Tuesday, July 17, 2018

Propaganda Radikalisme Bikin Islamophobia


Oleh : Tri Setiawati, S.Si*

Setelah jargon terorisme tidak laku, kini jargon baru digunakan untuk menyerang Islam. Istilah radikal tentunya sudah tidak asing lagi, terminologi radikal yang membentuk istilah radikalisme, awalnya berasal dari bahasa latin radix, radices, yang artinya akar (roots). Istilah radikal dalam konteks perubahan kemudian digunakan untuk menggambarkan perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Berpikir secara radikal, artinya berpikir hingga ke akar-akarnya. (Taher, 2004:21).

Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), radikal berarti akar, sumber, atau asal mula. Dalam kamus Oxford ini disebutkan, istilah radical, kalau dikaitkan dengan perubahan atau tindakan, berarti: relating to or affecting the fundamental nature of something; far-reaching or through ( berhubungan atau atau yang mempengaruhi sifat dasar dari sesuatu yang jauh jangkauannya dan menyeluruh).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”,” habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan” dan “maju dalam berpikir atau bertindak”. Dalam pengertian lebih luas, radikal mengacu pada hal-hal mendasar, pokok dan esensial. Berdasarkan konotasinya yang luas, kata itu mendapatkan makna teknis dalam berbagai ranah ilmu, politik, ilmu sosial. Bahkan dalam ilmu kimia dikenal istilah radikal bebas.

Dengan demikian, dari sisi bahasa, istilah radikal sebenarnya istilah yang netral, bisa positif bisa negatif. Secara historis, penggunaan istilah radikal tidaklah selalu negatif. Dalam strategi perjuangan bangsa Indonesia untuk memerdekakan diri dari penjajahan, strategi non-kooperatif atau sering disebut sebagai strategi radikal. Strategi ini mengiringi strategi kooperatif atau non radikal, semisal negosiasi dan perundingan-perundingan seperti Perundingan Linggarjati, Renville, Roem-Royen dan Konferensi Meja Bundar.

Istilah radikal kemudian menjadi alat propaganda yang digunakan untuk kelompok  atau  negara yang berseberangan dengan ideologi dan kepentingan Barat. Julukan “Islam radikal” kemudian digunakan secara sistematis untuk menyebut pihak-pihak yang menentang sistem ideologi Barat (Kapitalisme, Sekulerisme, dan Demokrasi), ingin memperjuangkan syariah Islam, menginginkan eliminasi Negara Yahudi dan melakukan jihad melawan Barat.

Karena itu, tidak aneh jika Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, Dr.Imran Mawardi  MA, mengatakan, istilah radikalisme sengaja dibuat oleh Barat untuk menghancurkan umat Islam. Sebab, pasca runtuhnya Komunisme, satu-satunya ideologi yang menjadi ancaman paling menakutkan bagi dunia Barat adalah Islam. “Istilah radikalisme adalah buatan Barat untuk menghancurkan dan mengkooptasi umat Islam. Barat sadar bahwa Islam adalah ancaman bagi dia” (Hidayatullah.com).

Radikalisme dikaitkan dengan perjuangan menegakkan intitusi penerap Islam kaffah. Keinginan umat Islam untuk dapat kembali melanjutkan kehidupan Islam sebagai solusi atas problematika umat dengan menegakkan institusi penerap Islam kaffah  dianggap sebagai tindakan yang mengusung radikalisme. Perjuangan mewujudkan syariah Islam dalam institusi  penerap Islam kaffah dianggap sebagai tindakan diskriminatif, rasis dan ‘fear label’ lainnya. Dengan pemahaman yang dangkal, pihak- pihak yang terusik dengan perjuangan menerapkan syariah Islam menganggap bahwa ada bagian dari syariah Islam yang bersifat diskriminatif.

Misal dalam hal hukum waris, pembedaan pembagian antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai bentuk diskriminasi. Larangan orang kafir untuk menjadi pemimpin bagi orang Islam juga dianggap sebagai bentuk diskriminasi. Banyak lagi ayat-ayat al-Quran maupun hadist Rasulullah saw yang mulia yang menjadi korban tuduhan mereka.

Pemahaman yang dangkal yang dibalut dengan frame sekulerisme Barat yang telah menstigma Islam sebagai enemy melahirkan tuduhan terhadap firman Allah SWT yang mulia. Ayat-ayat al-Quran dan al-Hadist yang menyerukan perintah jihad fi sabilillah dianggap sebagai seruan radikalisme. Kemuliaan jihad dan pujian bagi para syuhada dianggap sebagai glorifying violence (mengagungkan kekerasan). Merekapun menuduh bahwa bibit radikalisme justru ada dari inti ajaran Islam itu sendiri.

Sekulerisme Barat juga telah mendiskreditkan segala bentuk pemikiran yang masih dibalut dengan agama. Sekulerisme mengharuskan fasl ad-din ‘an al-hayah (memisahkan agama dengan aspek kehidupan). Radikalisme pun dituding lahir dari paradigma berpikir yang masih menghubung-hubungkan kehidupan ini dengan nilai-nilai agama. Manusia tidak bisa ‘pure’karena diikat dengan doktrin agama yang tidak netral, tidak inklusif. Dengan demikian lahirlah manusia-manusia yang memiliki pemikiran yang sempit, tidak terbuka, tidak mau menerima perbedaan/heterogenitas.

Paham komunis bisa berkembang di negeri ini, tidak lain karena negara ini menerapkan paham sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Amin Rais menyatakan, "Kalau politik di pisahkan dari agama, politik menjadi kering dari nilai-nilai kebaikan, akan jadi beringas, akan jadi eksploitatif."

Walhasil, sekulerisme melahirkan pejabat yang tidak lagi bertakwa ketika duduk di kursi jabatannya. Tidak aneh bila muncul koruptor  dan penindas rakyat, karena ketakwaannya tersimpan di tempat-tempat ibadah. Akhirnya, sekulerisasi ini menghasilkan kemudharatan dan ancaman terbesar bagi eksistensi negeri ini. Karena  ide ini produk barat, pastilah barat yang menikmati hasilnya. Inilah bentuk penjajahan gaya baru, neo imperialisme (Media Umat).

Keberadaan institusi penerap Islam kaffah adalah kebaikan bagi umat manusia karena dia lahir dari rahim Islam. Sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT, Zat Yang Maha Sempurna, Islam diturunkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Di dalam Qur’an surat al-anbiya’ ayat 107, Allah berfirman: “Kami tidak mengutus kamu [Muhammad], kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ayat ini menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa, tujuan Rasulullah saw  diutus adalah agar risalahnya menjadi rahmat bagi manusia. Jadi, aneh bila ada yang menganggap keberadaan institusi penerap Islam kaffah sebagai ancaman. Bisa jadi, yang menganggapnya ancaman adalah pihak-pihak yang memang jauh dari nilai-nilai Ilahiah yang ingin hidupnya dilandasi oleh hawa nafsu dan kepentingan belaka.

Intitusi penerap Islam kaffah yang mulia sudah tiada sejak runtuh tahun 1924. Gelora perjuangan umat untuk dapat mengembalikan kehidupan Islam dalam institusi Islam kaffah  tentunya tidak boleh hanya mengandalkan semangat belaka. Pemahaman yang utuh dan benar, dilandasi dengan pondasi tauhid yang kokoh dan kedalaman pemahaman syariahnya, akan mewujudkan fikrah dan thariqah yang shahih dalam perjuangan menegakkan Islam kaffah. [Tri S.]

*(Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi)






SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!