Wednesday, July 25, 2018

Tarsir Feminis Memformat Umat Islam dengan Hukum-Hukum Barat


Oleh: Tri S.S,Si*

Munculnya tafsir feminis tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang perjuangan kaum perempuan  Barat dalam menuntut kebebasannya. Ide pembebasan perempuan muncul sebagai respon dari ketidakberhasilan sistem kapitalisme dan sosialisme dalam mengayomi masyarakatnya. Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi akibat kedua sistem tersebut memicu dan menumbuh suburkan isu yang ditanamkan oleh orang-orang kafir penjajah yang diterapkan oleh antek-anteknya dan diadopsi oleh kaum Muslim di negeri-negeri Islam lambat-laun membuat umat Islam berpikir seperti Barat. Tanpa disadari, semua ini memicu perasaan bahwa Muslimah pun harus bangkit memperjuangkan haknya sebagaimana perempuan-perempuan Barat. 

Namun, langkah ini seolah dihadang oleh nilai-nilai dan hukum agama yang masih membudaya di masyarakat. Bagi pejuang pembebasan perempuan  Muslim, bagaimanapun, nama Islam tak hendak ditanggalkan. Akhirnya, muncul gagasan untuk mengemas hukum Islam dalam perspektif perjuangan mereka. Teks-teks Alquran dan as-Sunnah pun menjadi sasaran. Keduanya ditakwilkan agar mendukung gagasan awal yang telah menjadi landasan perjuangan mereka. Berbagai alasan dikemukakan, antara lain: tafsir yang ada telah bersifat klasik sehingga perlu ditinjau ulang agar sesuai dengan realitas yang dihadapi; banyak ajaran tidak terpakai lagi di zaman ini meski bersifat mapan dan berasal dari nash-nash yang qath’i (bersifat pasti). Dengan begitu, logika dan cara berpikir ilmiah dihadapkan pada nash-nash Alquran dan as-Sunnah. Para feminis yang bergaya tegas akan mengatakan, “ Jika nash-nash keagamaan ini tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman (yang mengacu ke Barat) maka ia tertolak untuk diterapkan.” Mereka yang lebih santun lagi mengambil cara mempertanyakan dan membuka keraguan, “Apakah penafsiran tersebut masih relevan bagi persoalan masyarakat saat ini?”

Bila kita cermati lebih jauh, akan kita temukan bahwa agenda kaum feminis sangat sejalan dengan upaya Barat dalam menyesatkan Dunia Islam. Setiap propaganda kaum feminis akan ditopang dan didukung oleh musuh-musuh Islam, karena visi dan misi kaum feminis memang sangat ampuh untuk mengubah pandangan ke-Islaman kaum Muslim terhadap perempuan. Secara kritis, kita pun akan dapat menemukan benang merah keterkaitan feminisme dengan imperialisme Barat lainnya seperti pluralisme, dialog antaragama, dan kebebasan berekspresi, yang berakhir pada kepentingan politik imperialis, yaitu dalam rangka mengejar glory, gold dan gospel.  Barat dan kaki tangannya akan berjuang keras dan mencari jurus-jurus yang jitu untuk mencapai kepentingan dan kemaslahatannya serta demi mempropagandakan idiologi kapitalisme-sekulerisme berikut turunannya seperti westernisasi, liberalisme, demokrasi, termasuk feminisme. 

Oleh karena itu, kaum Muslim dituntut agar senantiasa waspada terhadap upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dalam segala bentuknya, termasuk dalam bentuk metodologi yang dikembangakan kaum feminis dalam menafsirkan nash-nash Alquran dan as-Sunnah yang sangat jauh menyimpang dari metodologi penafsiran yang diakui dalam Islam. Metode tersebut hanya akan menjauhkan kaum Muslim dari pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam yang menjadi pemecah problematika manusia. Implikasi selanjutnya, umat Islam akan dapat dihinakan dengan diterapkannya hukum-hukum kufur atas mereka. Na’udzu bi Allah min dzalik. [Tri S.]

*(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi)



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!