Sunday, August 5, 2018

Balada Cinta Seorang Hamba


Oleh: Tuti Rahmayani, 

(Praktisi kesehatan di Surabaya)

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (TQS al Baqarah: 165)


Seseorang boleh saja mengatakan dia beriman. Seseorang boleh saja mengatakan dia mencintai sesuatu. Namun, lidah tak bertulang. Karenanya setiap pengakuan dan ucapan harus ada konsekuensinya. Seorang yang beriman kepada Allah SWT, maka dia tidak akan menyembah kepada selainNya. Tidak akan menganggap ada sesuatu lain yang lebih berkuasa selain dari Allah SWT. Allah SWT sajalah yang menggenggam rizki dan ajalnya. Allah sajalah tempat dia bergantung dan meminta pertolongan. Keimanan diiringi dengan ketaatan terhadap syariat yang diturunkan. Keimanan pula yang membuat seseorang menjadikan nabi Muhammad saw, orang pilihan Allah SWT, sebagai teladan terbaik baginya.


Demikian pula dengan makna cinta. Seorang ibu yang mencintai anaknya, akan rela bangun di malam hari ketika anaknya haus. Seorang ayah memeras keringat memenuhi nafkah istri dan anaknya. Sebagai bukti cintanya. Pengorbanan yang luar biasa muncul dari rasa cinta yang mendalam. 


Pun, bila kita mengaku mencintai Allah dan rosulNya ini bermakna kita menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw. Cinta kepada Allah dan rasulNya diletakkan pada posisi tertinggi dalam.kehidupan kita. Hingga bila Allah dan rasulNya memerintahkan kita untuk memberikan sesuatu yang kita cintai. 


"Katakanlah, jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."(TQS. at Taubah: 24)


Satu demi satu akan datang ujian menghampiri. Hingga jelas bagi Allah dimana kecintaan hamba bermuara. Ketika harta habis, apakah iman kita ikut menipis, hingga tergiur harta haram? Ketika sakit jadi ujian, sudahkan nabi Ayyub as jadi teladan kesabaran?

Ketika hidup penuh masalah, apakah kita tetap menggenggam dakwah? 


Jadikan hidup kita berburu cinta Ilahi dan rasulNya. Karena bila Allah SWT sudah mencintai kita, meridhoi kita maka itu sudah kenikmatan luar biasa. 




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!