Tuesday, August 7, 2018

Haji dan Qurban; Bukti Ketundukan pada Ilahi


Oleh : Tita Rahayu

Ibadah haji adalah ibadah yang diidam-idamkan bagi setiap muslim. Ia memiliki keistimewaan tersendiri yaitu ibadah yang dilakukan secara berjamaah dengan seluruh umat muslim di dunia dalam satu tempat, di waktu yang sama. Ka'bah sendiri menjadi daya tarik bagi umat muslim. Ka'bah yang merupakan kiblat orang muslim menjadi tempat kita kembali kepada Allah. Tunduk dan patuh kepada Allah secara total. Dan selalu ingin kembali ke hadapan ka'bah. 

Ibadah haji adalah kewajiban umat muslim. Allah berfirman yang artinya, "Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (TQS. Ali 'Imran 3: Ayat 97)

Makna Haji

1. Haji dan ketaatan

Ketika berhaji, kita taat dan tunduk pada perintah Allah. Pada setiap rangkaian ibadah yang telah diatur pada Allah. Seharusnya, ketaatan dan ketundukan ini juga berlaku pada kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara berpakaian, memilih makanan dll, semuanya harus tunduk dan patuh pada peraturan Allah. 


2. Haji dan pengorbanan

Haji membutuhkan biaya tidak sedikit. Tak hanya berkorban materi, tapi juga harus mempersiapkan mental juga kesehatan agar mampu melaksanakan haji dengan baik. 


3. Haji dan persatuan

Umat muslim dari seluruh dunia berkumpul di Haramain. Semua merasa saudara karena aqidah yang menyatukan. Tidak ada keegoisan. Meski berdesak-desakan saling memberi ruang. 

Meskipun haji adalah cita-cita setiap muslim, namun sayangnya tidak setiap muslim bisa dengan segera melakukan ibadah haji ke tanah suci. Bagi muslim yang belum berkesempatan berhaji, ada moment penting lainnya yaitu Qurban. Qurban juga merupakan bukti ketundukan kita pada Allah. Sebagaimana Nabi Ibrahim taat pada Allah ketika Allah perintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail, anaknya. 

Haji Terdegradasi

Makna-makna yang terkandung dalam ibadah haji ialah tunduk dan patuh pada aturan Allah secara total seharusnya juga tercermin dalam keseharian. Sepulang haji seharusnya umat muslim akan berusaha untuk tetap tunduk dan patuh pada aturan Allah dalam segala hal.

Namun, kini makna haji itu hilang tak tercermin pada orang-orang yang pulang dari tanah suci. Padahal setiap tahun jumlah orang berhaji sangat banyak. Tapi, kesadaran itu tak nampak. Ibadah haji akhirnya dilakukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. 

Hal ini terjadi karena pemisahan agama dari kehidupan. Islam hanya dipakai dalam ibadah ritual. Tapi ketika berinteraksi dengan sesama muslim, islam ditinggalkan. Kaum muslimin juga kini terpecah belah. Ketika kembali ke tempat asalnya masing-masing, umat kembali tersekat oleh banyak perbedaan. Perbedaan suku, bangsa dan kelompok. 

Sudah sepatutnya, bahwa kita sebagai makhluk, harus tunduk dan taat pada Allah yang menciptakan. Allah mengatur kehidupan manusia; hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan Allah sebagai sang Khaliq. 

Ketaatan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah sejatinya tercermin dalam segala hal, tidak hanya dalam hubungannya dengan Allah ketika beribadah. Namun, ketika bermasyarakat hendaknya manusia pun taat dan patuh pada aturan Allah. Juga ketika berperilaku; berpakaian, berbicara, memilih makanan, dan lainnya haruslah taat pada apa yang telah Allah atur.

Haji dan Qurban adalah bukti ketundukan pada Allah. Jikalau setiap orang yang berhaji muncul kesadaran dan ketaatan secara total pada Allah, seperti halnya saat berhaji, maka tak salah jika haji disebutkan sebagai pilar tegaknya islam.

Sudah saatnya, mengembalikan fungsi haji, makna haji dan qurban. Berupa ketundukan dan ketaatan dalam setiap saat, setiap waktu, dimanapun dan kapanpun.

Wallahua’lam bish shawab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!