Sunday, July 29, 2018

Terpeliharanya Kehormatan dengan Menikah Muda


Oleh: Kunthi Mandasari

(Member Akademi Menulis Kreatif Regional Jawa Timur) 


Sehari setelah ijab kabul,  pernikahan anak dibawah umur dibatalkan. Pernikahan antara anak berinisial A dan I diputus tidak sah di Mapolsek Binuang, Kalimantan Selatan, Pada Sabtu, 14/07/2018 sore.  Alasan pembatalan pernikahan karena keduanya dianggap belum memenuhi syarat untuk menikah sesuai UU Perkawinan.  Menurut UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang mengatur batas usia minimal calon mempelai.  Untuk calon mempelai pria harus berusia minimal 19 tahun dan mempelai perempuan minimal 16 tahun. (banjarmasinpost.co.id, 14/7/2018)) 


Sebenarnya melaksanakan pernikahan dibawah umur masih bisa dilakukan dengan mengajukan dispensasi nikah ke pengadilan,  di wilayah tempat tinggal pemohon.  Alasan lain yang dijadikan dasar pembatalan pernikahan yaitu mempelai perempuan yang sebelumnya dianggap sudah tidak memiliki wali,  namun setelah ditelusuri,  ayah mempelai perempuan masih hidup namun tidak diketahui keberadaannya. 


Pada tanggal 8 Mei 2018, rencana pernikahan RSR yang berusia 12 tahun,  juga dibatalkan atas desakan kerabatnya. Sejak selasa pagi (08/05/2018), Lurah Balangnipa,  Muh. Azharuddin,  beserta Anggota Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sinjai,  Rospidah serta Ufrah Sulfiah dari Penggerak Sosial Kesejahteraan Anak (PSKA) Kementrian Sosial berada di rumah SRS guna melakukan pendampingan. 


Masih dibulan yang sama,  Kamis, 03/05/2018. Rencana pernikahan anak berusia 14 tahun dibatalkan. Pembatalan pernikahan tersebut terjadi di Kec.  Manggala,  Makasar,  Sulawesi Selatan. Menurut Tenri A Palallo,  selaku kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) Makasar.  Pernikahan dini kedua pelajar kelas 1 SMA di Makasar ini akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Pemerintah juga tak akan meberikan surat izin,  jika pernikahan dini akan tetap dilanjutkan (detiknews.com,  03/05/2018).


Selain itu pemerintah melalui Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementrian PPPA) dan Kementrian Agama berencana menaikan batas usia nikah.  Dengan melakukan revisi UU Nomer 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.  Menurut Menteri PPPA Yohana Yembise,  kenaikan angka usia nikah telah disepakati kedua kementrian dan didukung LSM,  serta ulama perempuan. Rencananya batas usia minimal mempelai wanita yang semula 16 tahun akan dirubah menjadi 20 tahun dan mempelai pria dari minimal 19 tahun menjadi 22 tahun. (cnnindonesia.com, 16/04/2018).


Menikah merupakan prosesi yang sakral bagi setiap orang. Salah satu dari tujuan menikah yaitu menjaga diri dari maksiat menjaga keturunan.

 ”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan.” (QS. An-Nur ayat 32). 

Yang dimaksud layak menurut sebagian ulama adalah kemampuan biologis. Yaitu mampu menghasilkan keturunan,  kemampuan menjaga keturunan juga dipengaruhi usia calon mempelai yang telah sempurna akalnya dan siap melakukan proses reproduksi. Kemampuan melaksanakan kewajiban dan menerima hak. Islam sendiri tidak menentukan batas minimal usia,  namun mengatur usia baligh untuk siap menerima beban hukum Islam. Dan setiap orang masa akil balighnya tidak sama. 


Dalam pandangan umum saat ini,  menikah muda identik dengan orang yang kurang berada dan keterbelangan,  dan menjadikan pernikahan sebagai solusi dari mengurangi beban hidup.  Dengan mengabaikan kesiapan dari mempelai.

 Penialaian bahwa menikah muda akan menjadi beban sangat tidak benar,  jika saat ini dinegeri ini banyak orang yang hidup dibawah kemiskinan. Semata-mata karena penerapan sistem sekuler. Agama tidak digunakan untuk mengatur kehidupan,  hanya diambil untuk ibadah saja. Sehingga bebas melakukan apapun sesuai dengan kemauan sendiri. Tidak heran jika di luar sana ada banyak anak yang salah pergaulan tetapi belum mendapatkan perhatian yang serius. 


Faktanya tingkat seks bebas dikalangan remaja memprihatinkan, pelakunya remaja yang berusia  antara 15 hingga 21 tahun. Sepanjang Januari 2018 ada sebanyak 54 bayi yang dibuang. Pada tahun 2016 hanya ada 26 kasus pembuangan bayi.  Pada tahun 2018 mengalami penikangkatan lebih dari kali lipat. “Di 2017 angka pembuangan bayi di Indonesia tergolong tinggi dalam sejarah,  yakni ada 179 bayi yang di buang di jalanan,  79 tewas,  10 masih bentuk janin dan 89 berhasil diselamatkan. Sepertinya di 2018 ini trennya akan lebih meningkat lagi karena di Januari saja sudah naik 100 persen, “ ucap Neta S Pane,  Indonesia Police Wach (telusur.co.id, 31/1/2018). Dengan Jawa Timur menempati posisi tertinggi dalam kasus pembuangan bayi pada bulan Januari 2018. 


Gejolak syahwat pada remaja merupakan fitrah. Kurang bijaksana jika menaikan batas minimal menikah namun tidak menyelesaikan faktor dasarnya. Gaya hidup liberal yang di adopsi dari barat yang memberi kebebasan untuk berpakaian membuka sebagian aurat di khalayak umum,  dimana setiap mata bisa memandang. Adanya penerbitan media-media yang mengumbar syahwat dan iklan produk yang kerap kali menampilkan aurat. Belum lagi film-film yang di rilis tak kalah vulgar dan menjadi santapan keseharian. 


Penerapan sistem sekulerlah yang menjadi akar permasalahan di negeri ini.  Menambah usia minimal menikah tidak akan menjadi solusi tuntas. Justru akan menambah banyak remaja yang menjadi korban dan harus kehilangan kehormatan serta masa depan karena arus kebebasan yang semakin kebablasan. Hanya dengan menerapkan sitem Islam kemuliaan keturunan akan terjaga,  dengan mempermudah pernikahan.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!