Saturday, July 14, 2018

SELAMATKAN UMAT DARI ISLAMOPHOBIA


Oleh: Eka Widya Sujarwati, S.Pd

(Pengajar dan Wiraswasta)


Opini islamophobia nampaknya masih menjadi isu hangat yang dilemparkan ke tengah-tengah masyarakat. Di berbagai belahan dunia kita temukan para penguasa bahkan dengan terang-terangan menetapkan kebijakan yang mendiskriminasi umat islam. Sebut saja di wilayah Gaza, Suriah, Xinjiang, dan negeri muslim lainnya. 

Tak ketinggalan tokoh di dunia barat bahkan dengan seenaknya membangun opini islamophobia melalui perlombaan yang melecehkan Rasulullah saw. Belakangan kita dihebohkan dengan tersebarnya pamflet kontes membuat kartun Rasulullah yang diadakan oleh salah seorang tokoh dari negeri kincir angin, Belanda. 

Ialah Geetwilders, seorang politisi Belanda yang terang-terangan menghina islam dengan mengatakan bahwa ideologi Islam berbahaya, islam adalah ideologi totaliter (suka menindas), bukan sebuah agama. Ia juga membandingkan kitab suci al Qur’an dengan Mein Kampf atau Jerman Perjuanganku (buku karya Adolf Hitler). Ia menjadi salah satu politikus anti islam paling giat di Eropa.

Di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia pun nyatanya opini ini masih bertahan. Betapa hati kita teriris ketika menyaksikan ada tokoh yang mengaku bagian dari ormas islam terbesar di negeri ini, dengan santainya menghadiri undangan dari negeri pencaplok wilayah Palestina. Dengan penampilannya yang agamis, mengenakan kopiah khas muslim Indonesia, ia mengatakan bahwa Al Qur’an dan hadits hanyalah historical document (dokumen sejarah).

Bagaimana mungkin seorang tokoh muslim sudi datang menghadiri undangan orang-orang yang tangannya masih berlumuran darah saudara kita, dan duduk bersama membahas apa yang mereka sebut sebagai perdamaian? Sungguh membuat malu kita sebagai seorang muslim. Padahal kita belum lama juga dipusingkan dengan daftar 200 penceramah yang direkomendasikan oleh Kemenag. Seakan-akan jika di luar daftar tersebut maka dianggap tidak recommended.

Apa dampak semua kondisi tersebut? Tidak lain masyarakat akan terpengaruh, mempertanyakan, atau bisa jadi menelan bulat-bulat apa yang diopinikan. Muslim, tapi takut mengenakan identitas muslimnya. Takut ditangkap jika menjalankan sunnah. Takut diejek jika berpakaian syar’i. Takut dicap teroris. Takut dituduh pelaku bom dan ketakutan lainnya yang menjadi efek dari tersebarnya opini islamophobia. Terbentuklah frame berpikir untuk menjadi muslim yang ‘biasa-biasa saja’. 

Padahal kita diperintahkan berkali-kali oleh Allah dalam al Qur’an agar beriman jangan setengah-setengah. Tak boleh mengambil sebagian aturan yang dianggap mudah untuk dijalankan dan meninggalkan aturan yang lain karena dianggap tak relevan untuk kondisi sekarang. Kita diperintahkan agar berislam secara total, secara menyeluruh. 

Miris sekali melihat mental kaum muslimin saat ini, yang ketika digertak dengan sebagian aturan yang mengancam akan menangkap karena berpenampilan dan berperilaku islami, sudah terbirit ketakutan, dan dengan sukarela memasang plang ‘saya muslim yang biasa-biasa saja’.

Begitu besar efek opini islamophobia ini. Kita menyaksikan pula bagaimana akhirnya sebagian kaum muslimin bahkan secara sadar atau tidak telah menjadi ‘agen islamophobia’. Dengan kelihaiannya berbicara, dengan kekuatannya dalam institusi tertentu, dengan posisinya sebagai orang yang begitu dihormati, ia mampu menanamkan paham mengerikan ini dalam benak orang-orang yang mengikutinya. Begitu seterusnya hingga menyebar dimana-mana.

Dampak yang jauh lebih besar adalah ketika seorang muslim justru menjadi penentang aktivitas penerapan syariat. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Itulah dampak islamophobia. Orang-orang kafir tidak perlu bersusah payah memahamkan umat islam bahwa yang menyerukan penerapan syariat itu radikal, fundamental, ekstrim, dan sebagainya. Cukup gunakan ‘agen’ mereka dari kalangan umat islam itu sendiri untuk meracuni pemikiran umat islam yang sangat awam terhadap aturan agamanya sendiri. Melalui berbagai posisi, jabatan, pencitraan yang dimiliki dan dibangun, sudahlah mampu merealisasikan itu semua. Umat islam kini dalam kondisi begitu terpuruk dalam hampir semua lini.

Semua ini hanya akan mampu diselesaikan ketika kita menyadarkan umat, mengubah pemahaman mereka yang salah terhadap islam yang sebenarnya. Dakwah, dengan pemikiran. Karena seseorang akan mampu bangkit, ketika pemikirannya bangkit. Tentu untuk mewujudkan itu semua tak mampu berjalan sendiri. Berjamaahlah, sesuai dengan perintah Allah agar kita menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran secara berjamaah layaknya barisan yang kokoh, bersatu dalam tujuan yang sama. Li isti’na fil hayatil islam.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!