Thursday, August 2, 2018

Kharisma Ulama dan Tahun Politik


Oleh : Intan Alawiyah

 (Penulis Bela Islam) 

Hiruk pikuk tahun politik sudah mulai tampak. Berbagai upaya dilakukan untuk mendompleng nama partai. Salah satunya dengan menggandeng ulama sebagai daya tarik paling jitu di tahun ini. Semangat  dalam menegakkan dien yang saat ini begitu kental mewarnai kaum muslimin, dimanfaatkan oleh para politikus untuk meraup suara. 

Menyambangi para ulama untuk meraih dukungan kaum muslimin pun mulai dilakukan. Satu persatu para ulama yang menjadi panutan umat mulai terlihat sepak terjangnya dalam politik demokrasi. Alhasil, umat yang menaruh harapan besar untuk sebuah perubahan dalam menegakkan syariah-Nya dibuat tercengang oleh tingkah laku mereka. Mulai dari pujian, sampai minta dukungan untuk memperpanjang masa jabatan pun dilakukan melalui lisan-lisan para ulama. Seperti yang diungkapkan TGB (Tuan Guru Bajang) atas kepemimpinan jokowi beberapa waktu yang lalu.

"Suatu transformasi enggak cukup hanya lima tahun, ketika periodisasi maksimal 10 tahun. Saya rasa sangat fair kita beri kesempatan Beliau untuk kembali melanjutkan," ucap TGB. (Merdeka.com, 4/07/2018)

Demokrasi tidak lagi asing di negeri ini. Janji manis yang ditawarkannya pun mampu menghipnotis setiap  manusia yang tak kuat menahan badai sekuleris. Alih-alih ingin mewarnai sistem ini dengan syariah. Namun, jika tidak kuat aqidah, maka bersiaplah diri yang akan terjerumus kedalam rayuan maut yang ditawarkannya.

Seperti saat ini yang terjadi, ketika umat Islam menaruh harapan besar terhadap ulama untuk melakukan perubahan. Namun malah sebaliknya ada saja yang berpaling dan berkhianat. Sejatinya peran ulama adalah mencerahkan, mengingatkan para penguasa yang mulai lupa diri akan jabatannya sebagai pelaksana amanah rakyat. 

Peran ulama didalam  Islam jelas sebagai sosok panutan. Rasulullah mengatakan  bahwa "ulama adalah pewaris para nabi." Sosok yang menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Kisah Abu Hanifah patut dijadikan teladan. Ia terkenal dengan sikap tegasnya yang tidak rela dengan kebijakan Khalifah Al-Manshur yang tidak berpihak pada rakyat. Sehingga beliau pun dijebloskan ke dalam penjara oleh sang Khalifah. Ketika mendekam dalam penjara Ibunya pun menemuinya dan berkata, "wahai Nukman, sesungguhnya ilmu bisa memberimu manfaat, bukan siksaan dan penjara. Sungguh, kamu pun bisa melepaskan diri darinya."  Abu Hanifah pun menjawab, "Ibu, andai saja putramu menginginkan dunia, tentu sudah kugapai. Tetapi, putramu ingin Allah mengetahui bahwa putramu menjaga ilmu-Nya, meskipun harus mengorbankan diri dalam kebinasaan."

Inilah contoh keteguhan iman seorang pewaris para nabi, yang tak goyah meski tawaran dunia begitu menggiurkan. Ia tetap berpegang teguh pada agama Allah meski raga harus menerima siksaan dari penguasa. Seharusnya sikap ulama ketika mendapati penguasa yang lalai dalam menjalankan tugasnya ia harus menasihatinya, agar tidak lebih jauh melakukan hal yang sama. Sistem demokrasi jika terus terpatri sebagai ideologi. Maka bersiaplah akan ada kejutan-kejutan baru lagi yang mampu menyayat hati. Jika tidak ingin ini terulang kembali. Maka sudahilah sistem kufur ini yang mampu membeli iman menuju kelalaian  dengan sistem Islam yang mampu memberikan pencerahan. Hanya dengan sistem Islam yang menerapkan syariah-Nya secara kaffah, tidak mungkin terlahir para ulama-ulama yang akan menyesatkan umat. Mereka akan menjalankan perannya sebagai penyeru, bukan malah sebaliknya memberi janji menegakkan kalam Illahi tapi malah mereka ingkari. 

Wallahu'alam bishshawab




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!