Sunday, August 5, 2018

Cie Cie Nikah Muda



Oleh: Siti Anisah Jamilah, S.Pd

(Pemerhati Remaja dan Pendidik Generasi) 



          "Cinta tanpa kejelasan status adalah pemborosan waktu." (Mario Teguh)

Bila orang tua memberi restu, langsunglah saja "Kupinang kau dengan Bismillah." Namun, bagaimana dengan yang terjadi di Bantaeng, Sulawesi Selatan? Saat S (15 tahun) keukeuh ingin menikahi bidadarinya, F (14 tahun) justru polemik tercipta. Karena usia terlalu muda, KUA pun akhirnya menolak menikahkan mereka. (bbc.com, 17/4/2018)


          Pro dan kontra muncul menanggapi pemberitaan tersebut. Ada yang setuju saja, demi menjauhi zina. Namun ada pula yang menolak karena usia yang masih di bawah ketentuan undang-undang (red. Laki-laki 19 tahun, perempuan 16 tahun). Meski sempat ditolak, pasangan ini mengajukan dispensasi yang akhirnya diberikan oleh Pengadilan Agama, pernikahan sah pun berlangsung. Menanggapi hal ini, untuk menghindari pernikahan muda berikutnya, pihak Kementrian Agama menghimbau pengadilan agar lain kali tidak mudah memberikan dispensasi. (cnnindonesia.com, 18/4/2018) Lalu, bagaimana dalam pandangan Islam, salahkah bila muda mudi ingin segera menikah?


           Cinta itu fitrah adanya. Manusia punya naluri berkasih sayang, normal bila seseorang mendambakan pernikahan. Dalam pandangan Islam pun nikah muda tidak melanggar apabila sudah aqil dan baligh, serta memenuhi syarat-syarat pernikahan. Allah SWT berfirman, "Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (QS. An-Nur 24: Ayat 32)


Namun, dalam kehidupan yang cenderung sekuler, sistem pergaulan tidak diatur. Pembekalan menuju jenjang pernikahan pun tidak memadai. Pada kondisi seperti ini, dapatkah kita pastikan pernikahan muda berjalan sesuai syariat islam?


         Tak cukup modal cinta. Sebuah pernikahan perlu dijalani dengan ilmu yang memadai. Diantaranya perihal fikih, hak serta kewajiban suami istri, bagaimana mendidik anak, dan sebagainya. Sebelum menikah pun, muslim wajib menjaga pandangan, menjaga diri dari yang diharamkan Allah. Kadang muda mudi salah kaprah menganggap pacaran sebagai bentuk ta'aruf sebelum menikah. Padahal pacaran adalah aktivitas mendekati zina sehingga haram dilakukan.


          Menyadari seriusnya perkara nikah, semestinya ada sistem yang mengatur semua aspek kehidupan manusia termasuk sistem pergaulan dan pernikahan. Jika yang diatur hanya batas usia minimal saja, sistem kapitalis yang sekuler ini memang tidak akan mampu mengatur manusia dengan baik. Bahkan sangat mungkin menghasilkan hal buruk seperti pernikahan karena kehamilan, terabaikannya hak dan kewajiban suami istri, kebingungan mendidik anak, hingga angka perceraian tinggi.


          Maka saatnya untuk kembali pada sistem Islam yang jelas mengatur bagaimana pergaulan dan pernikahan semestinya berlangsung. Aturan Allah tentunya ialah yang terbaik, tidak akan bertentangan dengan fitrah manusia dan tidak akan menimbulkan polemik. Hanya dengan menerapkan syariat Islam, kita akan mendapatkan solusi menyeluruh dalam menyelesaikan masalah menikah muda ini.


Wallahu a'lam bish-shawab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!