Monday, July 16, 2018

Syahid Syeikh Ahmad Yassin, Sang Pengukir Intifada


Oleh : Vivin Indriani (Member Komunitas Revowriter)


_"Apa tidak sebaiknya malam ini antum sholat 'Isya dirumah saja, ya Syeikh. Diluar kelihatannya sangat berbahaya," ujar istri Syaikh Yassin. Namun kakek 67 tahun itu menjawab dengan suara serak, “Kenapa engkau meminta saya sholat di rumah? Apa hanya karena pesawat dan helikopter itu? Kalau memang saya harus meninggal malam ini, maka inilah yang saya tunggu-tunggu seumur hidup saya. Insya Allah, saya akan mati syahid malam ini…”_


Deru suara helikopter dan pesawat tempur Zionis Israel memenuhi udara Gaza malam itu. Mereka berseliweran di berbagai penjuru kota laksana setan setan raksasa yang murka mencari mangsa. Jumlah mereka lebih banyak lagi tersebar di atas wilayah tempat tinggal Syeikh Ahmad Yassin.


Situasi sangat mencekam. Syeikh Ahmad Ismail Yassin, pendiri Harakatul Muqowwamatul Islamiyyah(HAMAS), memang tengah diburu Zionis Israel. Perlawanan yang digagasnya telah melumpuhkan banyak kekuatan militer Zionis tanpa bisa disangka-sangka. Pemikirannya telah menggerakkan jutaan para pemuda dan rakyat Palestina bangkit melakukan intifada. Sebuah gerakan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan Zionis Israel kepada bangsa Palestina.


Syeikh Ahmad Yassin memang terkenal pemberani. Usianya telah uzur. Kondisi tubuhnya lumpuh dari leher hingga ujung kaki. Kemanapun pergi harus menggunakan kursi roda. Masih ditambah luka-luka siksaan yang beliau terima saat beberapa kali ditangkap dan dijebloskan ke penjara Israel. Namun tidak ada yang bisa menghalangi semangatnya untuk berdakwah, memimpin dan membina umat, khususnya rakyat Palestina yang tinggal di Gaza.


Berkali-kali keluar masuk penjara Israel tak membuatnya gentar untuk tetap menyuarakan perlawanan. Terakhir, intifada dengan batu. Seolah perwakilan naskah bidayah akhir zaman tentang kabar batu bicara. Inilah yang kini menghunuskan murka Zionis Israel, hingga mewujud dalam berhari-hari perburuan lengkap dengan segenap kekuatan tempur yang mereka punya.


Helikopter dan pesawat tempur Zionis Israel terus mengancam ke atas wilayah-wilayah padat penduduk. Memonitor keberadaan orang nomer satu di HAMAS tersebut dari atas langit-langit jalan di kota Gaza. Syeikh Yassin bersiap menuju masjid dengan segala resiko yang harus dihadapi. Jarak antara rumah Syeikh Yassin yang sederhana di sebuah gang dengan Masjid Al-Mujamma’ Al-Islami di jalan besar hanya sekitar 200 meter. Masjid itulah yang ditempati Syeikh Yassin mengawali gerakan tarbiyah di Gaza, sekitar 40 tahun sebelumnya. Letaknya di wilayah Ash-Shabra, bagian selatan Kota Gaza.


Ditemani seorang pengawal dan juga putranya, Syeikh Yassin yang  didorong di atas kursi rodanya berangkat menuju masjid. Sholat Isya berjamaah tertunai sempurna di tengah hingarnya patroli helikopter Zionis di atas langit masjid. Seusai menunaikan solat ‘Isya berjamaah, Syeikh tidak langsung pulang ke rumah. Langit Gaza makin terasa mencekam. Para jama’ah solat ‘Isya terutama para pemuda menyarankan agar Syeikh Yassin memutuskan tinggal di masjid malam itu. Beliau pun beri’tikaf di masjid sampai datang waktu subuh. Sebagian besar waktu dipakai oleh Syeikh untuk qiyamul lail.

 

Senin dini hari, sebelum azan Subuh dikumandangkan, Syeikh Yassin menyempatkan makan sahur untuk berpuasa sunnah hari itu. Hingga usai sholat Subuh berjama’ah, hari masih gelap ketika Syeikh didorong keluar dari pintu masjid. Beramai-ramai para jama’ah mengawal Syeikh keluar menuju rumah masing-masing.


Namun baru saja rombongan berjalan sekitar 70 meter dari masjid, sebuah helikopter Zonis buatan Amerika Serikat mendekat, lalu memuntahkan roket ke tubuh lemah berjiwa baja di atas kursi roda itu. Tidak cukup satu, tapi tiga roket sekaligus. 


Suara gelegar tiga roket yang meledak seakan menghancurkan langit Gaza subuh itu. Misi tertunai. Syahid Syeikh Ahmad Yassin di jalan Allah. Putra Syeikh Yassin yang ikut serta dalam rombongan, yakni Abdul Hamid, terlemper beberapa belas meter dari posisi yang tadinya dekat dengan ayahnya.


Asap membumbung, keadaan benar-benar kacau. Di mana-mana terlihat beberapa tubuh hancur bergelimpangan. Darah muncrat dan membanjiri halaman masjid. Sembilan orang syahid seketika bersama Syeikh Yasin termasuk pengawalnya. Putra Syeikh Yassin, Abdul Hamid menderita luka parah di kaki kanannya dan pingsan seketika. Dia tak pernah sempat memandang jenazah ayahnya. Karena ia segera dilarikan ke rumah sakit. Ia juga harus dirawat selama 20 hari, tanpa bisa menghadiri pemakaman ayahnya. Kabarnya lebih dari 200 ribu orang mengantarkan jenazah Syeikh Yassin dikuburkan di pemakaman Syeikh Ridwan di tengah Madinah Gaza.


Dunia berduka. Syahid seorang pejuang yang telah mengabdikan hidupnya di jalan dakwah dan jihad fii sabilillah. Kematian Syeikh Yassin merupakan pukulan bagi HAMAS. Terutama dua pekan sesudahnya, pengganti tampuk kepemimpinan HAMAS, Abdul Aziz Rantissi tak jauh beda kondisinya seperti Syeikh Yassin. Zionis Israel laknatullah memborbardir mobilnya dengan rudal hingga beliau syahid seketika.


Namun intifada terus bergema di bumi jihad Palestina. Sepeninggal Syeikh Yassin, Allah turunkan kabar melalui kelahiran anak domba dengan lafadz Allah dan Muhammad di perutnya. Domba milik salah seorang penduduk Gaza yang lahir di pagi yang sama beberapa menit setelah syahid Syeikh Ahmad Yassin. Seolah Allah ingin menyampaikan, akan ada pejuang-pejuang gugur dalam medan laga. Namun pucuk-pucuk tunas muda pengganti akan bergiliran hadir. Hingga kemenangan tiba di genggaman. Kembalinya Palestina ke pangkuan Islam dan ummatnya. In sya Allah qoriiban bi idznillah.


_Tyada kusesal berdiri ditepian jalan_

_Walau hanya batu senjataku melawan engkau_

_Ini negeriku dan kami pantas berontak_

_Perang tak kan usai sampai Palestina mulia_

_Ku sadari sebiadab apa dirimu_

_Dan kau perlu tahu ada Allah di atas sana_


_Aku kencang berlari_

_Biar ku hadang dengan apa yang ku punya_

_Hunus saja tubuh ini_

_Biar ku syahid itu mati mulia_

_Barisan kami pemuda Palestina_


_Mimpi jika engkau berharap kami berhenti_

_Perang tak kan usai sampai Palestina mulia_

_Tanah suci ini kelak akan menjadi saksi_

_Saat kau terima kehancuran bertubi-tubi_


*Song by edcoustic*


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!