Friday, July 27, 2018

Pernikahan Dini Muda-mudi


Oleh : Ilma Kurnia Pangestuti, SP 

(Petani Muda Peduli Remaja)



Terdengar ramai diberitakan tentang sepasang remaja yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan karena pernikahan dini. Mereka memaksakan kepada kedua orang tua masing-masing untuk dinikahkan. hal ini sontak membuat kedua keluarga terkejut, karena terbilang usia mereka masihlah belia yaitu 15 tahun dan 14 tahun. Pernikahan ini hanya berlangsung sekitar dua hari setelah berita dan foto mereka beredar menjadi viral di media sosial yang menuai banyak kontra. Akhirnya pernikahan kedua remaja ini batal disahkan oleh KUA. Alasannya karena usia mereka yang tidak sesuai dengan aturan pernikahan yang berlaku di Negara serta dikarenakan wali bagi siperempuan adalah bukan wali nikah (Bapak) melainkan wali hakim. Menyikapi mengenai berita ini adanya tentang revisi usia pernikahan, ada lima hal krusial dalam Revisi UU perkawinan pertama mengenai usia menikah, syarat sahnya perkawinan menurut Negara, status anak diluar nikah, status kepala keluarga dan yang terahir tentang poligami. Ketika membahas usia perkawinan perempuan direvisi dari 16 tahun menjadi 18 tahun ini tentu mempersulit anak-anak kita menjaga dirinya dari zina.

 Sedangkan saat ini pergaulan para remaja sudah dibilang memasuki ambang kritis, dimana banyaknya kasus hamil diluar nikah, pembunuhan karena pasangannya hamil, pembuangan bayi seorang remaja, aborsi dan masih banyak lagi. Ini membuktikan bahwa adanya aturan pernikahan sesuai dengan usia batas penikahan dinilai cacat. Karena justru memberikan peluang kepada para remaja untuk melakukan perbuatan yang mendekati zina dan menjauhkan dari atauran syariat dalam islam untuk menjauhi zina. Semua ini dikarenakan adanya sistem liberalisasi dimana mengharamkan sesuatu yang halal (pernikahan dini) dan menghalalkan yang haram (pergaulan bebas). Terlebih didukung dengan faktor keluarga yang minim pemahaman agama, masyarakat yang liberal dan serba bebas. Kemudian negara yang cenderung membiarkan media-media rusak membentuk perilaku remaja kita menjadi menyimpang. Tentu tidak ingin dengan UU itu pernikahan semakin sulit, sementara zina semakin marak merajalela dikalangan remaja. Kedua, tentang syarat sahnya perkawinan menurut Negara ini sangat bertentangan dengan islam dalam UU ini Negara memperbolehkan menikah beda agama asal sesuai dengan kepercayaan. Ketiga mengenai status anak diluar nikan atau lebih dikenal married by accident menganggap bahwa anak mempunyai hubungan perdata dengan ayahnya. Sehingga seolah-olah anak yang lahir akibat hamil duluan dianggap sah. Hal ini berakibat anak yang lahir dari hasil zina juga dianggap sah. 

Lebih dari itu, sesungguhnya bukan sekedar revisi usia perkawinan, atau siap dan belum siapnya menikah. Akan tetapi motif dibalik revisi UU Perkawinan tersebut baik mengenai status kepala keluarga, poligami dan lain-lain. Semua ini menunjukan bahwa ada konspirasi keji barat untuk menjauhkan umat dari prinsip-prinsip Islam. Dan barat tahu bahwa institusi pernikahan dan keluarga adalah penyokong generasi berkualitas yang akan membangun peradaban. Sehingga ini harus dirusak sejak dini. Untuk itu yang harus diwaspadai umat Islam dari hal ini adalah yaitu pertama, upaya strategis barat dalam penghancuran keluarga-keluarga muslim dan menggiring masyarakat menuju liberalisasi. Kedua, upaya sistemik  barat untuk meliberalisasi UU Perkawinan yang ada di Indonesia

Padahal Allah sudah jelas berfirman dalam Al Quran :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (TQS. Al Ahzaab (33) : 36). 


“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. “ (Qs. An Nisaa (4) : 1). 


"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud). 


“Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi) 

Semua ini sudah jelas bahawa barat ingin meliberalisasikan umat islam yang ada di Negara kita , mereka ingin para generasi muda kita senantiasa terjerumus dalam kemaksiatan senatiasa berbuat zina.  Na’udzubillahmindzalik…. Jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah baik pendidikannya, ekonomi, fisiknya, dan peran di dalam masyarakat. Wahai saudariku sudah saatnya kita kembali pada aturan Allah yang berpendoman pada sumber hukum Allah. Hanya dengan syariat islam kita dapat menjalani kehidupan selamat dunia dan akhirat. Allahu Akbar…



Wassalamu’alaikum Wr Wb















SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!