Monday, July 23, 2018

Remaja Masa Kini Korban Aplikasi


Oleh : Tari Ummu Hamzah


Dunia maya ramai dengan komentar buruknya sebuah aplikasi. Ya, aplikasi tiktok yang membuat dunia Maya geger. Tidak hanya geger tentang fakta remaja pengguna aplikasi tik tok, tapi juga komentar seputar aplikasi tersebut. 


Jujur saja, ketika saya melihat fakta remaja tentang tiktok, sangat mengiris hati. Betapa tidak, remaja kita hendak diseret dari aqidahnya sejengkal demi sejengkal. Terlena dengan keasyikan hiburan dunia Maya. Hingga remaja rela melakukan hal-hal yang memalukan. Menerobos batas-batas syar'i. Na'uzdubillah min dzalik. 


Mereka ingin eksis bak selebgram, yang hidupnya bergelimang materi. Hanya bermodal materi dan ketenaran mampu meraup uang puluhan juta perbulan. Tapi sayang karena modal yang amat minim, mereka memilih aplikasi sederhana untuk terkenal. Tapi sayangnya ke eksisan mereka malah mengundang banyak mudharat. 


Kerelaan untuk meninggalkan aqidah, mereka ikuti. Keikhlasan kehilangan kehormatan pun mereka lakukan. Itu semua karena pikiran dan hati mereka hanya tertuju pada dunia Maya. Pemikirannya telah dibimbing oleh hawa nafsu. Sehingga menjadikan mereka buta. Tak merasa bahwa mereka adalah korban. Yang mereka tahu hanyalah bersenang-senang


Seakan-akan dunia Maya lah yang seharusnya mereka jalani. Sedangkan kehidupan nyata yang seharusnya mereka hadapi mereka abaikan. Inilah bukti teramat nyata rusaknya generasi saat ini. Hilang akhlaq dan rasa malunya. 


Padahal diluar sana banyak remaja-remaja yang hari demi hari memperjuangkan nasibnya sendiri. Hari demi hari dilalui dengan perjuangan berat. Siapa mereka? Yaitu para remaja di Palestina dan Suriah. 


Para remaja di Palestina dan Syuriah, setiap harinya berjuang mempertahankan negeri mereka dari kafir penjajah. Mengisi hari-hari mereka dengan hafalan Qur'an. Karena mereka tahu bahwa esok hari, belum tentu mereka akan merasakan nikmatnya mempelajari Alquran. 


Meskipun hari-hari mereka dihantui dengan desingan peluru dan dentuman bom, tak membuat mereka gentar. Karena mereka hanya mengejar syahid dan janji syurganya Allah. Al-Qur'an ada didalam dada mereka. Sehingga menjadikan mereka kuat dalam menghadapi peperangan yang berkecamuk di negri mereka. 


Inilah bedanya jika Al-Qur'an hanya diucap dilisan tanpa merasuk kehati, dengan Al-Qur'an yang senantiasa di pelajari, dihafal, dan disampaikan. 


Jika Al-Quran hanya diucap dilisan tanpa merasuk kehati, yang terjadi adalah syariat Allah tidak mereka jadikan sebagai tameng. Tapi jika Al-Qur'an dipelajari, dihafal, dan disampaikan, maka Al-Qur'an menjadi tameng mereka dalam kondisi apapun. 


Kerusakan remaja telah terjadi di negeri kita. Semakin hari semakin parah. Seolah mereka tak lagi memikirkan masa depan. Kita perlu penjagaan aqidah anak-anak kita dari pengaruh budaya asing. Dan penjagaan aqidah tidak hanya didapatkan dari peran keluarga dan masyarakat, akan tetapi yang terpenting adalah peran negara. Sebagai negara yang ingin memelihara akhlaq generasi mendatang, seharusnya peran negara amatlah yang paling utama dalam penjagaan aqidah para remajanya. Karena generasi penerus bangsa hanya akan menjadi baik jika bangsa tersebut mencurahkan perhatian dan perlindungan aqidahnya kepada generasi penerusnya. 


Wallahu a'lam bishowab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!