Thursday, August 9, 2018

Politik Bukan Ajang Coba-coba

Politik Bukan Ajang Coba-coba


Oleh : Etti Budiyanti

Member Akademi Menulis Kreatif


Pendaftaran calon legislatif (caleg) telah ditutup pada 17 Juli 2018. Banyak artis yang diusung partai politik untuk menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024. Minimnya kader dari internal partai yang mumpuni dan namanya laku dijual ke masyarakat untuk pemilihan legislatif tahun depan,  mengakibatkan partai politik mencari jalan instan dengan menggandeng artis untuk mendulang suara.  


Menurut data okami.id terdapat 54 artis yang mendaftarkan diri menjadi calon legislatif.  Nama-nama artis seperti Nurul Arifin,  Rieke Diah Pitaloka, Katon Bagaskara, Annisa Bahar hingga Giring Nidji masuk dalam daftar artis yang mencalonkan menjadi wakil rakyat.  Namun banyak pihak yang pesimis terhadap kemampuan para artis tersebut,  terutama yang baru pertama menjadi anggota DPR RI. Seringkali mereka hanya mencoba peruntungan dalam politik. Bahkan Giring Nidji pun menjelaskan motif nyaleg karena terinspirasi Jokowi yang dulu hanya seorang pengusaha meubel. 


Begitulah,  fenomena artis nyaleg ini adalah niscaya dalam sistem politik demokrasi yang asasnya sekuler materialistik. Ketika materi dijadikan sebagai tujuan hidup maka akan melakukan segala cara untuk meraihnya.  Maka, tak akan diperhitungkan kapabilitas sang caleg yang penting sosoknya bisa mendulang banyak suara. Mereka tak berhitung bahwa di setiap jabatan akan ada pertanggungjawaban.


Makna politik dalam Islam


Islam adalah agama yang sempurna, paket problem solving sempurna dari Allah SWT.  Sebagai pencipta kita,  tentunya hanya Allah SWT sajalah yang paham apa yang terbaik untuk makhluknya. 


Islam mengatur bagaimana hubungan manusia dengan Allah SWT,  diri sendiri dan sesama manusia. Demikian pula dengan politik,  Islam juga telah mengaturnya.  

Dalam Islam politik dikenal dengan siyasah.  Menurut bahasa,  siyasah berarti mengatur,  memperbaiki dan mendidik.  Sedang menurut etimologi,  siyasah memiliki makna yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. 


Dalam Islam,  politik  adalah sesuatu yang agung karena merupakan bagian hukum syara' yang menjadi induk pelaksanaan hukum-hukum syara' lainnya.  Orang yang terjun dalam politik praktis atau ranah kekuasaan dipastikan adalah orang yang paham Islam,  paham bagaimana tanggung jawab dan cara meriayah umat serta siap menjalankan kepemimpinannya bersandarkan pada hukum-hukum syara'.  


Jadi,  politik bukan ajang coba-coba apalagi sekedar untuk eksistensi diri.


Wallahu a'lam bishshowab.


Mimpi Demokrasi Berantas Korupsi

Mimpi Demokrasi Berantas Korupsi


  Oleh : Agus su 

AktivisAnggota dakwah/Anggota #AMK3) 

        "Bagai pungguk merindukan bulan" Pribahasa ini tepat untuk menggambarkan usaha sia-sia yang di lakukan pemimpin dinegeri ini dalam menangani kasus korupsi sementara yang mereka terapkan ideologi kapitalis-sekuler yang tidak menghadirkan Ruh ( kesadaran akan hubungan dengan sang kholiq) dan Demokrasi yang system politik berbiaya tinggi. Hal ini terbukti dari banyaknya  nama pejabat yang terus bermunculan dalam kasus korupsi , padahal hukuman penjara dan denda sejumlah uang telah diberlakukun. Ini adalah dampak dari kegagalan demokrasi dan UU-nya yang tidak bisa memberikan pengaruh atau efek jera pada para narapidana. Sehingga mereka yang sudah dinyatakan sebagai terdakwa sekalipun tidak merasa berdosa ataupun menyesal. Mengapa demikian, karena dalam sistem demokrasi hukumpun dapat dibeli dengan uang. Seperti yang dilansir dalam media https://nasional.kompas.com  "bagaimana koruptor bisa jera dan tidak mengulangi perbuatannya kalau fasilitas yang mereka peroleh dilapas masih dalam tanda kutip istimewa dibandingkan napi lain?" Kata Almas Sjafrina  peneliti devisi korupsi politik indonesia coruption watch ( ICW). Fasilitas mewah lapas juga ditemukan dinikmati oleh terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan, bahkan ditahun 2010 Gayus sering keluar lapas mako Brimob Depok dengan menyuap sejumlah petugas. Tak hanya keluar kota, tetapi Gayus juga sempat pergi keluar negeri dengan menggunakan paspor palsu atas nama Soni Laksono. Dan hal tersebut pasti karena ada yang memberi izin. Di tahun 2010 juga terjadi penemuan fasilitas mewah di sel terpidana narkoba Artalyta Suryani atau Ayin di Rutan kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur.

        Tujuan pemidanaan menurut sistem demokrasi ini adalah agar orang berubah menjadi baik, agar ada keadilan dan agar orang lain tidak meniru perbuatan yang sama dan membuat efek jera. Namun jika kita melihat kasus pemberian sejumlah uang hingga sebuah mobil yang diberikan oleh suami Inneke Koesherawati yakni Fahmi Darmawangsa kepada Kalapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat Wahid Husen untuk bisa membeli hunian lapas yang nyaman dengan segala kemewahan. Maka tujuan pemidanaan ibarat pepatah  "jauh panggang dari api". Tujuan yang kenyataan yang sangat tragis. Ungkap ketua Kpk Saut Situmorang  dalam https://news.okezone.com 

        Hukuman penjara yang seharusnya menbuat jera, malah sebalikny membuat orang lain tidak takut bahkan sepele. Mengapa tidak, jika hukuman penjara yang seharusnya mengekang tetapi faktanya para napi kasus korupsi bisa menikmati penjara yang nyaman senyaman rumah sendiri atau bahkan seperti sedang tinggal di apartement dengan segala fasilitas mewah. Seperti yang dialami terpidana korupsi fahmi Darmawangsa yang mendapatkan sel mewah ala lapas Sukamiskin dengan harga fantastis, bisa mencapai Rp500 juta dan itu belum termasuk jika napi ingin menambah fasilitas lainnya. Ungkap Saut situmorang dalam konferensi pers di gedung kpk, jakarta selatan, sabtu 21 juli 2018 di https://www.liputan6.com Maka tak heran jika banyak pejabat yang kini terus menambah daftar terpidana korupsi. Kesempatan saat menjabat tidak disia-siakan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa perduli akan nasib rakyatnya dan tak gentar akan hukuman yang mungkin akan mereka alami. Karena dengan banyaknya hasil korupsi yang di dapatkan mereka bisa merubah penjara yang mencekam menjadi istana yang nyaman. Maka sudah jelas, memberantas korupsi dengan tetap menerapkan sistem demokrasi-kapitalis  dan UU warisan Barat hanyalah ilusi yang tidak mukin bisa terwujud. 

       Maka sudah pasti yang bisa mewujudkan mimpi untuk memberantas korupsi hanyalah dengan menerapkan syariat islam secara kaffah dengan bersandarkan Al-Qur'an dan hadist dalam naungan khilafah. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai agama islam dikehidupan sehari-hari yang akan mencegah manusia melakukan kemaksiatan termasuk tindakan korupsi yang sama seperti mencuri uang negara/rakyat karena jelas dilarang dalam al-qur'an maupun hadist. Kemudian senantiasa melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya : " muslim itu adalah orang yang menyelamatkan muslim lain dengan lisan ( bahasa ) dan tangannya". (HR.muslim) Dan yang paling penting adalah penerapan hukum dan perundangan yang sesuai syariah islam dengan menggunakan tiga pilar: 1. Pengawasan oleh individu 2. Pengawasan dari kelompok 3.pengawasan oleh negara dengan memberlakukan  hukum yang sesuai perintah Allah dalam al-qur'an. Sebagaimana firman Allah yang artinya : “ dan hendaklah kamu semua memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang telah di turunkan oleh Allah (al-qur’an) dan jaanganlah menuuruti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah jangan sampai mereka mempengaruhimu untuk meninggalkan sebagian apa yang diturunkan oleh Allahkepadamu” (QS.Almaidah 49).  

       Dengan pengawasan yang super ketet ini, maka kemungkinan terjadinya tindakan korupsi akan lebih minim karena di dorong dari aspek ruhiyah yang sangat kental ketika menjalankan hukum-hukum islam, sehingga memberikan dampak untuk gemar melakukan amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat.  Di berlakukannya hukuman yang keras bertujuan untuk membuat efek jera bagi peleku dan pencegah bagi yang lain. Adapun sanksi  berupa ta’zir  adalah sebagai penebus ( al-jawabir) sehingga mendorong pelakunya untuk bertoubat dan menyerahkan diri. Negara khilafah dalam upaya pencegahan terjadinya tindakan korupsi memastikan kesejahteraan  pegawainya dengan penggajian yang layak. Kemudian  untuk menghindari adanya pembekakan harta kekayaan para pegawai  islam melakukan penghitungan harta kekayaan pegawainya seperti Gubernur dan Amil. Dan dalam upaya menghindari suap  dengan berbagai modus system islam melarang pejabat Negara atau pegawai untuk menerima hadiah.  Rasulullah Saw bersabda : “ siapa saja yang kami (Negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepedanya telah kami beri rezeki (upah/gaji), maka apa yang di ambil olehnya selain itu adalah kecurangan. ( HR.Abu Dawud).seperti yang dilansir dalam media eramuslim.

 Demikianlah cara islam memberantas korupsi dengan menerapkan islam secara universal bukan persial di satu bidang saja untuk mencapai kemaslahatan bagi umat/rakyat keseluruhan. Maka hendaknyan Indonesia, negeri kita tercinta ini segera menerapkan system islam kaffah. 

  “ apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah 50). Wallahu a”lam bi ash-shawab   





Wednesday, August 8, 2018

Duka Lombok, Kode dari Sang Maha Pencipta

Duka Lombok, Kode dari Sang Maha Pencipta


Oleh: Zakiyyah Almanaf


Kawasan Lombok  dan sekitarnya diguncang dua gempa hebat dalam sepekan. Gempa pertama, yang terjadi pada Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 Skala Richter, ternyata bukanlah klimaks. Hanya berjarak sepekan, pada Minggu malam, 5 Agustus 2018, lindu kembali mengguncang wilayah yang sama dengan kekuatan lebih besar, yakni 7 Skala Richter.


Ini fenomena yang jarang terjadi dalam bencana gempa karena kekuatan gempa kedua lebih besar dari gempa pertama. Yang umum diketahui, gempa susulan selalu punya kekuatan lebih rendah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemudian menyatakan gempa berkekuatan 7 Skala Richter yang mengguncang Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada pukul 18.46 WIB adalah gempa utama (mainshock). Sementara gempa 6,4 SR adalah awalan atau foreshock. Liputan6.com 


Dua hari setelah bencana gempa bermagnitudo 7 mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (5/8/2018), jumlah korban terus bertambah.


Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, korban meninggal dunia bertambah menjadi 105 orang per Selasa (7/8/2018).

Sementara itu, data sementara terkait korban luka-luka masih berada di angka 236 orang. Masih ada pula ribuan orang lainnya yang mengungsi. Kompas.com


Duka dibalik Peristiwa

Korban yang terus menerus bertambah tentu semakin menyisakan duka untuk masyarakat negeri ini. Peristiwa-peristiwa duka yang kerap kali melanda dan merenggut jiwa hendaknya dijadikan lonceng pengingat bagi manusia. Kode dari sang pencipta akan kebesaran dan kekuasaanNya supaya manusia tunduk kepada hukum-hukumNya. Dengan tanda-tanda kekuasaan itu pula Allah ingin mengingatkan hamba-hambaNya akan kewajibannya kepada Allah.


"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka bahwa Alqur'an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu" ( QS. Fushilat: 53)


Diantara serangkaian penomena alam yang menimpa manusia, sesungguhNya semua berjalan atas kehendakNya. Tidak ada satu kejadianpun yang menimpa manusia tanpa kehendakNya. Hanya saja Allah tidak akan menimpakan keburukan kepada penduduk bumi selama mereka beriman dan bertaqwa.


 "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. " (Al A'raf 96)


Dalam al qur'an disebutkan bahwa kunci makmur dan sejahternya suatu negeri adalah karena taqwanya. Sebaliknya kerusakan-kerusakan yang terjadi di muka bumi saat ini pemicunya adalah perbuatan dan keserakahan manusia itu sendiri.


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan        manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).  Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan       orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar Rum 41-42)


Dalam tafsir Ibnu Katsir Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid ibnul Muqri, dari Sufyan, dari Hamid ibnu Qais Al-A'raj, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut. (Ar-Rum: 41) Bahwa yang dimaksud dengan rusaknya daratan ialah terbunuhnya banyak manusia. Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi, karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan.


Hal ini menunjukan aktifitas manusia senantiasa terkait dengan penomena alam yang terjadi sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya, Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah. Dan bencana apapun yang menimpamu maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". (QS. An Nisa 79)


Menangkap Kode Illahi

Untuk itu hendaknya manusia menyadari bahwasanya gempa dan kerusakan alam lainnya adalah kode daei sang pencipta. Sebagai pengingay supaya manusia sadar dengan kesalah-kesalahannya kemudian bertaubat membersihkan diri dan kembali ke jalan yang di ridhoi Allah. 


Hal ini sebagaimana yang di perintahkan oleh Rasululloh Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat:


“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”.


Hal serupa dilakukan oleh sahabat Rasululloh yaitu Umar bin Khattab. Pada saat terjadi gempa di Madinah di masa Ke Khilafahan Umar bin Khattab, Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa.


“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”


Begitupun dengan sahabat lainnya yaitu Kaab bin Malik yang memiliki pendapat serupa dengan Umar yang tegas menyatakan bahwa gempa terjadi karena maksiat yang dilakukan oleh manusia. "Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab nya azza wajalla melihatnya.”


Penuturan serupa di smpaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra ketika ditanya oleh Anas bin Malik mengenai penyebab terjadinya gempa. "Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka? Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.”


Begitulah pelajaran yang pernah dicontohkan oleh Rasululloh dan para sahabat ketika terjadi gempa. Gempa senantiasa dijadikan teguran, kode keras dari Sang Pencipta Manusia atas kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan. Maka wahai pemimpin bertaubatlah atas segala kemaksiatan dan pelanggaran terhadap aturan Allah dan ajaklah rakyatmu untuk bertaubat. Jika manusia tidk mengindhkan kodenya sama saja seperti menghalalkan atas azabNya, Naudzubillah tsumma Naudzubillah.

Demokrasi: Ilusi High Quality Education

Demokrasi: Ilusi High Quality Education


Oleh: Tri S, S.Si*

Demokrasi, kapitalisme dan sekulerisme merupakan satu keluarga yang tak terpisahkan. Sekulerisme sebagai paham yang memisahkan agama dari kehidupan membuat sebuah sistem kehidupan yang “say no to God” untuk mengatur kehidupan di dunia. Hingga muncullah kapitalisme yang merupakan hasil peranakan sekulerisme yang menganggap semua akan berarti ketika ada uang. Muncullah sekolah-sekolah yang katanya berkualitas dengan harga yang selangit. Otomatis, mayoritas mobil mentereng yang mengantar anak murid kesekolah tersebut. Berbeda dengan sekolah alakadarnya yang paling banter diantar sama kendaraan umum atau jalan kaki. Jomplang sekali fakta keadaan pendidikan dinegeri ini. Bagaimana dengan produk pendidikan disekolah berbagai kasta? Karena sama-sama berakar dari sekulerisme, hasil pendidikannya tidak jauh berbeda. Kepribadian Islam minus dari pelajar. Kalau anak borju nyontek pake gadget, maka bagi mereka yang ngga borju, menyontek dengan menulis dikertas dan disimpan didaerah anggota tubuh tertentu di badannya. Kalau anak borju bolos sekolah karena main game online dirumahnya, maka mereka yang ngga borju melakukan bolos sekolah untuk main game online  di warnet. Kalau anak borju berpacaran di mall-mall, maka mereka yang ngga borju berpacaran di taman-taman kota yang gratisan. Meskipun dunia mereka berbeda, namun aktivitas mereka tidak jauh berbeda dan jauh dari Islam dalam bertingkahlaku. 

Kebebasan bertingkahlaku yang dilakukan pelajar saat ini merupakan hasil penanaman demokrasi di kurikulum pendidikan kita. Demokrasi mengusung 4 kebebasan seperti beragama, berpendapat, bertingkahlaku dan kepemilikan. Jadilah para pelajar bertingkahlaku seenaknya dan cenderung sulit ketika harus diatur oleh Islam, agama yang lengkap mengatur kehidupan dunia dan akhirat. Pelajar juga dijauhkan dari pendidikan agama, yang dibuktikan dengan minimnya jam belajar untuk pelajaran agama di sekolah. Kalaupun ada, cenderung hanya teori. Sulit untuk diaplikasikan. Terlebih sulit untuk menemukan tempat solat memadai disekolah-sekolah tertentu bahkan sulit menemukan sekolah yang juga mengajarkan Islam sebagai pengatur hidup dalam segala aspek kehidupan manusia. Begitupun dalam berpendapat. Tidak jarang pelajar memberi pendapat hanya berdasarkan rasionalitas mereka. Mungkin mereka belum memahami bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban dan Islam memiliki jawaban setiap detil permasalahan yang ada. Kebebasan kepemilikan juga mulai diusung oleh pelajar. Karena setiap zaman ada trend tertentu, maka dengan adanya stimulus kapitalisme yang memunculkan anggapan bahwa ngga trendy kalau ngga mengikuti perkembangan zaman maka membuat pelajar berusaha keras meliliki benda-benda tertentu agar dibilang bisa mengikuti zaman. Sebagai contoh, ada pelajar yang megambil barang yang bukan haknya atau mengambil uang orang lain agar bisa memiliki barang yang dia inginkan. Ya supaya dibilang trendy dan gaul dikalangan pelajar. 

Beberapa kondisi diatas menunjukkan bahwa demokrasi membuat manusia bebas berkehendak tanpa diatur oleh Tuhannya yang Maha Mengetahui akan kondisi hambaNya sekecil apapun kondisinya. Allah SWT Rabb Yang Maha Segalanya, tau akan kondisi hamba yang diciptakannya dan apa yang terbaik sehingga dalam hidup kita dilengkapi seperangkat  aturan ysng sesuai dengan fitrah kita, memuaskan akal dan menenteramkan hati. Alquran dan Sunnah menjawab berbagai macam problematika manusia. Jadi mana mungkin manusia yang memang makhluk sempurna tapi tak sesempurna penciptanya berhak membuat undang-undang yang padahal sudah diatur oleh Al-Khaliq. Apakah manusia tau apa yang akan terjadi, esok atau tahun depan? Apakah manusia tau apa yang ada dibalik dinding jika tanpa bantuan alat? Itu sedikit contoh untuk menunjukkan kelemahan manusia dan memang tak bisa disandingkan  dengan Al-Khaliq. [Tri S]

*(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi) 


Bahaya Propaganda Islam Nusantara

Bahaya Propaganda Islam Nusantara


Oleh: Tri S, S.Si

Islam Nusantara cukup ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Banyak intelektual, ulama, politisi, dan pejabat pemerintah yang menggunakan istilah ini ketika membicarakan Islam. Pemantik awalnya adalah penggunaan langgam Jawa dalam tilawah Alquran pada saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 17 Mei 2015 di Istana Negara. Sejak saat itu perbincangan Islam Nusantara menghangat. Mereka mempropagandakan Islam Nusantara sebagai wujud implementasi Islam terbaik, Islam sejati. Bahkan tanpa ragu mereka menyebut “Islam Arab” sebagai Islam abal-abal. Tak cukup itu, Islam Nusantara diklaim sebagai perwujudan Islam yang paling pas di dunia sekarang sehingga layak ‘dijual’ keberbagai negara.(Media Umat)

Para pengusung dan pendukung Islam Nusantara ini menggunakan berbagai argumentasi untuk meyakinkan masyarakat. Banyak media massa memberikan ruang yang cukup luas bagi mereka untuk menyampaikan idenya. Karena itu, perlu adanya sikap kritis terhadap argumentasi yang mereka kemukakan. 

Pertama, konsep Islam Nusantara dianggap sebagai wujud kearifan lokal Indonesia. Argumen seperti ini sangat lemah. Pasalnya, Alquran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, tidak ada kekhususan bagi orang Arab, Eropa, Asia, dan sebagainya. Tentu kesalahan sangat fatal, jika Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya sehingga menganggap ajaran Islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal. Untuk hal yang sifatnya mubah tentu saja Islam bisa mengakomodasi budaya daerah selama tidak menyalahi syariah. Misalnya, memakai kopiah pada saat shalat dibolehkan sebagaimana sorban, karena hal tersebut hukumnya mubah. Namun, memakai jilbab (milhafah/baju kurung/abaya) merupakan kewajiban bagi setiap Muslimah yang akil balig (lihat: QS al-Ahzab[33]: 59). Karena itu jilbab tidak boleh diganti dengan sarung dan kebaya karena pertimbangan budaya lokal di daerah maritim dan agraris. Perlu pula ditegaskan bahwa Islam bukan produk budaya Arab. Meskipun Alquran dan Hadist berbahasa Arab, isinya bukan budaya Arab, melainkan perintah Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Karena itu sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam, hingga sistem pemerintahan Islam bukanlah produk budaya Arab. 

Kedua: Islam Nusantara dianggap sebagai perwujudan Islam yang bersifat empirik. Argument ini tidak sesuai dengan fakta. Faktanya, di dalam Islam, sesuatu yang bersifat normatif tidak terpisah dari empiriknya. Misalnya, secara normatif setiap Muslim harus taat kepada Allah SWT secara totalitas. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan secara empirik supaya sifat normatif ini bisa diimplementasikan, dengan membangun peradaban Islam dalam wadah Negara Islam di Madinah untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah. Artinya, agar setiap Muslim bisa taat kepada Allah SWT secara totalitas, maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah. Untuk menerapkan syariah  secara kaffah diperlukan negara. Alasannya, banyak hukum syariah yang tidak bisa dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya negara, misalnya sistem peradilan Islam, sistem Pendidikan Islam, sistem Ekonomi Islam, sistem politik luar negeri, dan sebagainya. 

Ketiga: Islam Nusantara dianggap sebagai bentuk alternatif untuk menampilkan wajah Islam yang lebih “moderat” dan “toleran”. 

Keempat: Islam Nusantara dianggap sebagai sebuah keniscayaan untuk membendung bahaya “Islam Transnasional”. Argumentasi ini tidak ada realitanya dan ahistoris. Mereka seakan lupa bahwa Islam sendiri berasal dari Timur Tengah, bukan “produk” asli Indonesia. Kalau mereka konsisten mestinya shalat, shaum, zakat dan haji mereka sebut juga sebagai produk transnasional. Sejarah juga mencatat, bahwa Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh “orang luar”, yaitu Wali Songo. Jadi Islam itu memang sejak dulu bersifat transnasional, mulai didakwahkan secara lintas negeri dari pusat Negara Islam di Madinah hingga akhirnya menembus wilayah Romawi, Persia, Afrika Utara, Eropa, Asia dan seterusnya hingga masuk ke Nusantara ini. 

Faktanya, tidak ada yang salah dengan Islam transnasional sehingga harus dibendung dengan Islam Nusantara. Memang demikianlah semestinya karakteristik dakwah Islam yang harus diemban oleh kaum Muslim ke seluruh dunia, melintasi sekat-sekat wilayah geografis. Justru ide Islam Nusantara yang bersifat kewilayahan itulah yang berbahaya karena pada akhirnya akan mengerdilkan Islam itu sendiri. [Tri S]

(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi) 


Mengkaji Ulang Kurikulum Agama, Perlukah?

Mengkaji Ulang Kurikulum Agama, Perlukah?


Oleh : Mardhiyatuzakiyah 

(Mahasiswi Universitas Singaperbangsa Karawang)

Belum usai tuduhan demi tuduhan terhadap ajaran Islam dan lagi-lagi hal itu kini diperdebatkan. Padahal apa yang kita yakini dan imani dalam ajaran Islam tak lain pasti memiliki tujuan yang mulia. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H Said Aqil Sirodj mengatakan kurikulum pelajaran agama di sekolah cenderung mengajarkan sesuatu yang radikal, contohnya perang uhud, perang badar, dan lainnya. Ia pun mengusulkan bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian ulang kurikulum agama di Indonesia. (Posmetroinfo-2018/07)

Disamping itu, Ketum PBNU ini berharap semua masyarakat Indonesia dapat memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik karena jika itu semua mereka lakukan pasti akan tercipta akhlakul karimah yang akan menghasilkan toleransi beragama antar masyarakat. “Toleransi ini muncul karena akhlakul karimah. Ruang toleransi itu berakhlak, kalau tidak berakhlak tidak mungkin akan toleransi” ujarnya beberapa waktu lalu dalam acara konferensi wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur.

Adanya upaya pengkajian ulang kurikulum agama ini menuai keresahan. Pasalnya, agama Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Tak satupun pembahasan luput dalam agama ini. Mulai dari permasalahan aqidah, syariah, muamalah hingga uqubat dan daulat. Bab sejarah tentang peperangan dalam Islam adalah bentuk syi’ar untuk mengajarkan kepada ummat bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya memperjuangkan dan mempertahankan Islam. Peperangan dalam Islam tidak hanya soal pedang dan perang namun lebih dari itu, Islam memiliki aturan yang apik tentang ini. Sebagaimana Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi  janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”(Q.S. Al-Baqarah:190)

Dalam tafsir Al-Qurthubi, sahabat Ibnu abbas RA, Ummar bin Abdul Aziz dan Mujahid menafsirkan ayat di atas sebagai berikut :

“Perangilah orang yang dalam keadaan sedang memerangimu, dan jangan melampaui batas sehingga terbunuhnya perempuan, anak-anak, tokoh agama dan semisalnya.”

Islam rahmatan Lil’alamin melarang membunuh perempuan, anak-anak, tokoh agama, para ‘asif atau pelayan sewaan seperti paramedis yang mengerjakan tugas-tugas perawatan selama peperangan berlangsung dan personel keagamaan militer, para orang tua (manula), para agamawan dan rohaniawan, dan para tawanan perang. Selama peperangan berlangsung, Islam juga melarang merusak pepohonan yang masih menghasilkan buah, menghancurkan rumah, membantai kambing dan unta, mencuri barang rampasan perang, dan bersikap pengecut. Berdasarkan penjelasan di atas, sangat tidak pantas jika peperangan dalam Islam dianggap sebagai suatu radikal yang berkonotasi negatif. Adapun sebelumnya masyarakat harus paham betul makna dibalik kata radikal. Menurut KBBI, radikal memiliki arti secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Kemudian jika kita kaitkan pada masalah ini, kita perlu mengajarkan Islam secara radikal agar terbentuk pemahaman yang mendasar sampai kepada hal yang pokok.

Jika benar Ketum PBNU ini mengharapkan agar masyarakat Indonesia memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dengan baik, mengapa mengajarkan salah satu bab sejarah dalam Islam (tentang peperangan) dianggap sebagai hal yang radikal dan perlu dikurangi porsinya?. Padahal Allah SWT memerintahkan kita untuk masuk ke dalam agama-Nya secara keseluruhan :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian”(Q.S. Al-Baqarah:208)

Jelas dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala melarang ummat-Nya untuk memilah-milah sebagian hukum Islam atau ilmu Islam mana yang hendak diamalkan, tapi kita harus mengamalkan seutuhnya tanpa pemilihan sebelumnya. Termasuk mempelajari sejarah tentang peperangan pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk membela dan mempertahankan agama Islam. 

Banyak tuduhan datang silih berganti terhadap Islam dan ajaran-ajarannya merupakan bukti rendahnya pemahaman masyarakat tentang Islam. Mereka hanya memandang Islam dari sudut pandang praktis tanpa mau mengamalkan Islam ideologis. Alhasil, makin maraknya sekularisasi pendidikan yang memisahkan pendidikan agama dengan kehidupan. Padahal dalam Islam, dua hal ini bak awan dan langit yang saling melengkapi dan beriringan. Sudah seharusnya apa yang kita lakukan di dunia ini sejalan dengan urusan akhirat yang bersumber pada keridhoan Allah. 

Berkenaan dengan pembelajaran bab sejarah tentang peperangan, perlu adanya penjelasan secara khusus dan menyeluruh dari tim pengajar. Dalam Islam, pengajar bukan hanya mengajarkan ilmu dan pengetahuan tapi juga mendidik siswa agar memiliki karakter yang islami. Salah satu perantaranya melalui kisah-kisah heroik para pejuang Islam. Diharapkan pengajar mampu membentuk karakter siswa yang tangguh, jujur, dan berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan di masa yang akan datang.




Cinta di Atas Taat

Cinta di Atas Taat


Oleh: Hamsina Halik 

(Anggota Komunitas Revowriter)


_"Cinta berjalan di hadapan kita dengan mengenakan gaun kelembutan. Tetapi sebagian kita lari darinya dalam ketakutan atau bersembunyi dalam kegelapan. Dan sebagian yang lain mengikutinya untuk melakukan kejahatan atas nama cinta"._ (Khalil Gibran)


Cinta. Lima huruf yang terangkai menjadi satu kata yang penuh makna. Mendengarnya saja mampu membuat hati tenang dan berbunga-bunga. Apatah lagi jika benar-benar merasakannya. Membuat diri mampu melakukan  apa saja atas nama cinta. Serasa dunia adalah milik sendiri. Itulah cinta sebagaimana makna yang terkandung dalam sepenggal kalimat dari Khalil Gibran diatas.


Cinta adalah sesuatu yang alami. Ada pada setiap insan. Sebab, Allah  SWT telah memberikan berbagai potensi kepada hamba-Nya. Salah satunya gharizah nau' (naluri mempertahankan jenis). Adapun manifestasi dari gharizah nau' ini adalah adanya rasa cinta/kasih sayang. Misalnya cinta atau kasih sayang kepada orangtua, saudara atau keluarga. Termasuk cinta kepada lawan jenis. 


Perasaan cinta dan kasih sayang  ini  muncul dari dalam diri, tersebab adanya rangsangan dari luar atau faktor eksternal yang memicunya. Contoh: cinta kepada lawan jenis ada, sebab adanya interaksi yang intens dengan lawan jenis, sering telponan/chatingan, saling ciri pandang hingga timbul rasa kagum yang kemudian berubah menjadi benih-benih cinta.


Apa Itu Cinta?


Ketika ditanya apa itu cinta, maka tiap orang punya pandangan yang berbeda dalam memaknai cinta. Ada yang berkata cinta itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Cukup dirasakan saja, nikmati tanpa untaian kata-kata. 


Cinta, dalam KBBI diartikan sebagai suka sekali; sayang sekali;  sayang benar; kasih sekali. Benar-benar diluar dugaan kita makna cinta ini. Benarkan itu arti cinta?  Dalam buku, "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu", karya dari Ibnul Qayyim Al Jauziyah, cinta memiliki banyak arti. 


Diantaranya, Mahabbah diartikan sebagai cinta yang artinya jernih, tak ada kebohongan dan kepalsuan. Benar-benar jernih, layaknya cinta seorang ibu kepada anaknya. Cinta yang tulus. 

Cinta diartikan juga sebagai rasa gundah atau tidak tenang. Yaitu perasaan yang tidak tenang, selalu ingin dekat dengan orang yang dicinta. 



Cinta yang Salah


Bukan sesuatu yang salah jika sampai jatuh cinta. Namun, perlu diperhatikan bagaimana mengekspresikan cinta itu menjadi sebuah nilai, baik atau buruk.  Menjadi baik ketika cara mengekspresikannya tak keluqr dari tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebaliknya, menjadi buruk jika diekspresikan sesuai keinginan hawa nafsu semata. Keluar dari jalur aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. 


Faktanya, saat ini para remaja muslim banyak yang keluar dari jalur aturan Allah SWT. Memilih mengekspresikan cinta lewat jalur yang salah, yaitu pacaran. Dengan alasan untuk saling mengenal satu sama lain. Agar bisa paham akan perbedaan masing-masing dan mampu menerima apa adanya. Terlebih, katanya agar ada yang memotivasi untuk lebih giat belajar juga lebih rajin beribadah. Saling mengingatkan satu sama lain. Sebuah pembenaran bagi insan yang dimabuk cinta. 


Inilah cinta yang salah, disalurkan dengan cara yang tak sesuai aturan Allah. Penyaluran yang akan menghantarkan pelakunya ke dalam perbuatan zina. Memang tak selamanya pacaran itu berzina. Tapi, perlu diingat pacaran merupakan pintu terjadinya perbuatan zina ini. Sabda Rasulullah SAW:


“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)


Dan dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Is’ra: 32)


Maka, sepatutnyalah seorang muslim menjauhkan diri dari perbuatan keji ini. Salurkan  cinta dengan cara yang benar. Agar  terjaga kehormatan dan kesucian diri.  Ridho Allah pun akan diperoleh.



Jangan Salahkan Cinta


Tanamkan dalam diri bahwa cinta adalah fitrah. Sesuatu yang agung. Naluri yang telah dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Tak bisa ditolak, tak ada pilihan. Hanya penyalurannya diberikan pilihan. Sesuai syariat-Nya atau tidak. Jalan yang diberkahi Allah atau tidak.  Maka, jangan salahkan cinta jika belum bisa menyalurkan di jalan yang diridhoi Allah. Memilih cinta dalam diam adalah lebih baik ketimbang menyalurkan cinta dijalan yang salah.  Sebab cinta pun bisa memasukkan seseorang ke dalam surga. Simaklah kisah dibawah ini:


Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang kapan terjadi hari kiamat, namun beliau malah balik bertanya : “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?” Dia menjawab : ”Cinta Allah dan Rasul Nya.” maka beliaupun menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Maka Anas bin Malik radliyallahu’anhu perowi hadits ini pun berseru gembira : “Demi Allah, Saya mencintai Rasulullah, Mencintai Abu Bakr dan Umar, maka saya berharap untuk bisa bersama mereka disurga”. (HR. Bukhari Muslim)


Cinta kepada Allah adalah cinta diatas segalanya. Mencintai seseorang karena ketaatannya kepada Allah. Menghadirkan cinta yang dilandasi karena ketaatan kepada Allah adalah suatu kemuliaan. Ada kebahagiaan yang menghujam dalam diri. Senantiasa menjauhkan diri dari cinta yang diharamkan. Ada getaran hati manakala disebut nama-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya:


“Sesunguhnya orang-orang yang beriman yaitu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya maka bertambahlah iman mereka karenanya. Dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal. (TQS. Al Anfal: 2)


Itulah cinta diatas ketaatan. Memilih mencintai dalam  diam manakala cinta datang menyapa hati yang kosong. Bersabar menunggu dalam penantian cinta yang halal. Menyibukkan diri dalam aktivitas yang lebih mendekatkan kepada Allah. Agar hati dan kehormatan tetap terjaga.


Wallahu a'lam.

Tuesday, August 7, 2018

Adakah Lagi Yang Sebenar Umar ?

Adakah Lagi Yang Sebenar Umar ?


Oleh : Kaelani Dewi 

( Member AMK )


Sejumlah pendaki menyaksikan bagaimana batu mengalir laksana air di sepanjang jalur pendakian menuju Gunung Rinjani saat gempa bumi 6,4 Skala Richter mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu, 29 Juli 2018 pagi. Kondisi ini menyebabkan  gunung Rinjani, dinyatakan ditutup sementara waktu. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180729151551-20-317877/ratusan-pendaki-panik-saat-rinjani-bergetar-diguncang-gempa). 


Pada saat yang bersamaan, di Islamic Center Mataram tengah dihelat Konferensi Ulama Internasional  yang membahas Moderasi Islam. Yang mana menghasilkan Lombok Message,  yaitu sebuah kesepakatan untuk  menjadikan  wasathiyyah (moderasi) Islam dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai metode dalam menghadapi ekstremisme dan terorisme. (https://news.detik.com/berita/4138345/konferensi-ulama-hasilkan-lombok-message-sepakat-lawan-rasisme).


Hanya berjarak sekitar sepekan, pada Minggu, 5 Agustus 2018, Bumi Seribu Masjid kembali menggelinjang.  Pulau yang demikian terkenal dengan keindahan alamnya itupun  menampakkan kemurkaan. Dia tak hanya bergolak, tetapi juga meluluh lantakan segala yang terhampar dipermukaannya. (https://www.liputan6.com/news/read/3610666/2-gempa-hebat-guncang-lombok-dalam-sepekan-ini-penjelasan-bmkg). 


Bahkan Menteri Hukum dan HAM negeri ini pun berkesempatan  ikut merasakan panik tatkala gempa 7 Skala Richter itu melanda ditengah diselenggarakannya  agenda  Indonesia-Australia Ministerial Council Meeting (MCM) on Law and Security dan Subregional Meeting On Counter Terrorisme (SRM ON CT) di lantai 12 Lombok Astoria Hotel  Mataram, Nusa Tenggara Barat. (https://regional.kompas.com/read/2018/08/06/08284791/menteri-yasonna-menakutkan-gempanya-sangat-keras-semua-terpelanting).

Sebagaimana kita ketahui bersama, tatkala sebuah wilayah yang termasyur dengan keindahan alamnya keseluruh penjuru dunia, maka akan berpotensi membuka peluang bagi bermunculannya titik-titik kemaksiat dengan mengatas namakan pariwisata. Hari ini itulah yang tengah terjadi di pulau Lombok.



Suatu kali di Madinah pernah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, 

"Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!"


Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah,

 "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"


Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab pun bisa merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mampu mengundang hadirnya bencana.


Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.


Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''


Demikian pula Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, 

“ Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."


"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15).  

Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."


"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."


Tetiba tersadar dari sejenak lamunan yang menyusuri lekuk liku labirin kenangan di nan silam.

Yaa Allah..Inilah negeri kami, Indonesia. 

Yang mayoritas penduduknya telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Yaa Allah..inilah  Lombok, yang tersebut sebagai Bumi Seribu Masjid. 

Satu dari sekian serpihan indah yang Engkau hamparkan dipermukaan negeriku yang telah pula Engkau kaya rayakan.  

Dan tak cukup hanya sampai disitu, Engkau telah pula anugrahkan pada Lombok seorang pemimpin yang demikaian fasih lisannya saat menyenandungkan kesemua firman- Mu.

Dalam lumuran segala khilaf dan kemaksiatan, maka ijinkan kami meminta kepada-Mu Duhai zat yang ditangan-Mu lah hati dan nyawa kami tergenggam.

Kami mohon kasihilah kami dengan mewujud hadirkan seorang pemimpin sekaligus  penjaga yang sebenar-benar Umar, ditengah bencana yang tengah Engkau timpakan kepada kesemua kami.

Aamiin.



Kala UAS Menjawab Rayuan Demokrasi

Kala UAS Menjawab Rayuan Demokrasi


Oleh: Arin RM, S.Si*

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqi, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa bersabda yang artinya: “…Sungguh ulama itu adalah pewaris para nabi…”. Predikat sebagai pewaris para nabi bukanlah hal yang dapat diemban dengan mudah. Pewaris para nabi memikul beban yang teramat berat.  Bahkan tugas utama ulama sebagai pemandu umat menuju jalan Islam kian banyak godaan. Di satu sisi sosok ulama dibutuhkan untuk terus membentengi umat dari bidikan musuh Islam, yang konsisten memfokuskan arah tembaknya pada kalangan ulama dan umat pasca aksi 212 di tahun 2016 silam. Di sisi lain umat merindukan sosok sekaliber ulama yang mampu menjadi pemimpin negeri ini.

Ketahanan umat akan bidikan musuh Islam lumayan teruji, namun kehadiran pemimpin yang mampu menyelamatkan negeri ini masih terus dinanti. Maka, tatkala umat kian mampu bertahan dan memiliki daya tawar politis yang meningkat, dinilai sebagai kesempatan emas untuk menyatukan suara mengusung pemimpin yang peduli umat. Dan ulamalah kualifikasi pilihan pemimpinnya. Sebab integritas mereka dinilai mampu mengangkat karamnya biduk negeri. 

Dari sini maka wacana koalisi keumatan dilanjutkan. Sejumlah ulama dan GNPF pun mengadakan ijtima di Jakarta, 27-29 Juli 2018. Pertemuan ini, salah satunya, menghasilkan rekomendasi nama Capres dan Cawapres untuk Pilpres 2019. Pasangan Prabowo Subianto dan Habib Salim Assegaf atau Prabowo Subianto dan Abdul Somad Nasution. Namun, kedua nama masih rekomendasi. Artinya belum tentu dilaksanakan oleh partai kontestan Pilpres 2019 (Kiblat.net, 30/07/2018).

Mengetahui hal itu, sebagaimana headline dari hidayatullah.com (29/07/2018), UAS menolak halus direkomendasikan jadi cawapres. Sebagaimana yang di-posting di Instagram @ustadabdulsomad (29/07/2018), beliau justru mengapresiasi bahwa pasangan PS-HSA adalah pasangan yang tawazun. Beliau menegaskan keputusannya dengan tulisan " Biarlah saya jadi suluh di tengah kelam, setetes embun di tengah sahara. Tak sungkan berbisik ke Habib Salim, tak segan bersalam ke jenderal Prabowo."

Ketika secara lisan UAS telah menjawab rayuan demokrasi dengan menyatakan keinginannya tetap teguh menjadi ulama, maka sangat baik bila kita pun mendukung keputusannya. Apa yang dipikirkan ulama sekaliber beliau tentu bukan hal yang sepele. Terlebih, sekaliber UAS yang hafal Al-Qur’an dan Hadist tentunya mengerti betul akan kepemimpinan menurut Islam. Apa mungkin beliau mau menjalankan hukum-hukum yang tidak bersumber dari wahyu tatkala duduk di kekuasaan pemerintahan? Apa mungkin bersedia meratifikasi regulasi aturan global internasional yang berasal dari Barat yang jelas-jelas bersumber dari aturan kafir?

Sedangkan sudah diketahui bersama, bahwa saat ini sistem pemerintahan di negeri ini tidak didasarkan pada hukum Allah. Segala pengaturan urusan publik diselesaikan dengan aturan hukum buatan manusia. Kebanyakan masih mewarisi aturan sejak dari zaman penjajah dahulu. Maka, tentu akan sangat bertentanganlah apa yang dipelajari dengan apa yang dijumpai. Sementara sejarah kekuatan partai Islam di beberapa negara telah menunjukkan bahwa kekuatan iman yang melekat pada sosok muslim pemenang pemilu senantiasa ditumbangkan paksa karena dinilai akan membahayakan neokolonialisme yang lama bercokol. Kenangan kemenangan hamas, kemenangan ikhwanul muslimin tentu sebuah pelajaran berharga. Bahwa mengubah konstelasi hukum jahiliyah menjadi hukum Islam sangat sulit dilakukan via parlemen demokrasi, kendaraan yang diproduksi kaum kafir.

Dari sini wajar jika UAS kemudian memantapkan hati untuk fokus di pendidikan dan dakwah, mencerdaskan umat dengan Islam. Di kesempatan lain, melalui unggahan video ceramahnya UAS meminta didoakan agar istiqomah sebagai ulama. Sebab dalam posisi ulama, selain sebagai pewaris Nabi juga diibarakan sebagai bintang. Rasul bersabda: “sungguh perumpamaan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit yang dengan cahanya menerangi kegelapan di darat dan di laut.” (HR. Ahmad). 

Maka, dukungan terbaik bagi UAS dan ulama lain adalah dengan mengupayakan para ulama lebih memilih menjadi pemimpin dalam pemerintahan berbasis Islam, bukan demokrasi. Seraya terus mendoakan semua ulama terus berada pada jalan lurus. Ulama yang senantiasa menyampaikan kebenaran kepada siapapun dengan lantang, mereka yang melakukan amar makruf beserta nahi mungkarnya termasuk mengoreksi dan menasehati penguasa. Ulama yang gamblang mengarahkan umat agar bangkit dan bernaung dalam satu kepemimpinan Islam. Kepemimpinan berbasis Alquran dan Hadits yang mengikuti jalan kenabian.  [Arin RM].

*freelance author, member TSC


Islam, Perang dan Radikalisme

Islam, Perang dan Radikalisme


Oleh : Tsaurina Aslam / Henda Rihma

(Komunitas Revowriter Bandung).


  Islam dipandang oleh kaum Barat sebagai agama bar-bar, agama kekerasan, agama penjajahan atas penduduk non-muslim dan agama perang. Sebab banyak dikisahkan dalam sejarah dunia, masuknya Islam kedalam suatu negeri dimulai dengan sebuah peperangan. Namun tidak banyak sejarah bercerita secara detil mengenai apa, mengapa dan bagaimana peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslim.


  Mochtar Kusumaatmadja mengutip perkataan Jean Pictet mengenai perang yang dilakukan oleh manusia, bahwa 3400 tahun sejarah tertulis, manusia hanya mengenal 250 tahun perdamaian. Perang menjadi salah satu bentuk perwujudan dari naluri mempertahankan diri yang dianggap baik dalam pergaulan antar manusia maupun antar bangsa.

Selama 5600 tahun terakhir manusia telah menggelar perang sebanyak 14.600 kali. (Sumber: wikipedia.org)

Ini jelas menjadi bukti bahwa manusia sudah mengenal perang jauh sebelum Islam ada di muka bumi.


Lantas benarkah Islam disebarkan di negeri-negeri non-muslim dengan peperangan?


  Islam adalah agama perdamaian serta rahmat bagi semesta alam. Peperangan yang dilakukan oleh kaum muslim bukanlah semata untuk menguasai suatu negeri, melainkan untuk menyebarkan kedamaian. 

Rasulullah saw. melarang para shahabat untuk mengandai-andaikan peperangan dan permusuhan. Beliau mengajarkan agar para shahabat memohon kepada Allah swt keselamatan. Sebagaimana sabda beliau,

"janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh (perang), tapi mintalah kepada Allah swt. keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh, bersabarlah." (HR. Bukhari no. 2966 dan Muslim no. 1742).


  Kaum Muslim barulah diijinkan berperang ketika berada dalam kondisi terancam. Kaum Muslim harus membela diri mereka juga agama mereka. Allah swt. berfirman,

“Telah diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah…” (TQS Al-Hajj [22]: 39-40).


  Kalaupun dalam penaklukannya penduduk suatu negeri meninggalkan agama mereka dan memeluk Islam, hal itu bukan karena paksaan, tekanan ataupun ancaman, sekalipun mereka hidup dibawah kekuasaan Islam. Melainkan karena mereka melihat perdamaian yang dibawa oleh Islam ketengah kehidupan mereka.


  Dalam surat al Baqarah ayat 256, Allah swt berfirman, yang artinya: "Tidak ada paksaan dalam agama."

Ini berarti tidak diperkenankan bagi kaum Muslim untuk memaksa orang non-muslim masuk kedalam Islam (memeluk Islam).



Norma Peperangan.


  Islam memiliki keunikan tersendiri dalam peperangan, yaitu norma.

Ya, berbeda dari bangsa-bangsa terdahulu yang lain, misal Persia dan Romawi. Tak ada norma dalam peperangan yang harus mereka ikuti. Bagi mereka, berperang berarti membunuh, menaklukan dan menguasai.

Namun kaum Muslim memiliki perspektif yang berbeda dari Persia dan Romawi.



  Dari Yahya bin Sa'id, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengirim pasukan ke negeri Syam, lalu beliau mengantarkan pasukan dengan berjalan kaki, sedangkan  Yazid bin Abu Sufyan yang saat itu memimpin seperempat dari tentara tersebut naik kuda. Orang-orang berkata bahwa Yazid berkata kepada Abu Bakar, "Silahkan engkau yang naik, atau aku yang turun”. Abu Bakar berkata, "Engkau tidak boleh turun dan saya tidak akan naik. Saya mengharapkan dengan langkah-langkahku ini pahala di jalan Allah." Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya; "Sungguh kamu akan mendapati suatu kaum yang menganggap bahwa mereka itu menahan dirinya untuk Allah, maka biarkanlah mereka dengan keyaqinan mereka, bahwa mereka itu menahan dirinya untuk Allah. Kamu juga akan mendapati suatu kaum yang menggunduli bagian tengah kepala mereka, maka pukullah apa yang mereka cukur tersebut dengan pedang. Dan sungguh saya berpesan kepadamu dengan sepuluh perkara : 1. Jangan sekali-kali kamu membunuh wanita, 2. Anak-anak dan, 3. Orang yang sudah tua. 4. Jangan menebang pohon yang sedang berbuah, 5. Jangan merobohkan bangunan, 6. Jangan menyembelih kambing dan 7. Jangan pula unta kecuali untuk dimakan, 8. Jangan membakar (sarang) lebah dan mencerai-beraikannya. 9. Janganlah khianat, dan 10. Jangan menjadi seorang yang penakut”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 447, no 10]


  Cara pandang yang berbeda atas peperangan inilah yang menarik simpati penduduk Persia dan Romawi. Pada saat pasukan kaum Muslim memasuki wilayah Syria dan Mesir, banyak orang Syria dan Mesir berbondong-bondong masuk kedalam Islam tanpa paksaan sama sekali.


Mempelajari sejarah peperangan menyebabkan seseorang menjadi radikal?


  Sebagaimana dipaparkan sebelumnya bahwa peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslim terdahulu adalah dengan tetap berpegang pada norma yang telah Rasulullah tetapkan dan para Khalifah setelahnya tetap jalankan. 

Dan mengenai apa yang telah disampaikan oleh salah satu tokoh di Indonesia yang mengatakan bahwa menyampaikan sejarah perang dalam kurikulum keagamaan menjadikan pelajar memiliki pemikiran radikal, sehingga kurikulum agama perlu dikaji ulang, tentu itu hanyalah opini yang menyesatkan.

Opini tersebut dilontarkan hanya oleh orang-orang yang menghendaki Islam memiliki citra buruk di tengah masyarakat. Sehingga Islam lenyap di muka bumi.


  Namun, sebagaimana yang Allah swt. telah janjikan.

Allah swt berfirman, "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi  Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." (TQS. Ash Shaff [61] : 7-8).


Allahu a'lam bi ash shawwab.




Haji dan Qurban; Bukti Ketundukan pada Ilahi

Haji dan Qurban; Bukti Ketundukan pada Ilahi


Oleh : Tita Rahayu

Ibadah haji adalah ibadah yang diidam-idamkan bagi setiap muslim. Ia memiliki keistimewaan tersendiri yaitu ibadah yang dilakukan secara berjamaah dengan seluruh umat muslim di dunia dalam satu tempat, di waktu yang sama. Ka'bah sendiri menjadi daya tarik bagi umat muslim. Ka'bah yang merupakan kiblat orang muslim menjadi tempat kita kembali kepada Allah. Tunduk dan patuh kepada Allah secara total. Dan selalu ingin kembali ke hadapan ka'bah. 

Ibadah haji adalah kewajiban umat muslim. Allah berfirman yang artinya, "Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (TQS. Ali 'Imran 3: Ayat 97)

Makna Haji

1. Haji dan ketaatan

Ketika berhaji, kita taat dan tunduk pada perintah Allah. Pada setiap rangkaian ibadah yang telah diatur pada Allah. Seharusnya, ketaatan dan ketundukan ini juga berlaku pada kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara berpakaian, memilih makanan dll, semuanya harus tunduk dan patuh pada peraturan Allah. 


2. Haji dan pengorbanan

Haji membutuhkan biaya tidak sedikit. Tak hanya berkorban materi, tapi juga harus mempersiapkan mental juga kesehatan agar mampu melaksanakan haji dengan baik. 


3. Haji dan persatuan

Umat muslim dari seluruh dunia berkumpul di Haramain. Semua merasa saudara karena aqidah yang menyatukan. Tidak ada keegoisan. Meski berdesak-desakan saling memberi ruang. 

Meskipun haji adalah cita-cita setiap muslim, namun sayangnya tidak setiap muslim bisa dengan segera melakukan ibadah haji ke tanah suci. Bagi muslim yang belum berkesempatan berhaji, ada moment penting lainnya yaitu Qurban. Qurban juga merupakan bukti ketundukan kita pada Allah. Sebagaimana Nabi Ibrahim taat pada Allah ketika Allah perintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail, anaknya. 

Haji Terdegradasi

Makna-makna yang terkandung dalam ibadah haji ialah tunduk dan patuh pada aturan Allah secara total seharusnya juga tercermin dalam keseharian. Sepulang haji seharusnya umat muslim akan berusaha untuk tetap tunduk dan patuh pada aturan Allah dalam segala hal.

Namun, kini makna haji itu hilang tak tercermin pada orang-orang yang pulang dari tanah suci. Padahal setiap tahun jumlah orang berhaji sangat banyak. Tapi, kesadaran itu tak nampak. Ibadah haji akhirnya dilakukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. 

Hal ini terjadi karena pemisahan agama dari kehidupan. Islam hanya dipakai dalam ibadah ritual. Tapi ketika berinteraksi dengan sesama muslim, islam ditinggalkan. Kaum muslimin juga kini terpecah belah. Ketika kembali ke tempat asalnya masing-masing, umat kembali tersekat oleh banyak perbedaan. Perbedaan suku, bangsa dan kelompok. 

Sudah sepatutnya, bahwa kita sebagai makhluk, harus tunduk dan taat pada Allah yang menciptakan. Allah mengatur kehidupan manusia; hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan Allah sebagai sang Khaliq. 

Ketaatan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah sejatinya tercermin dalam segala hal, tidak hanya dalam hubungannya dengan Allah ketika beribadah. Namun, ketika bermasyarakat hendaknya manusia pun taat dan patuh pada aturan Allah. Juga ketika berperilaku; berpakaian, berbicara, memilih makanan, dan lainnya haruslah taat pada apa yang telah Allah atur.

Haji dan Qurban adalah bukti ketundukan pada Allah. Jikalau setiap orang yang berhaji muncul kesadaran dan ketaatan secara total pada Allah, seperti halnya saat berhaji, maka tak salah jika haji disebutkan sebagai pilar tegaknya islam.

Sudah saatnya, mengembalikan fungsi haji, makna haji dan qurban. Berupa ketundukan dan ketaatan dalam setiap saat, setiap waktu, dimanapun dan kapanpun.

Wallahua’lam bish shawab


Harga Telur  Bombastis, Gizi Rakyat Kian Kritis

Harga Telur  Bombastis, Gizi Rakyat Kian Kritis


Oleh: Fatimah Azzahra, S.Pd

Dua lembar uang berwarna ungu itu tak lagi bisa membeli telur sekilo. Harga telur bombastis. Melambung tinggi. Hingga mencapai kisaran Rp 30.000. Emak sedih. Padahal, telurlah satu-satunya protein hewani yang terjangkau. Lebih murah dibandingkan daging ayam atau sapi. Lebih mudah didapat. Mudah pula mengolahnya menjadi masakan lezat.

Akibat mahalnya telur. Banyak rakyat yang akhirnya tidak bisa mengkonsumsi protein hewani. Padahal, fungsi protein hewani tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena ia berperan dalam pembentukan sel, termasuk otot, otak, dan butiran darah merah. Sebagai pemeliharaan sel dan jaringan tubuh. Pembentukan antibodi dan pertahanan tubuh. Pembentuk hormon dan mempertahankan hormon. 

Jika sampai tubuh kita kekurangan protein, maka fungsi yang telah disebutkan di atas akan terganggu. Dan bisa menimbulkan penyakit. Diantaranya, penyakit marasmus, kwashiorkor, gagal hati, edema, gangguan otak, rambut rontok, dan mudah lelah. Nau’dzubillah. Jangan sampai kita dan keluarga terjangkiti penyakit-penyakit tersebut. 

Terbayang betapa berat hisab para penguasa. Berat, karena Allah menghisab per kepala. Bukan per kapita. Akan Allah tanyakan kenapa seseorang sampai kekurangan gizi. Padahal negeri ini Allah limpahi kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Kelalaian penguasa bisa mengundang bencana di dunia dan akhirat sana. Bencana di dunia dengan merebaknya gizi buruk penduduk negeri. Kalau benar terjadi, maka lemahlah generasi penerus ini. Bagaimana akan mampu memimpin negeri kemudian hari? 

Bencana di akhirat dengan adzab yang Allah timpakan pada mereka yang lalai. Lalai dalam mengurus rakyatnya sendiri. Sejatinya, walau di dunia bersikap cuek dan tak peduli pada jilatan api neraka. Sungguh, tiada seorang pun yang kuat untuk menahan kerasnya siksa Allah. bahkan dikabarkan dalam hadist Rasul, "Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka." (HR. Muslim)

Masyaallah. Nau’dzubillah. Saya yakin, tiada seorang pun yang mau menyicipinya. Lantas bagaimana agar tidak terkategori lalai? Jika kita mau membuka pedoman kehidupan yang telah Allah turunkan. Alquran dan hadist. Juga mencontoh sebaik-baiknya teladan utusan Allah, Muhammad Rasulullah saw. akan kita temukan solusi dari permasalahan telur ini. Bahkan tak hanya masalah telur, tapi semua masalah kehidupan.

Dalam pandangan Islam, negara memiliki otoritas untuk melakukan intervensi dalam kebijakan ekonomi. Ini dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan rakyat negeri. Intervensi kebijakan regulasi yang berhubungan dengan permintaan dan penawaran. Juga intervensi dalam penentuan harga. Hanya saja, ada syarat dan ketentuan berlaku mengenai intervensi ini. Pemerintah tak bisa seenaknya mengatur harga barang. 

Sejarah mencatat, bahkan Rasulullah saw dan Umar bin Khaththab pernah ‘blusukan’ ke pasar. Hal ini bertujuan inspeksi agar tidak ada penipuan dan penimbunan barang. Tak cukup itu, bahkan Amirul mukminin pun menguji kemampuan fiqh mua’malah para pedangan secara berkala. Inilah bentuk penjagaan penguasa terhadap terpenuhinya kebutuhan rakyat. Semuanya ini hadir ketika Alquran dan hadist dijadikan pedoman kehidupan. Kehidupan Rasulullah saw dijadikan teladan. 

Lantas, kini akankah kita mencukupkan diri dengan Islam dan iman yang seadanya ini? Sudah siapkah kita mencicipi jilatan api neraka yang membuat otak mendidih karena kelalaian terhadap syaria’t-Nya? Relakah kita terhimpit akan kebutuhan diri? Semoga semua jawabannya tidak. Karena itu, sudah saatnya kita kembali memeluk Alquran dan hadist untuk dijadikan sebenar-benarnya pedoman kehidupan. Hingga tiada lagi kesempitan hidup yang kita rasakan. Karena Allah turunkan berkahnya dari langit dan bumi.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (TQS. Al A’raf : 96)

Wallahu’alam bish shawab


Kirim Tulisan

Kirim Tulisan


Sebenarnya dulu saya sudah buat tata cara beserta syarat-syaratnya mengirim tulisan ke web ini. Berhubung karena udah banyak banget yang ngirim tulisan, maka kami akan mengubah tata cara pengiriman tulisan ke web RIH. Ini untuk lebih memudahkan pengirim untuk mengirim, serta memudahkan kami untuk mempublish. 



Supaya tidak bertele-tele, langsung saja yah.


Syarat :


1. Tidak bertentangan dengan Islam.


Web ini tidak membatasi dirinya hanya memuat tulisan remaja. Meski segmen kita memang remaja, cuma tidak berarti kita tidak memuat tulisan-tulisan yang bukan segmen remaja. Materi tulisan di web ini umum dan beragam, selama tidak bertentangan dengan Islam, insya Allah akan dipublish.


Nah, perlu saya garis bawahi bahwa tulisan yang bertentangan dengan Islam, seperti menyerukan liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sebagainya tidak akan kami muat. Terus gimana kalau tulisan kami materi semacam kesehatan, materi sekolah atau semacamnya? Ya, kalau itu tidak mengapa, insya Allah akan kami publish juga. 


2. Belum dimuat media lain.

Kami menganggap bahwa web-web Islam yang lain adalah saudara kami. Saudara seperjuangan yang bersama kami mencerdaskan masyarakat, menjauhkan mereka dari ide kufur sekulerisme, liberalisme dan lain-lain. Maka ketika sudah dimuat media lain, maka kami tidak usah lagi memuatnya. Mending kami fokus mempublish tulisan yang belum dimuat. Jadi kita sama-sama bergerak, web lain memuat tulisan, sementara kami, tulisan yang belum mereka muat kami muat. Kita menganggap bahwa web-web Islam meski berbeda-beda, tetaplah satu. 



Untuk pengirim, kami menginginkan agar mengirim tulisan yang belum dimuat. Mohon ini untuk digaris bawahi. Kami sebagai admin sejujurnya juga sibuk, kami punya banyak pekerjaan dan aktivitas. Maka kalau sudah dimuat sama web temen-temen yang lain, maka tidak usah kirim ke web lain.



Tata Cara :


1. Kirim ke WA (Whatsapp) : 082227637241, bisa dalam bentuk file docx, bisa juga cuma tulisan biasa semacam chatting.


2. Sertakan dengan gambar ilustrasinya. Ini untuk memudahkan kami untuk mempublish. Bila tidak menyertakan, biasanya lama baru termuat karena kami mendahulukan tulisan yang ada gambarnya, daripada yang tidak ada.



3. Jangkau waktu tulisan adalah 5 hari. Jika sudah lewat 5 hari, penulis boleh menarik tulisannya, atau kalau tidak, bisa infokan kembali ke kami kalau tulisannya belum dimuat. Insya Allah, akan kami proses. Biasanya kami tidak mempublish tulisan bukan karena tidak mau, tapi karena lupa, atau tidak terlihat karena banyak tulisannya yang masuk.


Monday, August 6, 2018

Menyoal Istilah “Islam Nusantara”

Menyoal Istilah “Islam Nusantara”


Oleh : Pita Nirmalasari 

(aktivis mahasiswi)

Istilah “Islam Nusantara” akhir-akhir ini viral diperbincangkan. Pro kontra istilah ini pun tak bisa dihindarkan. Pasalnya, istilah Islam Nusantara banyak menimbulkan perspektif yang menyebabkan perdebatan. Menurut Wikipedia, Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia. Istilah ini di latar belakangi oleh kehancuran Timur Tengah yang tercabik-cabik konflik dan perang berkepanjangan, mulai dari Konflik Israel–Palestina, Kebangkitan dunia Arab, Issue Terorisme yang identik dengan Islam. Sementara Muslim di Indonesia hidup  dalam perdamaian,lalu dipercaya berkat pemahaman Islam di Indonesia yang bersifat moderat, inklusif, dan toleran. Ditambah lagi telah muncul dukungan dari dunia internasional yang mendorong Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, agar berkontribusi dalam evolusi dan perkembangan dunia Islam, dengan menawarkan aliran Islam Nusantara sebagai alternatif terhadap Islam yang identik dengan peperangan, intoleran dsb sehingga muncullah istilah Islam Nusantara ini. Namun tentu saja istilah ini dikecam banyak pihak karena menganggap seolah istilah Islam saja tidak sempurna sehingga perlu embel-embel Nusantara. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat beberapa waktu lalu juga turut menyatakan menolak konsep Islam Nusantara.”Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa : “Islam Nusantara” dalam konsep/pengertian definisi apa pun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatra Barat). Bagi kami, nama “Islam” telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apapun,” demikian kesimpulan MUI Sumbar sebagaimana dokumen unggahan akun facebook ketua umum MUI Sumbar,Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018 ,seperti dikutip detikcom, Rabu (25/72018). Itu adalah hasil rapat koordinasi daerah MUI Sumbar yang diadakan di Padang pada 21 Juli 2018. Mereka memiliki sejumlah pertimbangan untuk menolak Islam Nusantara karena mengundang perdebatan yang tak bermanfaat dan melalaikan umat Islam dari berbagai persoalan penting. Istilah “ Islam Nusantara” bisa membawa kerancuan dan kebingungan dalam memahami Islam. Istilah Islam Nusantara juga dinilai mengandung potensi penyempitan makna Islam yang universal. Istilah Islam Nusantara juga sering digunakan untuk merujuk cara beragama Islam yang toleran. Menurut MUI sumbar, toleransi hanya merupakan satu aspek dalam Islam, padahal banyak aspek lain dalam Islam. Islam tidak bisa direduksi hanya menjadi satu aspeknya saja, melainkan harus menyeluruh. MUI Sumbar juga menilai Istilah Islam Nusantara berpotensi mengotak-kotakkan umat Islam dan memunculkan pandangan negatif terhadap umat Islam yang berasal dari wilayah lain. (Detiknews/25/07/18). 

Lebih Jauh Islam Nusantara memang dapat melepaskan keislaman seseorang karena seolah menolak Islam yang telah paripurna diturunkan oleh Allah SWT. Sehingga kita memang harus menolak Istilah “Islam Nusantara” ini.


Wanita Karir,  apa yang Kau Cari?

Wanita Karir,  apa yang Kau Cari?


Oleh : Ida Ratna Wijayanti, AA

Persamaan derajat yang dituntut kaum wanita di sektor publik telah melahirkan sebutan wanita karir.  layaknya kaum pria,  wanita merasa punya hak untuk bekerja dan menghidupi dirinya tanpa tergantung dengan pria. Akan tetapi tanpa disadari sebutan wanita karir yang dipuja para feminis dan dikampanyekan aktivis emansipasi mendatangkan masalah baru. Dunia kerja yang menuntut kerja keras dan persaingan perlahan melunturkan identitas kaum wanita sebagai muslimah. 

Banyak wanita karir yang malas menikah dengan alasan mampu hidup mandiri. Institusi keluarga normal menjadi rusak dengan gaya hidup single parent tanpa kehadiran kepala keluarga.  Kasus perceraian, anak broken home makin meningkat, pelecehan seksual di tempat kerja, kasus aborsi dikarenakan wanita enggan menjadi ibu yang akan mengancam karirnya. 

Memang dengan kerja seorang wanita akan merasakan kepuasan tersendiri. Akan tetapi fitrahnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga akan terabaikan. 

Allah SWT menciptakan pria dan wanita. Hanya ketakwaan yang membedakannya di hadapan Allah. Dan perbedaan fisik keduanya semata-mata untuk menjalankan perannya dalam kehidupan. Oleh karena itu akan tercipta kerjasama dalam berumah tangga. Pria dengan kekuatan fisiknya diciptakan untuk mencari nafkah bagi keluarganya.  Sebaliknya wanita yang lemah lembut diciptakan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. 

Walau demikian, wanita tidak dilarang bekerja. Allah SWT berfirman : "janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak daripada sebagian yang lain.  Bagi pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita ada bagian dari apa yang mereka usahaka" (qs an nisa : 32).

Asalkan tidak menyalahi kodrat sebagai wanita,  maka boleh-boleh saja wanita berkiprah di luar rumah.  Pemilihan jenis pekerjaan yang tidak menyita waktu dan tidak melalaikan kewajiban di dalam rumah,  agar ada kesinambungan kehidupan sosial pria dan wanita terjaga. Namun status sebagai wanita karir tidak lebih mulia daripada seorang ibu dan pengatur rumah tangga


Sejuta Rasa Untuk Ibu

Sejuta Rasa Untuk Ibu


Oleh : Winda Purwaningsih 


Ibu, bunda, umi atau mama adalah sebuah nama yang akan selalu terukir di hati anak-anaknya. Ada peribahasa “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”.  Memang benar, seperti itulah kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang ibu tak bertepi dan tak berujung, cintanya tak akan pernah tergantikan oleh apapun. 


Ibu akan selalu menyayangi anak-anaknya meski mereka sudah jauh dari pandangan mata. Meski mereka sudah jauh dari belaian tangan dan sudah jauh dari kecupan sayang. Ibu akan merasa lebih sedih ketika buah hatinya sedih. Akan merasa lebih sakit ketika buah hatinya sakit dan akan lebih ter-iris hatinya saat buah hatinya terluka. 


Menulis cerita tentang cinta kasih ibu untuk anak dan keluarga tak akan cukup walau sudah menghabiskan tinta. Seringkali kita membuat ibu marah atau sedih, tapi beliau punya seribu maaf untuk kita. Ibu mampu menahan rasa  sakitnya agar bisa tetap merawat kita. Bisa menahan air matanya agar kita tetap tersenyum. Ibu adalah seseorang yang kuat dan tak kenal lelah.


Adapun sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan seorang ibu. Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu. (HR. Al Bukhari).


Sayangilah ibu selagi beliau masih bersama kita. Hormati dan cintai beliau sebanyak yang kita bisa. Semoga ibu kita senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah SWT, kebahagiaan, umur yang barakah dan disediakan tempat terindah di surga-Nya kelak.

Limbah Popok Bayi

Limbah Popok Bayi


Oleh : Ade Irma 

(Pemerhati Generasi)


Diapers atau popok, siapa yang tak mengenal benda ini. Semua kalangan mengenalnya. Terutama ibu-ibu yang punya bayi sudah tentu memilikinya. Lansia yang sudah susah atau tidak bisa kekamar mandi, mestilah menggunakan diapers ini.

Diapers ini menjadi kebutuhan bagi ibu-ibu yang sudah memiliki bayi. Pasalnya selain harganya ekonomis, ibu-ibu juga tak perlu susah bangun malam untuk menggantikan celana atau repot diperjalanan, karena diapers ini praktis, penggunaannya mudah dan sekali pakai.

Namun siapa sangka, popok ini juga mencemari lingkungan, karena limbahnya yang sulit terurai. Seperti yang dilansir oleh KOMPAS.com - Memperingati Hari Sungai yang jatuh setiap 27 Juli, warga dan kelompok aktifis lingkungan menggelar bersih-bersih popok di aliran Sungai Kali Surabaya. Dalam aksi itu, 5 kuintal limbah popok diangkat dari bawah jembatan Karangpilang Surabaya , Senin (30/7/2018). 

5 kuintal popok artinya ada 500 kg popok yang di angkat dari satu sungai. Bayangkan sungai di Indonesia sangatlah banyak. Ini baru sungai yang tercemar oleh limbah popok. Bagaimana dengan tempat lainnya. Dalam 2 jam di sungai Kali Suraya bisa menghasilkan 500 kg. Bagaimana dengan setiap harinya? 


Fakta Dibalik Popok

1. Fakta kesehatan

- Popok sekali pakai mengandung bahan kimia bernama dioksin. Bahan ini merupakan bahan beracun yang sering digunakan di industri kertas, fungsinya adalah untuk memutihkan kertas. Dioksin terdaftar sebagai bahan kimia karsinogenik paling beracun

- Popok sekali pakai juga mengandung trybutyl-tin (TBT), suatu polutan beracun yang selanjutnya diketahui menyebabkan masalah hormonal pada manusia dan binatang.

- Popok sekali pakai menggunakan sodium polyacrylate (SAP) yang merupakan polimer yang mampu menyerap cairan hingga 100 kali beratnya. SAP tampak seperti gel bila sudah menyerap cairan. SAP ini terbukti memacu peningkatan resiko toxic shock syndrome

- Di bulan Mei tahu 2000, Archives of Disease in Childhood menerbitkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa suhu skrotum pada anak laki-laki yang memakai popok sekali pakai meningkat sehingga pemakaian popok sekali pakai pada jangka waktu lama dapat menghambat mekanisme pendinginan testis secara fisiologis. Mekanisme pendinginan testis ini penting bagi fase pembentukan sperma



2. Fakta lingkungan

- Popok sekali pakai mencemari lingkungan karena hampir sebagian besar orang tidak mematuhi instruksi pada kemasannya, yaitu setiap kotoran yang menempel di popok sekali pakai harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat sampah

- Popok sekali pakai memerlukan waktu 250-500 tahun untuk dapat terurai

- Di Amerika serikat, penggunaan popok sekali pakai masuk dalam kategori tiga besar sampah terbanyak di tempat pembuangan akhir sampah

-Pembuatan popok sekali pakai membutuhkan setidaknya 300 pound kayu, 50 pound bahan baku minyak dan 20 pound klorin untuk seorang bayi dan ini terjadi setiap tahun


3. Fakta ruam

- Karena banyak orang tua yang “lengah” dalam mengganti popok, sehingga muncullah ruam pada bayi. Seharusnya popok diganti setiap 3-4 jam sekali, meskipun memakai popok sekali pakai


4. Biaya

- Popok sekali pakai menghabiskan banyak biaya jika dipakai dalam jangka waktu lama. Anggap saja satu popok sekali pakai seharga Rp. 3.000. Dalam sehari bayi memerlukan setidaknya delapan popok sekali pakai. Sehingga dalam sehari, orang tua harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 24.000. Dalam seminggu menghabiskan Rp 168.000, sebulan menghabiskan Rp 672.000, dalam dua tahun menghabiskan Rp 16.128.000.Wow, jumlah yang cukup besar bukan.


Islam Mengatur

Dalam Islam, mencemari lingkungan itu adalah dosa. Terlebih jika kita lihat berbagai fakta dari popok ini banyak sekali kerugian atau dampak negatif, bukan hanya mencemari lingkungan tapi juga berdampak buruk untuk bayi itu sendiri. 

Allah Ta’ala berfirman,

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).


Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk yang dilakukan manusia. 

Bagi ibu muda tentu hadirnya popok ini sangat membantu. Tapi taukah ibu bahwa popok ini limbah popok ini bisa terurai selama 250-500 tahun lamanya, sungguh butuh waktu lama untuk limbah ini. Bukan hanya itu popok ini  juga berdampak buruk pada bayi, bisa ruam atau membahayakan organ vital bayi. Jika ibu lengah menggantinya. Maka kini ibu bisa beralih popok kain atau Clodi (cloth diaper). Selain tidak mengandung bahan berbahaya, ibu juga bisa berhemat serta membantu untuk bersama menjaga lingkungan. Tak masalah ibu berlelah-lelah mengganti dan membersihkan popok bayi. Allah akan menghitung setiap jerih payah ibu dalam mengasuh anak sebagai pahala yang terus mengalir. 

Wallahu a'lam


Adab Memuliakan Masjid

Adab Memuliakan Masjid


Oleh: Nabila, 

Siswa SMA  Khoiru Ummah, Bogor


Beramal tanpa berilmu itu salah,  karena orang tersebut tidak mengetahui apa tujuan dari terlaksanakannya amal tersebut. seharusnya,  beramallah ketika tahu ilmunya,  karena buat apa kalau ilmu telah didapat tapi tidak diamalkan? yang ada, ilmu tersebut tak bermanfaat,  dan sadar tak sadar,  ilmu akan hilang karena tak di manfaatkan.


Semua amal perbuatan,  pasti dilandasi dengan adabnya tersendiri. termasuk amal perbuatan selama berada dalam masjid.


Masjid adalah rumah Allah di bumi ini. Allah mempunyai sifat yang Maha Suci maka, rumah nya pun harus di sucikan. dengan apa? yaitu dengan adanya adab.


Masjid tempat untuk beribadah, semua amal perbuatan yang berkaitan dengan mendekatkan diri hamba padaNya,   apa yang Allah senangi dan sebaliknya,  semua amal perbuatan yang berkaitan dengan menjauhkan diri dengan tuhanNya , maka Ia benci,  apalagi amal itu berlangsung di sekitar dan dalam masjid, contohnya,  datang ke masjid guna untuk mendatangkan dosa, seperti ghibah (gosip), bertengkar, membuat keributan, bersikap 'onar', dan lain sebagainya, ini di larang.


jadi, dimana pun dan kapan pun, terapkanlah adab nya. Adab yang seharusnya itu, hormatilah pemilik  tempatnya,  bagaikan ketika kita bertamu,  hendaknya menghormati  pemilik rumahnya dengan adab yang sopan. Begitu juga saat kita berada di masjid, yang tidak boleh disikapi dengan seenaknya,  karena itu rumah Allah,  harus lebih spesial kita menghormatinya. Kalau kita menghormati masjid dengan mulia,  maka Allah pun pasti akan membalasnya,  dengan penghormatan yang lebih baik, karena islam telah mengajarkan kita agar menjadi hamba yang terpilih, kita sebagai seorang muslim, harus bisa mencerminkan perbuatan kita dimana pun, tidak boleh berbeda tempat,  berbeda pula menyikapinya,  baik terlihat orang lain,  hingga tak ada orang yang dapat melihat dirinya kecuali Allah. 


Jangan sampai,  identitas kita sebagai muslim itu hanya gelar semata yang hanya membuat nama Islam terkotori karena para pemeluknya ini tak mencerminkan bila ia itu beragama islam, dan cerminan yang sederhana yang bisa kita tunjukkan sebagai seorang muslim yang baik adalah sikap  memuliakan masjid dengan mengindahkan adab-adabnya.