Tuesday, July 24, 2018

Simalakama Gunung Emas di Papua


Oleh : Tety Setiawati

(Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat)


Papua ibukota yang menyembunyikan banyak keelokannya, pulau yang masih kental dengan adat dan tradisi dari suku-suku. Namun dibalik itu mereka memiliki kekayaan yang diakui dan diperebutkan oleh dunia, ya termasuk Freeport, siapa yang tidak kenal dengan Freeport, PT Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. PT Freeport Indonesia menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak. Beroperasi di daerah dataran tinggi Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia.

Republik indonesia khususnya media massa, akhir-akhir ini sedang memperbincangkan tentang RI Caplok Freeport, PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) dan  McMoran Inc telah meneken pokok-pokok kesepakatan divestasi atau Head of Agreement (HoA) saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Dalam kesepakatan ini Inalum akan menguasai 41,64 persen PT Freeport Indonesia. Langkah ini untuk menggenapi 51 persen kepemilikan saham oleh pihak nasional.

Proses yang akan dilakukan, Inalum mengeluarkan dana sebesar USD 3,85 miliar untuk membeli hak partisipasi dari Rio Tinto di Freeport Indonesia dan 100 persen saham Freeport McMoran di PT Indocopper Investama, yang memiliki 9,36 persen saham di Freport Indonesia. (Liputan6.com)

Lalu apakah benar setelah kontrak Freeport habis 2021, pemerintah tidak perlu membayar untuk menguasai tambang emas terbesar di dunia tersebut?

Head of Corporate Communication and Goverment Relation Inalum Rendy Witoelar angkat bicara untuk menjawab pertanyaan publik tersebut. Menurut dia, Freeport Indonesia mempunyai interpretasi KK yang berbeda dengan pemerintah. PTFI mengakui kalau KK akan berakhir pada 2021, namun mereka beranggapan berhak mengajukan perpanjangan dua kali 10 tahun dan pemerintah tidak akan menahan atau menunda persetujuan tersebut secara tidak wajar fakta juga berbicara jika RI ingin menguasai Freeport harus membayar US$ 3,85 Miliar. (Liputan6.com)

Padahal Freeport dan SDA lain adalah harta umum yang wajib dikelola negara dan haram dikelola swasta. Hasilnya dipergunakan untuk kepentingan umum bukan kepentingan segelintir orang yang hanya menguntungkan pihak asing. Lepasnya kepemilikan SDA Indonesia ke tangan asing disebabkan penjajahan kapitalis yang memaksakan aturan neoliberalis kepada pemimpin negeri ini, dan selama sistem ini bercokol kepada barat, kondisi tidak akan berubah walaupun pergantian pemimpin inilah sebabnya sistem kapitalis diemban, Kapitalisme menjadi sumber masalah dalam pengelolaan SDA. 

Perlunya ganti sistem dengan Islam karena mempunyai aturan yang jelas tentang pengelolaan SDA umat yg ditujukan utuk kesejahteraan bersama. Berbeda dengan kapitalisme yang melegalkan swasta dan asing menguasai sumber daya alam, menurut syariah Islam, hutan, air dan energi  yang berlimpah itu wajib dikelola negara.

“Pengelolaannya tidak boleh diserahkan kepada swasta (corporate based management) tapi harus dikelola sepenuhnya oleh negara (state based management) dan hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam berbagai bentuk dalam pandangan sistem ekonomi Islam sumber daya alam termasuk dalam kategori kepemilikan umum sehingga harus di kuasai oleh negara berdasarkan dalil Abyadh bin Hamal Sedangkan untuk SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak. Kekayaan alam termasuk tambang emas Freeport, Migas, dan sebagainya merupakan pemberian Allah kepada hamba-Nya sebagai sarana memenuhi kebutuhannya agar dapat hidup sejahtera dan makmur serta jauh dari kemiskinan. [syahid/voa-islam.com]

Semua masalah kebobrokan di atas adalah berakar dari diterapkannya sistem dan hukum Jahiliyah Kapitalisme. Jika inigin keluar dari dunia mafia Freeport dan mafia lainnya, maka tidak ada jalan lain kecuali harus diakhiri dengan menyudahi penerapan sistem dan hukum jahiliyah itu, lalu diganti dengan penerapan sistem dan syariah Islam secara total serta menyeluruh dalam sistem Khilafah Islamiyah. 





SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!