Friday, August 3, 2018

Pernikahan Dini, bukan Cintanya yang Terlarang


Oleh : Masliati,S.Pd 

(pengurus MT Al Munawwarah Banjarbaru)

Masih terasa hebohnya pernikahan yang terjadi di Tapin, tepatnya di Jalan Saka Permai Desa Tungkap Kecamatan Binuang pada Kamis malam 12 Juli 2018. Pernikahan ini terjadi antara IB 14 tahun dengan ZA 15 tahun.


Pernikahan yang terjadi dirumah neneknya si anak laki-laki, karena kedua anak ini berdasar pernyataan si nenek sudah sangat dekat, sehingga khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, neneknya memutuska  untuk menikahkan mereka setelah memang juga ditanya bahwa mereka mau kawin dan tak ingin sekolah lagi.


Saking hebohnya pernikahan dini ini, sampai diundang ke acada tv swasta nasional. Kalau mau jujur, pernikahan dini yang terjadi di Indonesia tidaklah sedikit, tinggal clik saja tentang pernikahan dini, maka akan muncul sederet berita bahwa faktanya pernikahan dini ini banyak terjadi di berbagai penjuru daerah di Indonesia bahkan seluruh penjuru dunia. Jadi, hebohnya ini memang karena ada yang memviralkannya, padahal faktanya ini lumrah terjadi di masyarakat baik di desa maupun di kota, tergantung pandangan mereka untuk berhati-hati dalam kehidupan. 


Lalu saja berbagai respon berdatangan, bahkan pihak kepolisian pun turut serta dalam urusan ini, karena dianggap mengancam masa depan anak bangsa, akhirnya hanya kurang lebih dua hari,tepatnya 14 Juli 2018 oleh KUA setempat menyatakan bahwa pernikahan ini tidak sah, karena masih dibawah umur, dan dikatakan tak ada wali bagi si anak perempuan.


Respon pernikahan dini inipun juga oleh DPRD Kalimantan Selatan sampai mendesak Pemerintah Kabupaten mencegah pernikahan dini yang dinilai merugika  n masa depan generasi muda, mengingat angka pernikahan dini di Kalimantan Selatan cukup tinggi. Dan akan melibatkan stakeholder dalam melakukan imbauan persuasif dengan juga para ulama yang didengar suaranya oleh masyarakat. Ungkap sekretasis Fraksi PKS DPRD Kalimantan Selatan Riswandi, selasa (17/7) mediaIndonesia.com.


Faktor kemajuan teknologi saat ini memang sangat sulit dibendung, terlebih karena tidak adanya aturan yang ketat atau dengan kata lain saking bebasnya segalan akses masuk, informasi dari mana dan apa saja bisa didapat, menjadikan anak-anak yang sudah bersentuhan dengan teknologi melalui media sosial  jadi dewasa sebelum waktunya, yaitu pikiran mereka sudah tidak pada tempatnya yang wajar sebagai anak-anak.


Bayangkan saja, IB dan ZA yang sudaj sangat dekat, sampai berani menikah karena dikhawatirkan oleh keluarganya,dan mereka sempat merasakan dalam waktu yang sebentar sebagai pasangan suami istri, lantas pernikahan mereka dibatalkan. Apa yang akan terjadi, mungkinkah mereka tetap bisa fokus dalam bersekolah. Karena sejatinya perilakunya akan terbawa sebagaimana pikiran yang ada , sementara sudah terbentuk persepsi dan fakta yang tidak lagi sama dengan sebelumnya saat belum menikah.


Sebenarnya, tidak ada salahnya dengan pernikahan dini, bukanlah sebuah cinta terlarang sehingga dipandang negatif dan merusak masa depan dan dikhawatirka  tak bisa mandiri dalam berekonomi. Kalau pernikahan dini terjadi setelah hal yang dikhawatirkan terjadi inilah yang negatif karena terlambat ,tapi jika pernikahan dini dilakukan dalam upaya untuk menghindari dari hal yang tidak diinginkan, maka inilah yang positif karena menyelamatkan anak bangsa dari perzinahan dan sucinya nasab.


Kalau masalah ekonomi yang dipermasalahkan, bukankah saat ini yang tidak pernikahan dini pun, juga tak kalah seriusnya dalam susahnya berekonomi. Atau jika masalahnya pada resiko melahirkan anak terlalu muda, itupun tidak sepenuhnya beresiko karena pemicu resiko itu buka  karena usianya, tapi ada faktor lain yang terkait dengan kondisi kesehatan dan mental yang juga bisa terjadi pada pernikahan yang tidak dini. Bukankah pernikahan itu tujuannya untuk melestarikan keturunan, bukanlah semata untuk kesenangan, terlebih pernikahan dapat menyelamatkan dari perbuatan zina yang nista.


Sehingga jika memang sudah terpenuhi syarat- syarat nikah dan syarat sahnya serta rukun nikah yang dipenuhi maka sah lah pernikahan ini. Termasuk usia dalam menikah yang tidak bisa dibatasi jika memang sudah usia baligh. 


Yang perlu di perhatikan agar kita jangan sampai tergerus pada opini negatif pernikahan dini,jika dilakukan dalam rangka melindungi keluarga dari perbuatan zina ,maka ini harus di dukung karena termasuk dalam amar ma'ruf nahi mungkar. Karena dalam Al Qur'an surah Al Isra ayat 32 perintah untuk menjauhi zina sangat tegas. Jadi jika pemerintah ingin agar tak terjadi pernikahan dini, maka sudah seharusnya segala upaya dikerahkan untuk menyelamatkan generasi bangsa dari perbuatan zina yang justru mengancam masa depan anak bangsa. Semua pengaturan adalah tanggung jawab negara, baik dari aspek sosial bahkan ekonomi dalam pemerataan lesejahteraan penduduknya.


Penulis 

Masliati,S.Pd (pengurus MT Al Munawwarah Banjarbaru)



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!