Friday, August 3, 2018

UMAT BUTUH PERI’AYAH BUKAN PENGHIBUR


Oleh : agus susanti

        POLITIK (dari bahasa yunani : politicos, yang bararti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga Negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan,  khususnya dalam Negara. Dalam defenisi diatas dapat kita lihat makna negatif bahwa yang dimaksud adalah politik kekuasaan, untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan dapat dilakukan dalam jalan apapun entah baik entah buruk, dapat menghalalkan segala cara dan lebih berorientasi pada kepentingan pemimpin atau elit yang berkuasa. Maka tak heran jika saat ini parlemen atau urusan politik dalam pemerintahan di kuasai oleh orang-orang yang tidak berkompoten, bahkan tidak memiliki wawasan yang cukup tentang dunia politik. Bahkan kini terdengar bahwa banyak dari kelompok selebriti/ artis yang turut terjun dalam kancah pemerintahan dengan memasuki partai-partai yang siap menampung mereka. Sebut saja vokalis band Nidji, Giring Ganesha yang memutuskan untuk terjun kedunia politik praktis dengan mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam konferensi pers yang di gelar di kantor DPD PSI. Rabu(6/9) sebagaimana yang dilansir dalam https://m.antaranews.com. Giring Ganesha mengatakan banyaknya artis yang berpartisipasi dalam dunia politik karena terinspirasi dari presiden joko widodo. Baginya  sosok jokowi adalah contoh bagi kalangan artis dan seniman bahwa seorang mabel bisa menjadi pemimpin bangsa dan bisa menyalurkan ide-ide yang membangun. Tak cuma dirinya, bahkan tercatat sekitar 54 artis akan berpartisipasi sebagai bakal calon legislatif pada pemillu legislatif 2019. Partai Nasdem menyumbang 27 orang artis, diikuti PDI Perjuangan sekitar 13 orang. PKB sebanyak 7 orang. Dan sisanya dari partai lain. Dengan bermodalkan popularitas dan ketenaran di harapkan para artis/selebriti ini akan mendulang suara bagi parpol  untuk memenangkan hati rakyat dalam  pemilu / pilkada mendatang, sebab mereka sudah di kenal masyarakat luas. 

        Hal ini seharusnya mampu menyadarkan kita akan buruknya sistem demokrasi yang di terapkan negara ini, dengan berasaskan sekuler matrealistik sehingga meniscayakan fenomena diatas terus terjadi. Masuknya banyak artis dari kalangan selebriti dalam partai adalah sebuah bukti pengkerdilan akan makna politik. Dengan membiarkan para selebriti/ artis yang selama ini selalu menghibur jutaan manusia dengan ragam aktivitas kemudian kini mencalonkan diri menjadi calon pemimpin di negeri ini adalah suatu kesalahan besar.  Politik adalah pengaturan urusan umat, bukan sekedar ajang lomba dalam memenangkan kursi. Juga bukan ajang untuk mengeksistensikan diri apalagi ajang hiburan. Popularitas tidaklah cukup bagi kalangan artis untuk dijadikan alasan dalam pencolanan tetapi mereka juga harus memiliki intelektualitas dan integritas yang tinggi.  Menurut peneliti forum masyarakat peduli parlemen Indonesia (FORMAPPI) Lucius Karus, banyaknya artis yang diusung sebagai caleg oleh parpol menunjukkan bawha partai politik hampir semuanya pragmatis, enggan bekerja keras untuk meraih gemilang. ( https://nasional.kompas.com) . hal ini tentu akan berdampak pada publik atau pemilih. Sebab, perekrutan caleg hampir pasti mengabaikan persoalan kualitas. Merekrut caleg secara kilat diyakini tak menyantuh persoalan kapasitas,  dan integritas. Sehingga akibatnya, pemimpin yang terpilih berisiko tak mampu bekerja sesuai tanggung jawab dan harapan rakyat.  Perlu kita pahami bersama bahwa yang di butuhkan rakyat saat ini adalah pemimpin yang mampu dan mau menjadi  peri’ayah bagi rakyat bukan sekedar penghibur hati rakyat. Rakyat ingin pemimpin yang bisa memberikan solusi atas permasalahan kehidupan. Saat rakyat kelaparan yang di butuhkan adalah sesuatu yang bisa mengenyangkannya bukan kata-kata penghibur yang akan menenangkan hati. Begitu pula saat rakyat buta huruf atau minim pendidikan yang mereka harapkan adalah adanya sekolah yang gratis. Saat mereka tidak memiliki tempat berteduh maka mimpi mereka adalah di sediakannya tempat tinggal yang layak tanpa membebankan biaya kepada mereka.

        Namun keinginan dan harapan besar rakyat ini tidak akan mungkin terpenuhi sekalipun pemimpinnya kelak adalah seseoarang yang terlihat baik dan memahami apa yang di inginkan umat. Mengapa demikian?, tentu saja ini semua karena sistem atau aturan yang diterapkan bukanlah sesuai dangan yang di perintahkan Allah dan di ajarkan rasulullah. Maka jika kita menginginkan pemimpin yang akan menjadi peri’ayah yang akan menjaga, melindungi, dan memelihara umat adalah dimulai dengan mengganti sistem rusak yang ada saat ini menjadi sebuah sistem yang shohih. Yaitu dengan sebuah sistem yang menerapkan aturan islam secara kaffah dalam bingkai khilafah. Karna dalam islam makna politik adalah sesuatu yang agung karena merupakan bagian hukum syara’ yang menjadi induk pelaksanaan hukum-hukum syara’ lainnya. Sehingga orang yang terjun dalam ranah kekuasaan dipastikan adalah orang yang paham islam, paham bagaimana tanggung jawab serta cara meri’ayah umat(rakyat). Serta siap menjalankan kepemimpinannya bersandarkan pada hukum syara’. Sistem khilafah adalah sistem yang meri’ayah umat dan khalifah adalah perisai bagi rakyatnya. Oleh karena itu segala sesuatu yang menjadi kebutuhan umat harus di perhatikan dan di pastikan terjangkau dan terpenuhi kebutuhan tersebut kepada rakyatnya. Dengan menerapkan hukum  islam maka insyaallah tidak hanya rakyat mengalami kesejahteraan tetapi juga mendapat keberkahan dari Allah SWT. Berikut beberapa contoh kesigapan dan kesejahteraan ketika negara menerapkan sistem islam : 

* Dalam menjamin kebutuhan pokok rakyat ; khalifah umar bin khaththab di suatu malam inspeksi ke perkampungan penduduk mengambil dan memikul sendiri sekarung bahan makanan dari Baitul Mal lalu untuk diberikan pada keluarga yang sedang menghadapi kelaparan.

* Dalam konteks hubungan internasional ; dalam islam adalah sebuah kewajiban  bagi Negara membantu Negara lain yang membutuhkan bantuan pangan. Seperti yang pernah dilakukan oleh khalifah Abdul Majid saat memimpin kekhilafahan turki utsmani . pada tahun 1845, terjadi kelaparan besar yang melanda Irlandia yang mengakibatkan lebih dari 1.000.000 orang meninggal.untuk membantu mereka , sultan Abdul Majid berencana mengirimkan uang sebesar 10.000 sterling kepada para peteni irlandia dan 3 kapal penuh makanan.

Demikianlah system islam terbukti mampu menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan. Dan dalam sistem tidak akan memberikan peluang bagi individu untuk mencari keuntungan pribadi ketika manjabat sebagai pemimpin di suatu negeri. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tetap bertahan dengan sistem yang rusak ini dan menolak khilafah sebagai sistem yang shohih. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surah Al-maidah ayat 50 : “ apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)”. Wallahu a’lam bishawab




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!