Friday, August 3, 2018

Iman Sekokoh Karang


Oleh : Indri Faaza

Miqdad bin Amru kemudian berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, majulah ke arah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada anda, karena kami akan selalu bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti Bani Israil berkata kepada Musa, Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah; 24).

Namun, berangkatlah Anda dan Tuhan Anda. Dan berperanglah, karena kami akan berperang bersama Anda dan Tuhan Anda. Demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, seandainya Anda membawa kami ke Barkil Gamad yaitu suatu kota di Habasyah (Etiopia), maka kami bertahan dan bersabar bersama Anda untuk menuju kepadanya, hingga Anda mencapainya."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya dengan sabda yang baik dan mendoakan kebaikan untuknya, “Berilah pendapat untukku wahai orang-orang!. Rasulullah SAW mengarahkan maksud beliau kepada orang-orang Ansar, – hal itu disebabkan mereka adalah terbanyak jumlahnya – dan hal itu disebabkan pula oleh baiat mereka kepada Rasulullah SAW di Aqabah.

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya kami bebas dari perlindungan terhadap diri Anda, hingga Anda sampai ke negeri kami. Bila Anda telah sampai ke negeri kami, maka Anda telah berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungi dan membela Anda dari segala sesuatu yang kami bela, sebagaimana anak-anak dan isteri-isteri kami.

Rasulullah SAW merasa khawatir bahwa orang-orang Anshar tidak memandang wajib bagi mereka untuk membela Rasulullah SAW dan menolongnya, melainkan hanya atas musuh yang menyerang beliau di Madinah, dan bahwa mereka tidak harus ikut serta menyerbu musuh yang jauh dari negeri Madinah.

Setelah Rasulullah SAW menyatakan sabda tersebut, Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, “Demi Allah, seolah-olah Anda menginginkan kami wahai Rasulullah SAW?

Rasulullah saw. Bersabda, “benar". Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, "Kami telah beriman kepada Anda dan membenarkan Anda, dan kami telah bersaksi bahwa risalah yang Anda bawa dan emban adalah kebenaran dan haq. Kami juga telah memberikan sumpah dan janji kami kepada Anda, bahwa kami akan mendengar dan mentaati anda. Maka, majulah terus wahai Rasulullah SAW kemanapun Allah SWT menyuruh Anda.

Karena demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran. Seandainya Anda menyuruh kami untuk menceburkan diri kami ke dalam lautan ini dan Anda telah menceburkan diri ke dalamnya, maka kami pun akan ikut menceburkan diri kami ke dalamnya bersama Anda. Tidak akan ada seorang pun yang tertinggal. Kami tidak akan takut dan benci bertemu dengan musuh-musuh kami besok. Karena sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang sabar dan bertahan dalam perang, jujur ketika bertempur, dan semoga Allah SWT menampakkan kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda. Maka bertolaklah bersama kami dengan keberkahan dari Allah SWT.

Maka, tampaklah kebahagiaan dalam diri Rasulullah SAW dengan pernyataan Saad. Hal itu membuat beliau bersemangat, seraya bersabda, bertolaklah kalian dengan keberkahan dari Allah SWT dan bergembiralah. Karena sesungguhnya Allah SWT telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok Quraisy, dan demi Allah, seolah-olah aku melihat kehancuran kaum itu saat ini.

Demikianlah sepenggal kisah dari Perang Badar yang tertulis dalam buku Sirah Nabawiyah. Dimana kaum muslim dengan keyakinan yang terhujam, berhasil meyakinkan Rasulullah akan keberadaan mereka di sisi Rasulullah. Terlebih dengan kondisi kaum muslim  yang saat itu berjumlah sedikit. Namun harus berhadapan dengan kaum kafir Quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat.

Keimanan yang kokoh bak karang di tengah hempasan ombak. Menjadikan kaum muslimin, baik dari kalangan muhajirin maupun Anshar seolah tak ada bedanya. Loyalitas dan pengorbanan semata-mata ditujukan demi kemenangan Islam. Hingga tak ada kompromi lagi, saat Allah dan Rasul-Nya menyeru pada sebuah perintah. Laksanakan dengan membawa kemenangan atau syahid dalam memperjuangkannya. 

Sungguh, keimanan seperti inilah yang semestinya dimiliki oleh kaum muslim hari ini. Keimanan yang tak hanya diyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan saja. Melainkan juga dibuktikan dengan sikap taat dan pasrah secara mutlak. Membenarkan dan mengamalkan seluruh perintah-Nya tanpa pilah-pilih. Begitupun sebaliknya.

Iman yang menghantarkan pada ketundukan dan ketaatan. Atas hukum-Nya yang wajib diterapkan di muka bumi. Bukan menjadikan sombong dengan membuat aturan sendiri. Aturan manusia yang sejatinya lemah, terbatas dan bergantung pada yang lain.

Sudah saatnya umat Islam menyadari akan hakikat Iman dan Islamnya. Dimana menerapkan Syariat-Nya secara kaffah dalam sebuah Institusi Negara adalah sebuah kewajiban dan  kebutuhan mendasar bagi kaum muslim hari ini. Ketiadaanya telah menjadikan umat Islam bak buih-buih di tengah lautan. Banyak, namun tercerai berai. 

Kini, saatnya umat Islam bangkit dan merapatkan barisan. Bersama memperjuangkan syariat-Nya, agar hidup berkah di dunia dan akhirat. Mengamalkan hukum-Nya secara keseluruhan. Tanpa tapi, tanpa nanti. Bersegeralah. Agar Surga-Nya layak menjadi tempat tinggal kita nantinya. 

Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Wallahua'lam bishawab. 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!