Thursday, August 2, 2018

Minus Kader Berpotensi, Artis pun Jadi


Oleh:Tety Kurniawati ( Anggota Akademi Menulis Kreatif) 


Pendaftaran bakal calon legislatif ( bacaleg)  resmi ditutup 17 Juli yang lalu. Tercatat ada 16 parpol peserta Pemilu Nasional 2019 yang mengajukan nama-nama bacaleg. Mereka inilah yang nantinya  akan bertarung memperebutkan kursi anggota dewan legislatif tahun depan. 

Diantara daftar nama yang diajukan parpol, termaktub sejumlah selebriti dunia hiburan yang tidak asing lagi bagi publik tanah air. Nasdem menjadi partai dengan jumlah bacaleg artis terbanyak, yakni 27 orang. Disusul berikutnya PDIP 13 bacaleg, PKB 7 bacaleg, Berkarya 5 bacaleg, sedang Demokrat, PAN dan Golkar masing-masing 4 bacaleg, Perindo dan Gerindra 3 bacaleg,  dan PSI satu bacaleg. 

Meski bukan hal baru. Namun keterlibatan para selebritis dalam kontestasi politik selalu menarik untuk diperbincangkan. Terutama terkait latarbelakang kemunculan mereka di panggung politik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa fenomena munculnya caleg selebritis dimotori oleh adanya perubahan mekanisme pemilu dari sistem pemilu proporsional tertutup ke sistem proporsional terbuka pada Pemilu 2004. Jika pada sistem proporsional tertutup masyarakat hanya memilih parpol. Sebaliknya, sistem proporsional terbuka memberikan hak kepada masyarakat untuk memilih langsung anggota legislatif. Maka secara otomatis parpol tidak lagi menjadi mesin pendulang suara yang paling efektif. 

Preferensi pilihan politik pun bergeser ke figur caleg yang diusung parpol. Hingga wajar jika kemudian persona dan popularitas diasumsikan sebagai vote getter. 

Demokrasi Melahirkan Politikus Minus Potensi

Fenomena caleg artis sesungguhnya menunjukkan karakter parpol sebagai institusi politik yang bersifat pragmatis. Aktivitas politik bagi parpol tak lebih hanya sekedar kerja meraih dan mempertahankan kekuasaan. Akibatnya nalar dan nurani senantiasa dikebiri. Hanya mengejar kepentingan diri sendiri dan organisasi.

Tak dipungkiri partisipasi pemilih meningkat dengan adanya perekrutan artis. Sebab masyarakat cenderung lebih loyal menggunakan hak pilihnya ketika ada figur pesohor yang mereka kenal ditubuh parpol. Namun dari sisi kaderisasi justru menunjukkan gagalnya parpol mencetak figur potensial. Popularitas dan logistik yang menyertai masuknya pesohor jadi prioritas. Disaat yang sama, alpa akan  kemampuan, kapasitas dan integritas. Akibatnya, , kehadiran selebritis di panggung politis hanya "pemanis" dengan kontribusi sebagai wakil rakyat yang minimalis. 

Inilah wajah demokrasi yang hakiki. Melegalkan segala cara dalam meraih kekuasaan telah menciptakan sosok pemimpin yang minus potensi. Penuh rekayasa pencitraan untuk melanggengkan jabatan atau meraih kursi yang diingini. Berpenampilan merakyat namun tak pernah berpihak pada rakyat. Bersikap dermawan kala ada pesanan kepentingan. Hanya pandai mematut diri di depan kamera. Namun gagap ketika berada di depan meja kerja. 

 Islam sebagai Solusi hakiki

Sudah saatnya demokrasi kita singkirkan dan menggantinya dengan sistem yang terbukti mampu menghasilkan sebaik-baik pemimpin peradaban. Sebuah sistem ciptaan sang penguasa kehidupan. . Sistem Islam yang terbukti mampu mencetak para pemimpin yang senantiasa khawatir kelak di azab oleh Allah jika melakukan kezaliman. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tidak ada seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, kemudian tidak bersungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan baik, kecuali ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR Muslim)

Pencitraan sejatinya adalah kedholiman. Ia tidak pernah ada dalam tradisi kepemimpinan Islam. Jangankan melakukan pencitraan, mengajukan diri sebagai pemimpin saja merupakan hal tabu sesuai adab Islam. Nabi SAW bahkan pernah menegur sahabatnya yang berambisi dengan kekuasaan. Pesan Nabi SAW kepada Abdurrahman Ibnu Samurah RA, "Janganlah engkau meminta jabatan. Sebab, jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk melaksanakannya. Tetapi, jika engkau diberi kekuasaan dengan sebab adanya permintaan daripadamu, maka engkau akan dipalingkan dari pertolongan Allah." (HR Bukhari Muslim).

Sejarah telah mencatat bagaimana kondisi saat Umar dilantik menjadi Khalifah. Tak ada rona bahagia di wajahnya. Ia merasa jabatannya adalah sebuah amanah yang sangat berat. Kelak setiap keputusannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka  ketika para sahabat mengusulkan kepada khalifah Umar bin Khattab lewat putri beliau Hafsah agar menerima kenaikan tunjangan sebagai amirul mukminin. Kala harga-harga di pasar merangkak naik. Beliau justru murka dengan usulan tersebut. 

Inilah gambaran pemimpin yang mencintai dan dicintai oleh rakyatnya. Pemimpin yang sederhana karena takut tidak mampu meri'ayah rakyat dengan sebaik-baiknya. Bukan pemimpin yang penuh pencitraan karena haus kekuasaan. Pemimpin yang mampu mengantarkan kaum muslimin menggapai ridho Robb-nya. Sosok ideal yang hanya akan muncul dari ketundukkan kepada Pencipta semesta. Saat aturan-aturan Allah teraplikasi dalam kehidupan secara nyata. Wa allahu a'lam bish shawwab. 






SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!