Thursday, August 2, 2018

Srigala Berbulu Domba Hanya Ada Dalam Demokrasi


Oleh : Agus susanti

        Demokrasi adalah sebuah sistem dari ideologi kapitalis di mana sangat mudah untuk seseorang meraih kedudukan tertinggi dalam sebuah parlemen atau institusi negara. Hal ini dapat kita lihat dari sekian banyaknya pejabat negara yang duduk  di bangku parlemen sekalipun sesungguhnya ia tak mampu/ layak dalam memegang jabatan tersebut. Di lihat dari kebijakan-kebijakan yang di ambil oleh sang pemimpin,  dimana kebijakan itu justru semakin menyusahkan rakyatnya. Seperti yang kita ketahui belakangan  ini, pemerintah menarik biaya subsidi untuk pembayaran gas elpiji 3 kg yang selama ini di gunakan oleh masyarakat. Dengan mengatas namakan kepentingan rakyat, agar dana subsidi yang seharusnya di nikmati oleh rakyat miskin bisa tercapai ke tujuan. Karna mereka mengatakan gas melon 3kg yang beredar saat ini banyak d gunakan oleh orang yang tidak tepat. Alhasil kebijakan baru pun di keluarkan. Yaitu dengan mengeluarkan gas non subsidi 3 kg yang di kisarkan harga pertabung adalah 39.000rp. Tentu kebijakan seperti ini tidak tepat dan terlalu mengada-ada. Kemudian dari sisi lain kita ketahui bersama bahwa banyak para pejabat yang ada di indonesia, baik di pusat maupun daerah lainnya melakukan tindakan korupsi ataupun sejenisnya. Dan hal seperti ini bukanlah persoalan baru, melainkan sudah teramat sering bahkan hampir-hampir masyarakat tidak merasa aneh lagi ketika mendengar hal serupa terjadi. Kenapa hal seperti ini terus terjadi? Jawabannya adalah karena yang di terapkan di negara ini adalah ideologi Kapitalis. Dimana dalam sistem ini syarat utama menjadi pemimpin adalah sang kapital/ pemilik modal (uang). Sehingga siapapun orangnya  dari golongan manapun, asalkan meraka punya modal maka ia boleh mencalonkan diri dan bersaing dalam ranah demokrasi. Kemudian karena aqidah dari ideologi ini adalah sekuler yakni memisahkan agama dari kehidupan, sehingga memberi pelung bagi seorang penjahat, narapidana, bahkan soerang tersangka tindak kejahatan untuk duduk di bangku pemerintahan dan melakukan tindakan korupsi tanpa ada rasa takut/ khawatir akan dosa yang ia perbuat. Serta  tidak menghadirkan ruh (kesadaran) bahwa Allah senantiasa mengawasi, dan kelak di hari akhir semua perbuatan selama akan dimintai pertanggung jawaban.

        Sebagai contoh, kita ketahui bersama bahwa pilgubsu serentak di tahun ini telah selesai di laksanakan. Hasilnya pun sudah di umumkan dan segera di lantik. Baik itu yang menang adalah yang di ingikan rakyat atau sebaliknya. Tapi kabar tidak menyenangkan kembali lagi terjadi, suara terbanyak memenangkan seorang mantan bupati tulungagung jawa timur Syahri Mulyo sedangkan dirinya saat ini sedang terjerat kasus korupsi. Dirinya pun saat ini sudah menyerahkan diri dan berada dalam tahanan kpk. Namun sangat di sayangkan keputusan sang menteri dalam negeri RI Tjahyo Kumolo praktisi dari partai PDIP ini yang mengatakan dirinya akan tetap melantik calon gubernur yang menang dalam hasil pemungutan suara yang serentak di laksanakan pada 27 juni 2018 lalu, sekalipun orang itu sedang terjerat kasus korupsi. Dirinya mengatakan selama belum ada status resmi dalam kasus yang menimpa shahri mulyo maka pelantikan akan tetap terjadi meskipun di laksanakan dalam sel/ penjara. Demikian yang di lansir dalam media https://nasional.kompas.com. Menurut mendagri  hal ini juga pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, dan ya tetap di lakukan pelantikan. Berikut sembilan nama kepala daerah yang pernah dilantik Mendagri meski tersangkut kasus korupsi yang tercatat dalam data yang di miliki Indonesia C0rruption Watch (ICW) : 1.Bupati rembang mochamad salim, 2. Bupati Kepulauan Aru Theddy Tengko, 3.Bupati Lampung Timur Satono, 4.Wakil Bupati Bangka Selatan Jamro H Jalil, 5.Gubernur Bengkulu  Agusrin Najamuddin, 6. Wakil Bupati Jember Kusen Andalas, 7.Bupati Boven Digul Yusak Yaluwo, 8.Wali Kota Tomohon Jefferson Rumanjar, 9.Bupati Mesuji Ismail Ishak. Di kutip dari http://www.tribunnews.com 

        Demikianlah jika yang di terapkan adalah sistem demokrasi kapitalis yang dapat menjadikan seorang tersangka atau kriminal bisa menjadi pemimpin negeri ini dan di tampilkan dengan sosok  yang sangat ramah dan perduli terhadap kesejahteraan dan nasib rakyat. Sehingga masyarakat pun bisa tertipu ketika melihat sang colon pemimpin saat kampenya berubah menjadi sosok yang paling idealis. Inilah demokrasi yang sesungguhnya (menipu rakyat) Ibarat pribahasa ‘Srigala Berbulu Domba”. Dan ini berbeda jauh dengan mekanisme pemilihan pemimpin dalam sistem islam.  Yakni pemilihan hanya dilakukan untuk khalifah saja yang kriteria personal berdasarkan standart syara’ yang meniadakan tempat bagi tersangka menjadi calon, kemudian lebih efektif dan efisien waktu karna hanya memilih khalifah, dan untuk jabatan selebihnya di tunjuk oleh khalifah dengan ketentuan syara’ bukan hawa nafsu personal khalifah. Kemudian dalam sistem islam tidak ada batasan waktu kepemimpinan sehingga khalifah atau jabatan lainnya hanya akan di ganti ketika mereka sudah wafat, tua(tidak sanggup memimpin), atau karna melanggar tugas misalnya menyalahi hukum syara’. Hal semacam ini sangat minim kesempatan untuk seseorang yang menginginkan jabatan hanya demi tujuan duniawi semata. Karena seorang khalifah yang menerapkan hukum syara’ pastinya memahami akan tugas dan tanggung jawabnnya sebagai periayah umat. Oleh sebab itu ketika hendak mengangkat seorang kholifah harus memenuhi syarat/ standart syara’. Seperti yang di kutip dari https://m.eramuslim.com.  Menurut Syekh Muhammad Al-Haasan Addud Asy-Syanggiti ada sepuluh syarat yang harus terpenuhi, diantaranya yaitu: Muslim,  laki-laki, merdeka, dewasa, sampai kederajat mujtahid, adil, profesional, sehat penglihatan, pemberani, dari suku Quraisy (jika sudah tidak ada maka yang terbaik di antara mereka yang berhak memimpin). Adapun sistem pemilihan khalifah dpt menggunakan sistem syura,sebagaimana yang terjadi pada khalifah utsman dan ali. Mereke di pilih dan di angkat oleh majelis syura. Sedangkan majelis syura itu haruslah orang yang saleh, faqih, wara’(menjaga diri dari subhat) dan sifat mulia lainnyea, sehingga tidak mungkin terjadi kecurangan ataupun pemimpin titipan Barat seperti yang terjadi dalam di negara kita saat ini. Dimana kebijalkan-kebijakan yang yang ada adalah pesanan dari negara lain.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!