Monday, August 6, 2018

Menyoal Istilah “Islam Nusantara”


Oleh : Pita Nirmalasari 

(aktivis mahasiswi)

Istilah “Islam Nusantara” akhir-akhir ini viral diperbincangkan. Pro kontra istilah ini pun tak bisa dihindarkan. Pasalnya, istilah Islam Nusantara banyak menimbulkan perspektif yang menyebabkan perdebatan. Menurut Wikipedia, Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia. Istilah ini di latar belakangi oleh kehancuran Timur Tengah yang tercabik-cabik konflik dan perang berkepanjangan, mulai dari Konflik Israel–Palestina, Kebangkitan dunia Arab, Issue Terorisme yang identik dengan Islam. Sementara Muslim di Indonesia hidup  dalam perdamaian,lalu dipercaya berkat pemahaman Islam di Indonesia yang bersifat moderat, inklusif, dan toleran. Ditambah lagi telah muncul dukungan dari dunia internasional yang mendorong Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, agar berkontribusi dalam evolusi dan perkembangan dunia Islam, dengan menawarkan aliran Islam Nusantara sebagai alternatif terhadap Islam yang identik dengan peperangan, intoleran dsb sehingga muncullah istilah Islam Nusantara ini. Namun tentu saja istilah ini dikecam banyak pihak karena menganggap seolah istilah Islam saja tidak sempurna sehingga perlu embel-embel Nusantara. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat beberapa waktu lalu juga turut menyatakan menolak konsep Islam Nusantara.”Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa : “Islam Nusantara” dalam konsep/pengertian definisi apa pun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatra Barat). Bagi kami, nama “Islam” telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apapun,” demikian kesimpulan MUI Sumbar sebagaimana dokumen unggahan akun facebook ketua umum MUI Sumbar,Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018 ,seperti dikutip detikcom, Rabu (25/72018). Itu adalah hasil rapat koordinasi daerah MUI Sumbar yang diadakan di Padang pada 21 Juli 2018. Mereka memiliki sejumlah pertimbangan untuk menolak Islam Nusantara karena mengundang perdebatan yang tak bermanfaat dan melalaikan umat Islam dari berbagai persoalan penting. Istilah “ Islam Nusantara” bisa membawa kerancuan dan kebingungan dalam memahami Islam. Istilah Islam Nusantara juga dinilai mengandung potensi penyempitan makna Islam yang universal. Istilah Islam Nusantara juga sering digunakan untuk merujuk cara beragama Islam yang toleran. Menurut MUI sumbar, toleransi hanya merupakan satu aspek dalam Islam, padahal banyak aspek lain dalam Islam. Islam tidak bisa direduksi hanya menjadi satu aspeknya saja, melainkan harus menyeluruh. MUI Sumbar juga menilai Istilah Islam Nusantara berpotensi mengotak-kotakkan umat Islam dan memunculkan pandangan negatif terhadap umat Islam yang berasal dari wilayah lain. (Detiknews/25/07/18). 

Lebih Jauh Islam Nusantara memang dapat melepaskan keislaman seseorang karena seolah menolak Islam yang telah paripurna diturunkan oleh Allah SWT. Sehingga kita memang harus menolak Istilah “Islam Nusantara” ini.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!