Tuesday, August 7, 2018

Harga Telur  Bombastis, Gizi Rakyat Kian Kritis


Oleh: Fatimah Azzahra, S.Pd

Dua lembar uang berwarna ungu itu tak lagi bisa membeli telur sekilo. Harga telur bombastis. Melambung tinggi. Hingga mencapai kisaran Rp 30.000. Emak sedih. Padahal, telurlah satu-satunya protein hewani yang terjangkau. Lebih murah dibandingkan daging ayam atau sapi. Lebih mudah didapat. Mudah pula mengolahnya menjadi masakan lezat.

Akibat mahalnya telur. Banyak rakyat yang akhirnya tidak bisa mengkonsumsi protein hewani. Padahal, fungsi protein hewani tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena ia berperan dalam pembentukan sel, termasuk otot, otak, dan butiran darah merah. Sebagai pemeliharaan sel dan jaringan tubuh. Pembentukan antibodi dan pertahanan tubuh. Pembentuk hormon dan mempertahankan hormon. 

Jika sampai tubuh kita kekurangan protein, maka fungsi yang telah disebutkan di atas akan terganggu. Dan bisa menimbulkan penyakit. Diantaranya, penyakit marasmus, kwashiorkor, gagal hati, edema, gangguan otak, rambut rontok, dan mudah lelah. Nau’dzubillah. Jangan sampai kita dan keluarga terjangkiti penyakit-penyakit tersebut. 

Terbayang betapa berat hisab para penguasa. Berat, karena Allah menghisab per kepala. Bukan per kapita. Akan Allah tanyakan kenapa seseorang sampai kekurangan gizi. Padahal negeri ini Allah limpahi kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Kelalaian penguasa bisa mengundang bencana di dunia dan akhirat sana. Bencana di dunia dengan merebaknya gizi buruk penduduk negeri. Kalau benar terjadi, maka lemahlah generasi penerus ini. Bagaimana akan mampu memimpin negeri kemudian hari? 

Bencana di akhirat dengan adzab yang Allah timpakan pada mereka yang lalai. Lalai dalam mengurus rakyatnya sendiri. Sejatinya, walau di dunia bersikap cuek dan tak peduli pada jilatan api neraka. Sungguh, tiada seorang pun yang kuat untuk menahan kerasnya siksa Allah. bahkan dikabarkan dalam hadist Rasul, "Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka." (HR. Muslim)

Masyaallah. Nau’dzubillah. Saya yakin, tiada seorang pun yang mau menyicipinya. Lantas bagaimana agar tidak terkategori lalai? Jika kita mau membuka pedoman kehidupan yang telah Allah turunkan. Alquran dan hadist. Juga mencontoh sebaik-baiknya teladan utusan Allah, Muhammad Rasulullah saw. akan kita temukan solusi dari permasalahan telur ini. Bahkan tak hanya masalah telur, tapi semua masalah kehidupan.

Dalam pandangan Islam, negara memiliki otoritas untuk melakukan intervensi dalam kebijakan ekonomi. Ini dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan rakyat negeri. Intervensi kebijakan regulasi yang berhubungan dengan permintaan dan penawaran. Juga intervensi dalam penentuan harga. Hanya saja, ada syarat dan ketentuan berlaku mengenai intervensi ini. Pemerintah tak bisa seenaknya mengatur harga barang. 

Sejarah mencatat, bahkan Rasulullah saw dan Umar bin Khaththab pernah ‘blusukan’ ke pasar. Hal ini bertujuan inspeksi agar tidak ada penipuan dan penimbunan barang. Tak cukup itu, bahkan Amirul mukminin pun menguji kemampuan fiqh mua’malah para pedangan secara berkala. Inilah bentuk penjagaan penguasa terhadap terpenuhinya kebutuhan rakyat. Semuanya ini hadir ketika Alquran dan hadist dijadikan pedoman kehidupan. Kehidupan Rasulullah saw dijadikan teladan. 

Lantas, kini akankah kita mencukupkan diri dengan Islam dan iman yang seadanya ini? Sudah siapkah kita mencicipi jilatan api neraka yang membuat otak mendidih karena kelalaian terhadap syaria’t-Nya? Relakah kita terhimpit akan kebutuhan diri? Semoga semua jawabannya tidak. Karena itu, sudah saatnya kita kembali memeluk Alquran dan hadist untuk dijadikan sebenar-benarnya pedoman kehidupan. Hingga tiada lagi kesempitan hidup yang kita rasakan. Karena Allah turunkan berkahnya dari langit dan bumi.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (TQS. Al A’raf : 96)

Wallahu’alam bish shawab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!