Thursday, August 2, 2018

Dilema Nikah Dini Zaman Now


Oleh : Ummu Athifa

(Pemerhati masalah umat, member Revowriter)


Hebohnya pernikahan dini bukanlah pertama kali terjadi di negeri kita Indonesia. Sebut saja yang juga menjadi viral adalah  pernikahan pimpinan pesantren Miftahul jannah, syekh fuji dengan LU  yang berusia 12 tahun. Yang akhirnya Syekh Fuji terkena hukuman penjara 4 tahun karena meloanggar undang-undang perlindungan anak. Bahkan harus membayar pengadilan hingga 60 juta Rupiah.


Sekarang viral pula pernikahan dini antara anak yang berinisial I (13 tahun) dan A (15  tahun) karena selain usia mereka yang masih belia, kasusnya menimbulkan kontroversi dalam masyarakat luas dan banyak  pihak ikut mengkritisinya. Apalagi setelah  Menteri  Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, secara resmi telah membatalkan pernikahan anak yang terjadi di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. (Liputan6.com. 16/7/2018). 


Inilah yang menjadi persoalannya ketika suatu pernikahan yang telah berlangsung secara  hukum Islam serta restu dari kedua pihak keluarga di paksa bubar/dibatalkan karena di anggap tidak memenuhi syarat-syarat secara hukum negara karena dianggap melanggar undang -undang perkawinan dimana batas usia wanita minimal 16 tahun dan  pria 21 tahun.


Kenapa hubungan yang justru disatukan demi sebuah kebaikan ini di persoalkan?  Kenapa ketika hubungan bebas yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang hidup tanpa ikatan yang bukan saja melanggar aturan beragama tapi juga norma masyarakat tidak di persoalkan. Bukannya dari hubungan semacam itu akan menimbulkan berbagai macam penyakit sosial dalam masyarakat? Namun  justru terkesan di biarkan bahkan ketika hubungan yang ekstrem sekalipun semacam LGBT  di perbolehkan dan malah dilindungi.


Apa lebih merasa nyaman ketika melihat generasi muda rusak dengan pacaran dan melakukan kebebasan seks. Yang terjadi kemudian,  ketika hamil mereka akan melakukan aborsi demi menutupi malu. Bahkan lebih ekstrem lagi dibunuhnya anak yang terlahir karena  kehamilan yang tidak di harapkan karena memang melakukannya semata-mata hanya untuk kesenangan semata.


Bukan tidak ada akibat salah gaul akhirnya mengantar seorang perempuan menjadi seorang wanita pekerja seks pada kemudian hari. Bahkan yang masih ada rasa penyesalan  atas perbuatan karena tidak ada tanggung jawab dari pihak laki-laki, si perempuan akhirnya bunuh diri untuk mengubur rasa malunya, nauzubillahi minzalik. 


Betapa banyak akibat seks bebas timbulnya berbagai penyakit kelamin dan penyakit-penyakit lainnya akibat hubungan yang berganti-ganti pasangan. Bahkan penyakit yang sangat mematikan hiv-aids  yang sampai saat ini belum di ketemu kan obat nya juga diakibatkan dari hubungan bebas ini.


Naif sekali rasanya apabila perbuatan yang di lakukan demi menjaga kehormatan dan menyelamatkan generasi masa depan di pertentangkan dan di larang. Sementara segala sesuatu yang memungkinkan seseorang melakukan kehidupan dengan sexs bebasnya terpapar tanpa penghalang. 


Lihatlah pornografi dan fornoaksi demikian maraknya, internet/media sosial yang semakin bebas untuk mengakses apa pun dari situs-situs yang menimbulkan birahi. Acara televisi pun  kadang lepas sensor dengan omongan yang tidak senonoh. Ditambah lagi  aurat bertebaran di mana-mana. Tidak cukupkah menjadi salah satu sebab melakukan pernikahan dini?


Di sinilah ambigunya sistem yang berjalan saat ini yaitu sistem Kapitalisme-Liberalisme ketika mereka gembor-gemborkan kebebasan berbuat dan bertindak boleh belaku untuk semua orang tapi tidak untuk hukum Islam. Jadi sebenarnya yang menjadi sasaran mereka adalah hukum Islam itu sendiri.


Sesungguhnya tindakan pemerintah membatalkan pernikahan merupakan tindakan yang dzalim terhadap Islam karena menganggap apa yang dibolehkan oleh  aturan Islam notabene aturan dari Allah SWT tidak layak di bandingkan dengan aturan negara yang notabene di buat oleh manusia. Karena dalam Islam dibolehkan menikah ketika baligh, sementara baligh bagi seorang wanita adalah ketika sudah mendapatkan haid pertama ( lazim di usia 9-15 tahun) sedangkan seorang pria di tandai dengan tumbuhnya bulu-bulu halus di sekitar kemaluan dan dada atau setidaknya telah mengalami mimpi basah walaupun usianya belum menjelang 15 tahun.


Upaya untuk melarang pernikahan dini bisa dianggap salah satu bentuk kedurhakaan kepada Allah, karena apa yang telah dihalalkan oleh Allah tidak boleh diharamkan oleh manusia sebagaimana firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Maidah :87)


Seharusnya tidak boleh ada larangan melakukan pernikahan dini karena memang hukumnya mubah/boleh. Namun yang harus di perhatikan adalah kesiapan diri untuk menikah, baik dari pihak perempuan maupun pihak laki-laki.  Baik  Kesiapan dari sisi ilmu, kesiapan materi  (nafkah), maupun kesiapan fisik. Yang terakhir tidak ada paksaan dan tekanan dari pihak tertentu.


Adalah suatu keputusan yang berani jika pilihan nikah dini diambil  dengan niat untuk menghindari jatuh ke perbuatan yang di larang agama, sementara sebahagian anak remaja zaman now masih suka hura-hura dan bergaul secara bebas.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!