Wednesday, August 8, 2018

Bahaya Propaganda Islam Nusantara


Oleh: Tri S, S.Si

Islam Nusantara cukup ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Banyak intelektual, ulama, politisi, dan pejabat pemerintah yang menggunakan istilah ini ketika membicarakan Islam. Pemantik awalnya adalah penggunaan langgam Jawa dalam tilawah Alquran pada saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 17 Mei 2015 di Istana Negara. Sejak saat itu perbincangan Islam Nusantara menghangat. Mereka mempropagandakan Islam Nusantara sebagai wujud implementasi Islam terbaik, Islam sejati. Bahkan tanpa ragu mereka menyebut “Islam Arab” sebagai Islam abal-abal. Tak cukup itu, Islam Nusantara diklaim sebagai perwujudan Islam yang paling pas di dunia sekarang sehingga layak ‘dijual’ keberbagai negara.(Media Umat)

Para pengusung dan pendukung Islam Nusantara ini menggunakan berbagai argumentasi untuk meyakinkan masyarakat. Banyak media massa memberikan ruang yang cukup luas bagi mereka untuk menyampaikan idenya. Karena itu, perlu adanya sikap kritis terhadap argumentasi yang mereka kemukakan. 

Pertama, konsep Islam Nusantara dianggap sebagai wujud kearifan lokal Indonesia. Argumen seperti ini sangat lemah. Pasalnya, Alquran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, tidak ada kekhususan bagi orang Arab, Eropa, Asia, dan sebagainya. Tentu kesalahan sangat fatal, jika Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya sehingga menganggap ajaran Islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal. Untuk hal yang sifatnya mubah tentu saja Islam bisa mengakomodasi budaya daerah selama tidak menyalahi syariah. Misalnya, memakai kopiah pada saat shalat dibolehkan sebagaimana sorban, karena hal tersebut hukumnya mubah. Namun, memakai jilbab (milhafah/baju kurung/abaya) merupakan kewajiban bagi setiap Muslimah yang akil balig (lihat: QS al-Ahzab[33]: 59). Karena itu jilbab tidak boleh diganti dengan sarung dan kebaya karena pertimbangan budaya lokal di daerah maritim dan agraris. Perlu pula ditegaskan bahwa Islam bukan produk budaya Arab. Meskipun Alquran dan Hadist berbahasa Arab, isinya bukan budaya Arab, melainkan perintah Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Karena itu sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam, hingga sistem pemerintahan Islam bukanlah produk budaya Arab. 

Kedua: Islam Nusantara dianggap sebagai perwujudan Islam yang bersifat empirik. Argument ini tidak sesuai dengan fakta. Faktanya, di dalam Islam, sesuatu yang bersifat normatif tidak terpisah dari empiriknya. Misalnya, secara normatif setiap Muslim harus taat kepada Allah SWT secara totalitas. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan secara empirik supaya sifat normatif ini bisa diimplementasikan, dengan membangun peradaban Islam dalam wadah Negara Islam di Madinah untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah. Artinya, agar setiap Muslim bisa taat kepada Allah SWT secara totalitas, maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah. Untuk menerapkan syariah  secara kaffah diperlukan negara. Alasannya, banyak hukum syariah yang tidak bisa dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya negara, misalnya sistem peradilan Islam, sistem Pendidikan Islam, sistem Ekonomi Islam, sistem politik luar negeri, dan sebagainya. 

Ketiga: Islam Nusantara dianggap sebagai bentuk alternatif untuk menampilkan wajah Islam yang lebih “moderat” dan “toleran”. 

Keempat: Islam Nusantara dianggap sebagai sebuah keniscayaan untuk membendung bahaya “Islam Transnasional”. Argumentasi ini tidak ada realitanya dan ahistoris. Mereka seakan lupa bahwa Islam sendiri berasal dari Timur Tengah, bukan “produk” asli Indonesia. Kalau mereka konsisten mestinya shalat, shaum, zakat dan haji mereka sebut juga sebagai produk transnasional. Sejarah juga mencatat, bahwa Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh “orang luar”, yaitu Wali Songo. Jadi Islam itu memang sejak dulu bersifat transnasional, mulai didakwahkan secara lintas negeri dari pusat Negara Islam di Madinah hingga akhirnya menembus wilayah Romawi, Persia, Afrika Utara, Eropa, Asia dan seterusnya hingga masuk ke Nusantara ini. 

Faktanya, tidak ada yang salah dengan Islam transnasional sehingga harus dibendung dengan Islam Nusantara. Memang demikianlah semestinya karakteristik dakwah Islam yang harus diemban oleh kaum Muslim ke seluruh dunia, melintasi sekat-sekat wilayah geografis. Justru ide Islam Nusantara yang bersifat kewilayahan itulah yang berbahaya karena pada akhirnya akan mengerdilkan Islam itu sendiri. [Tri S]

(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi) 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!