Monday, August 6, 2018

Jera Hilang, Korupsi Berkembang


Oleh.Tety Kurniawati 

( Anggota Akademi Menulis Kreatif) 


Berharap keadilan di zaman ini bagai menegakkan benang basah. Sekuat apapun usaha dikerahkan. Harapan tinggal harapan. Tanpa pernah berbuah kenyataan. Sidak di lapas sukamiskin jadi bukti yang tak terbantahkan. Bagaimana hukum telah mati dalam kenyataan. Hanya tajam ke bawah  namun tumpul ke atas.  Keras pada si miskin dan ramah pada yang kaya. Padahal perlakuan pada para pesakitan harusnya tiada beda. 

Lapas mewah dengan fasilitas serba ada  tak lagi menjadi rahasia. Diantaranya, ada pemanas air, pendingin ruangan, kulkas kecil, kloset duduk, hingga furniture apik di dalam ruang sel narapidana korupsi. Setelah dulu sempat viral kasus sel mewah Artalita Suryani, kini terkuak kasus sel mewah dari tahanan korupsi Fahmi, suami dari artis Inneke Koesherawati. Konon untuk mendapat fasilitas mewah tersebut sang napi harus merogoh kocek minimum 500 juta rupiah. Sebuah angka fantastis yang mampu mengubah  status pesakitan menjadi bak tamu yang di elu-elukan. 

Demokrasi Melanggengkan Korupsi

Kebebasan tanpa batas yang diusung demokrasi, berpotensi melahirkan anarki. Alhasil korupsi menjadi keniscayaan penerapan demokrasi yang tak dapat dihindari. Cacat bawaan yang pasti terjadi di negara manapun demokrasi diamini.

Kondisi ini semakin diperparah dengan penjara yang harusnya mampu memberikan efek jera. Namun justru membuat koruptor hidup nyaman, bahagia lagi bergelimang harta. Lembaga hukum tak ubahnya hanya pemberi sanksi. Sedang para koruptor seolah hanya formalitas masuk bui. Udara bebas leluasa dinikmati. Bahkan mondar mandir keluar masuk negeri pun jadi. Hasil sebuah kejahatan korupsi lebih menggiurkan di banding hukuman yang harus dirasakan. Maka tak heran makin banyak koruptor yang mengalami penangkapan. 

Inilah wajah asli hukum dalam alam demokrasi kapitalis, siapa yang memiliki uang dialah pemenang. Siapa yang kaya ialah orang yang digdaya. Aneka fasilitas dan kekebalan pun ia terima. Selama uang berbicara. Segala sesuatu mampu tuk direkayasa. Alhasil jera hilang, korupsi berkembang. Memutus mata rantai korupsi di alam demokrasi hanyalah mimpi tanpa pernah jadi kenyataan.

Islam Solusi Pemberantasan Korupsi 

Demokrasi yang nyata -  nyata meniscayakan terus langgengnya keberadaan korupsi di negeri ini harus diganti dengan sistem yang mampu menjamin tersingkirkannya korupsi. Sistem Islam yang pasti membawa kemaslahatan karena berasal dari sang pencipta kehidupan.

Islam menjadikan halal-haram sebagai  standar mutlak setiap perbuatan. Maka tiap pemegang  kekuasaan tidak akan pernah menyelewengkan wewenang yang dimilikinya atas dasar kesadaran bahwa apapun yang diperbuatnya semasa memangku jabatan akan dimintai pertanggungjawaban. Islam memiliki sistem penggajian dan fasilitas yang layak hingga tak ada alasan keterbatasan ekonomi yang memicu terjadinya pengkhianatan terhadap amanah jabatan. Abu Ubaidah pernah berkata kepada Umar, ”Cukupilah para pegawaimu, agar mereka tidak berkhianat.”

Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-,”Siapa saja yang bekerja untuk kami, tapi tak punya Rumah, hendaklah dia mengambil Rumah. Kalau tak punya isteri, hendaklah dia menikah. Kalau tak punya pembantu atau kendaraan, hendaklah ia mengambil pembantu atau kendaraan.” (HR Ahmad). Islam juga melarang aparat negara untuk menerima suap dan hadiah. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Barangsiapa yang menjadi pegawai kami dan sudah kami beri gaji, maka apa saja ia ambil di luar itu adalah harta yang curang.” (HR Abu Dawud). Tentang hadiah kepada aparat pemerintah, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata, “Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kekufuran.” (HR. Ahmad). Disamping itu juga dilakukan pengecekan berkala terhadap harta para penyelenggara negara. Amirul Mukminin Umar bin Khaththab pernah menghitung kekayaan para pejabat di awal dan di akhir jabatannya sebagai langkah pengawasan. 

Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman ta’zir berupa tasyhir atau pewartaan (dulu dengan diarak keliling kota, sekarang mungkin bisa ditayangkan di televisi atau disebarluaskan di media sosial), penyitaan harta dan hukuman kurungan, bahkan sampai hukuman mati.  

Demikianlah, islam menegakkan keadilan. Dicabutnya kedzaliman sampai ke akarnya. Maka jika ingin terbebas dari korupsi. Mengembalikan pengelolaan negara berdasarkan perintah Ilahi harus dijalani. Agar pemerintahan yang bersih dan mensejahterakan rakyat bisa terealisasi. Wa allahu a'lam bish showab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!