Tuesday, August 7, 2018

Kala UAS Menjawab Rayuan Demokrasi


Oleh: Arin RM, S.Si*

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqi, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa bersabda yang artinya: “…Sungguh ulama itu adalah pewaris para nabi…”. Predikat sebagai pewaris para nabi bukanlah hal yang dapat diemban dengan mudah. Pewaris para nabi memikul beban yang teramat berat.  Bahkan tugas utama ulama sebagai pemandu umat menuju jalan Islam kian banyak godaan. Di satu sisi sosok ulama dibutuhkan untuk terus membentengi umat dari bidikan musuh Islam, yang konsisten memfokuskan arah tembaknya pada kalangan ulama dan umat pasca aksi 212 di tahun 2016 silam. Di sisi lain umat merindukan sosok sekaliber ulama yang mampu menjadi pemimpin negeri ini.

Ketahanan umat akan bidikan musuh Islam lumayan teruji, namun kehadiran pemimpin yang mampu menyelamatkan negeri ini masih terus dinanti. Maka, tatkala umat kian mampu bertahan dan memiliki daya tawar politis yang meningkat, dinilai sebagai kesempatan emas untuk menyatukan suara mengusung pemimpin yang peduli umat. Dan ulamalah kualifikasi pilihan pemimpinnya. Sebab integritas mereka dinilai mampu mengangkat karamnya biduk negeri. 

Dari sini maka wacana koalisi keumatan dilanjutkan. Sejumlah ulama dan GNPF pun mengadakan ijtima di Jakarta, 27-29 Juli 2018. Pertemuan ini, salah satunya, menghasilkan rekomendasi nama Capres dan Cawapres untuk Pilpres 2019. Pasangan Prabowo Subianto dan Habib Salim Assegaf atau Prabowo Subianto dan Abdul Somad Nasution. Namun, kedua nama masih rekomendasi. Artinya belum tentu dilaksanakan oleh partai kontestan Pilpres 2019 (Kiblat.net, 30/07/2018).

Mengetahui hal itu, sebagaimana headline dari hidayatullah.com (29/07/2018), UAS menolak halus direkomendasikan jadi cawapres. Sebagaimana yang di-posting di Instagram @ustadabdulsomad (29/07/2018), beliau justru mengapresiasi bahwa pasangan PS-HSA adalah pasangan yang tawazun. Beliau menegaskan keputusannya dengan tulisan " Biarlah saya jadi suluh di tengah kelam, setetes embun di tengah sahara. Tak sungkan berbisik ke Habib Salim, tak segan bersalam ke jenderal Prabowo."

Ketika secara lisan UAS telah menjawab rayuan demokrasi dengan menyatakan keinginannya tetap teguh menjadi ulama, maka sangat baik bila kita pun mendukung keputusannya. Apa yang dipikirkan ulama sekaliber beliau tentu bukan hal yang sepele. Terlebih, sekaliber UAS yang hafal Al-Qur’an dan Hadist tentunya mengerti betul akan kepemimpinan menurut Islam. Apa mungkin beliau mau menjalankan hukum-hukum yang tidak bersumber dari wahyu tatkala duduk di kekuasaan pemerintahan? Apa mungkin bersedia meratifikasi regulasi aturan global internasional yang berasal dari Barat yang jelas-jelas bersumber dari aturan kafir?

Sedangkan sudah diketahui bersama, bahwa saat ini sistem pemerintahan di negeri ini tidak didasarkan pada hukum Allah. Segala pengaturan urusan publik diselesaikan dengan aturan hukum buatan manusia. Kebanyakan masih mewarisi aturan sejak dari zaman penjajah dahulu. Maka, tentu akan sangat bertentanganlah apa yang dipelajari dengan apa yang dijumpai. Sementara sejarah kekuatan partai Islam di beberapa negara telah menunjukkan bahwa kekuatan iman yang melekat pada sosok muslim pemenang pemilu senantiasa ditumbangkan paksa karena dinilai akan membahayakan neokolonialisme yang lama bercokol. Kenangan kemenangan hamas, kemenangan ikhwanul muslimin tentu sebuah pelajaran berharga. Bahwa mengubah konstelasi hukum jahiliyah menjadi hukum Islam sangat sulit dilakukan via parlemen demokrasi, kendaraan yang diproduksi kaum kafir.

Dari sini wajar jika UAS kemudian memantapkan hati untuk fokus di pendidikan dan dakwah, mencerdaskan umat dengan Islam. Di kesempatan lain, melalui unggahan video ceramahnya UAS meminta didoakan agar istiqomah sebagai ulama. Sebab dalam posisi ulama, selain sebagai pewaris Nabi juga diibarakan sebagai bintang. Rasul bersabda: “sungguh perumpamaan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit yang dengan cahanya menerangi kegelapan di darat dan di laut.” (HR. Ahmad). 

Maka, dukungan terbaik bagi UAS dan ulama lain adalah dengan mengupayakan para ulama lebih memilih menjadi pemimpin dalam pemerintahan berbasis Islam, bukan demokrasi. Seraya terus mendoakan semua ulama terus berada pada jalan lurus. Ulama yang senantiasa menyampaikan kebenaran kepada siapapun dengan lantang, mereka yang melakukan amar makruf beserta nahi mungkarnya termasuk mengoreksi dan menasehati penguasa. Ulama yang gamblang mengarahkan umat agar bangkit dan bernaung dalam satu kepemimpinan Islam. Kepemimpinan berbasis Alquran dan Hadits yang mengikuti jalan kenabian.  [Arin RM].

*freelance author, member TSC



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!