Thursday, August 2, 2018

Mewaspadai Sekulerisasi Kurikulum Generasi


Oleh: Arin RM, S.Si*

 

Istilah generasi tepatnya disematkan pada penduduk usia muda, yang dikenal dengan sebutan pemuda. Secara kuantitas generasi muda Indonesia saat ini berada pada level aman. Data demografi Indonesia menyebutkan bahwa jumlah pemuda di Indonesia dengan range usia antara 16-30 tahun, berjumlah 61,8 juta orang, atau 24,5 % dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang (BPS, 2014). Tahun 2020 sampai 2035, Indonesia akan menikmati suatu era yang langka yang disebut dengan Bonus Demografi, dimana jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa ini, yaitu mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa (www.kemdikbud.go.id, 28/10/2016). Bonus demografi ini adalah berkah, mengingat beberapa negara maju justru diprediksi akan mengalami kelangkaan generasi muda, misalnya saja Jepang dan Jerman. 

Dengan berkah bonus demografi di atas, Indonesia aman dari sisi kuantitas penerus bangsa dan menyelamatkan nasib generasi adalah bagian dari aktivitas kepedulian akan kelangsungan masa depan kehidupan. Generasi berperan penting sebagai penerus estafet suatu bangsa. Oleh karenanya, topik yang berkaitan dengan generasi ini akan senantiasa menjadi bahasan yang tak lekang massa, selalu up to date dari waktu ke waktu. Sebuah bangsa yang hebat, tentunya memiliki simpanan generasi yang hebat. Hebat dari sisi kuantitas, hebat pula dari sisi kualitas. Demi kepentingan regenerasi hebat ini lah berbagai upaya menyiapkan masa depan generasi terus dilakukan. Termasuk melindungi mereka dari ganasnya sekulerisasi di dunia pendidikan.

Sekulerisasi ini terbaca dari wacana pengkajian ulang kurikulum agama. Dikutip dari posmetro.info (29/07/2018), Ketum PBNU, KH Said Aqil Sirodj, mendesak agar kurikulum agama dikaji lagi. Ia mengusulkan agar bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. "Yang diperhatikan adalah kurikulum pelajaran agama di sekolah. Saya melihat pelajaran agama di sekolah yang disampaikan sejarah perang, misalnya perang badar, perang uhud, pantesan radikal," katanya

Sungguh disayangkan apabila kajian sejarah jihad disandingkan dengan sifat radikal. Sebab hakikat jihad dalam Islam dilakukan dalam rangka menghilangkan penghalang penyebaran Islam secara fisik. Jihad pun dilakukan setelah sebelumnya terjadi diplomasi untuk memeluk Islam tanpa paksaan atau tawaran mengikuti aturan Islam. Tidak serta-merta perang merusak nan membahayakan. Rasulullah beserta shahabat dan generasi penerusnya pun melakukan jihad dalam rangka meratakan penyebaran Islam. Lantas apakah mereka itu juga radikal?


Lebih lanjut, pendistorsian ajaran sejarah Islam hanya lantaran ditakutkan radikal adalah kesalahan fatal. Selain menjadikan islamophobia di kalangan generasi muda, sikap ini justru bertentangan dengan perintah berislam secara kaffah (Al Baqarah ayat 208). Islam akan diambil yang menyenangkan, yang tidak memicu kekerasan. Sedangkan kisah terkait perang, yang ada di Al-Quran dan hadits akhirnya dianggap menakutkan, sehingga tidak perlu banyak disampaikan. Tentu ini adalah bentuk perendahan terhadap ajaran Islam itu sendiri. 


Tidak bisa dibiarkan generasi dijauhkan dari ajaran Islam secara utuh. Sebab pengkotakan materi Islam hanya akan membuat mereka tidak dapat melihat indah dan sempurna Din ini. Mereka tidak lagi bangga dengan Islam, agama yang tinggi dan tak ada yang menyamai ketinggiannya. Mereka justru akan salah arah mengagumi materi kurikulum diluar Islam, yang mayoritas berasal dari barat dengan ideologi kapitalis sekulernya. 


Oleh karenanya, generasi justru harus dikenalkan Islam secara kaffah. Sebab merekalah yang nantinya akan mewarisi estafet peradaban. Mereka harus beridentitas dan berkepribadian Islam. Sebab hanya dengan Islam lah dahulu generasi sekaliber Shalahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih dicetak. 


Dan untuk mewujudkan kualitas generasi muslim tangguh seperti itu dukungan komunal masyarakat serta negara. Tanpa peran negara yang mempengaruhi suasana masyarakat untuk mendukung lahirnya kualitas generasi hebat, upaya individu dan keluarga akan terasa pincang. Maka tak heran jika sangat dibutuhkan hadirnya negara penerap Islam, yang menerapkan kurikulum pencetak generasi berkepribadian Islam. [Arin RM]



*Member TSC dan freelance author





SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!