Friday, August 3, 2018

Ide Islam Nusantara Bentuk Ketakutan Kapitalis



Oleh. Reni Tresnawati 

( Pemerhati Perempuan dan Anak )


Berbagai label nama Islam disuguhkan di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari Islam Moderat, Islam Wathaniyah, Islam Radikal, dan sekarang Islam Nusantara. Nama Islam yang ada embel-embelnya bermunculan seiring digaungkannya Syariah dan Khilafah. Mereka seperti kebakaran jenggot. Padahal mereka sebagian besar mengaku beragama Islam, tapi kok takut mendengar hukum-hukum Allah akan diterapkan. Patut dipertanyakan keimanan dan keislamannya.


Diantara mereka yang mengusung Islam Nusantara, ada juga yang menolaknya. Majlis Ulama Indonesia Sumatera Barat menolak konsep Islam Nusantara.


" Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa "Islam Nusantara dalam konsep/pengertian definisi apa pun tidak dibutuhkan di Ranah Minang ( Sumbar )" . Bagi kami nama " Islam " telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apa pun." Demikian unggahan akun Facebook Ketum MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar. Pada 23/7/2018. Seperti dikutip detik.com. Rabu 25/7/2018.


Rapat koordinasi Daerah MUI Sumbar menghasilkan kesimpulan untuk menolak Islami Nusantara, adalah :


1. Islam Nusantara bisa membawa kerancuan dan kebingungan dalam memahami Islam. Sehingga mengundang perdebatan yang tidak bermanfaat dan melalaikan ummat Islam dari berbagai persoalan penting.


2. Islam Nusantara dinilai mengandung potensi penyempitan makna Islam yang universal.


3. Islam Nusantara sering digunakan untuk merujuk cara paradigma yang toleran.


" Sekali kata dikatakan. Seribu pikiran menjadi timbangan, kecuali Al Quran dan Sunnah yang menentang. ( Buya Gusrizal Gazahar.


Lain pendapat dengan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam. Dia mengatakan " ini soal pemahaman yang perlu disinkronkan saja, dengan pemahaman yang belum sama frekuensinya. Di Kantor MUI. Jl.  Proklamasi Jakarta Pusat. Rabu 15/7/2018.


" Prinsip MUI itu wadah semua pihak, karena di MUI ada Islam Nusantara. Islam berkemajuan. Maka saya bilang Islamnya MUI ya Islam Nusantara (Islam kemajuan) dan dia juga menunggu nama lain karena MUI itu wadah semua pihak. MUI Provinsi wajib memahami aturan MUI Pusat. Ma'ruf Amin mengingatkan sesama elemen bangsa tak boleh saling hantam. Tugas MUI menyatukan ummat, tukasnya. Hotel Bumi Wiyata. Jln. Margonda Raya. Depok. Kamis 21/7/2018.


Rakyat Harus Bersikap kritis


Para pengusung dan pendukung Islam Nusantara menggunakan berbagai argumen untuk meyakinkan masyarakat. Banyak media massa memberikan ruang yang cukup luas bagi mereka untuk menyampaikan idenya. Islam Nusantara terus diopini kan bukan hanya didukung oleh individu tapi diusung juga ormas Islam. Bahkan difasilitasi oleh negara.  Mereka begitu bekerja keras untuk mewujudkan Islam Nusantara agar diterima di masyarakat.


Mereka berdalih harus disesuaikan dengan keadaan, seperti Islam Arab, Islam Eropa, Islam Asia. Di tanah air tercinta dikenal Islam Nusantara. Menurut mereka dibentuknya Islam Nusantara sebagai wujud kearifan lokal Indonesia yang sesuai dengan budaya, sosial, adat istiadat agar lebih toleran dan moderat. Islam Nusantara juga sebagai sebuah keniscayaan untuk membendung bahaya transnasional.

Umat yang cerdas ( Mustanir ) tentu harus kritis melihat dan memperhatikan semua ini. Memiliki rencana apa mereka?.


Islam Itu Rahmatan Lil'alamin


Gagasan Islam Nusantara ini bukanlah kesepakatan ulama. Banyak ulama yang justru memperingatkan bahaya ide tersebut. Al Quran diturunkan Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Kesalahan yang sangat fatal bila Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya. Sehingga menganggap ajaran Islam dapat diselesaikan dengan budaya lokal.


Seiring perkembangan jaman. Islam pun harus menyesuaikan dengan jaman.  Padahal Islam tidak mengenal ruang dan waktu. Justru jaman yang harus menyesuaikan dengan Islam. Seperti yang kita ketahui Islam itu satu, yaitu Islam Rahmatan Lil'alamin. Islam tidak perlu ada penyesuaian dengan dalih disesuaikan dengan tempat dimana manusia berada. Sejak dulu Islam bersifat transnasional, mulai didakwahkan secara lintas negeri dari pusat negara Islam di Madinah hingga akhirnya menembus wilayah Romawi, Persia, Afrika Utara, Eropa, Asia dan seterusnya hingga masuk ke Nusantara ini. 


Faktanya tidak ada yang salah dengan Islam transnasional sehingga harus dibendung dengan Islam Nusantara. Memang demikian semestinya karakteristik dakwah Islam yang harus diemban oleh kaum Muslim keseluruhan dunia, melintasi sekat-sekat wilayah geografis.   Seperti yang dilakukan pada jaman Rasulullah. Demi terwujudnya syariah dan khilafah dalam naungan Daulah Islamiyah.


Allah berfirman 

" Dan tiada kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi Rahmat bagi semesta alam. ( Qs. Al- Anbiya (21): 107).


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!