Wednesday, August 1, 2018

Merindukan Pemimpin Tanpa Pencitraan


Oleh : Kamsiah

Anggota Akademi Menulis Kreatif Kalsel

Jelang Pemilu 2019, hawa  politik semakin memanas. Dipenghujung tahun 2018 ini sepertinya akan dipenuhi  dengan hari hari yang akan banyak kejutan. Jangan heran kalo tiba tiba para politisi mulai merubah  penampilan baik cara berpakaian maupun cara berbicara. Kalau sebelumnya mereka susah ditemui,  maka pada   saat ini merekalah yang datang menemui. Tidak lagi menunggu bola tetapi dengan cara menjemput bola. Akan terlihatlah jati diri sosok yang merakyat. Itulah namanya politik pencitraan.


Politik pencitraan adalah politik yang dibuat untuk menggambarkan seseorang , politisi, pejabat, partai, ormas dan lain lain  adalah baik atau buruk. Politik pencitraan positif digunakan untuk mengangkat elektibilitas diri dan golongannya dikhalayak umum sedangkan pencitraan negatif  untuk menjatuhkan lawannya. 


Ranah pencitraan bisa mencakup semua komponen perilaku, mulai dari cara bicara, cara berpakaian, cara makan dan minum, cara berjalan dan cara dia berinteraksi dengan lingkungan. 

Menjelang  Pilkada atau Pilpres aktivitas  ini menjadi 'the top rate' di sosial media.  Dan akan dimulailah babak penuh kepalsuan.


Seperti layaknya pemain sinetron. Semua peran akan dilakoni. Kadang berperan sebagai yang terdzolimi hingga menuai rasa iba. Atau berperan sebagai sosok yang bijaksana dan tegas sehingga mendapat simpati.  Semua itu tentu saja bisa dikatakan pencitraan tatkala apa yang mereka lakukan itu tidak seperti apa yang mereka kerjakan di setiap harinya dalam kehidupannya. 


Mengapa ada Politik Pencitraan? 

Konon Gaya orde lama yang dianggap penuh intimidasi, kekerasan dan pemaksaan dianggap sudah  tidak layak lagi dipakai di era sekarang. Tetapi dengan menggunakan gaya baru yaitu"'merangkul" rakyat agar terlihat lebih merakyat. Dan para ulama menjadi preoritas untuk rangkulan yang lebih hangat. Dengan demikian  rakyat akan menganggap kalau inilah sosok pemimpin masa depan. 


Politik pencitraan diri seorang figur yang sedang bertarung dalam kontestasi politik merupakan upaya untuk dapat  meraup sebanyak banyaknya suara yang akan menghantarkanya menjadi penguasa negara dalam sistem  demokrasi. 

Inilah realitas ketika politik tidak lagi dimaknai sebagai tindakan untuk memperjuangkan  kepentingan rakyat,  dengan lebih mementingkan tampilan luarannya dan citra diri. Akan lahirlah pemimpin yang jauh dari keteladanan. Pemimpin yang akan menjalankan roda pemerintahan diatas kepentingan pribadi dan golongan golongan yang memberi andil dalam pemenangan.


Pencitraan Menurut Islam 

Bertolak belakang dengan sistem demokrasi, pencitraan sebenarnya tak pernah ada dalam tradisi kepemimpinan Islam. Jangankan melakukan pencitraan diri, mengajukan diri sebagai pemimpin saja merupakan hal tabu dalam adab Islami. 

Seseorang hanya dituntut untuk beramal dan melahirkan karya sebaik-baiknya semata mata mengharap ridha Illahi.  Tidak terbetik dalam hatinya untuk bangga dengan amal perbuatannya. Apalagi menjadikan amalnya untuk pencitraan yang berorientasi pada kekuasaan. 

Namun  jika memang perbuatannya membawa manfaat kebaikan yang dirasakan orang banyak sehingga berujung pada pencitraan dirinya oleh orang lain, hal ini boleh saja. Dengan sendirinya ia akan menjadi sosok yang diteladani dan akan diminta untuk menjadi pemimpin. 


Pesan Nabi SAW kepada Abdurrahman Ibnu Samurah RA, "Janganlah engkau meminta jabatan. Sebab, jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk melaksanakannya. Tetapi, jika engkau diberi kekuasaan dengan sebab adanya permintaan daripadamu, maka engkau akan dipalingkan dari pertolongan Allah." (HR Bukhari Muslim). 


Kepemimpinan dalam Islam berarti Khilafah, Imamah, Imaroh, yang mempunyai makna daya memimpin atau kualitas seorang pemimpin atau tindakan dalam memimpin. Menjadi pemimpin berarti berupaya untuk mentransformasikan semua potensi yang dimiliki  menjadi kenyataan. Menjadi pemimpin berarti menerima amanah besar. Bukan hanya menerima  amanah dan tanggungjawab  terhadap rakyat yang dipimpinnya selama didunia tetapi juga diakhirat dihadapan Allah Swt.  Sabda Rasulullah Saw “Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada seseorang yang memintanya, tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Muslim). 


Realitas kepemimpinan dalam islam akan melahirkan pemimpin yang amanah, bertaqwa dan mampu membawa perubahan negara menjadi lebih baik. Menjadi mercusuar peradapan. 

Banyak keteladan yang bisa diambil dari pemimpin pemimpin terdahulu. Khalifah Umar bin Khatab misalnya, adalah khalifah kedua menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq,  dikenal sebagai pemimpin yang sangat disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang luar biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya.  Bahkan pernah memikul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan. Tentu kita akan rindu pemimpin seperti ini. 


Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan  "Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang" 


Pemimpin seperti Khalifah Umar bin Khatab sudah pasti tidak akan ada didalam sebuah negara yang tidak menjadikan islam sebagai pedoman dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun dengan kembali pada sistem pemerintahan islam dalam bingkai Daulah Islamiyah, akan lahir pemempin-pemimpin  yang meneladani kepemimpinan beliau.


Wallahualam bishawab


Penulis 

Kamsiah

Anggota Akademi Menulis Kreatif Kalsel


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!