Wednesday, August 8, 2018

Demokrasi: Ilusi High Quality Education


Oleh: Tri S, S.Si*

Demokrasi, kapitalisme dan sekulerisme merupakan satu keluarga yang tak terpisahkan. Sekulerisme sebagai paham yang memisahkan agama dari kehidupan membuat sebuah sistem kehidupan yang “say no to God” untuk mengatur kehidupan di dunia. Hingga muncullah kapitalisme yang merupakan hasil peranakan sekulerisme yang menganggap semua akan berarti ketika ada uang. Muncullah sekolah-sekolah yang katanya berkualitas dengan harga yang selangit. Otomatis, mayoritas mobil mentereng yang mengantar anak murid kesekolah tersebut. Berbeda dengan sekolah alakadarnya yang paling banter diantar sama kendaraan umum atau jalan kaki. Jomplang sekali fakta keadaan pendidikan dinegeri ini. Bagaimana dengan produk pendidikan disekolah berbagai kasta? Karena sama-sama berakar dari sekulerisme, hasil pendidikannya tidak jauh berbeda. Kepribadian Islam minus dari pelajar. Kalau anak borju nyontek pake gadget, maka bagi mereka yang ngga borju, menyontek dengan menulis dikertas dan disimpan didaerah anggota tubuh tertentu di badannya. Kalau anak borju bolos sekolah karena main game online dirumahnya, maka mereka yang ngga borju melakukan bolos sekolah untuk main game online  di warnet. Kalau anak borju berpacaran di mall-mall, maka mereka yang ngga borju berpacaran di taman-taman kota yang gratisan. Meskipun dunia mereka berbeda, namun aktivitas mereka tidak jauh berbeda dan jauh dari Islam dalam bertingkahlaku. 

Kebebasan bertingkahlaku yang dilakukan pelajar saat ini merupakan hasil penanaman demokrasi di kurikulum pendidikan kita. Demokrasi mengusung 4 kebebasan seperti beragama, berpendapat, bertingkahlaku dan kepemilikan. Jadilah para pelajar bertingkahlaku seenaknya dan cenderung sulit ketika harus diatur oleh Islam, agama yang lengkap mengatur kehidupan dunia dan akhirat. Pelajar juga dijauhkan dari pendidikan agama, yang dibuktikan dengan minimnya jam belajar untuk pelajaran agama di sekolah. Kalaupun ada, cenderung hanya teori. Sulit untuk diaplikasikan. Terlebih sulit untuk menemukan tempat solat memadai disekolah-sekolah tertentu bahkan sulit menemukan sekolah yang juga mengajarkan Islam sebagai pengatur hidup dalam segala aspek kehidupan manusia. Begitupun dalam berpendapat. Tidak jarang pelajar memberi pendapat hanya berdasarkan rasionalitas mereka. Mungkin mereka belum memahami bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban dan Islam memiliki jawaban setiap detil permasalahan yang ada. Kebebasan kepemilikan juga mulai diusung oleh pelajar. Karena setiap zaman ada trend tertentu, maka dengan adanya stimulus kapitalisme yang memunculkan anggapan bahwa ngga trendy kalau ngga mengikuti perkembangan zaman maka membuat pelajar berusaha keras meliliki benda-benda tertentu agar dibilang bisa mengikuti zaman. Sebagai contoh, ada pelajar yang megambil barang yang bukan haknya atau mengambil uang orang lain agar bisa memiliki barang yang dia inginkan. Ya supaya dibilang trendy dan gaul dikalangan pelajar. 

Beberapa kondisi diatas menunjukkan bahwa demokrasi membuat manusia bebas berkehendak tanpa diatur oleh Tuhannya yang Maha Mengetahui akan kondisi hambaNya sekecil apapun kondisinya. Allah SWT Rabb Yang Maha Segalanya, tau akan kondisi hamba yang diciptakannya dan apa yang terbaik sehingga dalam hidup kita dilengkapi seperangkat  aturan ysng sesuai dengan fitrah kita, memuaskan akal dan menenteramkan hati. Alquran dan Sunnah menjawab berbagai macam problematika manusia. Jadi mana mungkin manusia yang memang makhluk sempurna tapi tak sesempurna penciptanya berhak membuat undang-undang yang padahal sudah diatur oleh Al-Khaliq. Apakah manusia tau apa yang akan terjadi, esok atau tahun depan? Apakah manusia tau apa yang ada dibalik dinding jika tanpa bantuan alat? Itu sedikit contoh untuk menunjukkan kelemahan manusia dan memang tak bisa disandingkan  dengan Al-Khaliq. [Tri S]

*(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi) 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!