Tuesday, July 24, 2018

Tahun Ajaran Baru Masih Ogah Ngaji? Apa Kata Akhirat?


Oleh Suhaeni, M.Si

(Praktisi Pendidikan)


Tidak terasa libur panjang sekolah segera berlalu. Saatnya sekarang back to school. Biasanya ada rasa bahagia dan deg-degan. Apalagi bagi kamu yang naik jenjang pendidikan baru. So, pasti akan berjumpa dengan suasana baru, teman-teman baru dan guru-guru baru.


Semangat baru tentu sangat diperlukan dalam menghadapi tahun ajaran baru. Semangat menambah ilmu baru, wawasan baru dan teman baru. Eits, asalkan jangan sampai punya pacar baru loh,ya! Pacar lama boleh dong, Kak? Tetep tidak boleh! Kan dalam Islam sudah jelas bahwa pacaran itu haram.


Sob, ada yang merasa kecewa dengan pencapaian sebelumnya? Atau merasa belum menjadi pribadi yang baik? Jangan bersedih dan putus asa ya,  masih ada kesempatan untuk bisa berubah menjadi lebih baik. Selama nyawa masih dikandung badan. Selama nafas masih berhembus. Sudah gak usah diseseali apapun yang sudah terjadi. Sekarang terpenting kita harus memiliki semangat menjadi pribadi baru yang lebih baik lagi dari sebelumnya. 


Apalagi sebulan kemarin mental dan fisik kita sudah ditempa dengan pendidikan Ramadan. Tentu kita harus bisa mempertahankan spirit Ramadan di sebelas bulan berikutnya, bahkan predikat taqwa harus senantiasa berkobar dalam dada. Ditambah, kemarin kita sudah merayakan idul fitri dengan penuh keceriaan, berharap kita seperti terlahir kembali menjadi seseorang yang lebih baik lagi.


Lalu, apa saja yang harus dipersiapkan menghadapi tahun ajaran baru?

Banyak orangtua yang sibuk mempersiapkan perlengkapan sekolah buat anaknya, mulai dari seragam, sepatu, buku, tas sekolah dan sebagaianya. Pokoknya mereka memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Bahkan tidak sedikit orang tua kita kecewa dengan peraturan sistem zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang sudah diberlakukan pemerintah dua tahun ini. Dengan landasan hukum Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 14 Tahun 2018. Sepintas memang bisa memberikan solusi keberadilan dalam PPDB. Tapi ternyata justru malah menambah masalah baru. Ehm, tapi dalam artikel ini saya tidak akan membahas panjang lebar tentang sistem zonasi pendidikan. 


Sebenarnya hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan fasiltas pendidikan yang bagus. Hingga dapat menunjang prestasi anak didik. Tapi tidak sedikit orang tua atau mungkin kita yang malah sibuk untuk mempersipakan ilmu dunia dan abai terhadap pendidikan agama. Tidak sedikit orang tua yang merasa bangga ketika anak-anaknya berprestasi dalam ilmu dunia meski minim ilmu agama. 


Yup, ilmu agama hanya dipandang sebelah mata. Masih dianggap tidak menjanjikan kehidupan yang layak kedepannya. Padahal, bekal ilmu agamalah yang akan membimbing hidup kita di dunia bahkan sampai ke akhirat. Ilmu agamalah yang akan membimbing kita memilih mana yang harus kita kerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Ilmu agamalah yang bisa mng-guide kita memilih mana yang halal dan mana yang haram. Mana yang sesuai syariat mana yang tidak sesuai dengan syariat. 


So, gaes… Ngaji itu penting! Ngaji disini bukan hanya sekedar membaca Al-Quran semata, yang biasa dipahami oleh kebanyakan orang. Tapi Ngaji disini adalah mengkaji Islam mulai dari akar hingga ke daun, mengkaji ilmu Islam yang begitu sangat luas. Tidak hanya perkara ibadah ritual semata tapi dalam segala aspek bidang kehidupan. Karena Islam punya aturan hidup. 


Harus Sadar Bahwa Belajar Islam Itu Penting

Baik selaku orang tua dan anak, kita mesti sadar bahwa mempelajari ilmu agama itu amat penting. Dengan ilmu agama seseorang tidak sampai meninggalkan kewajiban dan menerjang perbuatan yang haram. Dengan ilmu agama seorang anak bisa memperlakukan orangtua dan gurunya dengan baik. Apalagi selaku seorang muslim, kita dituntut untuk berilmu sebelum beramal. Jangan sampai kita sudah beramal, lantas berkata,” eh, amalanku sudah sesuai dengan ajaran Rasul atau belum yah?” 

Seharusnya yang ia lakukan sebelum beramal adalah belajar dan mengakaji amalan itu terlabih dahulu. Jika ada tuntunan dari Rasululloh SAW maka laksanakan. Nah, ini Sob pentingnya Ngaji. 

 

Belajar Agama Juga Menuai Kemuliaan

Jika seseorang mau duduk di majelis ilmu, maka sungguh ia akan menggapai banyak kemuliaan. Orang yang menuntut ilmu berarti telah mendapatkan warisan para nabi karena para nabi tidaklah mewariskan harta maupun uang, yang mereka wariskan adalah ilmu agama. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi,shahih)


Selain itu, menuntut ilmu agama adalah jalan mudah menuju surga sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)


Tidak ada Alasan Untuk Enggan Mengkaji Islam

Kita sebagai seorang muslim jangan sampai memiliki sifat yang hanya tahu seluk beluk ilmu dunia, namun lalai dari ilmu agama. Walau kita seorang pelajar umum, kita punya kewajiban untuk belajar agama. Begitu pula dengan seorang pekerja kantoran atau engineer punya kewajiban yang sama. Janganlah kita menjadi orang-orang sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini.

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat benar-benar lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).


Sob, mumpung masih semangat dalam menghadapi tahun ajaran baru, yuk semangat juga buat Ngaji. So, tidak hanya prestasi ilmu dunia saja kita kantongi tapi ilmu agama juga. 

Wallohu a’lam bishawab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!