Saturday, July 14, 2018

Senyum dan Kapitalisme


Oleh: Lia DA


Senyum adalah ekspresi kebahagiaan. Menurut KBBI senyum adalah gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan mengembangkan bibir. 

Namun kini, tidak semua senyuman menggekspresikan kebahagian, kadang kita dapati senyuman-senyuman palsu karena kebahagiaan semu.

Betapa tidak, dikala hidup serba sulit, pengeluaran selangit, sementara pemasukan semakin irit, pada akhirnya hidup-pun haruslah 'rikrik'.  

Mengapa demikian? Inilah konsekuensi manakala hidup kita dikekang aturan kapitalisme, aturan yang hanya 'membahagiakan' segelintir orang, aturan yang hanya mampu mengukir senyuman-senyuman hampa tak berasa.

Dengan aturan kapitalismenya, disaat rupiah melonjak, begitu gagah berani Penguasa negeri ini kembali berhutang, keberaniannya mengalahkan Penguasa dari negeri manapun, pada akhirnya ketika hutang sudah jatuh tempo dan  harus segera di lunasi, tanpa ragu menggunakan uang subsidi. Wajar saja, setiap tiga bulan sekali ada saja harga barang yang dinaikan karena pemangkasan subsidi.

Bagaimana akan terukir senyuman kebahagiaan jika hidup diliputi kesulitan? 


Menciptakan Kebahagian Hakiki

Sudah saatnya, kita kembalikan guratan-guratan keceriaan diantara wajah kita, hanya dengan satu-satunya aturan yang memberi kebahagiaan hakiki yaitu aturan Islam. Aturan yang akan menghiasi setiap hati pemeluknya dengan penuh kenyamanan dan ketentraman hidup. 

Bagaimana tidak tersenyum, jika beban hidup tak lagi menggelayuti punggung seorang ayah dalam menghidupi keluarganya, karena biaya pendidikan, kesehatan, dan tetek bengek lainnya, karena semua telah dijamin oleh negara.

Bagaimana seorang ibu tidak tersenyum ketika melihat tumbuh kembang anaknya yang jauh dari serbuan hedonisme, pornografi, dan pemikiran-pemikiran rusak lainnya.

Rasulullah sengaja Allah utus untuk menebarkan rahmat-Nya dimuka bumi, seperti dalam Al-Quran disebutkan bahwa:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’: 107)

Inilah sekelumit gambaran manakala aturan Islam diterapkan dalam setiap sendi kehidupan, dengan aturan Islamlah senyuman hakiki akan terukir indah. Seperti dijelaskan dalam firman-Nya : "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui". ( An-Nisa : 69 -70)

Kebahagian Hakiki yang terlukis dengan senyuman harus kita perjuangkan, karena bahagia itu memang harus di ciptakan, tidak ditunggu hingga lumutan.

Jika kita masih betah dengan aturan kapitalisme, niscaya anak cucu kita kelak akan lupa bagaimana caranya tersenyum.


Wallahua'lam


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!