Monday, August 6, 2018

Menggapai Bahagia, Menggadai Rasa Malu


Oleh : Tsaurina Aslam / Henda Rihma 

(Komunitas Revowriter Bandung)



  Ragam aplikasi android digunakan masyarakat di era milenial kini. Mulai dari aplikasi social media, aplikasi market place hingga aplikasi untuk unjuk bakat, semisal, Smule atau Tiktok. 


Dari usia muda hingga "tak lagi muda", hari ini siapa sih yang tak pakai sosmed atau bahkan tak kenal sosmed?


  Jika dulu di awal kemunculan telepon genggam yang orang khawatirkan adalah kehabisan pulsa. Berbeda dengan jaman now, orang akan panik, gelisah dan gundah gulana jika kuota data internetnya mencapai limit.

Benar atau benar?


  Ngapain sih nongkrongin layar hp, mejeng di sosmed?

Ya, macam-macam. Bagi sebagian orang, dunia maya adalah penawar lelah disela kesempatan saat bergelut dengan aktivitas harian di dunia nyata.

Tak sedikit pula orang yang di dunia nyata adalah seseorang yang pendiam dan pemalu, tapi ketika berselancar di dunia maya mereka menjadi pribadi yang supel, hingga tak tahu malu, menampakan sesuatu yang seharusnya mereka sembunyikan, na'udzubillah.

Semua ini demi eksistensi diri, meraih ketenaran secara instan dengan mengumpulkan like, share dan subscribe sebanyak-banyaknya dari viewers.


Buktinya?

Mari cek salah satu aplikasi yang sekarang sedang marak digunakan masyarakat, Tiktok! Disana banyak orang yang unjuk kreativitas mereka dalam mengikuti tren musik kekinian. Berjoget sendiri hingga beramai-ramai. Anak-anak hingga dewasa. Dari pria hingga wanita.


  Parahnya, mereka yang nampak berlabel "akhwat" juga ikutan melenggak lenggokan tubuhnya mengikuti irama musik "kekinian".

Padahal Rasulullah saw. memperingatkan kita sebagai muslimah, bahwa gerakan yang demikian akan menjadi sebab seorang wanita tidak dapat mencium bau surga.


  Abu Hurairah r.a berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no.2128).


Sistem materialistik mendorong masyarakat berpikir materialis.

  Tak heran dalam sistem Kapitalis saat ini yang segala sesuatunya diukur berdasarkan modal. Di kebanyakan negara berkembang, banyak orang berlomba unjuk eksistensi demi kepopuleran semu. Sebab bagi mereka populer berarti mendulang rezeki demi menggapai kebahagiaan. Tak peduli adab ataupun syariat, semua ditabrak. Yang penting banyak viewer yang like, share dan subscribe. Tenar, banyak tawaran endorse dan hepi. Semudah itu. Instan!

Seakan lupa bahwa Tuhannya adalah yang Maha Kaya dan Maha Memberi Rezeki.

Lain cerita bagi negara maju. Masyarakat memanfaatkan beragam aplikasi untuk unjuk kreativitas sehingga menjadi trendsetter yang banyak diikuti oleh masyarakat di negara-negara berkembang. 


  Tak heran di era Kapitalis ini, tak sedikit wanita menggadaikan rasa malu demi mengikuti tren kekinian di tengah masyarakat. Supaya tidak dibilang ketinggalan jaman, kudet (kurang update) dan kampungan.

Sehingga mendorong mereka untuk melupakan ayat tentang aurat. Melupakan adab dalam bersikap.

Semua demi satu kata, bahagia.


Kebahagiaan hakiki.

  Masyarakat kapitalis memandang kebahagiaan bersumber dari kekayaan.

Tapi lain pandangan kebahagiaan bagi seorang Muslim, kebahagian bersumber dari Allah swt. saja. 

Ya, ketika setiap gerak langkahnya mendatangkan ridha Allah swt. sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta, itulah sumber kebahagiaan hakiki bagi seorang Muslim sejati.

Tentu saja ridha Allah swt. datang dari langkah yang senantiasa berada di jalan syariat. Ketika seorang Muslim menjalankan seluruh perintah Allah swt. dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebagaimana janji Allah swt. kepada setiap Mukmin,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (TQS. An-Nahl [16] : 97).


Malumu Mahkota Bagimu

  Gemerlap popularitas idola rupanya menyilaukan sebagian kaum wanita, tak luput darinya juga Muslimah.

Obsesi untuk menjadi tenar menggelapkan hati yang berujung pada ditanggalkannya rasa malu oleh mereka yang mengejar popularitas.

Bagi kaum wanita, terutama Muslimah, rasa malu merupakan sesuatu yang menjadikan dirinya berharga dan mulia.

Itulah mengapa dikatakan malu merupakan mahkotanya wanita. Sebab tanpanya apalah arti seorang wanita.

Rasulullah saw. bersabda,

"sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu." (HR. Ibnu Majah 4181. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan).


Sabda yang lain dari Rasulullah saw.

" Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya diangkat maka yang lainpun terangkat." (HR. Al Hakim dari Mustadraknya 1/73).


Maka, jagalah malumu saudariku!

Karena terjaganya malumu akan terjaga pula kemuliaanmu.

Kebahagiaan hakiki diraih bukan dengan jalan banyak like, share dan subscribe ataupun dari banyaknya tawaran endorse dari beragam produk. Ia diraih dengan jalan ketaatan kepada Sang Pencipta 

Menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebab Allah swt. tak hanya mencipta tetapi sekaligus mengatur kita dengan hukum Syariat. Yang dengan menjalankannya akan terjagalah mahkota kemuliaan kita sebagai Muslimah shalihah.


Allahu a'lam bi ash shawwab.




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!