Tuesday, August 7, 2018

Islam, Perang dan Radikalisme


Oleh : Tsaurina Aslam / Henda Rihma

(Komunitas Revowriter Bandung).


  Islam dipandang oleh kaum Barat sebagai agama bar-bar, agama kekerasan, agama penjajahan atas penduduk non-muslim dan agama perang. Sebab banyak dikisahkan dalam sejarah dunia, masuknya Islam kedalam suatu negeri dimulai dengan sebuah peperangan. Namun tidak banyak sejarah bercerita secara detil mengenai apa, mengapa dan bagaimana peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslim.


  Mochtar Kusumaatmadja mengutip perkataan Jean Pictet mengenai perang yang dilakukan oleh manusia, bahwa 3400 tahun sejarah tertulis, manusia hanya mengenal 250 tahun perdamaian. Perang menjadi salah satu bentuk perwujudan dari naluri mempertahankan diri yang dianggap baik dalam pergaulan antar manusia maupun antar bangsa.

Selama 5600 tahun terakhir manusia telah menggelar perang sebanyak 14.600 kali. (Sumber: wikipedia.org)

Ini jelas menjadi bukti bahwa manusia sudah mengenal perang jauh sebelum Islam ada di muka bumi.


Lantas benarkah Islam disebarkan di negeri-negeri non-muslim dengan peperangan?


  Islam adalah agama perdamaian serta rahmat bagi semesta alam. Peperangan yang dilakukan oleh kaum muslim bukanlah semata untuk menguasai suatu negeri, melainkan untuk menyebarkan kedamaian. 

Rasulullah saw. melarang para shahabat untuk mengandai-andaikan peperangan dan permusuhan. Beliau mengajarkan agar para shahabat memohon kepada Allah swt keselamatan. Sebagaimana sabda beliau,

"janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh (perang), tapi mintalah kepada Allah swt. keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh, bersabarlah." (HR. Bukhari no. 2966 dan Muslim no. 1742).


  Kaum Muslim barulah diijinkan berperang ketika berada dalam kondisi terancam. Kaum Muslim harus membela diri mereka juga agama mereka. Allah swt. berfirman,

“Telah diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah…” (TQS Al-Hajj [22]: 39-40).


  Kalaupun dalam penaklukannya penduduk suatu negeri meninggalkan agama mereka dan memeluk Islam, hal itu bukan karena paksaan, tekanan ataupun ancaman, sekalipun mereka hidup dibawah kekuasaan Islam. Melainkan karena mereka melihat perdamaian yang dibawa oleh Islam ketengah kehidupan mereka.


  Dalam surat al Baqarah ayat 256, Allah swt berfirman, yang artinya: "Tidak ada paksaan dalam agama."

Ini berarti tidak diperkenankan bagi kaum Muslim untuk memaksa orang non-muslim masuk kedalam Islam (memeluk Islam).



Norma Peperangan.


  Islam memiliki keunikan tersendiri dalam peperangan, yaitu norma.

Ya, berbeda dari bangsa-bangsa terdahulu yang lain, misal Persia dan Romawi. Tak ada norma dalam peperangan yang harus mereka ikuti. Bagi mereka, berperang berarti membunuh, menaklukan dan menguasai.

Namun kaum Muslim memiliki perspektif yang berbeda dari Persia dan Romawi.



  Dari Yahya bin Sa'id, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengirim pasukan ke negeri Syam, lalu beliau mengantarkan pasukan dengan berjalan kaki, sedangkan  Yazid bin Abu Sufyan yang saat itu memimpin seperempat dari tentara tersebut naik kuda. Orang-orang berkata bahwa Yazid berkata kepada Abu Bakar, "Silahkan engkau yang naik, atau aku yang turun”. Abu Bakar berkata, "Engkau tidak boleh turun dan saya tidak akan naik. Saya mengharapkan dengan langkah-langkahku ini pahala di jalan Allah." Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya; "Sungguh kamu akan mendapati suatu kaum yang menganggap bahwa mereka itu menahan dirinya untuk Allah, maka biarkanlah mereka dengan keyaqinan mereka, bahwa mereka itu menahan dirinya untuk Allah. Kamu juga akan mendapati suatu kaum yang menggunduli bagian tengah kepala mereka, maka pukullah apa yang mereka cukur tersebut dengan pedang. Dan sungguh saya berpesan kepadamu dengan sepuluh perkara : 1. Jangan sekali-kali kamu membunuh wanita, 2. Anak-anak dan, 3. Orang yang sudah tua. 4. Jangan menebang pohon yang sedang berbuah, 5. Jangan merobohkan bangunan, 6. Jangan menyembelih kambing dan 7. Jangan pula unta kecuali untuk dimakan, 8. Jangan membakar (sarang) lebah dan mencerai-beraikannya. 9. Janganlah khianat, dan 10. Jangan menjadi seorang yang penakut”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 447, no 10]


  Cara pandang yang berbeda atas peperangan inilah yang menarik simpati penduduk Persia dan Romawi. Pada saat pasukan kaum Muslim memasuki wilayah Syria dan Mesir, banyak orang Syria dan Mesir berbondong-bondong masuk kedalam Islam tanpa paksaan sama sekali.


Mempelajari sejarah peperangan menyebabkan seseorang menjadi radikal?


  Sebagaimana dipaparkan sebelumnya bahwa peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslim terdahulu adalah dengan tetap berpegang pada norma yang telah Rasulullah tetapkan dan para Khalifah setelahnya tetap jalankan. 

Dan mengenai apa yang telah disampaikan oleh salah satu tokoh di Indonesia yang mengatakan bahwa menyampaikan sejarah perang dalam kurikulum keagamaan menjadikan pelajar memiliki pemikiran radikal, sehingga kurikulum agama perlu dikaji ulang, tentu itu hanyalah opini yang menyesatkan.

Opini tersebut dilontarkan hanya oleh orang-orang yang menghendaki Islam memiliki citra buruk di tengah masyarakat. Sehingga Islam lenyap di muka bumi.


  Namun, sebagaimana yang Allah swt. telah janjikan.

Allah swt berfirman, "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi  Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." (TQS. Ash Shaff [61] : 7-8).


Allahu a'lam bi ash shawwab.





SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!