Wednesday, August 8, 2018

Duka Lombok, Kode dari Sang Maha Pencipta


Oleh: Zakiyyah Almanaf


Kawasan Lombok  dan sekitarnya diguncang dua gempa hebat dalam sepekan. Gempa pertama, yang terjadi pada Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 Skala Richter, ternyata bukanlah klimaks. Hanya berjarak sepekan, pada Minggu malam, 5 Agustus 2018, lindu kembali mengguncang wilayah yang sama dengan kekuatan lebih besar, yakni 7 Skala Richter.


Ini fenomena yang jarang terjadi dalam bencana gempa karena kekuatan gempa kedua lebih besar dari gempa pertama. Yang umum diketahui, gempa susulan selalu punya kekuatan lebih rendah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemudian menyatakan gempa berkekuatan 7 Skala Richter yang mengguncang Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada pukul 18.46 WIB adalah gempa utama (mainshock). Sementara gempa 6,4 SR adalah awalan atau foreshock. Liputan6.com 


Dua hari setelah bencana gempa bermagnitudo 7 mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (5/8/2018), jumlah korban terus bertambah.


Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, korban meninggal dunia bertambah menjadi 105 orang per Selasa (7/8/2018).

Sementara itu, data sementara terkait korban luka-luka masih berada di angka 236 orang. Masih ada pula ribuan orang lainnya yang mengungsi. Kompas.com


Duka dibalik Peristiwa

Korban yang terus menerus bertambah tentu semakin menyisakan duka untuk masyarakat negeri ini. Peristiwa-peristiwa duka yang kerap kali melanda dan merenggut jiwa hendaknya dijadikan lonceng pengingat bagi manusia. Kode dari sang pencipta akan kebesaran dan kekuasaanNya supaya manusia tunduk kepada hukum-hukumNya. Dengan tanda-tanda kekuasaan itu pula Allah ingin mengingatkan hamba-hambaNya akan kewajibannya kepada Allah.


"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka bahwa Alqur'an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu" ( QS. Fushilat: 53)


Diantara serangkaian penomena alam yang menimpa manusia, sesungguhNya semua berjalan atas kehendakNya. Tidak ada satu kejadianpun yang menimpa manusia tanpa kehendakNya. Hanya saja Allah tidak akan menimpakan keburukan kepada penduduk bumi selama mereka beriman dan bertaqwa.


 "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. " (Al A'raf 96)


Dalam al qur'an disebutkan bahwa kunci makmur dan sejahternya suatu negeri adalah karena taqwanya. Sebaliknya kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi saat ini pemicunya adalah perbuatan dan keserakahan manusia itu sendiri.


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan        manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).  Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan       orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar Rum 41-42)


Dalam tafsir Ibnu Katsir Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid ibnul Muqri, dari Sufyan, dari Hamid ibnu Qais Al-A'raj, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut. (Ar-Rum: 41) Bahwa yang dimaksud dengan rusaknya daratan ialah terbunuhnya banyak manusia. Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi, karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan.


Hal ini menunjukan aktifitas manusia senantiasa terkait dengan penomena alam yang terjadi sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya, Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah. Dan bencana apapun yang menimpamu maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". (QS. An Nisa 79)


Menangkap Kode Illahi

Untuk itu hendaknya manusia menyadari bahwasanya gempa dan kerusakan alam lainnya adalah kode daei sang pencipta. Sebagai pengingay supaya manusia sadar dengan kesalah-kesalahannya kemudian bertaubat membersihkan diri dan kembali ke jalan yang di ridhoi Allah. 


Hal ini sebagaimana yang di perintahkan oleh Rasululloh Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat:


“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”.


Hal serupa dilakukan oleh sahabat Rasululloh yaitu Umar bin Khattab. Pada saat terjadi gempa di Madinah di masa Ke Khilafahan Umar bin Khattab, Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa.


“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”


Begitupun dengan sahabat lainnya yaitu Kaab bin Malik yang memiliki pendapat serupa dengan Umar yang tegas menyatakan bahwa gempa terjadi karena maksiat yang dilakukan oleh manusia. "Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab nya azza wajalla melihatnya.”


Penuturan serupa di smpaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra ketika ditanya oleh Anas bin Malik mengenai penyebab terjadinya gempa. "Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka? Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.”


Begitulah pelajaran yang pernah dicontohkan oleh Rasululloh dan para sahabat ketika terjadi gempa. Gempa senantiasa dijadikan teguran, kode keras dari Sang Pencipta Manusia atas kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan. Maka wahai pemimpin bertaubatlah atas segala kemaksiatan dan pelanggaran terhadap aturan Allah dan ajaklah rakyatmu untuk bertaubat. Jika manusia tidk mengindhkan kodenya sama saja seperti menghalalkan atas azabNya, Naudzubillah tsumma Naudzubillah.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!