Wednesday, August 1, 2018

 I Love You Because Allah (Bag. 2)


Oleh: Trisnawati

 Motivasi dalam memilih pasangan hidup tidak hanya harus dimiliki oleh seorang laki-laki namun juga perempuan. Karena perempuanpun memiliki hak memilih suami yang akan ia jadikan qowwamnya (pemimpin) dalam membangun rumah tangga.


Kebayangkan kalau perempuan milih belanjaan. Beli satu kerudung aja itu bisa masuk kebeberapa toko. Udah puas mutar eh balik lagi ke toko yang pertama. Matanya seperti mata elang kalau lihat barang, semua di komentari jelek dan mahal, padahal dalam hati "Mak bagus banget murah lagi" (cewek mah gitu).


Lantas ngimana kalau masalah memilih pasangan? Mata elangnya sudah tak lagi dipakai, malah sering makai mata ayam as malam hari. Rabun plus gelap gulita deh. Tak jarang seorang wanita maupun orang tua/wali mencari suami untuk anak perempuannya adalah laki-laki dari kalangan orang yang berada, terhormat, dan tentu "mapan" dari segi pekerjaan dan gaji yang besar. Begitulah standar calon suami idaman di zaman now. Tanpa lagi memperhatikan apakah pria tersebut berakhlak islam atau  ia berlaku dzalim, fasiq atau meninggalkan sholat (tarku sh-sholah).


Tak di pungkuri sikap kaum muslimin saat ini terpengaruh budaya barat yang mengrogoti pemikian kaum muslim. Sehingga tak heran kita pun memandang sesuatu yang sama dengan pandangan barat ketika memilihkan calon suami kepada anak pemermpuan mereka yaitu dilihat hanya dari segi materi semata. Sehingga tak jarang wanita muslimah yang menikah dengan bergelimangan harta namun tak tenang jiwa dan  batin pun menderita. Kecuali mereka yang sudah biasa bergelimangan harta namun bermaksiat kepada Allah.


Pernah ada seorang wanita yang bernama Fatimah binti Qais yang meminta pendapat Rasulullah saw, tentang tiga pria yang ditaksirnya. Diantaranya: 1. Muawiyah bin Abi Sofyan, 2. Abu Jaham, 3. Usamah bin Zaid. Kemudian Rasulullah memberi pengarahan, Muawiyah orangnya miskin lagi kikir, sementara Abu Jaham punya kebiasaan memukul perempuan, sedangkan Usamah bin Zaid  seorang pemuda yang berakhlak mulia. Maka menikahlah dengan Usamah. Fatimah bin Qais menerima nasihat Rasulullah, lantas menyerahkan dirinya dinikahi usamah bin zaid dan hidup bahagia bersama Usamah bin Zaid. (HR. Muslim dan Abu Daud)


Ada seorang wali yang bertanya kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib: "Aku mempunyai anak gadis, menurutmu, kepada siapa aku harus menikahkannya? Hasan menjawab: "Nikahkanlah ia dengan laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, jika laki-laki itu mencintainya ia akan menghormatinya, namun jika ia marah kepada istrinya ia tidak akan mendzolimi dan menganiaya"


Maka pilihlah suami yang berakhlak mulia yaitu suami yang periang, bercanda ceria dengan istri dan anak-anaknya, namun berwibawa dihadapan masyarakat layaknya seorang pemimpin. Suami yang terpuji adalah cinta dan bencinya karena Allah semata. Marah atau bencinya kepada istri hanya ketika sang istri melanggar hukum Allah dan membimbingnya kejalan yang benar begitupun cintanya kepada istrinya semata karena Allah yang semakin mendekatkan ia kepada Allah bukan sebaliknya.


Maka pintar-pintarlah dalam memilih suami karena ia akan menjadi pemimpin yang akan mengarahkan nahkoda kehidupan yang akan dijalani sepanjang hayat.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!