Tuesday, July 17, 2018

Sistem Pendidikan Islam Melahirkan Generasi Cemerlang


Oleh : Tri Setiawati, S.Si

Tanpa mengabaikan beberapa keberhasilan dunia pendidikan, membaca potret generasi muda saat ini seperti kita membuka lembaran-lembaran buram masa depan. Berbagai persoalan membelit generasi ini. Narkoba, miras, tawuran, kekerasan seksual, pergaulan bebas, prostitusi, aborsi, tindak kriminal dan sebagainya, menempatkan para pemuda sebagai pelaku terbanyak. Dari tahun ketahun tingkat  kriminalitas remaja makin meningkat dan moral makin rusak. 

Kerusakan generasi ini merupakan persoalan sistemik. Sistem pendidikan dan kurikulum yang diterapkan dalam institusi pendidikan adalah sistem pendidikan sekuler. Artinya, materi dan metode pengajaran mata pelajaran  pendidikan agama Islam didesain untuk menjadikan Islam sebagai pengetahuan belaka, ini disatu sisi. Di sisi lain jam matapelajaran pendidikan agama Islam dirancang sangat minimalis. Akibatnya Allah SWT dipahami sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan Barat terhadap konsep ketuhanan. Para pelajar tidak akan sampai pada pemahaman konsep keridhoan Allah SWT sebagai standar kebahagiaan tertinggi yang harus diraih. Aspek kemaslahatan tetap menduduki posisi lebih tinggi daripada konsep halal haram dalam menstandarisasi aktivitas. Di samping itu, Islam hanya dipahami sebagai agama yang mengatur urusan akhirat, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur dan memberikan solusi atas setiap persoalan kehidupan manusia. 

Kapitalisme yang bertumpu pada manfaat materi menjadikan sistem pendidikan lebih menitik beratkan pada materi ajar yang bisa memberikan manfaat material termasuk memenuhi keperluan dunia usaha. Pendidikan akhirnya lebih menitik beratkan pada penguasaan sains teknologi dan keterampilan. Prestasi dan keberhasilan pendidikan hanya diukur dari nilai akademis tanpa memperhatikan bagaimana keimanan, ketakwaan, akhlak, perilaku, kepribadian dan karakter anak didik. Itulah yang dibuktikan selama proses UN. Bukan hanya siswa bahkan pihak sekolah melaksanakan berbagai cara untuk mengejar nilai akademis. Wajar jika hasilnya karakter anak didik jauh dari kepribadian Islam dan akhlak mulia. Aksi konvoi di jalan, corat-coret, hura-hura dan pesta lumrah dilakukan untuk merayakan kelulusan UN. Bahkan sejumlah siswa melakukan pesta miras dan sex untuk merayakan selesainya ujian nasional seperti yang dilakukan siswa-siswi Siantar Sumatera Utara. (jpnn.com,20/4)          

Islam memiliki konsep pendidikan yang berbeda dengan konsep pendidikan Barat. Perbedaan terbesarnya terletak pada idiologi yang melandasinya. Sistem pendidikan Islam didasarkan pada aqidah Islam, yang mengharuskan tujuan, kurikulum, materi dan metode yang digunakan semua merujuk pada pemikiran dan konsep yang terpancar dari aqidah Islam. 

Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang telah digariskan syari’at Islam adalah membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) secara utuh, yakni pola pikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah Islam. Dengan tujuan pendidikan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertaqwa, tunduk dan taat pada hukum-hukum Allah SWT, bukan generasi yang miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki ghirah agama.

Didalam kitab al-Iqtishadiyyah al-Mutsla disebutkan bahwa jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar (hajah asasiyyah) bagi seluruh rakyat seperti pendidikan, keamanan dan kesehatan, berada di tangan negara. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi SAW : “ Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.  (HR al-Bukhari)

Atas dasar itu, didalam Islam, negara wajib menjamin setiap warga negara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dengan mudah. Dalam konteks pendidikan, jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi seluruh warga negara diwujudkan dengan cara menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi rakyat. Imam Ibnu Hazm, dalam kitabnya, Al-Ihkam, menjelaskan bahwa kepala negara berkewajiban untuk memenuhi sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. 

Kurikulumnya  dirancang untuk mampu mewujudkan output pendidikan yang memiliki karakteristik tertentu yaitu,  berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islamiyah dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan (ilmu, pengetahuan dan teknologi/IPTEK), memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdayaguna. 

Negeri Islam di bawah naungan institusi penerap Islam kaffah –memberikan kedudukan yang sangat penting dan dukungan pada aktivitas menuntut ilmu dan menyebarkannya sebagaimana ditetapkan oleh Islam- dulunya menjadi pusat pembelajaran bagi dunia. Keunggulan akademik lembaga-lembaga pendidikannya menarik minat para akademisi dan pemikir terbaik dari seluruh dunia sekaligus telah memberikan pendidikan kelas satu kepada ribuan pelajar, laki-laki dan perempuan. Sistem ini melahirkan generasi cemerlang, para ulama dan ilmuwan dalam jumlah yang melimpah serta mendorong lahirnya era inovasi dan penemuan besar, menciptakan peradaban yang mulia yang menjadi adidaya dunia. [Tri S.]

*( Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi)



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!