Thursday, August 2, 2018

Remaja Milenial Dalam Dunia Digital


Oleh: Supiani (Revowriter8)


Millenial. Sungguh bukanlah satu kata yang asing lagi bagi kita. Generasi Millenial adalah kita yang lahir sekitar tahun 1980-an sampai dengan tahun 2000-an. So, remaja millenial bisa dimaknai juga dengan remaja zaman now.


Remaja millenial selalu identik dengan sesuatu yang paling in, hits dan juga apa yang lagi trend pada saat ini. Demi tetap eksis agaknya remaja millenial akan selalu berupaya melakukan aktifitas yang terbaru. Termasuklah dengan dunia digital.


Dunia digital juga bukan menjadi suatu yang awam lagi bagi remaja millenial, bahkan sudah menjadi suatu kebutuhan.


Menurut Xavier Denoly (Country President Schneider Electric Indonesia) seperti dilansir dari Kompas.Com (Rabu, 18/04/18), teknologi digital adalah realitas yang tidak terelakkan lagi. Hal tersebut semakin menjadi kebutuhan sehari-hari.


“Coba bayangkan, apa jadinya anak muda zaman sekarang tanpa kehadiran wifi? Koneksi internet seolah menjadi kebutuhan lebih krusial dibandingkan hal-hal lain,” tuturnya dalam Pergelarang Innovation Summit 2018 di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (18/04/2018).


Dunia digital memang suatu yang tak dapat dinafikan perkembangannya. Kemajuan pesatnya juga menjadikan aktifitas manusia zaman now lebih efektif dan efisien. Manusia lebih mudah berkomunikasi meski terbentang jarak ribuan kilometer. Lewat dunia digital, dunia seolah bisa dijamah cukup dengan mengetuk-ketuk layar gadget.


Betapa banyak transformasi dunia teknologi selama beberapa tahun belakangan. Berbagai aplikasi pun tak luput dari euforia berkembangnya era digital. Mulai dari aplikasi yang bermanfaat namun tak jarang pula aplikasi yang mengundang mudharat.


Media sosial pun turut meramaikan pesta dunia digital yang kian hari kian beragam fitur yang ditawarkan. Dari yang hanya untuk berkirim pesan, lalu bisa saling berkirim foto hingga video bahkan dengan hasil editan paling ciamik.


Namun, semakin berkembangnya dunia digital selalu saja ada dilema yang menimpa remaja millenial. Berkembang majunya dunia digital bak pisau bermata dua yang dapat melukai siapa saja dan kapan jika kita tidak berhati-hati dalam menggunakannya.


Banyak remaja millenial yang akhirnya terkenal lewat vlog-nya ataupun video viralnya di media sosial. Namun yang amat disayangkan, sebagian besar vlog dan video viral ialah video yang menampilkan wajah buruk dunia remaja.


Dunia digital dengan media sosial terkini menyihir remaja untuk sibuk dengan aktifitas dunia maya. Mereka bahkan menghabiskan lebih banyak waktunya di dunia maya daripada di dunia nyata. Perkembangan dunia digital tak menjadikan remaja millenial islam produktif berkarya dan menghasilkan sesuatu yang positif bagi dirinya dan juga bagi orang lain yang terlibat aktif dengan dunia maya. Kita justru menjadikan dunia maya sebagai ajang saling sindir, hujat bahkan mencaci maki dengan yang lainnya.


Remaja islam lupa dengan kewajibannya yang lebih krusial bagi kehidupannya di masa depan. Sibuk stalking akun media sosial Kpop dan artis terkenal, berlomba dengan goyangan dan gaya paling yahud dengan aplikasi tik tok. Dunia digital tak urung menjadi lahan paling subur bagi tumbuhnya sekularisasi.


Bagaimana tidak, remaja yang sudah tercekoki dengan virus liberal (kebebasan) sehingga cenderung bersikap pragmatis dan juga hedonis. Mereka tidak perduli apa yang buruk dari perbuatannya dan bagaimana dampak negatifnya asalkan ia tetap menjadi yang terdepan. Mereka pun tidak peduli berapa rupiah yang mereka gelontorkan untuk menunjang budaya narsis yang mereka geluti.


Coba bayangkan, lebih banyak mana antara kita mengeluarkan uang untuk bersedekah daripada untuk membeli kuota? Jawabannya ada di hati kita masing-masing.


Dunia digital menjadikan kita generasi pembebek, generasi yang mengikuti segala aktifitas terkini tanpa memikirkan bagaimana hukumnya dalam aturan islam hanya demi menegaskan eksistensi. Dunia maya pun tanpa disadari menjadi lahan bagi khalwat terselubung dengan lawan jenis yang bukan mahram. Remaja millenial barangkali lupa jika aturan islam tak hanya bagi dunia nyata, pun begitupula bagi dunia maya. Sebab setiap muslim terikat dengan hukum syara’.


Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka selisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa’: 65)


Maka sudah seharusnya kita selalu menilik perbuatan yang kita lakukan apakah perbuatan yang diperbolehkan dalam islam atau justru perbuatan yang mengandung dan mengundang kesengsaraan di hari kemudian. Remaja baiknya senantiasa menghadirkan kesadaran sebagai seorang hamba Allah dalam setiap aktifitas sehingga kita tidak terjerumus pada perbuatan yang sia-sia.


“Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia yang meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. At-Tirmidzi)


So, apalah artinya sebuah eksistensi jika hanya akan menjadi petaka bagi diri. Sebagai muslim sejati sudah saatnya kita bertindak dan berbuat perbuatan yang islami, bukan hanya mengikuti apa yang paling terkini.


Wallahu ‘alam bish showab

Bumi Allah, Suatu hari di tahun 2018



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!