Tuesday, July 31, 2018

Tipu Daya Dibalik Disvestasi Freeport



Oleh : Rosmita (Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Islam) 


Grasberg adalah tambang emas terbesar didunia yang memiliki cadangan 29,8 juta troy ons bijih emas. Selain emas Grasberg juga memiliki cadangan tembaga paling banyak ketiga di dunia. 

Grasberg hanyalah salah satu dari sumber daya alam yang ada di Indonesia yang dikuasai oleh asing. Seperti kita ketahui bahwa sumber daya alam adalah harta umum yang wajib di kelola oleh negara dan hasilnya dipergunakan untuk kepentingan umum. Maka haram hukumnya sumber daya alam di kelola oleh asing. Didalam UUD 1945 pasal 33 ayat 2 disebutkan bahwa "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat."

Namun faktanya sejak ditemukan hingga saat ini Grasberg dikuasai oleh PT. Freeport salah satu perusahaan milik Amerika Serikat.


Awal Mula Freeport masuk ke Indonesia. 


Berawal dari pertemuan Director Freeport Sulphur Forbes Wilson dengan Jan van Gruisen, managing director dari East Borneo Company yaitu perusahaan tambang di Kalimantan Timur pada Agustus 1959. Didalam pertemuan tersebut dibahas tentang penemuan Gunung Ertsberg atau gunung tembaga di Papua Nugini, Irian Barat. Wilson pun langsung melakukan survei atas gunung Ertsberg dan menemukan tak hanya bijih tembaga tapi juga bijih emas dan perak. Sejak itulah Freeport mulai mendominasi gunung emas Papua tahun 1967 sampai hari ini.

Kontrak PT. Freeport Indonesia di Tambang Grasberg Papua harusnya berakhir tahun 2021 namun pemerintah memperpanjang izin operasi hingga tahun 2031 bahkan bisa diperpanjang lagi sampai tahun 2041 dengan syarat Freeport mendisvestasikan 51% saham ke pemerintah, membangun smelter di dalam negeri, dan meningkatkan penerimaan untuk negara. Namun sayangnya Indonesia harus mengeluarkan dana sebesar USD 3,85 miliar untuk kesepakatan tersebut. Aneh Indonesia sebagai pemilik tambang tersebut malah harus membeli saham atas SDA di negeri sendiri, padahal sudah berapa banyak emas kita yang dikeruk oleh mereka? Kalau begitu mengapa kontrak Freeport tidak dibiarkan saja berakhir tahun 2021, kenapa harus diperpanjang?  Alasan Menteri ESDM Ignasius Jonan bahwa kita tidak mampu mengelola sendiri tambang tersebut sungguh tidak masuk akal. Inilah bukti rezim ini bekerja untuk barat bukan untuk rakyat. Bisa jadi divestasi saham Freeport adalah bagian dari politik pencitraan menjelang pemilu 2019.

Akar masalah lepasnya kepemilikan SDA di Indonesia adalah penjajahan kapitalis yang memaksakan aturan neoliberal pada pemimpin negeri ini. Dalam sistem ekonomi kapitalisme pemilik modal yang berhak menguasai sektor penting termasuk SDA. Pengelolaan SDA dibawah sistem kapitalisme telah berhasil melegalkan asing untuk mengintervensi berbagai undang-undang. Sehingga perusahaan asing dengan leluasa merampas harta kekayaan umat, termasuk tambang emas di Papua. 


Saatnya beralih ke sistem Islam. 


Hanya Islam yang mampu memberikan solusi komprehensif atas pengelolaan SDA. Berbeda dengan kapitalisme yang melegalkan swasta dan asing menguasai SDA, di dalam Islam SDA adalah harta milik umum yang harus dikelola oleh negara dan hasilnya digunakan untuk kemaslahatan rakyat. Sebagaimana sabda Rosululloh saw : "Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu air, padang rumput dan api. " (HR. Ahmad) 

Dan firman Allah swt : "Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu... " (Qs. Al-baqoroh :29)

Dengan demikian pengelolaan SDA tidak boleh diserahkan kepada swasta atau asing, tapi harus dikelola sendiri oleh negara. Bila negara mengelola sendiri SDA yang ada akan lebih banyak keuntungan yang didapat dan lapangan pekerjaan yang lebih luas akan tercipta. Dan hasilnya bisa di gunakan untuk kesejahteraan rakyat. Ini bukti bukan janji, faktanya telah lebih dari 1300 tahun Islam berjaya memimpin negeri dibawah naungan khilafah dan rakyatnya hidup sejahtera. Wallohu a'lam bishowab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!