Wednesday, July 18, 2018

Taat Bahagia Maksiat Sengsara


Oleh : Silpianah (Member Akademi Menulis Kreatif)

Sejarah selalu mencatat dua hal yaitu kebenaran dan kebatilan. Dua hal tersebut tidak akan pernah bersatu sampai kapanpun.


Hidup adalah pilihan. Tentu saja kita harus memilih salah satunya, tidak bisa diantara keduanya. Yang haq atau yang batil. Taat dan maksiat, keduanya bagai air dan minyak, tak bisa bersatu dalam satu wadah. Hidup adalah pilihan. Allah sudah menunjukan dua jalan yaitu jalan menuju kebahagiaan  juga jalan menuju kesengsaraan. Surga dan neraka, kedua jalan tersebut sangat jelas digambarkan dalam Al-Qur`an. Jalan mana yang akan kita ambil? Taat atau maksiat?


Kita tak bisa memaksa keduanya bersama dalam satu waktu. Seperti misalnya seseorang yang rajin shalat dan berpuasa tetapi ia berpacaran. Ia memaksakan kondisi yang tak mungkin bersatu untuk bersama-sama. Ia melaksanakan perintah Allah tetapi mengabaikan larangan Allah. Padahal kedua nya (perintah & larangan) sama-sama bersumber dari Allah, sama-sama tertulis dalam kitab yang sama yaitu Al-qur'an.


Sayangnya antara taat dan maksiat saat ini kerap dibarengi bahkan menjadi hal yang umum dalam masyarakat. Misal saja pacaran,  pacaran menjadi hal yang umum dikalangan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam.


Contoh lain seperti riba. Dalam kehidupan perekonomian sehari-hari  riba banyak menyelimuti transaksi-transaksi yang terjadi dalam masyarakat muslim. Allah melarang adanya riba seperti tercantum dalam Al-Qur`an Q.S. Al Baqarah ayat 278-279.


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa (dari berbagai jenis) riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Q.S. Al Baqarah: 278-279)


Larangan riba juga terdapat pada beberapa hadits Nabi Muhammad SAW. 


Jabir berkata bahwa Rasulullah mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (H.R. Muslim)


Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud, bahwa Nabi bersabda: “Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan), yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang me-lakukan zina dengan ibunya.”


Pacaran dan riba adalah sedikit contoh dimana taat dan maksiat dijalankan bersama. Pertanyaan nya dimana letak keimanan kita? Ketika perintah-Nya kita laksanakan tetapi Kita juga melaksanakan larangan-Nya yang seharusnya kita tinggalkan. Bukankah perintah serta larangan Allah tertulis dalam kitab (Al-qur'an) yang sama? Kitab yang di dalamnya tak ada satupun keraguan?




Dimana letak keimanan kita ketika memilah-milah hukum Allah seperti prasmanan yang hanya kita suka saja yang kita ambil? Kita melaksanakan perintah sholat tetapi mengabaikan perintah menutup aurat. Kita melaksanakan perintah puasa tetapi mengabaikan larangan  pacaran. Kita melaksanakan perintah zakat tetapi melupakan perintah menjauhi riba.


Pahala sholat kita dapat tetapi dosa tak menutup aurat juga tercatat. Pahala puasa kita dapat tetapi dosa pacaranpun kita peroleh. Pahala zakat kita dapat tetapi dosa riba tak tertinggal. Lebih banyak manakah antara pahala dan dosa yang kita perbuat? Akankah pahala kita terkikis habis oleh dosa-dosa kita? Na'udzubillahimindzalik jangan samapai terjadi hal demikian.


Taat atau maksiat? Mana yang akan kita pilih? Pilihan kita hari ini menentukan hidup kita selanjutnya. Ketika maksiat terlihat begitu membahagiakan, ingatlah kelak ia akan menyengsarakan Kita. Ketika taat terasa begitu berat, ingatlah bahwa dunia ini tempat singgah sementara yang punya batas akhir dan akan ada kehidupan abadi yang kekal.


Ketika maksiat terlihat begitu menggoda, tetaplah berdiri dalam jalan ketaatan meski jalan itu terasa amat berat, sebab taat sudah pasti bahagia dan maksiat pasti sengsara.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!