Wednesday, July 4, 2018

Wacana Gas Elpigi nonsubsidi, dan Islam sebagai solusi


Oleh: Cahya Sam


PT Pertamina (Persero) sudah mulai melakukan uji pasar untuk produk Liquefied Petroleum Gas (LPG/elpiji) nonsubsidi dengan volume 3 kilogram (Kg) sejak Juli ini. Uji pasar produk tersebut dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, pada akhir tahun lalu uji coba pasar telah dilakukan di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Untuk periode bulan Juli hingga perkiraan Desember mendatang, uji coba dilakukan di dua wilayah yaitu Jakarta dan Surabaya. 

“ (Distribusi) Daerah Jakarta dan Surabaya jumlah tabung kurang lebih 5.000 tabung.” Kata Adiatma selaku Vice President Corporate Communication Pertamina. Mengenai persoalan harga pihaknya belum menetapkan secara pasti, namun kemungkinan kisaran adalah 40 ribu keatas. 

Ketidaksesuaian sasaran pengguna, menjadi alasan kuat gas elpigi nonsubsidi ini dikeluarkan. Banyak dari kalangan ekonomi mampu yang rupanya turut serta menggunakan gas elpigi bersubsidi tersebut. Padahal subsidi tersebut, peruntukannya khusus untuk masyarakat miskin saja. Kedepannya, meski gas elpigi nonsubsidi ini benar-benar dijual komersial, Kementrian ESDM menegaskan bahwa tidak akan ada pengurangan terhadap gas elpigi bersubsidi.  

Meski demikian, langkah pemerintah untuk mengeluarkan gas elpigi nonsubsidi ini perlu untuk terus menerus dikawal. Sebab apabila strategi dikeluarkannya gas elpigi nonsubsidi ini muaranya adalah agar masyarakat nantinya menerima (pasrah) terhadap gas elpigi nonsubsidi, tentu hal ini akan sangat mengecewakan. Lebih-lebih masyarakat tengah merasakan masa sulit karena BBM (Bahan Bakar Minyak) dan Listrik yang kian merangkak naik. Maka jangan salahkan, jika nantinya hal ini semakin memicu ketidakpercayaan publik terhadap segala kebijakan yang ada.

Lebih dari itu, sangat disayangkan ketika SDA termasuk gas, yang merupakan hak umum masyarakat, harus dinikmati masyarakat dengan harga yang tidak sedikit. Apabila ditinjau melalui kacamata Islam, gas elpiji merupakan bagian dari sektor kepemilikan umum dan menjadi hak masyarakat secara mutlak. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rosulullah bersabda:

“ Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.” 

Dalam hadits tersebut gas elpiji merupakan bagian dari kategori api (bahan bakar). Maka haram hukumnya untuk di privatisasi maupun diperjual belikan dengan tujuan komersil (profit oriented). Pengelolaan sumber energi ini dilakukan oleh negara kemudian di distribusikan kepada masyarakat secara gratis. Kalaupun tidak gratis, negara akan menjualnya dengan harga murah sebagai pengganti ongkos produksi dan distribusi. Distribusipun akan diupayakan negara dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai hingga jangkauan yang luas, sehingga tidak ada disparitas harga yang mencolok antar pulau.

Namun hal ini tidak berlaku pada negara yang menerapkan sistem Ekonomi Kapitalisme neoliberal yang menganut paham kebebasan kepemilikan. Kepemilikan dan pengelolaannya tidak diatur sehingga siapapun yang mampu secara modal, dapat menguasai Sumber daya alam secara bebas. Akibatnya sebagian masyarakat yang menjadi korban. Dalam sistem tersebut juga meniscayakan prinsip untung rugi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Peran negara terhadap rakyatnya dimaknai layaknya sebagai penjual dan pembeli. Berbeda dengan islam, yang negara hadir dalam rangka melayani urusan umat.

Ditengah kondisi kesejahteraan yang makin terseok, sudah barang tentu ekonomi Islam adalah satu-satunya harapan untuk kembali diterapkan. Ekonomi islam memberikan jaminan keadilan yang mengakui kepemilikan individu namun tidak berarti membiarkannya secara bebas. Sedangkan tidak dalam demokrasi. Sistem demokrasi sekuler yang menjadi jalan bercokolnya Kapitalisme neoliberal, sampai kapanpun tidak akan fokus pada kesejahteraan rakyat. Sebab, tidak ada mekanisme pembagian kepemilikan secara jelas.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!