“ Katakanlah, Wahai para hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dialah dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS Az Zummar : 53 ).


Allah mengampuni setiap dosa hamba-hambaNya, jika hamba tersebut bertaubat kepada Allah, dengan taubat yang ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Bahkan dosa yang besarpun, Allah berkenan mengampuni, asalkan hamba tersebut betul-betul bertaubat kepada Allah dan tidak mengulangi kesalahan dan terus berupaya untuk memperbaiki diri.


Bukankah para sahabat-sahabat dulu, ada yang tenggelam dalam perbuatan dosa dan maksiat. Namun dengan sebab taubat yang sungguh-sungguh, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan Allah mengangkat kedudukan mereka. Subhanallah. Indahnya Taubat.


Maksud taubat disisni adalah kembali kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi semua larangan Allah. 

Dan taubat itu bukan hanya untuk hamba yang berbuat dosa-dosa besar, tapi juga untuk hamba yang suka lalai, malas ibadah, kurang semangat ibadah, dan sejenisnya, itupun harus melakukan taubat kepada Allah dengan beristighfar setiap hari.


Bahkan Rasulullah saja yang dipelihara Allah dari berbuat dosa dan dijamin masuk syurga, beliau selalu beristighfar kepada Allah swt.

“ Ketika hatiku malas, aku beristighfar kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” ( HR Muslim No. 2702 ).


Subhanallah, Rasulullah saja beristighfar 100 kali setiap hari, bagaimana dengan kita yang sering berbuat dosa dan salah ? Seharusnya lebih dari itu, mungkin perlu ribuan kali beristighfar kepada Allah, karena terlalu banyaknya dosa kita. 


Masalahnya, sudahkah kita melakukannya ? Kita terlalu percaya diri seakan tidak punya dosa atau merasa dosanya sedikit. Bahkan menganggap jatah hidupnya masih lama, ntar aja taubat kalau sudah tua. Astaghfirullahal adziim.


Padahal taubat dan istighfar yang dilakukan oleh hamba-hamba yang beriman akan menambah ketaqwaan kepada Allah swt. 

“ Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” ( QS An Nisa : 31 )


Saudaraku, mumpung masih ada waktu. Kita manfaatkan karunia Allah yaitu kesempatan bertaubat itu dengan sebaik-baiknya. Jangan merasa diri sudah baik dan memiliki amal yang banyak, kemudian kita tidak perlu taubat.

Jangan pernah merasa diri mulia dan merasa sudah taat kepada Allah, sehingga kita tidak mau beristighfar, Ingat, iblis yang ahli ibadah tergelincir satu kali dosa, tidak mau sujud kepada Nabi Adam. Iblis merasa lebih mulia karena diciptakan Allah lebih dulu. 

Iblis melihat dari sisi Nabi Adam, seorang makhluk yang baru diciptakan dari tanah. Iblis lupa kalau yang memerintah sujud adalah Allah yang menciptakan semuanya.


Saudaraku, mari kita ikuti Rasulullah. Walau beliau sudah dipelihara dari dosa dan dijamin masuk syurga, tapi beliau masih selalu beristighfar kepada Allah. Apalagi kita yang banyak dosa dan kesalahan. Marilah kita bersegera taubat mumpung pintu taubat masih dibuka lebar-lebar. 

Allah Maha Pengasih dan Penyayang, setiap saat masih setia menunggu taubat kita. Karena kita adalah hamba yang disayangiNya.


“ Yaa Allah, ampunilah semua dosa-dosa kami. Dosa yang besar maupun yang kecil. Tak sanggup kami menghitungnya. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa kami, kecuali hanya Engkau  yaa Allah. Karena Engkau, Allah Ghofurur Rahiim. Aamiin.

Istiqomah dalam Hijrah

Istiqomah dalam Hijrah


Oleh : Riyanti 


Dalam sebuah perjuangan, kita pasti akan menemukan yang namanya rintangan. Hambar rasanya jika sebuah perjuangan tak ada rintangan. Karena dalam rintangan itu lah kita dapat merasakan betapa perjuangan hijrah ini indah. Apalagi ketika kita mampu melewatinya itu sungguh luar biasa indah. 


Hidup diterpa banyak kesulitan pasca berhijrah adalah ujian yang mesti kita hadapi. Sebab ujian inilah yang akan menaikkan level seberapa tinggi keimanan kita. Sebaliknya, saat kita mudah goyah diterpa kesulitan, maka sungguh kita telah melepaskan diri dari kasih sayang Allah.


Lihatlah mereka yang istiqamah dalam hijrah, mereka rela meski lepasnya nyawa dari jasad menjadi taruhannya. Bilal bin Rabbah yang tetap mengesakan Allah meski batu besar ditindihkan di dada seraya tubuhnya diseret di bawah terik matahari.


Sumayah, wanita pertama yang syahid karena mempertahankan akidahnya meski orang-orang kafir Quraisy menusukkan tombaknya ke kemaluan Sumayyah hingga tembus ke kepalanya. Masyallah… tapi harga dari sebuah keistiqamahan adalah surga.


Sa'ad bin Abi waqash beliau pertahankan keislamannya walau ibunya sangat menentang. Sampai ibunda sa'ad sakit karena ingin bertemu dgn sa'ad yg kala itu hijrah bersama Rasulullah. Ia berkata, “Ibu… demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikit pun. Makanlah wahai ibu.. jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu”.


Sekarang banyak juga public figure indonesia yang sedikit demi sedikit berhijrah. Menutup aurat, ikut kajian dsb. Cobaan mereka akan lebih berat dari kita, setiap hari pasti dikomentari para netizen. Baik buruknya publik figur itu akan selalu dikomentari. Ada fans ada pula lovers. 


Ada juga seorang selebriti yang sudah hijrah namun kembali ke dunia hiburan karena tak kuat menghadapi resiko sepi job. Banyak yang sudah rapat menutup aurat, lalu kembali ‘telanjang’ hanya karena kecewa dengan pasangan hidup. Sungguh ironis. Akhirnya muncul sebuah tanya, “Kita hijrah karena siapa?” kalau karena manusia, pasti mudah berbalik arah. Tapi kalau karena Allah semata, maka apapun yang terjadi, kita tetap istiqamah di jalan hijrah.


Maka bersabarlah, mintalah kekuatan kepada Allah agar kita senantiasa mampu istiqamah di jalan hijrah. Tata ulang kembali bahwa niat kita hijrah karena Allah, karena ingin taat mengikuti syari'at-Nya. Perbanyak teman yang mengajak pada kebaikan, sebab terkadang lingkungan lah yang menjadi penentu kualitas hijrah kita. Datangi majlis-majlis ilmu agar tsaqofah islam kita semakin matang. Karena hijrah itu bukan hanya perkara pakaian dan ahlak saja tetapi keseluruhan mulai dari aqidah, ibadah, ahlak dan seluruh aspek kehidupan kita. 


Istiqomahlah.. 

Genggam hijrahmu sekuatnya. Jadikan batu kerikil di jalan perjuangan sebagai alat refleksi dalam perjalanan. 

Hijrah itu sulit, maka orang-orang yang berani berhijrah adalah orang-orang yang istimewa di mata Allah.