Wednesday, August 8, 2018

Cinta di Atas Taat


Oleh: Hamsina Halik 

(Anggota Komunitas Revowriter)


_"Cinta berjalan di hadapan kita dengan mengenakan gaun kelembutan. Tetapi sebagian kita lari darinya dalam ketakutan atau bersembunyi dalam kegelapan. Dan sebagian yang lain mengikutinya untuk melakukan kejahatan atas nama cinta"._ (Khalil Gibran)


Cinta. Lima huruf yang terangkai menjadi satu kata yang penuh makna. Mendengarnya saja mampu membuat hati tenang dan berbunga-bunga. Apatah lagi jika benar-benar merasakannya. Membuat diri mampu melakukan  apa saja atas nama cinta. Serasa dunia adalah milik sendiri. Itulah cinta sebagaimana makna yang terkandung dalam sepenggal kalimat dari Khalil Gibran diatas.


Cinta adalah sesuatu yang alami. Ada pada setiap insan. Sebab, Allah  SWT telah memberikan berbagai potensi kepada hamba-Nya. Salah satunya gharizah nau' (naluri mempertahankan jenis). Adapun manifestasi dari gharizah nau' ini adalah adanya rasa cinta/kasih sayang. Misalnya cinta atau kasih sayang kepada orangtua, saudara atau keluarga. Termasuk cinta kepada lawan jenis. 


Perasaan cinta dan kasih sayang  ini  muncul dari dalam diri, tersebab adanya rangsangan dari luar atau faktor eksternal yang memicunya. Contoh: cinta kepada lawan jenis ada, sebab adanya interaksi yang intens dengan lawan jenis, sering telponan/chatingan, saling ciri pandang hingga timbul rasa kagum yang kemudian berubah menjadi benih-benih cinta.


Apa Itu Cinta?


Ketika ditanya apa itu cinta, maka tiap orang punya pandangan yang berbeda dalam memaknai cinta. Ada yang berkata cinta itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Cukup dirasakan saja, nikmati tanpa untaian kata-kata. 


Cinta, dalam KBBI diartikan sebagai suka sekali; sayang sekali;  sayang benar; kasih sekali. Benar-benar diluar dugaan kita makna cinta ini. Benarkan itu arti cinta?  Dalam buku, "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu", karya dari Ibnul Qayyim Al Jauziyah, cinta memiliki banyak arti. 


Diantaranya, Mahabbah diartikan sebagai cinta yang artinya jernih, tak ada kebohongan dan kepalsuan. Benar-benar jernih, layaknya cinta seorang ibu kepada anaknya. Cinta yang tulus. 

Cinta diartikan juga sebagai rasa gundah atau tidak tenang. Yaitu perasaan yang tidak tenang, selalu ingin dekat dengan orang yang dicinta. 



Cinta yang Salah


Bukan sesuatu yang salah jika sampai jatuh cinta. Namun, perlu diperhatikan bagaimana mengekspresikan cinta itu menjadi sebuah nilai, baik atau buruk.  Menjadi baik ketika cara mengekspresikannya tak keluqr dari tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebaliknya, menjadi buruk jika diekspresikan sesuai keinginan hawa nafsu semata. Keluar dari jalur aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. 


Faktanya, saat ini para remaja muslim banyak yang keluar dari jalur aturan Allah SWT. Memilih mengekspresikan cinta lewat jalur yang salah, yaitu pacaran. Dengan alasan untuk saling mengenal satu sama lain. Agar bisa paham akan perbedaan masing-masing dan mampu menerima apa adanya. Terlebih, katanya agar ada yang memotivasi untuk lebih giat belajar juga lebih rajin beribadah. Saling mengingatkan satu sama lain. Sebuah pembenaran bagi insan yang dimabuk cinta. 


Inilah cinta yang salah, disalurkan dengan cara yang tak sesuai aturan Allah. Penyaluran yang akan menghantarkan pelakunya ke dalam perbuatan zina. Memang tak selamanya pacaran itu berzina. Tapi, perlu diingat pacaran merupakan pintu terjadinya perbuatan zina ini. Sabda Rasulullah SAW:


“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)


Dan dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Is’ra: 32)


Maka, sepatutnyalah seorang muslim menjauhkan diri dari perbuatan keji ini. Salurkan  cinta dengan cara yang benar. Agar  terjaga kehormatan dan kesucian diri.  Ridho Allah pun akan diperoleh.



Jangan Salahkan Cinta


Tanamkan dalam diri bahwa cinta adalah fitrah. Sesuatu yang agung. Naluri yang telah dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Tak bisa ditolak, tak ada pilihan. Hanya penyalurannya diberikan pilihan. Sesuai syariat-Nya atau tidak. Jalan yang diberkahi Allah atau tidak.  Maka, jangan salahkan cinta jika belum bisa menyalurkan di jalan yang diridhoi Allah. Memilih cinta dalam diam adalah lebih baik ketimbang menyalurkan cinta dijalan yang salah.  Sebab cinta pun bisa memasukkan seseorang ke dalam surga. Simaklah kisah dibawah ini:


Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang kapan terjadi hari kiamat, namun beliau malah balik bertanya : “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?” Dia menjawab : ”Cinta Allah dan Rasul Nya.” maka beliaupun menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Maka Anas bin Malik radliyallahu’anhu perowi hadits ini pun berseru gembira : “Demi Allah, Saya mencintai Rasulullah, Mencintai Abu Bakr dan Umar, maka saya berharap untuk bisa bersama mereka disurga”. (HR. Bukhari Muslim)


Cinta kepada Allah adalah cinta diatas segalanya. Mencintai seseorang karena ketaatannya kepada Allah. Menghadirkan cinta yang dilandasi karena ketaatan kepada Allah adalah suatu kemuliaan. Ada kebahagiaan yang menghujam dalam diri. Senantiasa menjauhkan diri dari cinta yang diharamkan. Ada getaran hati manakala disebut nama-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya:


“Sesunguhnya orang-orang yang beriman yaitu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya maka bertambahlah iman mereka karenanya. Dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal. (TQS. Al Anfal: 2)


Itulah cinta diatas ketaatan. Memilih mencintai dalam  diam manakala cinta datang menyapa hati yang kosong. Bersabar menunggu dalam penantian cinta yang halal. Menyibukkan diri dalam aktivitas yang lebih mendekatkan kepada Allah. Agar hati dan kehormatan tetap terjaga.


Wallahu a'lam.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!