Thursday, July 26, 2018

Ulama Berpolitik, Siapa Takut!


Oleh Rika Kamila

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

 (Aktif berkontribusi membina SDM Muslimah)


Presiden Joko Widodo bertemu dengan ulama dan ratusan hafidz Alquran di Istana Negara pada Rabu (11/07/18) sore. Dalam kesempatan ini, Presiden Joko Widodo berpesan untuk selalu menjaga agar Islam menjadi rahmat untuk semua.  (AMS) 

Wajar saja memang ketika seorang kepala negara berpesan kepada komponen-komponen bangsa, termasuk para ulama untuk kemudian turut andil dalam menjaga stabilitas suatu negara. Terlebih, Indonesia sebagai negara mayoritas muslim yang memang penduduknya masih membutuhkan sosok panutan yang tidak lain adalah para ulama itu sendiri. 

Dewasa ini, Ulama kembali menjadi sosok yang sangat diperhatikan, baik pemerintah sendiri maupun oleh masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari ghirah (semangat) kaum muslimin yang akhir-akhir ini kembali menjadikan para ulama sebagai acuan dalam beramal. Hal ini tentunya sangatlah positif bagi perkembangan Islam di Indonesia. Namun, hal ini juga yang kemudian banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan  semata untuk mengambil hati masyarakat lewat para ulama untuk kemudian dapat melanggengkan apa yang ia cita-citakan. Ini tentunya menyalahi dan sangat berbahaya bagi keberlangsungan umat Islam itu sendiri. 

Dengan memanfaatkan para ulama adalah strategi yang efektif untuk dapat nyaman mewujudkan agenda-agenda jahat yang tentunya jauh dari Islam itu sendiri. Untuk itu, oknum sekuler-liberal lantang menyuarakan mengenai larangan para ulama untuk membicarakan politik di setiap dakwahnya. Hal ini cukup mengancam oknum sekuler-liberal yang berseberangan pemikirannya dengan para ulama. Maka, mereka lantang menyuarakan larangan ulama bicara politik. Tentunya dengan alasan yang mengada-ngada, misalnya politik itu kotor jangan disandingkan dengan agama. Lalu, jangan bawa agama dalam masalah politik di Indonesia. Dan masih banyak lagi yang ‘nyinyir’ ketika para ulama berpolitik. Hal ini, tidak terlepas dari kekhawatiran mereka sendiri ketika ulama berbicara politik, karena politik yang mereka betul pahami adalah tidak sebatas alat untuk meraih jabatan di pemerintahan, namun politik itu adalah strategi, tawar-menawar, dan bagaimana mempengaruhi seseorang agar dapat sejalan dengan ideologinya.  

Karena politik itu bukan hanya kekuasaan, seperti yang disebutkan tadi. Maka, ada pihak-pihak yang khawatir apabila ulama berpolitik di tengah-tengah masyarakat. Karena ulama adalah pewaris para nabi yang tugasnya adalah menyampaikan yang haq (kebenaran) dan yang bathil (kesalahan) sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang memuat beragam solusi terbaik bagi permasalahan yang dihadapi manusia. Karena dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sendiri terdapat seperangkat sistem yang sebetulnya sangat cukup untuk mengatur segala segi kehidupan manusia, dari mulai pemerintahan sampai urusan pribadi. Yang artinya jika para ulama terus menyuarakan Islam sebagai sistem terbaik untuk mengatur kehidupan manusia, eksistensi sistem sekuler-liberal hari ini akan terancam. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)

Untuk itu, para penjaga sistem saat ini (sekuler-liberal) memikirkan bagaimana cara agar kekhawatiran mereka itu tidak terjadi. Maka, mereka memikirkan cara agar tetap menjadikan ulama sebagai alat efektif untuk mengambil hati umat, dengan dakwahnya yang tidak mengancam eksistensi sistem saat ini. Yang akhirnya, mereka mempolitisasi para ulama dengan menjadikannya corong untuk menggaungkan Islam yang sejalan dengan sistem saat ini yang dikenal sebagai Islam Moderat. 

Islam moderat mempunyai beragam definisi, artinya tidak memiliki definisi yang baku. Jika dilihat dari keberadaannya sendiri, yang tampak adalah Islam yang mau menerima pluralisme, feminisme, demokratisasi, humanis, dan civil society. Moderat: tidak anti yahudi, menentang khilafah, kritis terhadap islam, menolak jihad, menentang jilbab, dan penerapan syariah. Dalam konteks politik, moderat dimaknai sebagai negara bangkit dengan mengadopsi ide keadilan dan kebebasan. Ini sangat berbahaya, karena dapat mengaburkan Islam yang hakiki. Awal muncul istilah Islam moderat adalah sejak runtuhnya daulah khilafah 1924 H dan diperpanas oleh peristiwa robohnya WTC. Di sinilah timbul stigma negatif terhadap Islam yang kemudian membuat takut jika Islam dijadikan sebagai sistem bernegara. Dan tentunya ulamalah yang menjadi sasaran, karena ulama yang menjadi ujung tombak pemikiran Islam. Jadilah ulama-ulama saat ini, banyak yang kemudian diracuni ole ide-ide yang bertentangan dengan Islam dan ‘disetir’ untuk menjadi pengawal ide sekuler-liberal. 

Maka dari itu, kita perlu sosok ulama yang berpolitik, artinya dapat menyampaikan konsep-konsep, ide, gagasan Islam dalam mengatasi problematika umat di Indonesia. Ulama yang menyampaikan apa yang harus disampaikan sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menyampaikan seluruh ajaran Islam tanpa takut pada ancaman apapun. Hal ini tentunya untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam di Nusantara. Dibutuhkan para ulama untuk memperkuat dan memperluas jaringan internasional, dimulai dengan pengokohan jaringan regional (Asia Tenggara). Hal ini menjadi penting dan mendesak untuk menghadapi stigma negatif yang belakangan dialamatkan kepada umat Islam, terutama dengan isu terorisme dan radikalisme. Yang isu tersebut mengahambat penerapan Islam secara keseluruhan (Kaffah).  Maka dari itu, ulama saat ini perlu untuk belajar kepada ulama-ulama masa lalu yang tidak takut untuk berbicara politik, mengawal pemerintahan, dan membimbing umat kepada jalan kebenaran. Ulama Berpolitik, Siapa Takut!. 

Wallahu a’lam bi ash-shawab. 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!