Wednesday, August 1, 2018

Sukamiskin yang Sukamewah


Oleh : Fitriani S.Pd


Lapas Sukamiskin yang berada di Bandung itu kini menjadi sorotan berbagai macam pihak. Bagaimana tidak demikian, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) telah berhasil menciduk ketua lapas yang telah menerima suap dari beberapa narapidana berduit yang mendekam disana. 

Tentu, bukan suap agar terbebas dari penjara. Melainkan agar bisa bebas membawa alat-alat elektronik mewah serta dapat izin wara wiri keluar masuk penjara dengan seenak hati. Sehingga melalui operasi Tim gabungan, tereksposlah  semua berbagai macam alat-alat mewah yang mewarnai dan membersamai para napi di lapas  selama ini.  Ada televisi, AC (alat pendingin ruangan), kulkas, gadget, leptop, uang jutaan rupiah,  alat olahraga mewah bahkan kursi wah ada disana, di tempat yang konon kabarnya bernama penjara yang pengap,  gelap dan mencekam, namun hanya berlaku untuk narapidana biasa tak berduit itu. 

Maklum, lapas sukamiskin yang sukamewah ini banyak di huni oleh para koruptor kelas kakap yang  suka nilep uang rakyat. Yang tentu ia memiliki uang banyak. Sehingga tempatnya mendekam tidak pantas disebut penjara, melainkan kost-kostan elit atau apartemen.


Lantas, apakah penjara mewah seperti ini akan membuat para pejabat negara jera menjarah uang rakyat?

Sepertinya kemungkinannya sedikit. Secara, penjara bak tempat liburan yang menyenangkan. Fasilitas disana tidak kalah pentingnya dengan yang didapatkan dirumah sendiri. Bebas keluar masuk malah. Asal bisa nyogok dengan uang jutaan.

Yah, inilah dampak dari diterapkannya sistem sekularisme kapitalisme di negeri ini. Tak ada lagi ketaqwaan yang bersemayam, karena agama hanya dibopong pada saat diatas sajadah saja. Dan ditinggalkan pada saat menjalankan amanah dari rakyat. Tak ada lagi rasa takut akan dimintai pertanggungjawaban oleh sang pencipta di akhirat kelak. Kewarasannya telah tersihir dengan paham materialisme (anak kandung kapitalisme) yang mendewakan uang.

Sehingga hukum akhirnya memiliki kedudukan yang sangat rendah dibanding rupiah. Korupsi tertangkap, lanjut suap menyuap di dalam penjara. Ironisnya, yang menerima suap adalah orang nomor satu yang diamanahi  untuk memantau aktivitas para napi di penjara tersebut. Ironis iya, pilu tentu tak terbendung lagi ketika menyaksikan semua kecarutmarutan ini.

Berbeda dengan sistem Islam yang telah terbukti dalam tinta sejarah keemasan, yang telah terterapkan selama 1300 tahun lamanya itu. Yang menjadi tolak ukurnya bukan untung rugi, melainkan halal haram. Tak ada tawar menawar yang terjadi ketika berhadapan dengan hukum syara. Ketaqwaan individu selalu terpatri. Menyadari bahwa semua yang ia lakukan, amanah yang ia emban dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Begitu juga dengan penjara yang disediakan. Bukan penjara mewah seperti penjara para perampok uang rakyat zaman ini.  Karena seharusnya, penjara memberi rasa takut dan cemas bagi  yang dipenjara. Tidak boleh ada lampu yang terang (harus remang-remang) dan segala jenis hiburan. Tidak boleh ada alat komunikasi dalam bentuk apa pun. Hal itu karena ‘dia’ adalah penjara, tempat untuk menghukum para pelaku kejahatan. Tidak peduli, apakah dia miskin atau kaya; tokoh masyarakat atau rakyat biasa. Semua diperlakukan sama. Yang tentu, hak-hak dan kebutuhannya sebagai manusia tetap diperhatikan.

Sayangnya, penjara semacam ini tidak bisa kita harapkan ada, jika sistem yang berlaku masihlah sekularisme kapitalisme. Bahkan kasus ini akan tetap ada, memenuhi layar kaca hingga membuat kita yang menyaksikannya muak. Karena hanya sistem Islamlah semua kepiluan ini akan berakhir. Sistem yang didalamnya diterapkan seluruh atura Islam  dalam seluruh aspek kehidupan.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!