Saturday, July 14, 2018

Tik Tok Merusak Generasi Emas Menjadi Generasi Alay


Oleh: Ferlyana

Menjadi terkenal mungkin harapan hampir semua orang, namun mustahil ingin terkenal tanpa sebuah bakat, karena jaman dulu bakatlah yang membuat seseorang menjadi dikenal oleh orang banyak. Tapi lain halnya dengan jaman Now, tak perlu bakat, tak perlu bersusah payah melatih bakat, tak perlu mengeluarkan uang untuk bisa terkenal, tak perlu wajah yang cantik atau tampan cukup dengan bergaya eksis didepan layar handphone dengan menghilangkan rasa malu, itu bisa membuat seseorang terkenal. Loh kok bisa??? Tentu bisa, dijaman teknologi saat ini semua bisa jadi instan.

Aplikasi Tik Tok merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi saat ini. Tik Tok juga dikenal sebagai Douyin (Tionghoa: 抖音短视频; Pinyin: Dǒuyīn; artinya "video pendek vibrato"), adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang dluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao. Aplikasi tersebut membolehkan para pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri (Wikipedia.org).

Dibuat kurang dari 2 tahun, aplikasi ini sukses diminati banyak orang dari semua kalangan, laki-laki perempuan, anak muda orang tua, remaja dan dewasa. Bahkan tidak sedikit yang mendadak terkenal karena sering tampil dan membuat video pendek melalui aplikasi Tik Tok.

Berawal dari aplikasi Tik Tok, nama Bowo 'Alpenliebe' jadi fenomenal, bahkan hingga disinggung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Meet and greet dengan Bowo artis Tik Tok yang katanya berbayar juga heboh dibahas. Meet and greet Bowo ramai dibahas sejak video acaranya di Kota Tua beredar luas. Ada juga unggahan Instagram Story soal meet and greet yang katanya berbayar Rp 80 ribu hingga keluhan tentang sosok Bowo yang tidak sama dengan sosok di aplikasi Tik Tok (DetikNews, 02/7/18).

Sering disebut netizen sebagai aplikasi kurang pintar, nyatanya makin hari pengguna aplikasi Tik Tok drastis meningkat. Seiring dengan itu, tiba-tiba muncul nama Bowo Alpenliebe yang tiap hari jadi bahan perbincangan. Bagaimana tidak, Bowo ternyata diikuti lebih dari 700 ribu orang di Tik Tok. Pun di instagram, fans Bowo mencapai angka fantastis lebih dari 200 ribu (Bombastis.com)

Bowo adalah salah satu contoh dari lahirnya artis dadakan karena bermain Tik Tok. Apa sih yang membuatnya terkenal, apakah karena kepandaiannya dalam mengaji? Atau kesholehannya dalam menjalankan ibadah kepada Allah? Atau karena kecerdasannya dalam menemukan ilmu pengetahuan? Ternyata tidak. Bowo hanya lipsing video pendek di Tik Tok dengan ditambah sedikit filter yang ada di dalam aplikasi Tik Tok sehingga membuat seseorang semakin terlihat menawan dan membuat remaja putri tergila-gila melihatnya.

Memang tidak salah berkreasi untuk menggali potensi, namun sayangnya generasi remaja saat ini berkreatifitas tanpa ilmu agama, kebebasan dan sekuler membuat remaja kehilangan identitas dirinya sebagai agen of change, masa emas mereka habis digunakan untuk hal-hal alay yang tidak bermanfaat sama sekali. Masa remaja seharusnya mereka lakukan untuk memperbanyak menggali ilmu tapi yang terjadi malah sebaliknya. Remaja saat ini seolah tidak memiliki tujuan hidup, tidak memiliki arah kemana harus melangkah, ditambah kemajuan teknologi yang semakin hari semakin canggih membuat pola fikir remaja ditumpulkan hanya untuk kesenangan dunia, percintaan, dan hura-hura. Mereka terjerumus dalam fanatik buta dalam profil figur yang tidak islami. Padahal didalam Islam jelas dikatakan bahwa, barang siapa mengikuti suatu kaum maka dia termasuk golongannya, naudzubillah. Jangan sampai karena profil figur seseorang membuat kita lupa diri lalu terjerumus kedalam kemaksiatan.

Penggunaan media tanpa batas membuat siapa saja bisa mengaksesnya, bahkan anak kecil sekalipun sudah mengerti apa itu internet. Lemahnya kontrol pemerintah dalam penjagaan remaja dalam berbagai aspek khususnya media sosial juga menjadi salah satu faktor rusaknya generasi emas remaja menjadi generasi alay. Pemikiran mereka tidak Islami sehingga berimbas kepada pergaulan mereka, menjadikan mereka pribadi yang tidak takut akan dosa dan agama.  

Gambaran remaja saat ini sungguh sangat jauh berbeda dengan gambaran remaja di masa pemerintahan islam (khilafah). Islam yang dulu pernah berjaya lebih dari 13 abad yang insyaallah akan bangkit kembali telah berhasil melahirkan generasi generasi muda yang cemerlang dan memiliki jiwa pejuang yang tercermin pada era kekhilafan seperti Usamah bin Zaid, saat berusia 18 tahun menjadi pemimpin pasukan yang anggota nya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu. Zaid bin Tsabit, usia 13 tahun menjadi penulis wahyu dan dalam 17 malam mampu menguasai bahasa suryani sehingga menjadi penerjemah Rasulullah. Hafal Al Quran dan ikut kodifikasi Al Quran. Sultan muhammad Al Fatih, di usia 22 tahun mampu menaklukan konstatinopel ibukota byzantium di kala semua jenderal merasa putus asa, dan masih banyak lagi generasi generasi muda di masa islam yang prestasinya tercatat dalam sejarah dengan tinta emas.

Pertanyaan nya, mengapa terjadi perbedaan yang begitu jauh antara generasi muda saat ini dengan generasi muda di masa kejayaan islam? Islam memandang generasi muda amatlah penting, karena keberadaan nya sebagai generasi penerus. Bahkan Allah pun menggambarkan dalam Al Quran betapa penting nya generasi muda. Disinilah Peran orang tua, pemerintah, dan masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap remaja saat ini. Orang tua menjadi guru pertama dirumah untuk mengaarkan agama kepada anak, pemerintah memberikan pendidikan Islami dengan meningkatkan pola berfikir remaja, serta masyarakat membantu dalam pembentukan pribadi remaja. Bila semua pihak telah bekerjasama, mungkinkan generasi alay masih ada?



(*Mahasiswi STMIK Indonesia dan anggota komunitas muslimah kreatif



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!