Sunday, July 29, 2018

Tenaga Medis pun Sejahtera dalam Islam


Oleh: Lestari Ningsi (Akademi Menulis Kreatif)


"BPJS Kesehatan defisit, tenaga medis meringis",ungkapan yang bisa menggambarkan raut wajah para tenaga medis salah satu rumah sakit pemerintah di Maluku Utara. Bagaimana tidak? Para tenaga medis ini belum mendapatkan haknya yakni pembayaran jasa medis. Tertundanya pembayaran ini hampir memasuki tujuh bulan sejak Januari hingga Juli 2018. Berbagai alasan telah disampaikan oleh pihak BPJS kesehatan terkait keterlambatan ini. Mulai dari alasan teknis hingga defisit anggaran. 

Sejak awal beroperasi BPJS Kesehatan selalu mengalami defisit anggaran. Pada 2014, kerugiannya sebesar Rp. 183,3 miliar. Pada tahun 2015 kerugian membengkak menjadi Rp. 4,63 triliun. Untuk tahun ini sampai Mei saja defisit sudah mencapai 4,8 triliun. Melihat angka defisit yg besar ini ketua DPR meminta peserta iuran disiplin dalam membayar iuran. Bahkan Menteri keaehatan meminta agar masyarakat hidup sehat. Karena apabila peserta JKN-KIS banyak yang sakit maka jelas membuat pengeluaran BPJS kesehatan lebih tinggi. 

Jurus jitu lainnya pun dikeluarkanoleh badan penyelenggara kesehatan ini. Sayangnya jurus tersebut justru mengakibatkan masyarakat menjerit. Dengan alasan efisiensi biaya, lembaga ini mulai menyisir jenis-jenis pelayanan yang bisa ditanggung BPJS maupun tidak. 

Mengutip Kontan.co.id, Kamis (19/07/2018, setelah sebelumnya muncul kabar bahwa BPJS Kesehatan akan menjalankan kebijakan cost sharing untuk sejumlah penyakit kronis, kini BPJS Kesehatan berupaya memangkas biaya yang harus ditanggung untuk persalinan.

Upaya inilah yang kemudian diprotes Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDIAI). IDIAI menilai kebijakan tersebut akan merugikan masyarakat sebagai peserta BPJS kesehatan. Sebab nantinya biaya persalinan tidak menyertakan biaya perawatan bayi yang baru lahir. Hal ini berpotensi memunculkan masalah baru terkait kesehatan dan keselamatan bayi baru lahir.

Sayangnya tak hanya masyarakat sebagai peserta BPJS Kesehatan yang menjadi korban carut marutnya sistem pelayanan kesehatan di negeri ini. Para tenaga medis pun merasakan hal yang sama. Profesi mulia ini harus rela bekerja menunaikan kewajiban tanpa memperoleh haknya berupa jasa pelayanan. Defisitnya anggaran BPJS ini menambah miris nasib tenaga medis di tanah air

Lepasnya tanggung jawab negara dengan cara liberalisasi dan komersialisasi kesehatan ini menjadi akar masalah pelayanan kesehatan.  Pelayanan kesehatan seharusnya bisa diperoleh masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya. Karena itulah tanggung jawab negara. Namun dalam sistem kapitalis ini tanggung jawab tersebut dialihkan kepada masyarakat. Untuk bisa menikmati pelayanan kesehatan masyarakat harus membayar iuran yg ditetapkan BPJS Kesehatan. Jenis pelayanan kesehatan yang diperolehnya pun sesuai dengan kemampuan ekonominya. 

Rumitnya proses klaim rumah sakit ke pihak BPJS kesehatan menjadi salah satu faktor keterlambatan jasa pelayanan tenaga medis. Bahkan ada rumah sakit yang mengalami kerugian hingga 100 juta perbulan. Proses audit yg cukup ketat menjadi alasan BPJS menjawab keterlambatan tersebut. 

Konsep pelayanan kesehatan dalam Islam adalah konsep yang bersumber dari Allah SWT, rabbul'alamiin. Terpancar dari  mata air pemikiran yang beraumber dariNya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam Islam, pelayanan kesehatan menjadi kebutuhan dasar publik. Pelayanan kesehatan diberikan secara merata tanpa memandang status sosial, warna kulit dan agama. Kebutuhan dasar ini menjadi tanggung jawab negara yang tidak boleh dikomersialkan. Rasulullah SAW bersabda:


«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»


“Seorang Imam adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya” (HR al-Bukhari dari Abdullah bin Umar)

Pembiayaan pelayanan kesehatan pun bukan dari iuran masyarakat tapi berasal dari baitul mal yg memiliki pos khusus untuk kesehatan secara mutlak. Sumber pendapatan negara pun bukan dari pajak tapi dari kekayaan alam yang Allah SWT anugerahkan. Dimana jumlahnya melimpah ruah di negeri kaum Muslimin. Pembiayaan yang pasti seperti ini akan menghilangkan kecemasan tiap warga negara termasuk tenaga medisnya. Tenaga medis yang bekerja di fasilitas kesehatan akan mendapat upah yg sesuai karena dijamin oleh negara. Sehingga aksi mogok tenaga medis agar jasa pelayanan diberikan tidak akan ditemukan dalam sistem Islam.

Sistem pelayanan kesehatan terbaik hanya ada dalam Islam yang memiliki konsep cemerlang, yang bersumber dari mata air ilmu dan kebenaran, yaitu Al Quran dan As Sunnah, dan apa yang ditunjuki oleh keduanya, berupa ijma’ sahabat dan qiyas. Inilah konsep yang berasal dari Allah SWT, satu-satunya konsep yang benar, yang lurus, sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam berfirman-Nya, QS Al-Baqarah (2): 147, yang artinya, “Kebenaran itu dari Rabbmu, maka janganlah sekali-kali Engkau (Muhammad) termasuk orang yang ragu”. Dimana konsep-konsep tersebut adalah bagian integral dari keseluruhan konsep sistem kehidupan Islam. Karenanya dibutuhkan sistem politik Islam dan negara untuk menerapkannya. Wallahualambishawab []

*Ternate, 28 Juli 2018*



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!