Thursday, July 26, 2018

Peran Ulama untuk Kebangkitan Umat


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


“Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan dengan orang-orang yang menyerukan Islam dan beramal shalih sembari berkata, “Sesungguhnya aku adalah bagian dari umat Islam. (QS. Fushilat [41]: 33).


“Oleh karena itu, berdakwahlah dan beristiqomahlah sebagaimana Aku diperintahkan...." (QS. Asy-Syura [42]: 15). 


Islam, dien yang diridhai oleh Allah SWT dan sesuai dengan fitrah manusia. Mabda (ideologi) Islam merupakan solusi dari segenap problematika manusia dan bila ditegakkah akan membawa rahmat bagi semua. Kita mengetahui bahwa selain mabda Islam jelas bathil keadaannya. Maka, mendakwahkan mabda Islam hingga tegak di seantero dunia adalah perbuatan yang mulia dan kewajiban utama. 


Dakwah merupakan kewajiban yang mulia bernilai ibadah. Allah SWT bahkan menyebut ucapan pengemban dakwah -yang menyeru manusia ke jalan Allah SWT- sebagai ucapan terbaik, yang tiadak ada yang menandinginya. 


Imam an-Nawawi menyatakan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar adalah perkara besar sebab merupakan penjaga dan pilar dakwah. Jikalau kemaksiatan telah tersebar luas dan terus saja dibiarkan, maka niscaya azab Allah SWT akan menimpa manusia secara merata, baik orang yang taat maupun yang berbuat maksiat. Bisa berupa himpitan hidup, kesengsaraan, bala' atau penyakit berbahaya dan kejahatan yang makin merajalela.


Aktivitas dakwah senantiasa dilaksanakan oleh para nabi dan rasul. Allah SWT pun memuji mereka karena amal dakwahnya, tentu demikian pula pada orang-orang yang mewarisi amal dakwah ini. Kini, aktivitas itu diwariskan oleh nabi Muhammad saw kepada kita umat yang meneladaninya. Khususnya, para ulama. 


Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir [35]: 28). 


Ayat tersebut menyebutkan bahwa yang menjadikan sebutan ulama begitu istimewa dibanding hamba-hamba Allah SWT yang lain adalah rasa takut mereka kepada-Nya. Ulama hanya takut kepada Allah SWT. Sebaliknya, mereka tidak pernah takut kepada selain-Nya, meskipun seorang penguasa dunia. Bahkan, merekalah yang berada digaris terdepan menentang setiap kedzaliman. Karena, mereka adalah hamba Allah SWT yang beriman, menguasai ilmu syariah secara mendalam dan memiliki pengabdian semata untuk mencari keridhaan-Nya. 


Betapa umat sangat membutuhkan adanya orang-orang yang ikhlas untuk menjaga berlangsungnya tatanan kehidupan terbaik di tengah-tengah kehidupan. Di sinilah urgensi  peran ulama dan dai untuk mewujudkan Islam Rahmatan lil alamin sesuai dengan manhaj Rasulullah.


Ulama sebagai pewaris nabi memiliki peran penting dalam membangkitkan kesadaran politik umat. Apalagi di saat seperti ini, di mana Islam dan kaum Muslimin tengah menghadapi tuduhan dan stigma negatif akhir-akhir ini. Mulai dari isu terorisme, radikalisme, dan lain sebagainya. Penting menjelaskan Islam yang sebenarnya yang justru melindungi, menyelamatkan, dan mensejahterakan manusia. 


Umat harus memahami akan kewajiban menjadikan Islam sebagai dasar menjalani dunia. Islam memberikan standar menilai baik dan buruk. Semua karena dorongan takwa, tanpa memilih-milih kewajiban dari Allah SWT. Hal ini mestinya ada dalam pemahaman setiap muslim. 


Menurut Islam kemuliaan ada dalam ketakwaan. Sedangkan kehinaan ada dalam kemaksiatan. Ketika Islam diabaikan maka membuat berbagai kemirisan. Kesempitan hidup terus mendera saat pengaturan kehidupan jauh dari agama. 


Maka, umat harus segera menyadari jebakan demokrasi terhadap kalangan ulama yang dapat memudharatkan umat dalam memahami Islam. Ulama harus berani menyuarakan kebenaran, bukan menyampaikan yang diinginkan terlebih oleh para pemilik kepentingan segelintir penguasa dan pengusaha. 


Ulama harus selalu terdepan dalam memperjuangkan kebenaran. Apalagi di saat menyadari kebijakan yang ada tidak memikirkan rakyat banyak. Menyadarkan penguasa dan mencerdaskan masyarakat tentang pengaturan hak dan kewajiban mereka sebenarnya menurut hukum syari’at. 


Suara ulama yang mukhlis jangan sampai tenggelam oleh suara bayaran. Sangat disayangkan ada sebagian yang menampilkan kesan sebagai sosok ulama namun membela kebathilan. Menggunakan tampilannya untuk mendukung kebijakan yang dzalim dan menyengsarakan. Mereka berlepas tangan membiarkan rakyat menanggung beban kehidupan sendiri. 


Padahal dalam Islam sangat jelas, “Al-Imam ra’in wa huwa masulun an raiyatih bahwa imam/ pemimpin adalah pengurus rakyat, dia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya. Demikian sabda Nabi saw yang mulia. 


Sistem sekuler memang membutuhkan legitimasi ulama untuk tetap tegak dan berkuasa. Para penjaganya akan terus berusaha menjebak ulama agar mendukung agenda depolitisasi Islam dengan menjadi corong Islam moderat. Para kapitalislah yang ada di baliknya, yang saling bekerjasama agar membuat ajaran Islam dijauhi dan ditakuti oleh umat Islam sendiri. 


Harusnya kita semua selalu mencontoh pada keteladanan para ulama kita, generasi al-salaf al-shalih. Mereka tidak pernah mengabaikan kewajiban menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar, termasuk terhadap penguasa. Mari berkaca pada salah satu sosok ulama yang nama beliau sering kaum Muslim. Beliau seorang ulama besar ahlus sunnah, yakni Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yang mengoreksi kebijakan penguasa (Khalifah) secara terang-terangan di atas mimbar Masjid. Saat itu, beliau mengoreksi kebijakan Khalifah al-Muqtafi yang keliru karena mengamanahkan jabatan hakim peradilan kepada orang yang lalim, lalu berbuat kezhaliman-kezhaliman terhadap masyarakat. 


Beliau menasihati dan mengoreksi terang-terangan di atas mimbar di masjid ketika sang Khalifah berada di dalamnya dengan peringatan keras: “Engkau telah mengangkat seseorang untuk kaum muslimin yang paling zhalim di antara orang-orang yang zhalim, lantas apa jawaban engkau esok hari (di Akhirat) di sisi Rabb Alam Semesta ini? Lalu sang Khalifah memecat hakim tersebut. (Dr. Ali Muhammad al-Shallabi, Al-'Alim al-Kabir wa al-Murabbi al-Syahir 'Abd al-Qadir al-Jaylani, Kairo: Mu'assasat Iqra,' cet. I, 1428 H, hlm. 85).


Saat ini, umat butuh ulama pewaris nabi yang sejati. Yang siap menjadi penjaga islam terpercaya, tak mudah terjebak dalam bujuk rayu dunia. Karena kepada merekalah umat meletakkan harapan agar bisa dibimbing pada jalan yang lurus. Sesuai tuntunan hidup, Al-Qur'an dan As-Sunnah.


Semoga ulama kita selalu berada dalam keistiqamahan dan diberikan perlindungan oleh Allah SWT dalam dakwah menegakkan perintah Allah SWT. Selalu diberikan kesabaran dan ghirah dakwah untuk membangkitkan umat, agar segera terwujud izzah al-Islam wa al-Muslimin. Aamiin..[]





*) Penulis dari Komunitas “Muslimah Banua Menulis.” Berdomisili di HSS, Kalsel


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!