Tuesday, July 24, 2018

Ramadhan Pergi, Ketakwaan Meninggi


Oleh : Mulyaningsih, S.Pt


Waktu terus berlalu, tak terasa Ramadhan telah meninggalkan kita. Begitu pula dengan Syawal, tanpa kita sadari ia berlalu menjauh dari diri. Begitu cepatnya putaran waktu itu bergulir, tanpa kita sadari lagi. Lantas sekarang yang menjadi pertanyaan adalah akankah takwa itu selalu melekat pada diri? Akankah Ramadhan menjadi pemanas untuk bulan-bulan berikutnya? 

Lantas yang terbersit dalam pikiran kita sekarang adalah bagaimana agar takwa selalu melekat? Kemudian agar takwa itu menjadi sempurna? Karena memang sejatinya puasa yang kita laksanakan di bulan nan suci (Ramadhan) itu adalah untuk mencapai derajat takwa. Karena takwa tersebut adalah satus yang diinginkan oleh semua kaum muslim tanpa kecuali. Status tertinggi seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Bukan kecantikan, ketampanan, warna kulit, suku bangsa, kekayaan atau hal lainnya. Tetapi hanya takwa yang diinginkan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Hujurat ayat 13.

“Sungguh orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kalian”

Sebagian sahabat mendefinisikan takwa adalah takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan al-Quran, merasa puas dengan yang sedikit dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi Hari Penggiringan (Hari Akhir). Kemudian sebagian ulama juga memberikan pengertian tentang takwa adalah menaati semua perintah Allah SWT dan menjauhi segenap larangan-Nya. Dari kedua pengertian di atas kita dapati bahwa takwa berarti mengambil serta patuh terhadap segala perintah Allah SWT dan meninggalkan apa-apa yang dilarangNya. Lantas sekarang adalah banyaknya penyelewengan yang dilakukan oleh manusia baik disadari ataupun tidak. 

Paham yang memisahkan agama dengan kehidupan (sekulerisme) telah menyelewengkan makna dari takwa itu sendiri. Takwa hanya ditempatkan pada ranah ibadah dan akhlak saja. Sementara ranah yang lain tidak dilakukan. Sebagai contoh adalah mereka mau melaksanakan ibadah puasa sebagaimana perintah Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 183, namun terhadap ayat lain tak mau melaksanakannya. Sebagaimana perintah Allah dalam surat al-Baqarah ayat 178 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh”.

Padahal masih dalam surat yang sama namun perintah Allah dalam surat al-Baqarah ayat 178 tidak dilaksanakan. Umat masih memilah dan memilih mana yang dilaksanakan dan mana yang tidak. Semua itu terjadi karena ada pemahaman sekulerisme tadi. Perkara dunia maka manusialah yang membuat, agama tidak boleh campur aduk didalamnya. Padahal secara nyata Allah telah memberikan panduan yang lengkap kepada manusia untuk menjalani hidupnya selama di dunia. 

Oleh sebab itulah harus sesegera mungkin manusia kembali di jalan-Nya. Mengambil seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana hadist Nabi yang telah mengingatkan kaum muslim agar memelihara perintah dan larangan Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbagai kewajiban. Karena itu jangan kalian menyia-nyiakannya. Allah pun telah menetapkan berbagai larangan. Karena itu jangan kalian melanggarnya (HR al-Baihaqi). 

Untuk bisa memelihara serta menyempurnakan rasa takwa maka diperlukan beberapa usaha. Beberapa usaha tersebut antara lain: Pertama, akidah islam harus dijadikan sebagai akidah ruhiyah dan siyasiyah. Artinya adalah Islam dijadikan sebagai pondasi dalam seluruh aktivitas kita (selama hidup di dunia). 

Kedua, Islam dijadikan sebagai standar dalam hal penilaian seluruh perbuatan atau aktivitas yang kita lakukan. Baik-buruk serta terpuji dan tercela hanya merujuk kepada Islam semata, bukan yang lain. Dan tidak mengedepankan manfaat yang didapatkan ketika melakukan setiap aktivitas. Ditambah pula harus adanya sifat sabar dan amar ma’ruf kepada yang lainnya. Dengan begitu akan tercipta nuansa yang Islami. Orang akhirnya dapat mengetahui ketika berbuat salah, tentunya dengan amar ma’ruf tadi.

Ketiga adalah harus segera memohon ampunan kepada Allah SWT dan kembali pada ketaatan hanya pada-Nya. Ditambah pula dengan hanya mengharap ridho dari Allah. Dengan semua itu maka insya Allah semua akan berjalan sesuai dengan jalurnya, yaitu jalut takwa. Karena sejatinya semua pasti akan kembali kepada-Nya. Harapan tertinggi adalah menggapai surga nan indah dan abadi. Walllahu A’lam.

Mulyaningsih, S.Pt

Ibu Rumah Tangga

Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga

Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!