Wednesday, August 1, 2018

Menggapai Kemerdekaan Hakiki 

  

Oleh.Tety Kurniawati ( Anggota Akademi Menulis Kreatif) 

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Bulan Agustus 2018 ini Indonesia akan merayakan kemerdekaannya yang ke-73. Gegap gempita upaya penyambutannya bahkan sudah di mulai dibulan sebelumnya. Rumah dan jalan-jalan dihias meriah. Aneka kepanitiaan hari kemerdekaan pun dibentuk dari tingkat RT hingga nasional. Semua berebut menunjukkan kegembiraan. Aneka lomba pun bersiap digelar. Meski sayang di era milenial yang serba digital ternyata kita masih saja melanggengkan  tradisi peninggalan kolonial. Karena lomba yang digelar tetaplah panjat pinang, makan krupuk, balap karung, sendok kelereng yang tak pernah mencerminkan kekayaan intelektual bahkan penguasaan tekhnologi digital. Lantas, sudah layakkah kita disebut merdeka? Hingga pesta pora sebagai penanda terbebasnya diri dari kungkungan penjajahan layak kita meriahkan. Atau sebenarnya kita sendiri pun tak pernah paham arti merdeka. Ikut larut dalam hiruk pikuk ceremonial berdana luar biasa meski diluar sana banyak orang yang untuk makan pun tak ada dana. 

Kondisi negeri setelah 73 tahun merdeka

Jika berpatokan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka mempunyai tiga arti, yakni : 1. Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri; 2. Tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Namun faktanya jauh berbeda. Dibidang pengelolaan SDA, Koordinator Indonesian for Transparency and Akuntability (Infra) Agus Chaerudin, mengungkapkan, hampir semua sektor migas dan minerba di Bumi Nusantara baik, di wilayah barat hingga kawasan timur, di pulau-pulau besar, kepulauan-kepulauan kecil hingga di laut lepas sudah dikuasai oleh perusahaan asing. Disadari atau tidak, kata dia, keberadaan perusahaan-perusahaan asing tersebut kini telah sampai pada taraf 'mengancam' kedaulatan Indonesia. (m.harianterbit.com 07/08/2018)

Dilain sisi,  Indonesia yang berpenduduk 250 juta itu, mayoritas penduduknya miskin, dan bahkan 40 juta penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan absolut. Sementara itu, kelompok Cina yang note bene, pendatang, menguasai 80 persen asset ekonomi Indonesia. ( law-justice.co 12/02/2018)

Tingginya biaya pendidikan di Indonesia menyebabkan anak-anak putus sekolah, bahkan sebagian dari mereka yang tidak beruntung tersebut harus ikut bekerja untuk mencari nafkah. Setidaknya ada 1,6 juta pekerja anak di Tanah Air. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat putus sekolah yang juga cukup besar di berbagai daerah di Indonesia. Di level SD pada tahun ajaran 2017/2018 tercatat 32 ribu anak yang putus sekolah. Di level SMP, jumlah siswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya mencapai 51 ribu anak. Sedangkan untuk SMA dan SMK tercatat masing-masing 31 ribu dan 73 ribu anak. ( katadata.co.id 23/07/2018)

Belum lagi sederet temuan dilapangan yang sungguh menyesakkan dada. Maraknya kriminalitas dan kenakalan remaja, tingginya tingkat aborsi akibat hamil diluar nikah, tawuran pelajar, narkoba, miras dan seks bebas. Negeri loh jinawi yang diberkahi dengan kesuburan tanah, beragam kekayaan alam dan hayati. Nyatanya lebih memilih import dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri daripada mencoba berdikari. Bahkan ironisnya, setelah di awal tahun wabah campak dan gizi buruk menyerang papua yang mengakibatkan puluhan korban jiwa. Awal bulan juli 2018 publik kembali di kagetkan berita tentang Maluku Tengah yang mengalami bencana kelaparan. 

Sudah jatuh tertimpa tangga. Kiranya peribahasa ini cocok untuk menggambarkan situasi bumi pertiwi. Bagaimana tidak, negeri yang sejatinya kaya raya, ternyata justru terjerat hutang yang fantastis jumlahnya. Alhasil, rakyatlah yang paling merasakan dampaknya.

Makna kemerdekaan menurut Islam

Sebuah atsar menyebutkan bahwa Rib’i bin Amir radhiyallahu anhu, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qadishiyah ditanya tentang perihal kedatangannya oleh Rustum, panglima pasukan Persia, ia menjawab, “Allah mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.” (Lihat Al-Jihad Sabiluna hal. 119).

Atsar tersebut secara implisit menunjukkan bahwa merdeka berati bebas dari penghambaan kepada selain Allah menuju tauhid dalam konteks batiniyah dan bebas dari kesempitan serta ketidakadilan menuju kelapangan dan keadilan Islam dalam konteks lahiriyah. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Al-Aqidah Al-Washithiyyah berkata, “Ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah adalah kemerdekaan yang hakiki, (sehingga) orang yang tidak menyembah kepada Allah semata, maka dia adalah hamba (budak) bagi selain Allah”. Setiap manusia yang terlahir ke dunia sejatinya berstatus merdeka. Karena tak seorang pun yang terlahir ke dunia ini kecuali telah bersaksi bahwa Allah adalah Rabbnya dan Islam adalah agamanya. Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-A’raf : 172).

Kaum muslimin hendaknya memaknai kemerdekaan sebagai pembebasan dari segala bentuk kesyirikan yang dapat menggelincirkan dari jalan fitrahnya. Sekaligus terbebasnya diri dari segala sistem kehidupan yang tidak bersumber dari aturan Islam dan sunnah rosulnya. Maka kemerdekaan hakiki sebagai bangsa berpenduduk muslim terbesar di dunia harus terus kita wujudkan. Dengan menerapkan seluruh aturan illahi dalam kehidupan. Islam tidak akan pernah memberi jalan untuk negara-negara kafir menjajah kaum muslim beserta sumber daya alamnya lewat jeratan utang, investasi maupun berbagai bentuk kerjasama berakad ribawi. Firman Allah : "...dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman"  ( QS. An Nisa : 141). Sebaliknya Islam akan membuat sebuah negara berdaya dengan seluruh potensi yang dimilikinya. Dan semua itu hanya bisa terwujud dengan kebijakan politik,  pengelolaan sumber daya alam, serta seluruh aset ekonomi negeri yang sesuai dengan syariah-Nya. Institusi  yang nyata membawa Islam berjaya selama 13 abad lamanya. Wa allahu a'lam bish showab.




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!